
Setelah keluar dari GOR GCT, Dava menghampiri Odi yang sedang menunggu ojek online di tepi jalan. "Mau bareng, nggak?" tawarnya.
"Nggak, gue udah pesen ojol," tolak Odi.
"Yaelah tumpangan gratis disia\-siain. Lagian kita searah, ojol gampang dicancel." Dengan tampang sok polosnya Dava lagi\-lagi membujuk.
Kata gratis menarik perhatian Odi. "Benar juga, lumayan mengirit pengeluaran," batin Odi. Dia memang sedang menabung untuk membeli hadiah ulang tahun nenek.
Odi akhirnya mengangguk. "Iya, deh. Gue nebeng." kemudian naik ke motor sport merah Dava.
"Nih, jangan lupa pake helm dulu." Dava memberikan helm pada Odi yang sudah berada di belakangnya.
"Iya. Ni juga lagi mau dipake."
"Udah?"
"Udah. Buruan."
"Siap, Boskyu."
Di perjalanan, Odi bingung. Ini bukan jalan ke arah rumahnya. Tiba-tiba motor Dava menepi di sebuah restoran cepat saji.
"Eh, kok ke sini, sih. Gue mau pulang. Tau gini tadi gue pulang naik ojol aja," gerutu Odi.
"Ini udah jam makan siang, gue laper. Kalo gue pingsan di jalan gimana? Lo mau tanggung jawab?" balas Dava sambil melepas helmnya.
"Udah cepetan turun," katanya lagi.
Odi hanya diam dengan wajah ditekuk. "Sial. Gue mau ngirit malah diajak ke sini. Sama aja boong," bisiknya dalam hati.
Seperti bisa membaca pikiran Odi, Dava berkata, "Kenapa lagi? Tenang aja gue yang traktir."
Mata Odi membola. "Serius?"
"Iya, lo boleh makan apa aja, gue yang bayar," ujar Dava dengan nada sombong sambil menepuk dadanya sendiri.
Ternyata keputusan Dava untuk mentraktir Odi adalah keputusan yang salah.
"Ini beneran lo mau makan segini banyak?"
Odi mengangguk mantap sambil tersenyum. "Iya, dong."
"Serius?"
Lagi-lagi Odi hanya menganggukan kepala.
Dava mengecek dompetnya, takut uang yang dibawanya tak cukup. Karena kemarin dia baru saja membeli action figure limited edition Luffi One Piece yang harganya lumayan menguras kantong. Mungkin mulai besok dia harus irit uang jajan selama seminggu. Lihat saja, Odi memilih makanan untuk porsi orang sekampung. Tiga bucked ayam, dua nasi, dua kentang goreng, dua burger dan dua cola.
Setelah Dava membayar, Dava berbisik, "Untung uang gue cukup."
"Lo ngomong apa tadi?"
"Ah, nggak. Nggak apa-apa. Lo bisa nggak ini bawanya?"
__ADS_1
"Bantuin, dong."
"Iya ni gue bantuin. Lo mau duduk di mana?"
"Itu di sana kosong." Odi menunjuk tempat di sudut dekat kaca.
Dava kaget sekaligus kagum pada Odi. Bukan ilfeel, Dava justru semakin tertarik dengan tingkah Odi. Cewek lain pasti akan gengsi memperlihatkan kebiasaannya di depan cowok yang baru dikenal. Tapi Odi malah sengaja menunjukkan itu.
"Lo belum makan seminggu?" Dava melirik.
Odi menggeleng. "Nggak, gue emang kalo lagi happy makannya segini," jawabnya santai sambil mengambil paha ayam lalu menggigitnya.
"Happy dapet traktiran dari gue?" sindir Dava.
"Iya itu juga buat gue happy, sih. Tapi bukan itu."
"Terus?"
"Gue happy karena bisa main badminton lagi," ujar Odi sambil tertawa.
"Kan tadi lo kalah, kok malah seneng."
"Gue udah lama banget nggak main badminton, terakhir main sama Bang Ger waktu SD."
"Berarti lo nggak nyesel join, kan?"
"Iya tadinya sih, tapi sekarang nggak, kok."
"Bagus, deh. Oiya, sekalian ajakin temen-temen sekelas lo masuk ekskul kita."
"Iya ntar gue promoin. Lagian ekskul bulutangkis kenapa nggak ada waktu demo ekskul MOS?"
"Oh, gitu."
Dava memperhatikan cara makan Odi. "Lo kan cewek, nggak takut gendut?"
"Gue nggak peduli, sih. Mau gendut atau kurus."
"Noh, pipi lo aja udah segede bapau gitu."
"Yeee, kalo pipi mah udah bawaan orok. Tapi emang dari dulu badan gue segini-segini aja walaupun makan banyak."
"Lemak lo ngumpul di pipi semua, sih," ejek Dava kemudian tergelak.
"Bodo."
"Tapi cantik, kok."
"Ih, apaan, sih. Gaje!"
Setelah keributan kecil itu, mereka melanjutkan makan. Sesekali Dava mencuri pandang pada Odi yang sedang melahap beberapa kentang goreng sekaligus.
"Lucu banget sih ni cewek," bantinnya kemudian tersenyum.
"Ngapain lo senyum-senyum sendiri? Stress lo?"
"Ah, nggak kok. Lo lanjutin makannya. Makan yang banyak, ya."
__ADS_1
***
"Rumah lo di sini?" ujar Dava ketika baru sampai di depan rumah berpagar hitam itu.
"Iya."
"Berarti, itu rumahnya Gery," tunjuk Dava ke rumah berpagar cokelat di sebelah rumah Odi.
"Iya. Mau mampir dulu?" tawar Odi basa-basi.
"Nggak. Lain kali aja. Udah sore. Ntar lo malah kena omel bokap nyokap lo."
Air muka Odi seketika berubah. "Oh, nggak kok. Gue di sini cuma sama nenek."
Dava menyadari perubahan ekspresi wajah Odi. Sepertinya perkataannya barusan tak sengaja menyinggung perasaan Odi. Dia jadi tak enak hati. "O-oya udah. Ntar kapan-kapan, deh. Gue mampir."
Suasana mendadak canggung. Akhirnya suara Odi memecah keheningan di antara keduanya. "Makasih ya udah traktir makan sama nganterin gue pulang."
Dava tersenyum. "Iya. Udah buruan masuk."
"Lo pulang dulu, gih," usir Odi.
"Ngusir nih ceritanya."
"Udah sanah pulang."
"Iya-iya nih gue pulang." Dava menaik turunkan kedua alisnya ke atas dan ke bawah sambil berkata, "Jangan kangen, ya."
"Idih, najis!"
Odi buru-buru melangkahkan kakinya masuk. Kemudian menutup pintu dengan keras. Dengan tampang sedikit jijik Odi berbisik, "Ih, amit-amit gue punya cowok kayak gitu, deh."
Tiba-tiba nenek datang. "Ada apa sih, Di?"
"Ng-nggak ada apa-apa kok, Nek. Odi masuk dulu." Odi melenggang menuju kamarnya.
Nenek kemudian menengok ke depan gerbang dari jendela. Dia mendapati seorang pemuda hendak melajukan motornya. "Tumben Odi pulang sama temennya yang lain," desisnya.
***
Setelah mandi dan berganti pakaian kaos oblong dan celana pendek santai, Odi mengambil ponsel. Hendak memeriksa media sosialnya. Tak sengaja, wajah Dava lewat di beranda Instagramnya.
"Eh, apaan, nih. Kok bisa ada dia lewat di IG gue."
Odi mulai penasaran. Membuka akun media sosial si ketua ekskul bulutangkis itu. Dia melihat satu per satu foto yang diunggah di sana.
"Ternyata suka One Piece juga."
Ada banyak foto action figur One Piece. Kini Odi tahu satu hal persamaan mereka. Sama-sama menyukai animasi karya Eichiro Oda itu.
"Ih, lucu. Ini pasti mahal, deh."
Odi beralih ke foto Dava yang mengenakan kaos polos putih dengan rambut sedikit acak-acakan.
"Lumayan cakep juga di sini," puji Odi spontanitas. Tapi beberapa saat kemudian dia buru-buru memukul mulutnya sendiri. "Idih! Kenapa gue malah jadi terpesona sama si kutu kupret itu?! Amit-amit."
Dia terus menggeser foto sampai ke bawah. Hingga matanya tertuju pada gambar seorang laki-laki yang sedang bermain bulutangkis tetapi bukan Dava. Lalu di sebelahnya, ada foto Dava kecil dan laki-laki itu sedang tersenyum sambil mengangkat raket. Tak ada keterangan tulisan apa pun di sana. Hanya ada satu emoticon hati berwarna ungu.
__ADS_1
"Siapa dia?"
Bersambung...