
Saat di perjalanan pulang aku melihat akhy Fahri sedang duduk di teras masjid, masjid yang saat itu menjadi saksi betapa kagum nya aku pada suara Al-Qur'an nya, aku pun ingin sekali menghampiri nya walaupun aku tau rasa malu menghalangi ku, tapi aku pun bingung rasanya kaki ini ingin sekali menyapa nya, akhirnya ku putuskan untuk menghampiri nya, ku berhenti kan motor ku di parkiran masjid, lalu langkah ku berjalan ke arah nya, aku rasa akhy Fahri tidak menyadari kedatangan ku, aku pun hendak menyapa nya, namun tiba-tiba dia yang terlebih dahulu menyapa ku, sambil menunjukkan wajah serius nya membaca buku,
"datang kok tidak bilang-bilang" ucap nya sambil membaca buku nya
aku hentikan langkah ku seketika, sambil berucap dalam hati, "bagaimana akhy Fahri bisa tau, dari tadi kan matanya tertunduk pada buku", aku terdiam sejenak,
"hemm... afwan akhy" ucap ku sambil gugup, namun aku coba untuk menenangkan hati ini,
"assalamualaikum ukhty" lanjutnya sambil menutup bukunya dan mengalihkan pandangannya ke arah ku
"wa'alaikumussalam akhy" jawab ku sambil menunduk kan wajah ku
"ada apa ukhty ke mari?" tanya nya lagi
"nunggu ashar akhy" jawab ku gugup dengan nada pelan
"nunggu ashar apa nunggu saya?, ashar kan masih setengah jam lagi ukhty" ucap nya sambil membuka bukunya lagi
"sebenarnya..." lanjut ku sambil berfikir bingung
"sebenarnya mau nunggu saya kan?" tanya nya sambil tersenyum
"akhy Fahri sedang apa di sini?" tanya ku sambil mengalihkan pembicaraan
"jawab dulu ukhty, mau nunggu saya kan?" jawab nya sambil senyum kecil
aku merasa ada hal yang berbeda setiap kali bersama dengan akhy Fahri, aku hanya terdiam malu saat akhy Fahri bertanya seperti itu, fikir ku dalam hati seharusnya tadi aku tidak menghampiri nya,
"jawab dulu pertanyaan saya ukhty" lanjut nya lagi
"tidak akhy" jawab ku sambil tersipu malu
__ADS_1
"kebanyakan berbohong" ucap akhy Fahri lagi sambil meletakkan bukunya di tas dan seakan-akan hendak pergi
"akhy mau ke mana?" tanya ku menghentikan langkah akhy Fahri
"kan, bilang saja mau nunggu saya ukhty" ucap nya lagi
aku terdiam, rasanya hati ini sangat ingin mengatakan yang sebenarnya tapi malu membuat ku semakin terlihat konyol di hadapan akhy Fahri,
"kok diam?, bilang saja iya ukhty" jawab nya sambil melangkah mundur
"iya akhy, ana mau menghampiri akhy" ujar ku berkata jujur walaupun sangat malu
"ma syaa Allah, sudah mulai mencintai saya ya?" lanjut nya lagi
"saya ada urusan sebentar akhy, izin duluan ya" ucap ku mengalihkan suasana dan melangkah hendak pergi
"ukhty!, masih ingat kata saya waktu itu, bahwa saya ingin meminang ukhty?" teriak nya dari belakang ku
aku hanya bisa diam, hati ini begitu bahagia mendengar kata itu, aku bingung harus menjawab apa padanya,
"nanti malam aku ke rumah mu, tunggu ya ukhty" ujar nya sambil tersenyum
"mau ngapain akhy?" tanya ku lagi keheranan
"lihat saja nanti malam" jawab nya meninggal kan ku pergi,
aku pun pergi menghampiri motor ku dan pulang, rasanya hati ini ingin teriak sekeras mungkin, aku baru sadar bahwa aku mulai mencintai laki-laki bernama Fahri, dan berharap dia benar-benar serius mencintai ku. Setelah aku sampai rumah, seperti biasa bunda langsung menyambut ku,
"assalamualaikum bunda" ucap ku sambil mencium tangan bunda
"wa'alaikumussalam, kok tidak sekalian sholat ashar?" tanya bunda sambil mengambil tas ransel ku
__ADS_1
"Aisyah sholat di rumah saja bun, belum adzan juga kok bun" lanjut ku sambil masuk ke dalam kamar
begitu lelah diriku, harus menjadi wanita Yangs selalu kuat, saat aku sedang mengistirahatkan tubuh ku tiba-tiba telfon ku berdering,
"assalamualaikum putri ayah" ucap ayah dengan nada tertawa
"ayah!" ucap ku dengan keras sangat bahagia
"jawab salam nya dong" lanjut ayah
"wa'alaikumussalam, bunda ayah telfon" teriak ku memanggil bunda
"yang benar nak?" tanya bunda dari arah dapur
"iya bun" jawab ku sambil menghampiri bunda
"ayah apa kabar, gimana tugas di sana?" tanya bunda pada ayah
"Alhamdulillah bunda, sehat selalu karena bunda dan putri kesayangan ayah, soal pekerjaan aman semua bun" jawab ayah dengan nada bahagia
"ayah Aisyah rindu ayah, ayah cepat pulang ya" ucap ku lagi
"siap tuan putri! laksanakan, tapi nanti waktu tugas ayah selesai semua ya, karena Indonesia tetap prioritas tanggung jawab ayah" jawab ayah pada ku
"yang penting ayah janji untuk pulang" ujar ku pada ayah dengan nada serius
"Aisyah, ayah itu punya pekerjaan yang berat, tidak bisa di toleransi dong" lanjut bunda menasehati ku
"ayah, Aisyah tidak minta apa-apa cuma mau ayah pulang dalam keadaan sehat itu saja" ucap ku lagi pada ayah
"laksanakan tuan putri, ayah akan segera pulang oke nak, sabar ya" ucap ayah lagi
__ADS_1
tanpa salam ayah langsung menutup telfonnya, aku terkadang khawatir pada ayah, saat ayah langsung menutup telfonnya tanpa salam, tentara sekaligus pejuang hebat nya bunda dan aku, sekarang harus menjaga Indonesia juga, bahkan waktu nya untuk anak nya pun harus terbatas, tapi mungkin inilah ujian ku, ayah, dan bunda, kami harus bisa sama-sama bersabar.
Bersambung...