
Alexa yang tidak terlalu jauh segera berjalan mendekat dan meninggalkan Riyan yang sudah dijemput, Alexa tersenyum kecil dan berhambur kepelukan bundanya.
⬇️
Karena dirasa tidak mungkin ikut memeluk tubuh kekar sang ayah, yang sudah dipenuhi oleh kedua adiknya.
"Bagaimana sekolahnya ?" Tanya Keren kepada putrinya.
"celu. ( Seru. ) " Jawab Alexa tampak begitu ceria.
"Benarkah, bunda senang kalau kakak senang." Timpal Keren dengan menatap gemas pada putrinya.
"Entu aja, tata kan selalu cenang bial unda juga senang ( Tentu saja, kakak kan selalu senang biar bunda juga senang. ) " Jawab Alexa dengan mengedip - edipkan matanya.
"Unda kok menyuk tata oang si ? ( Bunda kok meluk kakak doang sih ?) " Terdengar suara cadel lainnya, Keren langsung mengahlikan tatapannya, ia menatap gemas pada putri bungsunya.
"Loh, kan ade udah sama ayah, terus kakak kalau gak digendong bunda di gendong siapa dong ?" Tanya Keren kepada putri bungsunya, ia tidak akan membiarkan rasa cemburu, iri dan lainnya memenuhi hati dan pikiran putri - putrinya, jadi ia harus memberikan pengertian secara perlahan.
Adel tidak menjawab tapi ia mengerutkan bibir bertanda jika putri bungsu tersebut sedang ngambek, Kalvaro yang sedang mengendong Adel tersenyum gemas dan menciumi pipi putrinya sedangkan Aurora ia tertawa melihat kembarannya merasa geli dengan tingkah ayah.
Alexa dan Keren jangan ditanya lagi mereka hanya tersenyum kecil, Alexa memang lebih dekat dengan mommynya salah bukan seperti itu maksudnya melainkan memang sering bersama mommynya.
"Sudah - sudah, ayo kita pulang nanti mommy masak deh buat putri - putri kesayangan bunda." Lerai Keren dengan lembut.
"Loh, ayah emang ga di masakin bunda ?" Tanya Kalvaro dengan polosnya.
"Dimasakin dong ayah." Jawab Keren merasa gemas sendiri dengan tingkah suaminya.
"Baiklah, ayo kita kembali ke kerumah." Ucap Kalvaro dengan semangat diikuti oleh dua putri yang ada dalam gendongannya.
Dalam perjalan kembali ke mension megah mereka, tampak kembar duduk dengan tenang dibelakang sementara Kalvaro dan Keren berada dibangku depan.
"Unda, anti au acak apa unda ? ( Bunda, nanti mau masak apa bunsa ? ) " Tanya Aurora dengan berusaha menatap bundanya.
__ADS_1
"Aurora mau bunda masak apa hmm ?, bunda sih maunya masak ayam goreng sama sayur - sayuran." Jawab Keren tidak lupa kepalanya ikut menoleh kebelakang untuk melihat putri keduanya Aurora.
"Aulola au mam elul ata api unda. ( Aurora mau makan telur mata sapi bunda.) " Jawab Aurora dengan mengedip - edipkan mata.
"Aulola enda ocan mam elul ata api ya, Adel aja oca ama elul ata capi. ( Aurora enggak bosan makan telur mata sapi yah, Adel saja bosan sama telur mata sapi. )" Terdengar suara si bungsu yang ikut menimpali.
"Adel alus angil Aulola tata. ( Adel harus memanggil Aurora kakak. ) " Bukan mempermasalahkan telur mata sapi, tampak Aurora merasa tidak terima pada adiknya yang hanya memanggil ia menggunakan nama tanpa ada embel - embel kakak.
"Enda mau, blee. ( Enggak mau, ble. )" Jawab Adel dengan songongnya.
"Adel tidak boleh seperti itu sayang, Adel harus panggil kakak Aurora biar sopan yah, kan bunda selalu ajarin adek buat jadi anak baik." Tegur Keren lembut kepada putri bungsunya.
"Dlama." Lirih Alexa yang masih bisa didengar oleh dirinya sendiri.
"Aik unda, Adel inta maap. ( Baik bunda, Adel minta maaf. )" Lirih Adel merasa sedih.
"Sudah - sudah, kan Adel sudah minta maaf sama bunda jadi jangan sedih lagi yah, kan Adel harus jadi anak perempuan yang kuat." Hibur Kalvaro kepada putri bungsunya.
"Sekarang sama kakak harus nurut dan sopan yah sayang, dan kakak harus sayang yah sama ade." Ucap Kalvaro kepada putri - putrinya.
"Iya ayah." Jawab mereka kembali kompak.
Sesudah drama telur mata sapi akhirnya mereka sampai di mension mereka, Alexa, Aurora dan Adel segera bergegas masuk kedalam kamar mereka masing - masing untuk bebersih, begitu pula dengan Kalvaro yang memilih masuk kedalam kamar.
Sementara sang bunda kembali sibuk didapur dengan celemek yang menemani, Keren memutuskan untuk memasak ayah goreng, pasta, sayur - sayuran dan telur mata sapi sebagai pelengkap putri keduanya.
Mension megah milik keluarga kecil tersebut di isi dengan 20 maid yang bertugas sebagai pawang kebersihan, 2 orang yang bertugas sebagai tukang masak untuk para pelayan dan pengawal yang ada, dan yang terakhir ada sekitar 50 orang bersenjata lengkap yang ditempatkan disetiap sisi mension untuk keamanan.
Keren berjalan menuju lift dan naik ke lantai 3 tempat sang suami berada, Keren berbersih sebentar sebelum turun bersama suami dan tidak lupa sepasang orang tua tersebut menghampiri satu persatu kamar putri mereka untuk makan.
"Enak gak sayang ?" Tanya Keren kepada putri sulungnya.
"Acakan unda mang celalu enak kok. ( Masakan bunda memang selalu enak kok. ) " Jawab Alexa yang terlihat begitu lahap memakan ayam gorengnya.
__ADS_1
"Enal, pa lagi da elul ata api. ( Enak, apa lagi ada telur mata sapi. ) " Timpal Aurora dengan mulut yang penuh.
"Unda enang aja acakan unda dalah ang elbaik. ( Bunda tenang saja masakan bunda adalah yang terbaik. ) " Tidak ingin kalah dari kakak - kakaknya Adel ikut menimpali masakan bundanya.
"Wah lihatlah mulut putri - putri bunda manis sekali, siapa yang ngajarin sih ?" Goda Keren dengan melirik suaminya.
"Ehm, ayah ga ngajarin apa - apa kok." Bela Kalvaro pada dirinya sendiri.
Flashback On.
Di ruang keluarga terlihat ayah dengan tiga putri cantiknya sedang menikmati cemilan dan minuman yang sudah disediakan oleh bunda tercinta.
"Putri - putri kesayangan ayah, sekarang ayo dengerin apa yang ayah katakan dengan baik." Ujar Ayah Kalvaro terlihat begitu serius.
Sedangkan Keren yang ingin menghampiri suami dan tiga putrinya memicingkan mata, ia penasaran apa yang akan dikatakan oleh suaminya kepada ketiga putri mereka.
"Yes ayah." Jawab mereka dengan kompak dan terlihat memasang tampang serius membuat Keren tersenyum geli melihatnya.
"Mulai besok kalau bunda masak kalian harus memuji masakan bunda yah, biar bunda senang." Ujar Kalvaro dengan serius.
"Euji ayak imana ayah ? ( Memuji kayak gimana ayah ? ) " Tanya Aurora bingung.
"Em seperti ini, masakan bunda enak sekali, masakan bunda memang yang terbaik, seperti itu sayang jadi gimana mengerti tidak ?" Jelas Kalvaro kepada putrinya..
"Iya ayah mengelti. ( Iya ayah mengerti. ) " Ucap mereka dengan mengangguk - anggukan kepala.
Kalvaro meminta hal tersebut bukan tanpa alasan, ia hanya ingin membuat istrinya senang setiap saat. Dan lagi makanan yang selalu disajikan Keren memang benar jika enak jadi ia tidak mengajarkan putri - putrinya berbohong, ia hanya mengarahkan putrinya untuk mengapresiasi perkerjaan orang dengan memuji.
Flashback Off.
"Tapi, emang enak loh bunda." Ucap Kalvaro dengan serius setelah memahami lirikan istrinya.
"Tentu dong siapa dulu, bunda." Jawab Keren dengan bangga.
__ADS_1