Cantik Cantik Berbahaya

Cantik Cantik Berbahaya
15 Tahun Berlalu.


__ADS_3

15 tahun berlalu dengan begitu cepat, hari ini kembar akan bertolak ke Indonesia atas permintaan oma dan juga opa mereka.


"Alexa, Aurora, Adel untuk saat ini ayah dan bunda belum bisa terbang bersama kalian, ayah dan bunda masih ada perkerjaan yang harus di urusi terlebih dahulu." Ucap Keren dengan lembut kepada ketiga putrinya.


"Kalian akan terbang bertiga kali ini, dan bunda ingin kalian saling menjaga dan melengkapi satu sama lain. Apa kalian mengerti maksud bunda ?" Lanjut Keren dengan memberi pertanyaan di akhir kalimat.


"Baiklah mom, kami mengerti dan tidak perlu khawatir kami sudah besar sekarang." Jawab Alexa sebagai seorang kakak.


"Baguslah, bunda dan ayah akan segera menyusul sesudah semua beres." Timpal Kalvaro.


"Sekarang kalian bisa mengemas beberapa barang yang ingin dibawa ke Indonesia, bunda akan memasak untuk makan malam dulu." Jelas Keren kepada ketiga putrinya.


"Baiklah bunda, masak yang enak yah byee." Jawab Adel dengan tikah cerianya.


"Masakan bunda selalu enak, kamu bagaimana si." Decak Aurora.


Sedangkan Alexa hanya tersenyum dan mengikuti kedua adiknya menuju kamar mereka masing - masing, sungguh waktu berlalu dengan begitu cepat.


"Mereka sudah besar sekarang, bagaimana kalau kita menambah satu agar tidak kesepian." Goda Kalvaro kepada istrinya.


"Kau ini masih saja mesum, ingat sekarang sudah berbuntut tiga. Mending aku masak dulu." Sebal Keren dan berlalu pergi.


Kalvaro hanya tersenyum geli, terkadang ia juga kelelahan menghadapi istri dan tiga perempuannya.


Flashback On.


Hari ini adalah hari pertama Alexa, Aurora dan Adel masuk sekolah menengah pertama, tapi sebuah kekacauan terjadi.


"Huwaaa." Teriak Adel dari dalam kamarnya.


Teriakan Adel membuat kedua kakaknya kaget, begitu pula dengan Kalvaro yang tidak sengaja melintas didepan kamar Adel, tadinya Kalvaro ingin memanggil kembar untuk segera sarapan.


Alexa, Aurora, dan sang ayah langsung saja masuk kekamar si bungsu, dan langsung dilanda cemas karena tidak menemukan Adel.


"Sayang, coba periksa dikamar mandi." Ucap Kalvaro kepada putrinya.


"Baik ayah." Jawab Aurora langsung melangkah menuju kamar mandi.


"Adel, kau baik - baik sajakan." Tanya Aurora dengan mengedor - gedor pintu kamar mandi sang adik.


"Kak, aku huwaaa, aku mau bunda." Jawab Adel dari bilik kamar mandi.


"Katakan padaku kau kenapa, cepat jangan membuatku cemas." Teriak Aurora.


"Aurora adikmu kenapa, apa yang dia katakan." Tanya Kalvaro yang mulai mendekat bersama Alexa.

__ADS_1


"Katanya dia mau Bunda, ayah tolong panggilkan bunda yah, nanti aku akan menjaga disini." Jelas Aurora yang tampak begitu cemas.


"Baiklah tunggu di .." Ucapan Kalvaro terhenti kalah pintu didorong oleh seorang wanita yang tidak lain adalah Keren.


"Ada apa ini ribut - ribut, dimana Adel ?" Tanya Bunda yang terlihat cemas.


"Di dalam." Jawab Alexa dengan melirik pintu kamar mandi.


"Ayo bergeser sedikit, bunda akan memeriksanya." Ucap Keren kepada suami dan kedua putrinya.


"Sayang ini bunda, ayo buka pintunya dan biarkan bunda masuk." Ucap Keren dengan menggedor - gedor pintu.


"Tidak, aku ingin bunda mengusir ayah dan kedua kakakku dulu, huwaa." Jawab Adel dari kamar mandi.


"Ayo pergi, tunggu dimeja makan nanti bunda menyusul." Usir Keren kepada suami dan juga kedua putrinya.


"Sekarang." Lanjut Keren melihat salah satu diantara ketiganya ingin membantah.


Akhirnya ketiganya mulai meninggalkan kamar Adel, setelahnya Keren kembali menggedor pintu kamar mandi Adel.


"Sayang, ayo buka pintunya mereka sudah pergi." Ucap Keren.


"Bunda tidak bohongkan ?" Tanya Adel yang tampak mengintip.


Begitu pintu terbuka Keren kaget bukan main melihat wajah putrinya yang tampak merah, khawatir tentu saja.


"Astaga kamu kenapa, hmm ?" Tanya Keren khawatir.


"Bunda tadi ada darah saat aku kencing, hua aku takut." Jawab Adel langsung berhambur kepelukan sang bunda.


"Darah ?" Tanya Keren cengo.


"Astaga, namanya datang bulan sayang." Jelas Keren lembut, sekarang ia bisa sedikit lega.


"Aku malu, bisakah bunda mengambilkan aku alat seperti Alexa dan Aurora ?" Tanya Adel dengan tatapan memohon.


"Tentu, masuklah dulu nanti bunda kembali." Jawab Keren setelah ia meninggalkan kamar bungsu dan menuju kamarnya sediri.


Sesudah mengambil pembalut, Keren kembali dan menjelaskan bagaimana cara pakainya setelah paham Keren langsung meninggalkan kamar putri bungsunya.


Begitu tiba dimeja makan, Keren segera mendapat tatapan dari suami dan kedua putrinya.


"Adel sedang datang bulan, ini pertama kalinya jadi dia malu." Jelas Keren lembut tidak lupa dengan senyumnya.


"Astaga." Ucap Alexa dan Aurora bersamaan, karena keduanya sudah lebih dahulu melewati itu.

__ADS_1


"Huft, aku pikir kenapa." Jawab Kalvaro sedikit lega.


Hari - hari Kalvaro tampak begitu banyak cerita, apa lagi 3 hari lalu mendapati putri pertama dan putri keduanya pertama kali datang bulan.


Kalvaro saat itu dilanda kepanikan ditambah istrinya yang sedang pergi, membuat ia mau tidak mau ke supermarket dan membeli perlengkapan orang datang bulan.


Flashback Of.


Makan malam tiba.


"Adel, apa kau yakin akan melanjutkan sekolah di Indonesia ?" Tanya Kalvaro kepada putri bungsunya.


"Iya ayah, Youlbert juga sama jadi tidak apa yah." Jawab Adel dengan tatapan memelas.


"Baiklah, kau harus segera memberi tahu kami jika ada masalah disana sayang, jangan menyimpannya sendiri. Okay." Lanjut Kalvaro mendapati putrinya tetap kekeh ingin bersekolah di Indonesia.


Alexa, Aurora hanya diam saja sebenarnya mereka tidak setuju jika Adel memilih bersekolah di Indonesia, alasannya adalah mereka tidak mau berpisah dengan Adel.


"Alexa, Aurora kalian disana selama 90 hari saja karena setelahnya akan memasuki persekolahan." Ucap Kalvaro pada putri pertama dan keduanya.


"Baik ayah." Jawab Alexa dan Aurora.


Makan malam terasa begitu hangat dengan beberapa bumbu cerita, Kalvaro merasa begitu bahagia mendapat tiga bidadari cantik bersama seorang pujaan hati yang tidak lain adalah istrinya sendiri.


Setelah makan malam selesai, Keluarga kecil tersebut memutuskan untuk menonton di sebuah ruangan kecil yang disediakan sebagai fasilitas keluarga mereka.


"Astaga lihatlah, pasangan itu romantis sekali, nanti aku akan mencari kekasih yang tampan dan romantis sepertinya." Teriak Aurora histeris, membuat Kalvaro melotot.


"Aurora, kau harus menjaga ucapanmu disini ada ayah." Bisik Adel pada kakaknya yang masih bisa di dengar oleh Kalvaro.


"Memangnya kalau ada ayah kenapa, hmm." Timpal Kalvaro pada putrinya.


"Tidak baik mencampuri percakapan orang lain." Bela Alexa.


Kalvaro diam, ia memijat pelipisnya bagaimana bisa putrinya sekarang memikirkan untuk mencari kekasih.


"Sudahlah, jangan berlebihan." Hibur Keren pada suaminya.


"Belum saatnya mereka memikirkan itu sayang, sekarang ganti filmnya ayah tidak suka." Putus Kalvaro sepihak.


Mendengar titah ayahnya Aurora langsung cemberut, ayahnya selalu saja bertingkah berlebihan.


"Sudah menontonnya sudah cukup, sekarang kembali ke kamar dan istirahat, pesawat kalian besok jam 10 jangan sampai terlambat." Putus Keren menengahi.


Semua diam dan menganggukan kepala, mereka begitu menyayangi ratu tersebut tidak ada yang berani membantah.

__ADS_1


__ADS_2