
Jarum jam sudah menunjuk ke angka tiga dini hari, tapi Odi masih terus berusaha mengisi soal-soal Geografi.
Odi menampar pipinya beberapa kali. "Odi, jangan tidur, please. Ini kesempatanmu jadi terkenal. Semangat!" Dia menyemangati dirinya sendiri.
Odi kemudian punya ide. Dia beranjak dari meja belajar mengambil kotak obat.
"Nah, pake ini aja." Odi mengambil minyak gosok dengan botol plastik hijau dan membawanya kembali ke meja belajar.
Untuk melawan rasa kantuk, Odi mengolesi pipi di dekat bagian bawah matanya dengan sedikit minyak kayu putih. Panas dan perihnya minyak itu untuk menjaga matanya agar tetap terbuka. Padahal entah sudah berapa kali dirinya menguap. Besok adalah hari yang dia tunggu seminggu belakangan ini. Hari seleksi Olimpiade Sains Nasional mata pelajaran Geografi.
Beberapa hari belakangan, Odi sudah berusaha belajar semaksimal mungkin. Odi bahkan sering mengorbankan waktu tidur dan makannya. Dia yakin kalau besok pagi dia bisa menjawab soal-soal dan lolos seleksi sekolah. Impiannya jadi terkenal akan segera terwujud. Lama kelamaan rasa kantuknya tak tertahankan lagi. Odi mulai terlelap.
Mungkin Tuhan berkehendak lain. Odi bangun tidur dalam keadaan kurang baik. Badannya menggigil dan kepalanya terasa pusing. Dia mungkin terlalu memaksakan diri akhir-akhir ini.
Sudah pukul setengah tujuh tapi Odi belum juga keluar kamar. Nenek yang merasa cemas langsung memeriksa keadaan Odi. Nenek melihat Odi meringkuk kedinginan dibalik selimut tebal bergambar hello kitty.
Nenek menempelkan telapak tangan di dahi Odi. Demam. "Sayang, bangun. Kamu sakit, Nak."
"Nek, dingin," gumam Odi sambil menggigil.
"Sebentar, nenek ambilkan kompres dan obat, ya."
Setelah beberapa menit, nenek kembali dengan baskom berisi air hangat, handuk kecil dan beberapa obat penurun panas. Dengan telaten, nenek mengompres kening Odi.
Nenek kemudian meninggalkan Odi sebentar dan kembali membawa bubur ayam.
"Di, makan dulu, ya."
Odi menggeleng.
"Sedikit saja. Untuk isi perut dan minum obat."
Nenek membantu Odi duduk, kemudian menyuapi cucunya itu. Satu suapan. Dua suapan. Tiga suapan. Ketika nenek akan menyuapkan sesendok bubur ayam keempat kalinya, Odi menggeleng. "Sudah, Nek."
"Satu kali lagi," bujuk nenek.
Walaupun sempat menolak, tapi akhirnya Odi makan juga. Setelah itu nenek menyuruh Odi minum obat paracetamol lalu tidur.
__ADS_1
Nenek merasa khawatir dan menyuruhnya untuk istirahat. Odi ingin pergi sekolah, tapi apa daya, untuk bangun dari tempat tidur saja dia tak bisa.
***
Sepulang sekolah, Gery mampir rumah Odi.
"Gimana keadaan Odi, Nek," tanya Gery pada nenek.
"Demamnya sudah turun dan keadaan sudah lebih baik dari pada tadi pagi," jawab nenek.
"Kamu mau ketemu Odi? Masuk saja." Nenek menawarkan.
"Iya, Nek."
Melihat keadaan Odi dari balik daun pintu, dia melihat Odi yang sedang tidur. Gery merasa bersalah. Karena dia menunjukkan brosur itu, Odi jadi belajar terlalu keras seperti ini. Odi benar-benar keras kepala. Dia gigih sekali ingin mengalahkan kepopuleran Bella. Tak mau mengganggu tidur Odi, niat Gery minta maaf diurungkannya. Gery pulang, dia akan menemui Odi kalau sudah sembuh saja.
Nenek bertanya ketika Gery pamit pulang. "Lho, kok sebentar banget?"
"Iya, Nek. Odi lagi tidur. Gery nggak mau ganggu. Nanti kalo Odi udah bangun aja Gery ke sini lagi," kata Gery sembari mencium tangan nenek kemudian undur diri.
***
Menjelang malam Rani datang menjenguk, membawa kue kering buatannya. Rani memang hobi membuat camilan manis. Berbagai jenis cookies mahir dimasaknya. Rani tahu kebiasaan Odi, jika sedang marah atau sedih Odi pasti akan banyak makan camilan. Odi sering dibuat sakit gigi karena terlalu banyak makan biskuit buatan Rani. Entah memang kuenya super enak, atau memang Odi yang suka makan. Odi melahap dengan cepat seperti tak bisa berhenti memakannya.
"Lo sih terlalu ambisi, akhirnya malah jadi sakit, kan," ujar Rani sembari meletakkan buku catatan Sosiologi di meja belajar Odi.
"Iya, gue kecewa banget, Ran," Odi berhenti makan, kuenya habis.
"Usaha gue seminggu ini enggak ada gunanya," sambungnya lagi sambil menaruh toples kosong di nakas sebelah tempat tidurnya.
"Ya udah, sekarang lo enggak usah mikirin apa-apa lagi. Lo istirahat aja. Tugas Sosiologi ini biar gue yang ngerjain, lo tinggal nyalin aja."
Wajah Odi yang tadinya lesu kembali berseri. "Wah, baik banget sih. Makasih Rani yang cantik."
Rani tersenyum. "Oh iya, Di. Tadi siang pas pulang sekolah, gue kan disuruh Bu Cici ngumpul di ruang PMR, pas gue lewat taman deket lapangan belakang, gue liat Bang Gery sama Kak Bella."
"Hah? Seriusan? Salah liat kali lo."
"Iya, kayaknya gue salah liat, deh. Soalnya pas gue liat lagi ternyata bukan." Rani meringis.
"Ah, lo bikin gue kaget aja. Lo harus periksa mata, deh."
__ADS_1
"Ih, tapi beneran, deh. Gue nggak bohong."
"Iya-iya. Tapi nggak mungkin aja Bang Gery sama Kak Bella ngobrol, mereka aja nggak saling kenal. Lagian Kak Bella mana mau ngobrol sama orang cupu kayak Bang Gery."
"Iya, sih."
Kedatangan Rani dan kue keringnya itu membuat Odi yang sedang sakit dan sedih sedikit terhibur. Angan menjadi populer sekaligus kebanggaan orang-orang sekitar lewat jalan OSN, pupus sudah. Mungkin belum rezeki, pikirnya. Tapi Odi tak ingin menyerah begitu saja. Dia akan terus berusaha menjadi populer dengan berbagai cara.
***
Gery datang menjemput Odi. "Di, gimana? Udah sembuh?"
Odi memakai helm. "Udah, dong. Yuk, berangkat."
Gery melajukan skuternya. "Sorry, Di. Gara-gara gue ngasih brosur itu, lo jadi ngambis ikutan."
"Ya elah, Bang. Bukan salah lo, kok. Gue aja yang terlalu maksain diri. Gue harusnya makasih ke lo. Karena lo udah ngasih ide ke gue. Tapi mungkin Tuhan nggak ngijinin gue ikutan."
"Terus tahun depan lo mau ikutan lagi?"
"Kayaknya nggak, deh. Gue nyerah aja. Hehe."
Gery tergelak.
"Bang, masa tadi malem Rani bilang, kemaren ngeliat lo sama Kak Bella di lapangan belakang sekolah," cerita Odi.
Gery buru-buru menyangkal. "Iy—iya nggak mungkinlah, Di. Kemaren gue langsung pulang."
"Nah, gue juga nggak percaya. Tapi dia bilang beneran liat lo. Eh, pas diliat lagi ternyata bukan lo. Kayaknya matanya udah nggak beres, deh. Butuh kacamata."
"Mendingan suruh Rani periksain matanya aja."
"Iya, gue juga bilang gitu ke Rani."
"Ya udahlah, Di. Nggak usah dipikirin. Ini rencana lo setelah gagal ikut OSN apaan? Masih pengen ngalahin Bella?"
"Masihlah. Tapi gue belum tau mau ngapain lagi. Lo kasih ide, dong."
"Kalo kata gue, mendingan lo berhenti aja. Lupain kata-kata Bella. Lo hidup aja kayak biasa."
Odi mengerucutkan bibirnya. "Ih, apaan sih, Bang. Lo kok nggak dukung gue, sih. Sebel."
__ADS_1
Gery tertawa. "Iya-iya gue dukung lo, kok."
Bersambung...