Cerita Odi

Cerita Odi
Tujuh Belas


__ADS_3

 


Hari ini sepulang sekolah, Odi menemani Rani ke pusat perbelanjaan dekat sekolah mereka. Rani hanya tinggal dengan ayahnya, karena sang ibu sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu. Jadi dialah yang diberi tugas berbelanja kebutuhan rumah tangga.


Sambil memilih detergen Rani berkata, "Lo udah izin nenek kan kalo pulang rada telat?"


"Udah, dong. Tadi gue udah telepon nenek. Gue juga udah bilang sama bang Ger, kok."


"Bagus, deh. Ntar kalo lo nggak izin nenek kan bisa khawatir." Rani memasukkan detergen ke dalam trolly. "Oh iya, gimana youtube lo? Lo udah dapet silver play button, kan?"


"Udah, dong. Kata nenek, tadi siang paketannya dateng. Rencananya ntar malem mau gue unboxing bareng sama Dava."


 


"Kalian tambah akrab, ya."


"Iya gitu, deh. Dia tuh enak kalo diajak diskusi. Jadi gue nyaman sama dia. Walaupun kadang-kadang agak resek, sih."


"Oh, gitu. Terus-terus?"


"Saran-saran dia tuh kadang ada benernya." Odi menyelipkan anak rambut di belakang telinga. "Katanya kalo rajin upload bakal cepet naik subscriber dan viewersnya. Ternyata bener. Nah, sekarang gue sama Dava udah upload konten dua hari sekali biar cepet dapet gold play button," jelas Odi.


Rani mengambil sabun mandi di rak khusus sabun mandi. "Jadi sekarang kalian satu team?"


"Iya nggak bisa dibilang gitu juga, sih. Tapi dia yang bantuin gue ngedit sama ngerekam." Odi membantu Rani mengambilkan pasta gigi kemudian menaruhnya ke dalam trolly.


"Jadi, dia kerja di lo? Atau gimana?"


"Nggak juga. Dia bantuin gue doang."


Rani menatap Odi. "Berarti Dava sukarela bantuin lo?"


"Iya gitu, deh. Tenang aja, gue nggak sejahat itu. Gue sering traktir dia juga, kok."


"Terus gimana Dava?" Rani mulai kepo.


"Gimana apanya?"


Rani mendorong trolly belanjaannya. "Iya lo kan udah deket sama dia. Udah ditembak belum?"


"Tembak? Yang bener aja. Nggak mungkinlah, Ran. Gue sama Dava itu cuma temenan aja. Lagian gue belum move on dari Kak Rio."


Rani tiba-tiba berhenti. "Jadi sampe sekarang lo masih ngarepin Kak Rio?"


"Iya, dong. Lagi pula Kak Rio sama Kak Bella belum tentu jadian, kan. Jadi, selama janur kuning belum melengkung, hati gue tetep buat Kak Rio yang ganteng."


"Ya ampun, Di. Lo nyadar nggak, sih. Lo tuh selama ini cuma ngefans sama Kak Rio. Kayak gue ngefans ke Kim Taehyung. Nggak lebih, Di."


"Gue yakin kalo gue beneran suka dan cinta beneran sama Kak Rio bukan sekedar ngefans."


"Okey. Lo usaha deketin dong, kalo lo emang beneran suka sama Kak Rio."

__ADS_1


"Gue masih belum berani ngedeketin Kak Rio, Ran. Tapi gue juga nggak ikhlas kalo Kak Rio deket sama cewek lain. Apalagi sama Kak Bella," ujar Odi.


"Terus maunya gimana?" tanya Rani.


"Iya maunya sih Kak Rio yang deketin gue duluan." Odi menjawab malu-malu.


Rani memutar kedua bola matanya. "Kalo lo cuma nunggu Kak Rio gini sampe lebaran gajah juga nggak bakalan ada perubahan. Gengsi amat, sih."


"Bukan gengsi, Ran. Tapi emang kalo deket Kak Rio bawaannya


Odi hanya mendengus. Tiba-tiba ada tiga orang gadis remaja berpakaian seragam SMP yang menghampiri Odi.


"Kakak yang di youtube Odiodidi kan?" ujar gadis berambut sebahu ragu-ragu.


Odi tersenyum ramah. "Iya."


Mereka saling berpandangan dan tersenyum. Kemudian mereka mengajak Odi berswafoto. "Kita fans youtube kakak, lho. Mukbang kakak keren banget. Boleh minta fotonya nggak, Kak?"


Dengan senang hati Odi menjawab, "Oh, boleh-boleh."


Wajah ketiga gadis ABG itu berseri-seri. Beberapa kali mereka mengambil foto bersama Odi.


"Makasih ya, Kak. Kapan-kapan kolab sama youtuber lain, dong," ujar salah satu gadis remaja itu.


Lalu gadis yang lain menambahkan. "Iya, Kak. Terus adain give away juga."


"Iya, makanya ikutin dan tonton terus channel gue. Jangan sampe ketinggalan. Oke?"


"Oke, Kak. Makasih ya, Kak."


"Cie, yang udah terkenal," ledek Rani.


Dengan malu-malu Odi menanggapi. "Ih, apaan, sih. Nggak, kok."


Hei, Odi sudah benar-benar populer sekarang . Selanjutnya tak hanya ketiga gadis remaja itu, ibu-ibu beranak satu mendekatinya. "Mbak Odiodidi, kan?"


Odi tersenyum. "Iya, Bu."


Rani mendorong trolly ke arah kasir. "Di, gue ke kasir duluan, ya. Kayaknya lo bakalan sibuk. Hehehe."


Odi hanya memberi gestur oke untuk membalas Rani.


"Wah, makasih ya, Mbak. Karena video mukbang mbak, anak saya jadi doyan makan. Kemaren-kemaren dia susah banget makannya. Eh, pas ketemu channel Mbak Odiodidi terus nonton video-videonya jadi lahap banget makannya," jelas si ibu-ibu berhijab hitam itu.


"Oh, iya, Bu. Sama-sama. Makasih juga udah nonton channel saya."


"Boleh minta foto nggak, Mbak Odiodidi?"


"Panggil Odi aja, Bu. Boleh-boleh."


Ibu itu dengan anaknya yang berusia sekitar lima tahun berswafoto bersama Odi.

__ADS_1


"Makasih ya, Mbak Odi. Saya seneng benget, lho. Bisa ketemu sama Mbak Odi."


"Iya, sama-sama, Bu."


Setelah ibu itu, memang tak ada yang minta foto lagi, tapi banyak orang yang mengenalinya. Odi merasa seperti artis.


"Udah acara foto-fotonya?" sindir Rani yang sudah menunggunya.


Odi meringis. "Udah. Sorry, tadi lo gue cuekin."


"Iya, nggak apa-apa. Terus ini kita mau ke mana lagi?"


"Gue laper, nih. Makan, yuk."


"Ah, lo mah makan mulu, Di. Ya udah, yuk."


"Mau makan di mana?"


Odi mengedarkan pandangan. Dia menemukan rumah makan cepat saji kesukaannya di lantai bawah. Odi menunjuk ke tempat itu. "Ke sana aja gimana?"


"Oke. Tapi bantuin gue bawain belanjaan, dong. Berat, nih."


"Iya-iya, sini gue bantuin." Odi mengambil salah satu kantong plastik di tangan Rani. "Yuk, buruan. Perut gue udah keroncongan, nih."


Setelah sampai di tempat makan itu, mereka memilih menu.


"Duduk di sini aja ya, Di. Biar pulangnya gampang."


"Iya."


Mereka memilih tempat di dekat jendela tak jauh dari pintu masuk.


"Lo tuh, kebiasaan ya, Di. Kalo makan porsi se-keluarahan," cibir Rani.


"Iya, gue lagi happy. Gue seneng ada yang minta foto ke gue. Udah kayak artis aja. Berarti gue udah terkenal dong, ya."


"Iya-iya, lo udah terkenal. Cita-cita lo udah terwujud. Dan lo bisa ngalahin Kak Bella dengan usaha lo sendiri tanpa pansos ke dia."


Odi menaikan sudut bibirnya. "Iya, dong."


Tiba-tiba netranya menangkap sesuatu yang tak biasa. "Eh, Ran. Coba deh liat orang yang mau keluar itu."


"Kenapa?" Kemudian Rani menengok ke arah yang dimaksud. "OMG. Itu kan Kak Bella."


"Ssstt ... Jangan berisik. Tapi itu beneran Kak Bella, kan?"


"Iya, itu beneran Kak Bella, Di. Kak Bella jalan sama cowok tapi bukan Kak Rio." Rani mulai berfikir. "Kok, jaket cowok yang tadi sama Kak Bella kayak familiar, sih."


"Iya, gue juga ngerasa gitu. Tapi ya udah lah. Ngapain kepo sama urusan orang."


"Oh iya, gue inget! Itu tuh kayak jaket yang sering dipake Bang Gery."

__ADS_1


"Ah, jaket kayak gitu tuh pasaran. Banyak yang punya. Bukan cuma Bang Gery doang. Udah, ah. Lanjutin makan lagi aja."


Bersambung...


__ADS_2