
"Perkenalkan ini adalah putri sulung saya, dia yang akan membantu kita diperusahaan ini"
"Selamat siang semuanya, perkenalkan nama saya Diandra Ami Diar. Kalian bisa panggil saya dengan panggilan Diar"
"Selamat siang bu Diar" sapa karyawan secara serempak.
"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya, saya mohon bantuannya"
"Selamat bergabung bu" ucap beberapa orang karyawan.
"Oke, silahkan duduk ditempat yang sudah disiapkan untuk anda bu Diar"
"Terima kasih pak Handika"
"Cantik banget anak pak Handika Far" bisik Deni rekan kerja Farouq.
"Ah biasa aja, cantikan juga cintia pacar gue"
"Ye… lu mah udah dibutakan sama cinta nya si cintia itu makanya liat yang bening dikit gak kelihatan"
"Udah ah bahas apaan sih lu!"
Deni terkekeh kecil ketika melihat rekan kerjanya yang sekaligus sahabatnya itu tetap membela pacarnya tapi pandangan matanya tidak bisa terlepas dari Diar.
"Saudara Farouq silahkan giliran anda mempresentasikan hasil dari observasinya"
Farouq berjalan ke arah layar monitor yang ada di depan, dia mengotak-atik menyetel laptopnya untuk mempresentasikan hasil observasinya.
"Sebelumnya terimakasih atas waktu yang diberikan pak Handika kepada saya untuk itu saya langsung mulai saja"
"Hasil observasi saya mengenai lahan pengembangan itu akan lebih baik jika kita pergunakan sisa lahan yang masih kita miliki untuk lahan terbuka hijau, selain menambah pemasukan perusahaan hal itu bisa juga digunakan sebagai cagar alam yang nantinya bisa memberikan efek positif terhadap penduduk setempat"
"Maksudnya bagaimana pak Farouq?" Tanya Deni meminta penjelasan kepada Farouq.
"Jadi kita bisa membuka taman dengan view pepohonan baik itu akasia ataupun pinus"
"Tapi untuk menanam pohonnya akan memakan waktu yang cukup lama"
"Atau bisa saja kita mencari tanaman yang pertumbuhannya lebih cepat" celetuk Diar memangkas penjelasan Farouq.
"Bisa juga, tapi contohnya pohon apa ya bu Diar yang kira-kira pertumbuhannya bukan tahunan?" Tanya salah seorang karyawan wanita.
"Akasia termasuk pohon yang pertumbuhannya cepat, selain itu diselingi dengan tanaman hias yang bisa tumbuh tinggi. Nanti kita pikirkan bersama cari tau di internet"
"Jadi selain ada manfaatnya juga ada keindahan tersendiri, akasia bisa dimanfaatkan pohonnya untuk bahan bangunan dan rantingnya bisa untuk kayu bakar penduduk setempat"
"Bagus juga, boleh saja tinggal nanti kita atur pendanaannya"
"Nanti kita juga buat taman hiburan dan juga staycation yang ramah di kantong wisatawan"
"Jadi kita tidak hanya membangun tapi juga ada nilai plus memperbaiki cagar alamnya"
__ADS_1
"Boleh, saya setuju" Ucap Handika.
"Sementara untuk masalah kerjasama dengan Dirgantara Group sudah saya ajukan berkas pak"
Farouq selain cekatan dia juga karyawan yang pintar dalam hal kerjasama.
Diam-diam Diar terpesona dengan Farouq, sesekali dia mencuri pandang ke arah pria itu.
"Oke saya cukupkan meeting kita siang hari ini sampai ketemu pada meeting selanjutnya, oh iya Farouq jangan lupa pertemuan berikutnya kamu harus sudah bawa kabar baik"
"Baik pak"
"Saya tinggal dulu, selamat siang"
"Siang pak" Jawab karyawan bergantian.
Pak Handika keluar ruangan disusul dengan karyawannya yang lain.
"Bu Diar" panggil Deni kepada Diar ketika dia akan keluar dari ruang meeting.
"Iya"
"Perkenalkan nama saya Deni, saya manajer keuangan di perusahaan ini" Deni mengulurkan tangannya tanda ingin bersalaman dengan Diar.
"Senang berkenalan dengan anda" Diar membalas jabat tangan dari Deni.
"Far" sikut Deni menyenggol lengan kiri Farouq.
"Saya Farouq" tak lupa Farouq mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Diar.
"Kalau begitu saya permisi keluar sebentar"
'dilihat-lihat bu Diar ternyata cantik juga' Ucap Farouq dalam hatinya.
"Kerja-kerja gak usah dipelototi terus, kemakan omongan sendiri kan lu"
"Apaan sih Den, gue cuma kagum aja sama bu Diar"
"Alah pakek ngeles segala"
"Udah yuk balik ke ruangan dari pada makin gak jelas kita disini"
"Makin jatuh cinta gitu ya maksudnya?"
"Ngawur kamu Den ngawur! Anak bos itu, gak sepadan lah sama kita yang cuma bawahan ini.
******
Setelah waktunya jam makan siang Diar memutuskan pergi ke ruangan milik papanya untuk makan siang bersam bekal yang telah dibawakan mamanya dari rumah.
"Pa! Kalau di lihat-lihat kinerja Farouq bagus ya, selain cekatan orangnya juga cerdas"
__ADS_1
"Kalau itu udah gak perlu di ragukan lagi sayang"
"Terus kenapa papa gak angkat aja dia jadi manager atau bagian yang lebih tinggi gitu"
"Sejujurnya papa pengen dan ada rencana seperti itu, tapi dia itu karyawan baru belum ada satu tahun kalau sampai tiba-tiba naik jabatan apa kata seniornya? Papa pasti akan di cap sebagai pemimpin perusahaan yang tidak adil dan tidak profesional"
"Ini kan perusahaan kita pa, lagian bisa dengan bantu dijelaskan alasannya kan kenapa bisa Farouq si anak baru bisa naik jabatan secepat itu?"
"Di perusahaan besar tidak semudah itu pola berpikirnya sayang, ya mungkin suatu saat ada waktunya dia naik jabatan"
"Padahal sayang banget loh kita punya potensi sebagus itu"
"Kamu kenapa sayang? Kok sekarang jadi tertarik sama masalah kantor? Padahal kamu sebelumnya ogah-ogahan papa minta bantuin di kantor. Jangan-jangan kamu suka ya sama Farouq"
"Papa apaan sih" tepis Diar.
"Tuh pipi kamu aja merah, ternyata putri papa sudah dewasa ya"
"Pa..."
"Gpp sayang, papa akan selalu dukung kamu"
Tok!Tok!Tok!
"Masuk"
CEKLEK...!
Degh!Degh!Degh! Jantung Diar berdetak kencang, jantungnya pun sepertinya tidak bisa bohong lagi.
'apaan sih Diar? Kamu udah ada Yuda. Dia itu cuma bawahan, masak iya kamu jatuh cinta sma karyawan biasa di perusahaan papa kamu' Gerutunya berusaha melawan gejolak hatinya.
Diar hanya menundukkan pandangannya tak berani menatap lebih lama mata bawahan papanya itu, karena semakin ditatap mata Farouq semakin memberikan magnet yang menggetarkan hatinya.
"Sedikit perbaiki ya Far, nanti kalau sudah berikan berkasnya kepada saya"
"Tapi maaf pak jadwalnya saya hari ini hanya sampai siang di kantor, apakah boleh jika pekerjaan ini saya bawa ke rumah dan besok baru saya berikan kepada bapak?"
"Ya sudah saya taunya selesai, jangam diundur-undur seperti yang sudah-sudah kalau kamu masih ingin bekerja di perusahaan ini" Tegas Handika kepada Farouq.
"Baik pak saya usahakan tidak akan mengecewakan"
"Kalau begitu kamu boleh pergi"
"Iya pak, bu Diar mari" tidak lupa sebelum keluar ruangan Handika Farouq menyapa Diar yang sejak tadi menundukkan pandangannya.
Diar mendongak dan membalas sapaan dari Farouq dengan anggukan kecil, tak lupa Farouq membalasnya dengan senyuman yang semakin membuat jantungnya berdebar hebat.
"Yakin gak jatuh cinta sama Farouq?"
"Papa..."
__ADS_1
"Carilah yang menurutmu terbaik nak"
Tanpa membalas ucapan papanya Diar membereskan peralatan makannya kemudian bergegas keluar dari ruangannya.