Cerita Odi

Cerita Odi
Sebelas


__ADS_3

 


"Terima ... Terima ... Terima ..."


Sayup-sayup terdengar suara ramai dari kantin. Odi berlari menuju arah suara, membelah gerombol siswa yang sedang mengelilingi sesuatu. Dia disuguhi pandangan yang tak biasa. Odi melihat Rio sedang berlutut dengan bunga di tangan. Persis adegan penembakan di film\-film romansa. Bella yang malu\-malu menganggukkan kepala diikuti sorak sorai menggema di mana\-mana. Mereka jadian.


"Nggak boleh!" teriak Odi.


Semua mata tertuju padanya. Malu, Odi yang menangis langsung lari menjauh. Karena tak melihat jalan, Odi jatuh tersandung. Dan akhirnya terbangun dari mimpinya.


 


"Ah, sial. Kenapa gue mimpi kayak gitu, sih?!" gerutunya sambil sesekali memukul bantal.


Mimpi buruk, Rio idolanya jadian dengan Bella. Odi menengok jam beker yang ada di sebelah tempat tidurnya. Jarum jam masih menunjukkan pukul dua malam. Untung itu hanya mimpi.


"Gue perlu cuci muka biar mimpinya nggak bersambung." Buru-buru Odi ke kamar mandi.


Setelah kembali dari toilet, gadis itu berusaha untuk tidur. Tapi kedua matanya justru seolah enggan terpejam. Potongan adegan mimpi tadi terus berputar di otaknya. Odi berusaha menghalau ingatan itu dengan menenggelamkan wajahnya di selimut. Juga berusaha membolak balikan posisi agar tidur dengan nyaman. Tapi hasilnya justru membuat itu semua semakin memenuhi kepalanya. Dia kesal.


"Ah! Nggak bisa! Gara-gara mimpi itu gue jadi nggak bisa tidur."


Odi mengambil ponselnya yang sedang di-charge. Membuka media sosial, bermain game dan menonton video di Youtube sampai matahari terbit. Namun tetap saja membuat perasaannya tidak lebih baik.


Karena sudah pagi, Odi segera mandi dan bersiap pergi ke sekolah. Lepas itu dia menuju meja makan.


Terlihat nenek sedang menyiapkan makanan. Nenek menengok ke arah jam dinding. "Tumben pagi-pagi udah siap. Biasanya nenek ketok pintu dulu baru bangun."


Tak ada jawaban yang terlontar dari bibir Odi.


Nenek melirik Odi. "Kok cemberut. Pagi-pagi nggak boleh cemberut. Pamali kalo kata orang jaman dulu."


"Kamu kenapa, sih?" tanya Nenek.


"Nggak apa-apa, Nek. Cuma nggak enak badan aja," jawab Odi sekenanya.


"Kalau sakit, istirahat di rumah saja."


"Nggak, kok. Nggak usah. Nanti di sekolah juga sembuh."


"Ya sudah. Cepetan bubur ayamnya dimakan, ntar keburu dingin."


"Iya, Nek."


Setelah melahap sarapannya, Odi ke rumah Gery. Gery yang baru keluar dari rumah heran melihat Odi.


"Waduh, ada angin apa, nih. Seorang Maudy Wulandari nyemperin gue duluan."


"Apaan sih, Bang. Udah buruan berangkat."


"Ntar gue pake sepatu dulu. Lagian masih pagi. Udah makan lo?"


"Udah, Bang. Buruan napa. Lelet amat."

__ADS_1


Selesai memakai sepatu, Gery mengeluarkan vespanya. "Yaelah. Sabar. Kenapa sih lo?"


"Nggak apa-apa."


Gery menyerahkan helm pada Odi. "Alah, nggak apa-apa tapi manyun begitu."


"Bodo!" Odi memakai benda pelindung kepala itu.


"Ih, galak amat, Neng. Lagi dapet lo?"


"Tau ah. Bete gue."


"Iya-iya. Buruan naik."


Odi naik ke sekuter Gery. Selama perjalanan mereka tak banyak bicara tak seperti biasa. Gery merasa ada yang janggal.


Gery melihat ke arah spion kirinya. "Di, kalo lo ada masalah, bilang ke gue."


"Iya, Bang."


"Terus ini lo kenapa?"


Odi menggeleng. "Nggak apa-apa, Bang. Ntar kalo udah tenang, gue ceritain. Tapi bukan sekarang."


"Ya udah. Pokoknya kalo lo ada apa-apa bilang ke gue, ya."


"Iya, Bang. Makasih."


"Lo kenapa, Di? Gue perhatiin lo hari ini lesu banget, nggak kayak biasanya. Lo sakit?" tanya Rani sambil membereskan buku-bukunya karena bel pulang sekolah sudah berbunyi lima menit yang lalu.


"Gue, kok. Gue nggak sakit, tadi malam gue mimpi buruk," jawab Odi jujur.


"Lo emang mimpi apa? Hantu?" tebak Rani.


"Lebih serem daripada hantu," Odi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Gue mimpi Kak Rio jadian sama Kak Bella," lanjutnya.


"Udah? Cuma mimpi kayak gitu doang? Ya elah, Di. Lagian lo juga tau kalo mereka emang lagi deket. Lo nggak ngecek grup line?"


"Nggak, kenapa? Aplikasi line udah gue hapus. Emang ada berita apa di grup sekolah?"


"Ada yang denger kalo kemaren emang Kak Rio nembak Kak Bella waktu pulang sekolah. Grup langsung heboh banget, lho."


Odi melotot. "Hah?? Serius? Lo nggak lagi becanda kan, Ran?"


"Nggak. Nih baca aja sendiri." Rani meyerahkan ponselnya pada Odi.


Odi membaca semua obrolan yang ada di grup itu. Dan berita itu memang sepertinya benar. Ada beberapa temannya yang melihat kemarin. Walaupun Bella belum menjawab. Tapi dari kedekatan mereka selama ini, Bella tak mungkin menolak.


"Oh iya, bener. Gimana dong, Ran?" rengeknya.


Hati Odi bagai tertusuk ribuan jarum. Sakit. Dia belum siap menerima kenyataan jika Rio benar-benar bersama dengan Bella.


"Ya udah ikhlasin aja. Lagian sih lo nggak gercep. Keduluan deh."

__ADS_1


"Ih, kok lo gitu sih, Ran. Temen lagi sedih, nih. Hibur kek, apa kek."


"Lo nggak usah galau. Kan lo tau kalo mereka emang lagi PDKT. Seharusnya lo juga udah siap kalo mereka jadian."


Odi memanyunkan bibirnya. Benar. Seharusnya dia tak mengharapkan sesuatu yang tak mungkin digapai. Harapan itu akan berbalik membuat sakit. Apalagi harapannya tentang Rio.


"Udah ah, gue mau kumpul PMR dulu. Lo pulang sama Bang Gery, kan?"


Odi mengangguk.


"Ya udah ati-ati, ya. Bye." Rani berlalu.


Odi menghela napas. "Huft. Di, mulai sekarang lo harus terima kenyataan!"


Dia mengambil tasnya kemudian meninggalkan kelas menuju tempat parkir. Tapi di parkiran, mood Odi justru semakin buruk. Karena tak sengaja melihat Bella dan Rio.


"Lo bener-bener suka sama Rio, ya?" tanya Gery yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya.


Odi terkejut. "Eh, Bang. Bikin kaget aja."


"Padahal gue dari tadi di sini. Lo sih ngelamun mulu."


"Jadi beneran lo naksir Rio?"


"Emang keliatan banget ya, Bang?" Odi malah balik bertanya.


"Iya, jelas banget malah. Emang lo kenal sama Rio?"


"Nggak kenal sih, Bang. Tapi bagi gue Rio itu perfect banget sebagai cowok."


"Itu keliatannya. Tapi lo kan belum kenal dia sebenernya kayak gimana," Gery mengambil helm dan memasangkannya ke kepala Odi. "Udah yuk pulang," ajak Gery.


Odi mengangguk dan naik ke vespa Gery. Di jalan tiba-tiba Gery berkata, "Jangan-jangan yang tadi pagi itu lo ngegalauin Rio juga."


Tepat. Odi tak bisa berkilah.


"Iya, kan? Udah jujur aja sama gue."


"Iya, Bang." Akhirnya Odi mengaku.


"Kenapa? Cerita, dong."


"Gue mimpi Kak Rio jadian sama Kak Bella."


Seketika tawa Gery pecah.


"Ih, kok ketawa, sih?!"


"Abis lo ngomongnya ngaco. Ya nggak mungkinlah, Di."


"Nggak usah sok tau deh, Bang. Kok nggak mungkin, sih? Mereka itu kan lagi deket."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2