
"Hallo?"
"Hallo, Di. Lo dimana?"
"Gue di rumah, Ran. Bete banget nih, males ngapa-ngapain."
"Gue ke rumah lo ya."
"Oke."
Sambungan telepon terputus.
Selang dua puluh menit, Rani tiba di rumah Odi. Rani membawa beberapa makanan manis dan es krim untuk meredakan kegalauan Odi.
"Gue sebel, tapi gak tau apa yang gue sebelin," kata Odi sambil menjilat es krim conenya.
"Ya udahlah, Di. Lagian lo kan emang nggak berhak marah atau sebel. Lo aja bukan siapa\-siapanya Kak Rio. Lo tuh kadang\-kadang aneh. Lo nggak berani nyapa Kak Rio langsung, tapi galau\-galau nggak jelas gini," Rani menyendokan es krim ke mulutnya. "Gue berasa ngeliat penganut bias is mine yang galau denger kabar biasnya datting sama idol lain," sambungnya.
Tok ... Tok ...
"Di, ini gue." Suara Gery dari balik pintu.
"Masuk aja, Bang. Nggak dikunci," balas Odi.
Gery masuk membawa beberapa kantong plastik. "Nih gue bawain es kepal sama nasi padang, mau nggak?"
"Maulah, Bang. Tau aja kalo gue lagi galau butuh asupan banyak makanan, thanks ya abang ganteng," ujar Odi sambil mengambil kantong plastik yang dibawa Gery.
Rani kaget karena ada banyak bungkusan nasi padang dan es kepal. "Banyak banget, Bang. Buat se\-RT?"
"Satu buat lo, Ran. Satu buat gue. Dan itu semua sesajen buat si perut karet ini kalo lagi galau." Kebiasaan Gery mengacak rambut Odi.
Mata Rani membulat. "Hah? Lo bisa makan sebanyak ini, Di?"
Odi mengangguk sambil terus menikmati es krimnya yang tinggal sedikit.
"Kalo ada lomba makan, pasti lo menang, Di," ujar Gery sambil tertawa.
"Gue rekam ya, Di. Gue baru tau kalo lo makhluk langka." Rani mengambil ponselnya dan mulai merekam.
"Ah, gue punya ide. Lo kan ngebet banget pengen populer, Di. Gimana kalo lo bikin channel Youtube aja," usul Gery.
"Oh iya, betul juga, Bang. Lo cerdas banget. Nggak sia\-sia gue nempel lo terus selama ini," ujar Odi sambil memukul\-mukul lengan Gery.
Rani mengacungkan jempol. "Nah, kalo ini gue setuju."
"Ran, tanyain nenek, dong. Senter di mana?" ujar Gery ke Rani.
"Senter buat apa, Bang?" tanya Rani.
"Buat lighting, biar terang," jawab Gery.
"Oke." Rani langsung menuju ruang keluarga mencari nenek.
"Kamar gue udah terang benderang gini kok, Bang," protes Odi.
__ADS_1
"Udah deh siapin aja, ntar juga kalian tau."
Rani menyerahkan senter pada Gery. "Nih, Bang."
"Di, coba lo geser ke kanan dikit, agak ke sana lagi, nah iya bener." Gery mengatur pencahayaan dan background agar gambar terlihat lebih bagus.
"Ran, tolong ambilin piring yang agak gedean, kalo pake bungkusan gini nggak enak dilihatnya," perintah Gery pada Rani.
"Siap, Bang." Rani buru\-buru menuju dapur.
Gery lanjutkan memberi instruksi, "Dan lo, Di. Benerin tuh rambut, jangan cepolan berantakan gitu."
"Kalo perlu, mandi dulu gih," imbuhnya.
"Gue udah mandi, Bang. Lo tuh yang masih bau."
Gery tergelak. "Ya udah. Lo siap-siap. Mau bikin video harus keliatan cantik dikit, dong."
Odi tak terima. "Oh, berarti gue jelek?"
"Iya. Lo jelek." Gery terkikik.
Boneka beruang melayang ke arah Gery yang sedang tertawa. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Odi.
"Hahaha. Lagian lo tanya begitu. Lo cantik, kok. Makanya biar tambah cantik lo benerin tuh penampilan."
Odi patuh. Dia membetulkan pakaiannya dan segera membubuhkan bedak dan pewarna bibir berwarna nude pada wajah dan bibirnya
Sambil menyisir rambut Odi berkata, "Pake kamera hape emang nggak apa-apa, Bang?"
"Nah, gini kan seger. Kalo gitu lo foto buat thumbnail dulu ya, Di," lanjutnya sambil membidik Odi.
Semua sudah siap, shooting dimulai dengan perkenalan diri.
"Hai, guys. Gue Odi. Ini video pertama gue."
"Di video ini gue mau mukbang nasi padang dan es kepal." Odi meperlihatkan makanan dan minumnya ke kamera. Lalu Odi memakan empat bungkus nasi padang yang dijadikan satu piring dan lima es kepal hanya dalam waktu singkat. Rani yang melihat secara langsung pun sempat tak percaya. Lagi-lagi Rani menggelengkan kepalanya. Takjub. Sedangkan Gery yang sudah terbiasa melihat Odi hanya senyum-senyum sambil terus mengambil gambar.
Gery melihat hasil rekamannya, "Nah, sekarang tinggal bikin akun Youtube terus upload."
"Wah, hasilnya bagus banget, Bang," ujar Odi.
Dengan tampang sombongnya Gery berkata, "Iya, dong. Gery Mahardika gitu loh."
Senja menjelang, Gery pamit pulang. Ada tugas katanya. Odi dan Rani sibuk mengedit video yang akan diunggah ke akun Youtube channelnya.
"Di, ni akun mau lo namain apa?"
"Emmm ... Karena ini akun ngebahas tentang gue jadi gue namain Odiodidi, gimana?"
"Boleh juga. By the way, judul video ni apa?"
"Emm ... Apa, ya? Harus yang menarik."
"Gimana kalo mukbang challenge, lo kan tadi makan cepet banget. Jadi kayak semacam tantangan melawan waktu gitu," jelas Rani.
__ADS_1
"Bagus, tuh. Oke tinggal upload dan selesai, deh. Duh, gue deg-degan, nih. Ada yang bakalan nonton konten gue nggak, ya?"
"Sabar. Kita tunggu aja deh, Di. Oiya, lo udah daftar adsansenya, kan?"
"Udah, dong. Tenang aja."
Setelah satu jam menunggu hanya ada beberapa orang yang menonton kontennya.
"Gimana nih, Ran? Yang nonton dikit."
"Sabar, dong. Baru sejam diupload. Tenang aja."
"Kalau nggak ada yang nonton lagi, gimana?"
"Iya, nggak gimana-gimana. Kan lo baru ngapload satu video. Lo buat aja lagi aja video yang lain. Kan tetap aturan adsensenya seribu jam tayang."
"Berarti gue harus banyak upload video?"
"Iya. Tapi emang agak susah, sih. Sekarang youtuber menjamur. Banyak banget. Persaingan pasti ketat."
"Terus gimana, Ran?"
"Tau ah, lo dari tadi gimana gimana mulu."
Terdengar ponsel Rani berdering. "Bentar, ya. Gue angkat dulu. Bokap gue, nih."
Odi mengangguk.
"Iya, Pah."
"..."
"Ini Rani masih di rumah Odi. Bentar lagi pulang."
"..."
"Iya. Ya udah, ni Rani pulang sekarang. Bye, Papah."
Rani mengakhiri sambungan telepon dengan ayahnya.
"Kenapa? Bokap lo nyuruh balik?" tanya Odi.
"Iya, Di. Calon nyokap gue sama anaknya mau ke rumah," jawab Rani.
"Jadi beneran bokap lo mau nikah lagi?"
"Iya."
"Serius lo nggak apa-apa?"
Rani tersenyum. "Iya, gue nggak apa-apa, kok. Tenang aja. Lagian gue yang nyuruh bokap buat cari pendamping lagi."
"Ntar deh, gue ceritain. Gue balik dulu, ya."
"Ya udah. Makasih buat kuenya ya, Ran. Ati-ati di jalan."
Rani sudah pamit pulang lima menit yang lalu. Odi melihat viewers videonya tak ada kenaikan yang signifikan. Odi sudah pesimis. Pasti gagal lagi. Dia menutup laptopnya.
__ADS_1
Bersambung...