
Hari ini Odi siap menghadapi tantangan Mega, Lala dan Icha tempo hari.
"Akhirnya lo datang juga, Di," sambut Lala ketika Odi dan Rani baru tiba di rumah Mega.
"Sorry telat, soalnya tadi angkotnya ngetem agak lama," ujar Odi.
"Gue kira lo nggak berani dateng," cela Mega.
Tak terima, Odi menjawab, "Ya elah, gini doang masa takut, sih. Kalau soal makanan mah gue nggak akan pernah mundur."
"Lo jangan sombong dulu, Di. Kita belum liat kebenarannya," timpal Icha.
"Gue bakal buktiin itu semua ke kalian." Odi tak mau kalah.
"Oke, kita buktikan aja sekarang," ujar Mega menengahi kemudian mengarahkan mereka untuk mengikutinya.
Mereka semua mengekori Mega sampai ruang makan. Di sana sudah tersaji banyak makanan. Mega menyediakan lima kotak pizza berukuran besar serta tiga botol soda ukuran satu liter. Mega bahkan juga menggunakan kamera profesional dan ring light untuk merekam aksi Odi nanti.
Rani sedikit terkejut. "Seriusan ini mau dimakan Odi sendirian?"
Mega menjawab, "Iya, dong. Kita mau buktiin seberapa kuat perut Odi nampung makanan. Kenapa? Masih kurang? Kalo kurang ntar gue pesenin lagi, deh."
"Ini, sih udah kayak hajatan, orang tua lo nggak apa-apa?" kata Rani.
"Bokap sama nyokap gue lagi keluar kota. Kalau masalah duit, santai aja. Uang jajan gue masih banyak." Mega menyombongkan diri.
Kemudian Rani berbisik pada Odi. "Lo yakin bisa ngabisin itu semua, Di?"
"Lo tenang aja. Gue pernah makan lebih dari ini, kok. Santuy aja," balas Odi lirih.
"Gimana? Lo siap, Di?" tanya Mega.
Odi mengangguk yakin. "Siap!"
Odi bersiap di tempat duduk depan kamera sambil menatap penuh minat makanan di hadapannya.
"Satu ... Dua ... Tiga ...," teriak Mega.
Mega mulai merekam, Lala yang memegang stopwatch untuk menghitung waktunya. Odi makan dengan santai dan benar-benar melahap semua makanan dan minuman yang sudah disiapkan. Odi benar-benar menikmati tiap gigitannya. Membuat siapa pun yang menonton adegan makan itu menjadi lapar. Dia seolah menghipnotis mereka yang kini sedang merekam.
Sesekali Rani, Lala dan Icha menelan ludah. Melihat Odi makan, mendadak napsu makan mereka meningkat. Pizza dan soda yang dimakan dan diminum Odi tampak lezat dan enak. Tak heran video Odi mukbang kemarin langsung tranding. Benar-benar luar biasa.
Potongan demi potongan pizza dengan topping daging dan keju mozzarella itu seketika lenyap. Yang tertinggal hanya kotak-kotak kosongnya. Tiga botol soda warna magenta, bening dan cokelat itu juga habis tak tersisa.
Dua puluh satu menit tiga puluh empat detik, Odi mengangkat tangan tanda semua misi selesai, kemudian bersendawa dengan suara keras. Mereka bertiga tak bisa berkata-kata lagi. Masih belum percaya, tapi itulah yang mereka saksikan.
__ADS_1
Icha yang menyiarakan langsung di instagramnya bahkan tak henti-henti memberi pujian. "Gila, gokil, lo bener-bener luar biasa, Di."
"Sekarang kalian percaya kan?" ujar Rani.
"Gila, awalnya gue kira tu cuma trik atau editan aja. Ternyata beneran. Gue akui lo emang keren," sanjung Mega.
"Sumpah gue baru pertama kali ngeliat orang kayak lo, Di. Keren," komentar Lala menambahi.
"Siaran langsung gue banyak banget yang komen positif tentang lo, Di. Lo TOP banget." Icha tersenyum lebar. "Sumpah, ya. Lo kudu sering update akun youtube lo, gue bakal jadi penonton setia."
"Iya, gue juga, Di," sambung Lala.
"Tapi beneran itu perut lo nggak apa-apa, Di?" Mega mendekati Odi.
"Kalem aja, gue nggak apa-apa. Gue emang dari kecil suka makan banyak. By the way, thanks ya buat makanannya," ujar Odi.
"Iya nyante aja, Di. Lagian itu tantangan dari gue. Sorry sempet ngeraguin lo."
"Ah, gue liat lo makan jadi laper. Gimana kalo kita delivery pizza lagi?" Mega menawari.
Dianggukin semuanya. "Setuju!"
Icha berujar, "Bener, tuh. Gue padahal tadi udah makan. Gagal deh diet gue. Tapi nggak apa-apa. Dietnya besok aja."
Mereka berlima kemudian tertawa.
Rani dan Odi pamit pulang. Mereka sekarang berdiri tak jauh dari rumah Mega. Tiba-tiba mobil putih berhenti di depan mereka. Kaca depan mobil itu diturunkan. Terlihat Icha dan Lala di dalam.
"Yuk, bareng kita aja." Icha yang berada di depan kemudi memberi tumpangan.
Odi tersenyum ramah. "Nggak usah. Makasih."
"Beneran kalian nggak mau bareng gue sama Lala aja?"
"Nggak. Lagian arah rumah lo sama daerah rumah gue dan Rani kan berlawanan. Ntar malah ngerepotin," kata Odi.
"Nggak apa-apa. Udah naik aja. Gue anterin," tawar Icha lagi.
"Iya, bener, tuh. Mendingan ikut kita aja. Ini tuh udah malem. Naik angkot bahaya." Lala ikut menambahi.
"Nggak usah. Beneran. Gue sama Rani mau naik taksi online aja," tolak Odi.
"Oya udah. Kita duluan, ya."
Rani dan Odi melambaikan tangan. "Iya, hati-hati, ya."
Setelah mobil Icha sudah menjauh, Rani menyikut lengan Odi.
"Di, kenapa lo tolak, sih? Lumayan kan kalo kita nebeng mereka," protes Rani.
__ADS_1
"Dari tadi siang kan kita udah ngerepotin mereka. Gue nggak enak, lah. Lagian tuh tadi Icha sama Lala udah ngepromoin channel gue di akun Intagram mereka. Lo tahu sendiri, Icha sama Lala kan selebgram. Kalau orang lain pasti minta bayaran, tuh. Terus masa gue mau nebeng juga? Ngerasa nggak tahu diri nih gue."
"Itu kan mereka yang mau sendiri. Bukan lo yang minta. Lagian nih, punya temen kayak gitu harus dimanfaatkan."
Tiba-tiba Odi melotot ke arah Rani. "Lo tuh kebangetan banget, deh. Lo sih iya nggak apa-apa. Lah, gue? Ntar gue lagi yang jadi sasaran."
Rani memanyunkan bibir. "Iya-iya. Sorry. Terus ini kita gimana baliknya?"
"Iya nunggu taksi online, lah. Sabar. Bentar lagi juga nyampe."
Beberapa menit kemudian taksi yang dimaksud datang. "Tuh, udah datang."
Mereka naik ke sana. "Maaf, Mbak. Tadi salah masuk jalan," kata supir taksi itu.
Odi melihatnya merasa tak asing dengan supir itu. Perawakan masih muda, tak lupa dia juga terus menggunakan topi dan masker.
Pikiran negatif menghampiri Odi. "Ran, kok gue kayak familiar sama tuh abang," bisik Odi.
"Masa, sih. Tapi gue nggak bisa liat mukanya dengan jelas," balas Rani tak kalah lirih.
"Jangan-jangan ini taksi yang di berita-berita itu." Odi mengeratkan kaitan tangannya pada lengan Rani.
"Berita apa?" Rani penasaran.
"Yang berkedok taksi online tapi ternyata perampok dan pemerkosa."
Mereka berdua saling berpandangan. "Terus gimana, Di?" Rani mulai ketakutan.
"Pokoknya kalau ada apa-apa, kita langsung serang aja. Oke?"
"Oke-oke."
Tiba-tiba mobil itu berhenti di tengah jalan sepi dan gelap. Si supir taksi lalu menghubungi seseorang. "Gue butuh bantuan, nih. Biasa. Mumpung sepi. Oke. Gue kirimin titiknya, ya. Thanks."
Mendengar hal itu, Rani semakin ketakutan. "Tuh, kan. Gue takut, Di."
"Kalo gue kasih aba-aba, lo ntar langsung pukul aja, ya. Terus kita kabur." Odi mengarahkan.
"Pukul pake apaan, Di. Aduh, ponsel gue mati lagi."
"Lo bawa kamus kan?"
Rani mengangguk kemudian mengeluarkan kamus Indonesia-English yang cukup tebal dan berat.
Ketika si supir itu ingin keluar dan menghadap ke arah kursi penumpang, Odi memberi aba-aba pada Rani.
'Bruk!'
Bersambung...
__ADS_1