Cerita Odi

Cerita Odi
Enam Belas


__ADS_3

 


Setelah sampai rumah Odi, Dava tak langsung pamit.


 


"Duduk aja. Nggak usah malu-malu, biasa malu-maluin juga," ujar Odi sambil terkikik.


Dava masuk lalu duduk di sofa beludru abu-abu ruang tamu.


"Di, mau gue bantu editin videonya nggak?" tawar Dava iseng.


Di luar dugaan, Odi justru menyetujuinya. "Boleh. Tapi gue nggak punya duit buat bayar lo."


"Santuy aja, Di. Lu mah, kayak sama siapa aja. Gue iklas dunia akhirat, kok."


"Beneran, nih?"


Dava mengangguk. "Iya, lah. Masa boongan."


Odi memastikan lagi. "Serius?"


"Iya. Mana sini, keburu gue berubah pikiran, nih."


Mendengar hal itu, mata Odi berbinar. "Oke, bentar, ya. Gue ganti baju dulu." Kemudian segera menuju kamar.


Sembari menunggu Odi berganti pakaian, Dava melihat-lihat sekeliling. Banyak foto-foto Odi yang terpajang di dinding maupun dipamerkan di meja sudut. Potret dari mulai bayi hingga saat ini, seolah menunjukkan pertumbuhan gadis itu. Tapi anehnya tak ada satu pun gambar orang tuanya. Beberapa foto diambil bersama sang nenek, ada pula yang bersama Gery dan Rani, selebihnya hanya potretnya sendirian dengan berbagai pose. Tiba-tiba nenek keluar dan menyapanya di ruang tamu sedikit membuat Dava kaget.


"Eh, ada tamu. Ini teman sekolah Odi, ya?" sapa nenek ramah.


"Iya, Nek. Saya Dava," balas Dava sambil tersenyum.


"Biasanya yang main ke sini cuma Rani sama Gery. Nenek seneng Odi sudah mulai banyak teman."


"Memang Odi nggak pernah main sama teman yang lain, Nek?"


"Odi sedikit tertutup, mungkin karena orangtuanya bercerai saat dia masih kecil. Jadi dia sulit percaya sama orang lain. Tapi sejak kenal Rani, dia mulai membuka diri. Dulu dia ngikutin Gery terus kemana-mana," cerita nenek.


Dava hanya menganggukkan kepala. "Jadi, Odi udah tinggal sama nenek dari masih kecil, Nek?"


"Iya, ayah sama ibunya sibuk kerja, jadi Odi dititipkan sama nenek dari masih bayi. Dulu, sebelum berangkat kerja, ibunya menitipkan ke sini. Tapi setelah mereka berpisah, Odi malah ikut tinggal di sini," jelas nenek.


"Sekarang ibu dan ayahnya Odi ke mana, Nek?"


"Ada. Ibunya di Bekasi dan ayahnya di Bandung sudah menikah lagi."


Lagi-lagi Dava menganggukan kepala. Akhirnya dia tahu penyebab Odi hanya punya sedikit teman dan selalu bersama Gery. Dan bagaimana latarbelakang keluarga Odi. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada nenek. Tapi rasanya kurang sopan kalau bertanya masalah pribadi. Yang lebih membuatnya penasaran adalah kenapa Odi bisa makan banyak selama ini.


"Nek, Odi emang makannya banyak, ya?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya.


Nenek menerawang. "Itu kebiasaan Odi dari masih kecil. Sebenarnya Odi makan dengan normal, tapi semenjak ayahnya pergi dan ibunya sibuk bekerja, dia jadi anak yang murung. Dulu nenek selalu bilang, makanlah yang banyak maka rasa sedih akan hilang dan rasa bahagia akan semakin bertambah. Odi melakukan itu, dia makan dengan porsi banyak setiap perasaannya sedih, marah ataupun bahagia. Dan itu berlanjut sampai sekarang."

__ADS_1


"Nenek senang, sekarang ada Dava juga. Nenek titip Odi ya, Dava," lanjut nenek.


Odi datang dengan pakaian lebih santai, baju rumahan sambil membawa minuman dan cemilan. "Lagi ngomongin Odi ya, Nek?"


"Ih, lo ke-GR-an banget sih, Di. Orang gue sama nenek lagi curhat, kok."


Odi melotot. Dia tak percaya. "Masa, sih?"


"Ya udah kalo nggak percaya juga nggak apa-apa."


Odi memasang tampang sebal. Sedangkan Dava sudah tergelak.


"Udah, ah. Jangan berantem. Nenek nggak bilang apa-apa, kok. Ya udah nenek masuk dulu," ujar nenek sambil berlalu.


Odi melirik Dava. "Tadi nenek ngomong apa aja?


"Nggak ngomong apa-apa kok."


"Yang bener?"


"Iya, Mana sini laptopnya, gue pindahin videonya sekalian gue editin."


"Beneran nenek nggak ngomong apa-apa?" tanya Odi lagi. Dia masih juga tak percaya.


"Ya elah, Di. Kepo banget, sih. Mendingan lo makan ini aja." Dava mengambil keripik pisang dan menyuapkan ke mulut Odi.


Sambil mengunyah Odi berkata, "Awas aja kalo lo bohong."


"Di, bagian ini dipotong aja, ya." Dava memperlihatkan potongan video Odi.


"Mana? Oh itu. Iya, potong aja. Di situ gue belepotan banget. Sama yang ini kasih efek, dong. Biar rame."


"Bisa. Bentar gue cariin efek yang cocok."


Setelah beberapa menit mencari, Dava menawarkan beberapa pilihan. "Kalo pake efek ini gimana?"


"Lebay banget. Nggak. Jangan," tolak Odi.


"Kalo ini?"


"No! Gue jadi kayak main tiktok."


"Nah, kalo ini gimana?"


"Itu terlalu biasa."


Dava mulai sebal. "Terus yang mana?"


"Sini biar gue yang milih aja. Minggir lo." Odi menggeser laptop ke hadapannya.


Setelah menemukan seleranya, Odi berujar, "Nah, ini baru cakep."

__ADS_1


"Eh, tutup botol, ini sih yang tadi pertama lo bilang lebay. Ah elah," protes Dava.


"Masa? Emang iya, ya." Odi meringis sambil menjulurkan lidah.


"Eeeh gue buang juga lo ke rawa-rawa."


Mereka sesekali melemparkan lelucon garing. Dan anehnya justru membuat mereka semakin akrab. Tak ada kecanggungan lagi diantara mereka. Tanpa disadari ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalam hati Dava. Yang jelas Dava merasa nyaman bersama Odi. Begitupun sebaliknya.


Tiba-tiba terdengar dering ponsel Odi. Dava melirik. Panggilan dari Rani. Bergegas Odi mengangkat. "Hallo, Ran?"


"Di, lo udah ngerjain PR Matematika belum?"


"Belom, lah. Kan, buat minggu depan."


"Jadi bukan buat besok, ya?"


"Bukan, Cantik. Tenang aja."


"Huft, gue udah stress tadi gara-gara baru inget ada PR. By the way, lo lagi ngapain?"


"Gue lagi nemenin ngedit video yang mau diupload buat youtube gue."


"Nemenin siapa? Bang Gery?"


"Bukan." Odi melirik Dava yang masih sibuk mengedit.


"Siapa?"


"Dava."


"Duh, makin lengket aja kalian. Ya udah deh, gue takut ganggu. Bye."


Panggilan terputus.


"Siapa yang telepon?" tanya Dava basa-basi. Karena faktanya dia sudah tahu si penelepon tak lain adalah Rani.


"Rani. Tanya PR biasa. Udah, yuk. Lanjut lagi."


Dava selesai mengedit dan mengunggah video ke youtube Odiodidi. Baru beberapa menit diupload, viewers mulai berdatangan dan subscriber semakin bertambah.


"Wah, baru beberapa menit udah banyak aja yang nonton."


"Gue yakin kalo lo konsisten gini terus, bakal cepet dapet Silver Play Button, Di."


"Iya. Duh, gue seneng deh. Makasih, Va. Kalo gue minta bantuan ngedit lo lagi, mau nggak?"


"Ya elah, Di. Jangan kan ngedit, jadi pacar dunia akhirat lo aja abang mau."


"Idih, modus!"


Odi makin semangat membuat konten lainnya. Besok, Dava mengajaknya lagi untuk membuat konten-konten yang lebih menarik. Jelas Odi setuju. Odi yakin kepopulerannya akan segera mengalahkan ketenaran Bella saat ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2