Cerita Odi

Cerita Odi
Dua Puluh Dua


__ADS_3

Tak seperti biasanya, Rio tak berangkat ke sekolah bersama Bella. Padahal Rio sudah rela jauh\-jauh menjemput gadis itu. Sayangnya Bella sudah berangkat lebih dulu. Rio tak tahu kenapa Bella belakangan ini menjauhinya. Rio mulai menerka\-nerka penyebab Bella melakukan itu. Padahal di beberapa penolakan sebelumnya, Bella hanya bersikap biasa saja seperti tak terjadi apa\-apa. Kini tak hanya pesannya yang diabaikan, tapi panggilan telepon darinya juga enggan dijawab.


Rio menuju kelas Bella. Laki-laki melirik ke dalam kelas. Namun, nihil. Bella tak ada di sana. Kebetulan ada beberapa siswa yang dikenalnya di situ, kemudian Rio mendeketi mereka.


"Ron, Bella mana? Udah dateng, kan?" tanya Rio pada Roni yang sedang duduk-duduk di depan kelas bersama beberapa temannya.


"Sorry, Yo. Gue juga baru dateng jadi nggak liat Bella. Coba gue tanyain yang lain." Roni memanggil Intan, gadis berkerudung yang duduk tepat di depan papan tulis. "Tan, lo liat Bella nggak?"


Gadis bertubuh sedikit berisi itu menjawab, "Tadi abis naroh tas, terus keluar. Nggak tau ke mana. Ke toilet katanya."


"Lo tau dari mana Bella ke toilet?" Gadis di sebelah Intan bertanya.


Intan meyakinkan. "Tadi Bella bilang ke gue, kok."


"Hah? Tumben. Ada angin apa nih sampe ijin ke lo segala. Biasanya juga cuek-cuek aja di kelas ini." Nita si gadis berambut keriting itu menimpali percakapan mereka.


"Mood Bella hari ini lagi bagus, deh. Dia bahkan ngasih gue sandwich tadi."


Nita memastikan. "Seriusan?"


Intan mengangguk mantap beberapa kali dengan mata berbinar.


Mendengar informasi yang sebenarnya tak begitu penting baginya, seketika Rio melirik jam tangan. Lima menit lagi bel masuk berbunyi. Dia berniat akan menemui Bella jam istirahat atau pulang sekolah. Setelah itu Rio bergegas pamit kembali ke kelasnya. "Oya udah, thanks, ya."


Sampai bel pulang sekolah berbunyi, Rio tak bertemu dengan Bella. Padahal tadi pagi jelas\-jelas teman sekelasnya bilang, Bella berangkat sekolah seperti biasa. Bahkan katanya hari ini, Bella terlihat lebih ramah dari sebelumnya. Di jam istirahat pun Bella tak menunjukan batang hidungnya di kantin. Rio sudah berusaha menghubungi ponselnya berkali\-kali tapi hasilnya nol. Ponsel Bella tidak aktif.


"Ke mana sih tuh anak? Kenapa ngehindarin gue sampe segininya," cicit Rio pada diri sendiri sembari terus mencoba menghubungi Bella.


"Apa gue cari aja, ya. Gue yakin Bella belum pulang." Rio mencari keberadaan Bella di mana-mana. Dari gedung utama hingga gedung tempat ekstra kulikuler. Bahkan perpustakaan, toilet, ruang ganti dan ruang UKS sudah disambanginya.


Setelah menyusuri sudut sekolah, Rio akhirnya berhasil menemukan Bella yang sedang menangis di taman belakang. Rio hendak menghampirinya, tapi sepertinya Bella sedang bersama seseorang. Tak jelas siapa itu, namun dari belakang terlihat laki\-laki itu memang tak asing. Rio mendekat dan bersembunyi di balik pohon untuk mencuri dengar apa yang dibicarakan Bella dengan laki\-laki itu.



"Gue nggak bisa, Ger." Bella menunduk sambil terus menangis.

__ADS_1


Tiba-tiba Bella menghapus air mata, kemudian menatap Gery. "Gue udah batalin kontrak sama agensi itu, gue lebih milih lo sekarang. Gue sayang sama lo, Ger."


Gery menggeleng. "Gue tetep harus pergi, Bel." Dia mendekati Bella. "Seperti kata lo waktu itu, Bel. Lo harus terus jaga image dengan baik. Dulu lo bilang pencitraan lebih penting dari pada gue. Gue udah ngelakuin semua yang lo mau, menyembunyikan hubungan kita selama setahun ini," sambungnya.



"Kalo lo terima beasiswa ini, kita bakalan tambah jauh, Ger," isak Bella. "Gue nggak punya siapa\-siapa lagi selain lo. Nggak ada yang belain gue lagi, nggak ada tempat gue buat bersandar, Ger."



"Gue masih ada di sini dan di sini." Gery menunjuk hati dan kepala Bella.



"Apa artinya lo udah nggak sayang sama gue? Kita putus?" Bella semakin frustrasi.



Gery malah balik bertanya. "Bel, lo udah tau kan jawabannya? Kita bisa ngelewatin semua ini sama\-sama. *Please*, kasih gue kesempatan buat buktiin kalo gue layak buat lo, buat hubungan kita. Kita kan udah sepakat sebelumnya."




"Sabar, kalo gue ambil beasiswa ini, lo gue bawa kesana. Kita kabur sama\-sama."



Bella tak dapat berkata\-kata lagi. Dia hanya menganggukkan kepala pelan.



Rio mengepalkan tangan di balik dinding. Dia yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka, tampak menahan amarah. Belum lagi melihat adegan mesra mereka berdua, semakin membuat Rio kalap. Dia berniat melapiaskannya dengan memukul laki\-laki yang sedang bersama Bella itu.


Rio penasaran. Siapa gerangan lelaki yang berani mengusik Bella yang sudah dianggap sebagai miliknya? Setelah laki-laki itu berbalik, Rio sedikit terkejut. Bella yang selama ini dicintainya ternyata mencintai pria lain yang menurutnya tak lebih baik dari dirinya. Gery Mahardika kakak kelasnya yang jauh dari kata populer. Tak seperti dirinya yang sempurna.

__ADS_1


"Apa-apaan itu. Bella lebih milih Gery si cupu itu ketimbang gue? Cuih!"


Rio mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka. Walau pun emosinya sudah mengubun. Namun, dia tak mau gegabah dan membuat Bella semakin menjauhinya.


Laki-laki itu mengatur napasnya. "Tenang, Yo. Lo harus sabar. Lo nggak boleh implusif." Rio mencoba menahan dirinya.


Rio mulai mengatur strategi. Dalam perang, taktik lebih penting ketimbang banyaknya pasukan. Seperti halnya ini, dia akan merencanakannya masak-masak. Gery Mahardika sekarang adalah lawannya. Rio beranjak meninggalkan mereka menuju tempat parkir.


Di lain sisi, Gery masih berusaha menenangkan Bella yang masih menangis.


"Udah, dong, nangisnya. Ntar Princess Bella cantiknya luntur," goda Gery.


Bella tak bisa menahan tawa mendengar kejayusan Gery. "Apaan, sih."


"Karena lo udah berhenti nangis gimana kalo gue traktir es krim?" tawarnya pada Bella.


Tak perlu banyak pertimbangan, Bella segera menyetujui. "Ayo!" Bella menarik lengan sang kekasih.


Gery hanya melirik, lalu berujar, "Beneran nggak apa-apa, nih? Ntar seantero sekolah pada tau, loh. Terus ngadu deh ke si ketua OSIS."


"Bodo amat!" balas Bella sambil tertawa.


Di kafe es krim langganan mereka dekat sekolah, Gery memastikan lagi. "Beneran nggak apa-apa nih kalo kita go public gini?"


Bella menjawab dengan beberapa kali anggukkan sambil terus menikmati es krim cokelatnya. "Iya. Kenapa? Lo nggak siap punya pacar artis? Atau lo takut sama Rio?"


"Nggak! Bukan gitu. Tapi kok agak aneh aja."


Bella tergelak. "Aneh gimana, sih? Lo ganteng, kok."


"Maksud gue tuh, gue yang agak risi gitu diliatin orang. Apa karena baru pertama kali, ya. Gue sering jalan sama Odi tapi nggak gini rasanya."


"Tenang aja. Relax. Anggap aja gue Odi." Bella tersenyum.


"Bedalah. Lo ya lo, Odi ya Odi."

__ADS_1


"Aduduh, cowok gue lucu banget, sih," ledek Bella.


***


__ADS_2