Cinta Dan Balas Dendam

Cinta Dan Balas Dendam
6. Malam Yang Indah


__ADS_3

Tiga bulan kemudian,


"Saya Terima nikahnya Diandra Ami Diar binti bapak Handika Narendra Diar dengan mas kawin uang tunai sebesar lima ratus juta dan perhiasan emas dua puluh lima gram dibayar tunai!"


"Gimana saksi..sah..?"


"Sah…"


"Sah…"


"Alhamdulillahirobbil'alamin"


Tanpa disadari air mata bahagia keluar dari ujung mataku, gema ucapan sah dari anggota keluarga dan dilanjutkan dengan pembacaan doa menambah khidmat ijab kabul kami pada hari ini.


"Sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri, pesan papa jagalah Diar sayangi dia melebihi rasa sayang yang telah papa berikan terhadapnya, jangan pernah ada deraian air mata diantara kedua mata indahnya"


"Insyaallah pa saya akan melaksanakan amanah dari papa, saya sangat mencintai Diar tidak akan saya biarkan air mata merenggut wajah cantiknya"


"Papa percaya dengan kamu Farouq"


Setelah ijab kabul selesai aku dan mas Farouq menemui sebagian tamu yang masih kerabat dan juga teman-teman kerja di kantor.


Maklum mas Farouq dulunya karyawan biasa di kantor papa jadi tamu undangannya papa tidak lain juga tamu undangan dari mas Farouq.


Sebulan lebih tepatnya sebelum menikah mas Farouq diberi kepercayaan oleh papa menjadi direktur utama di perusahaan cabang milik papa yang ada di Palembang sekaligus menjadi kota tempat kami menetap karena papa sudah mempersiapkan rumah untuk kami disana.


Lelah menemui para tamu undangan kami masuk duluan ke dalam kamar meninggalkan sanak saudara dan yang lainnya, rasanya dari pagi sampai sudah semalam ini tidak ada kesempatan kami untuk duduk atau bahkan beristirahat karena banyaknya tamu undangan dari berbagai kalangan dan relasi papa.


Acara pernikahan Farouq dan Diar dilaksanakan di gedung mewah sebuah hotel berbintang, maka dari itu mereka sekalian berbulan madu di kamar hotel. Karena untuk pulang rasanya tidak mungkin mengingat lelahnya tubuh mereka.


"Capek banget ya mas, gak nyangka lo tamu nya sebanyak ini"


"Iya, saudara kamu banyak juga ya ternyata? Belum lagi tamu undangan dan para tetangga yang hadir"


"Iya mas mama aja tujuh bersaudara sedangkan papa lima bersaudara jadi wajar kalau dari keluargaku sendiri sudah ramai, belum lagi kalau saudara jauh datang ya begitulah jadinya"


"Empat kali lipat dari jumlah keluargaku ya"


"Memangnya keluarga mas dimana sebagian?"


"Mama tiga bersaudara yang kedua sudah meninggal tinggal mama dan adik laki-lakinya sekarang lagi magang di Jepang, sementara papa anak tunggal dan yatim dari pasangan yatim piatu jadi dari papa gak ada saudara sama sekali"


"Oh..gitu, gpp sekarang kan saudara kamu tambah banyak mas"


"Hehe iya sayang, aku seneng banget bisa nikah sama kamu. Masih gak nyangka aja karyawan biasa bisa menikahi putri bosnya"


"Ah kamu mas, jangan suka bilang begitu" Diar merapikan gaun yang tadi dipakainya, kini dia berganti menggunakan piyama mandi.


"Sayang kamu mandi dulu ya aku mau cari udara segar di balkon soalnya masih keringetan ini"


"Oh yaudah setelah selesai mandi aku siapkan air hangat sekalian biar badan kamu pegelnya hilang jadi lebih enak nanti tidurnya"

__ADS_1


"Terima Kasih sayang"


Cup!


Tak lupa Farouq mengecup kening wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.


Sekitar tiga puluh menit Diar keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama tidur kesukaannya yakni piyama lengan pendek berwarna marun bermotif bunga di bagian lengannya.


"Aku sudah selesai mandi mas, tadi juga sudah aku siapkan air hangat nanti keburu dingin" Ucap Diar setelah menghampiri Farouq di balkon depan kamarnya.


"Iya, yaudah aku tinggal mandi dulu ya? kamu tunggu di tempat tidur nanti aku susul"


Selagi menunggu Farouq selesai mandi Diar melakukan kegiatan wajibnya sebelum tidur yaitu menggunakan krim wajah dan juga body care yang rutin dipakainya dari statusnya masih menyandang lajang.


CEKLEK…..!


"Hem…wangi banget" gumam Farouq pelan namun masih bisa didengar oleh Diar.


"Eh mas sudah selesai mandinya? Gimana segar gak?"


"Segar banget sayang, rasanya tadi badan lengket semua tapi sekarang udah enakan"


"Yaudah buruan ganti baju sana"


"Kamu wangi banget pakai apa sih?" Farouq berjalan mendekati Diar, sekarang dia sudah berdiri di belakang bangku meja rias yang sedang ditempati oleh Diar.


"Ini aku pakai lotion kayak yang biasanya aku pakai kok cuma varian malam aja"


"Ah kamu bisa aja mas,sana pakai baju dulu biar gak dingin"


"Kenapa harus pakai baju? Kalau dingin kan ada istriku, yuk bantuin aku hangatin badan biar gak kedinginan" tanpa aba-aba Farouq mengangkat tubuh ideal milik Diar dan membaringkannya di atas ranjang.


Bruk!


"Aw"


"Sakit ya sayang?"


"Nggak mas cuma kaget aja karena terhentak"


Farouq menatap lekat tubuh istrinya yang berada dibalik piyama tidur, aroma lotion milik Diar menggugah gelombang asmara Farouq yang membuat tatapannya menjadi sendu. Perlahan Farouq menarik wajah Diar, dan berhasil mengecup bingkai di wajahnya.


Setelahnya kami melebur jadi satu di dalam kelembutan cinta. Berbagi kehangatan di malam yang dingin ini. Dalam satu selimut yang menutupi aku dan dia. Nikmat kasih yang belum aku rasakan telah menjalar ke seluruh nadi ku bersatu dalam darah ku


"Aku mencintaimu Diar, jadilah satu-satunya milikku yang tak akan pernah terganti"


"Aku juga mencintaimu mas, jangan pernah kecewakan aku dengan keegoisanmu"


"Nggak akan sayang"


"Jadikan hubungan kita ini sebagai perantara terakhir berlambuhnya cintamu dan cintaku"

__ADS_1


"Tentu, aku akan menepati janjiku apapun yang akan terjadi cintaku tetap untukmu"


Kami lebih dalam menyelami indahnya lautan surgawi mengarungi samudra cinta yang membuat jiwa kami semakin hanyut.


"Manis banget"


"Dasar kamu ya" ucap Diar manja.


"Sebenarnya aku malu mas"


"Kenapa malu?"


"Ya ini karena kali pertamanya aku bersama seorang pria dalam satu ruangan"


"Kita kan sudah sah"


"Iya sih, tapi walaupun begitu rasanya tetap canggung"


"Kamu ya, sini"


Dengan sopan Farouq meminta izin kepada Diar sebelum memeluk erat tubuhnya, dia berusaha membuat wanitanya itu yakin kepadanya agar tidak ada satupun keraguan dalam rumah tangganya, walau bagaimanapun Farouq juga memiliki rasa terhadap Diar meskipun nanti akan mendapat tentangan dari sang oma.


Farouq bangun dari ranjang tempat tidur kemudian berjalan mendekat ke arah pintu, dia memastikan pintu sudah terkunci dengan benar kemudian mematikan lampu kamarnya dan sekarang membuat mereka tidur dalam keadaan gelap-gelapan.


Keindahan cinta tak lagi mereka lewatkan, kini sebuah kedamaian membersamai langkah mereka, sebuah awal baru di malam ini.


Dan…


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sudah dulu ya author gak mau meracuni pikiran baik readers sekalian dan maaf author tidak terlalu lihai dalam hal ini, kalian tentu sudah tahu apa yang dilakukan pasangan pengantin di malam pertamanya hehehe….

__ADS_1


__ADS_2