CAPPUCINO NYA AISYAH

CAPPUCINO NYA AISYAH
(Bab 2) Mengenal nya lebih jauh


__ADS_3

saat itu juga aku merasa bahwa ada getaran yang tidak biasa di hati ku, rasanya aku mulai mengagumi nya, tapi apakah benar ini cinta?, aku mulai bertanya tanya pada diri ku sendiri, setelah beberapa menit berfikir, akhirnya tiba waktunya untuk ku mengajar mengaji,


"Aisyah, bunda izin keluar sebentar ya" ucap bunda dari luar kamar ku


"iya Bun" sahut ku dari kamar sambil menyiapkan perlengkapan mengajar mengaji


aku sudah tau bunda pasti hendak ke pasar, jadi Jagan heran jika aku tidak bertanya pada bunda. Aku langsung berangkat untuk membimbing murid-murid ku, setibanya di masjid Al-Amin semua murid sudah menunggu ku, mereka menyambut ku dengan memberi salam dan mencium tangan ku, aku bukan ustadzah, aku juga bukan guru yang pintar dalam mengajar, tapi itulah fungsi nya adab, menghormati yang lebih tua. Saat pelajaran ku mulai tiba-tiba handphone ku berdering kembali,


"assalamu'alaikum ukhty" ucap seseorang dalam telfon ku


"wa'alaikumussalam, ini siapa ya?" tanya ku bingung


"ternyata nomor saya belum di simpan" lanjut nya


saat itu aku baru sadar, ternyata itu akhy Fahri, aku gugup tapi aku lanjutkan karena merasa tidak sopan jika ku tutup telfon dari nya untuk yang kedua kalinya,


"ada keperluan apa akhy?" tanya ku malu

__ADS_1


"kenapa nomor saya belum di simpan?, apakah WhatsApp Ukhty sudah penuh kontak laki-laki?" tanya nya berbalik padaku


"Afwan akhy, bukan seperti itu, tadi saya lupa menyimpan nya" jawab ku lagi


"Alhamdulillah, berarti saya bisa tersimpan di WhatsApp ukhty?" lanjut nya


aku terdiam sejenak menghembuskan nafas, seolah olah hati berdebar sangat cepat,


"hehehe, in syaa Allah boleh akhy" lanjut ku


"sekarang lagi mengajar mengaji murid Al-Amin ya?" ucap nya lagi


"bagaimana akhy bisa tau?" tanya ku bingung


"karena saya google jadi tau semua lokasi dan kegiatan ukhty" jawab nya dengan nada tertawa


aku langsung menutup telfonnya tanpa salam, aku tertawa sangat keras dalam hati, karena malu dengan murid-murid ku, aku pura-pura biasa saja. Aku terlalu bahagia bisa mengenal nya, walaupun aku tidak tau berasal dari planet mana akhy Fahri itu, aku benar-benar terlanjur mengangumi nya. Setelah selesai materi yang aku sampaikan ternyata akhy Fahri berdiri tepat di belakang ku sambil melihat ku menyampaikan materi pada anak-anak, aku sangat terkejut, kalian tau? ternyata dia marbot masjid Al-Amin, selama ini aku tidak sadar bahwa aku selalu bertemu dengan nya, hanya saja aku tidak terlalu memperhatikan nya, karena kesibukan ku yang padat, aku tidak sempat mengenal siapa dia,

__ADS_1


"ternyata akhy marbot di sini!" ucap ku dengan nada heran


"saya mah orang terkenal di sini ukhty, cuma pada diem aja karena tau saya cuma seorang marbot" jawab nya sambil menyapu lantai di belakang ku


aku sebenarnya tidak percaya, bahwa dia adalah laki-laki yang sederhana tapi luar biasa, bahkan murid-murid ku sendiri tidak ada yang tidak mengenal nya, aku berusaha untuk menyembunyikan perasaan ku terhadapnya, walaupun sedikit sulit. Waktu pun sudah memasuki sholat ashar, aku dan anak-anak sholat berjamaah, saat adzan di kumandangkan, aku mulai membasahi wajah ku dengan air wudhu, dan melaksanakan sholat ashar di masjid Al-Amin. Setelah selesai, aku pun bergegas untuk segera pulang, namun sayangnya akhy Fahri kembali menyapa ku,


"hati-hati di jalan ukhty" ucap nya sambil melangkah menjauh dari masjid,


aku hanya mengangguk seakan berkata iya, aku tidak tau lagi harus berbicara apa dan bagaimana, karena niatku adalah mencintai nya karena Allah, dan berharap dia tidak tau akan rasa ini. Sekarang aku lebih mengenal nya, mengerti semua tentang nya, dia adalah sosok yang sederhana, biasa, tapi membuat aku terpaku dalam waktu yang singkat. Semua tentang nya sudah masuk dalam kamus hidup ku, walaupun aku tau aku baru saja Mengenal nya. Setelah sampai di rumah bunda langsung menyambut ku,


"assalamualaikum bunda" ucap ku sambil mencium tangan bunda


"wa'alaikumussalam, sudah selesai mengajar nya?" tanya bunda pada ku


"Alhamdulillah sudah Bun" lanjut ku sambil menaruh tas ransel ku ke meja tamu


bunda ku adalah sosok paling siap sedia untuk ku, kapan pun aku butuh bunda selalu ada, dan bunda juga tau bahwa aku adalah anak yang manja, karakter ku yang suka baper membuat bunda melarang ku untuk bercinta, itulah bunda, bunda ku malaikat hati ku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2