
Tiga puluh menit setelah kepergian Farouq dari ruangan. Wanita yang tidak lain adalah mamanya itu siuman dari pingsan yang mungkin sudah hampir dua jam.
"Saya dimana?" Kalimat lemah yang keluar dari bibir Wahyuni
"Tante? Tante sudah siuman?" Diar yang tadinya duduk di sofa sontak berdiri menghampiri Wahyuni.
"Kamu siapa?"
"Ee…saya rekan kerjanya Farouq, kebetulan setelah berpapasan dengan saya tadi tante jatuh pingsan di supermarket"
"Oh iya saya mulai ingat, jadi kamu yang sudah menolong saya nak?"
"Iya tante"
"Terima kasih banyak ya gadis baik. Kamu tau darimana kalau saya mamanya Farouq?"
"Tadi Farouq sempat kesini sebelum tante sadar, tapi minta bantuan saya untuk jagain tante dulu karena dia mau ke ruangan oma"
"Ya ampun mama, saya harus kesana sekarang mau liat keadaan oma"
"Tante..tante..keadaan tante masih lemah disini aja, Farouq sudah berada disana tante"
"Tapi…"
"Tante…jangan buat Farouq semakin khawatir, kasihan dia. Sekarang tante sama Diar ya aku suapin makan terus abis itu minum obat"
"Iya sayang"
"Wah…tinggal dia suap lagi ini tante"
"Sudah Diar, rasanya tante mual"
"Ini minum dulu tante, tunggu lima menit setelah itu tante minum obat ya?"
"Sekarang aja gpp"
Diar berbalik badan mengambil obat di atas nakas dan membukanya satu persatu.
*****
CEKLEK…!
"Hahaha iya benar, Farouq memang orangnya seperti itu kalau kamu mau tahu"
"Lagi ngomongin apa sih ini kelihatannya seru banget?"
"Farouq..sayang…gimana keadaan oma nak?"
"Oma baik-baik saja ma, ternyata tadi ada mbak Widya"
"Mbak mu sudah datang?"
"Udah kok tadi Farouq masuk katanya mbak Widya ada satu jam di dalam. Oh iya Diar pasti kamu belum makan kan dari tadi, ini aku belikan nasi padang. Maaf ya seadanya karena aku gak bisa keluar jauh cuma di sekitaran sini"
"Ya ampun Far gak perlu repot-repot gitu kali"
"Udah gpp aku gak merasa direpotkan kok, ini cepat makan keburu dingin gak enak. Mama mau makan sekalian?"
"Gak usah mama masih kenyang tadi disuapin sama Diar makanan dari rumah sakit"
"Udah minum obat ma?"
"Tadi juga Diar yang bukain"
"Baik banget ya dia ma?"
__ADS_1
"Iya, beda banget sama cintia"
Mereka membicarakan Diar karena kini gadis itu berada di sofa yang ada di ruangan itu sambil menikmati nasi padang kesukaannya.
"Pelan-pelan makannya, gak ada yang mau minta ini"
Seketika Diar menghentikan cara mengunyahnya dan berganti posisi menghadap ke arah dinding karena malu dikomentari oleh Farouq, tidak heran Diar merasa kelaparan sejak dari tadi karena waktu makan dengan Farouq tadi dia hanya memesan steak saja.
"Diar" Farouq menyentuh bahu Diar.
"Please Far, aku laper banget jangan diganggu"
"Iya lanjutin aja"
Tanpa memperdulikan keberadaan Farouq, Diar terus melahap nasi padang yang tinggal lima suap lagi habis.
********
Di ruangan oma Widya nampak gelisah karena Farouq pergi lumayan lama, dia khawatir jika pria itu merepotkannya dengan menitipkan oma kepadanya karena malam ini suaminya akan pulang dari luar kota jelas saja dia harus berada di rumah untuk menyambutnya.
"Halo Far, lu dimana sih?"
"Di ruangan mama mbak"
"Ruangan mama gimana maksudnya?"
"Oh tadi aku belum cerita ya kalau mama juga dirawat disini karena darah tingginya kumat tadi waktu di super market?"
"Ya ampun ada-ada aja deh, terus ini nenek gimana Far? Mas mu mau pulang hari ini"
"Sebentar lagi aku lagi cari ruangan untuk oma dan mama biar gak kerepotan jaganya setelah itu mbak Widya bisa pulang"
"Gak bisa Far, mas Fadli udah di bandara aku mau jemput dia"
"Mendingan mbak kesini dulu deh liat kondisi mama gimana biar sedikit ada rasa iba ke mamanya sendiri"
"Kurang ajar ya ini anak, ngelunjak sama kakak sendiri mentang-mentang anak dan cucu laki-laki kesayangan jadi seenaknya sendiri caranya bersikap"
"Liat aja ya setelah papa kembali sukses sepeserpun gak akan aku kasih celah kamu untuk ikut menikmati harta papa"
CEKLEK....! Widya membuka pintu ruangan mamanya.
"Widya kamu disini juga?"
"Iya ma, mama gimana udah baikan?"
"Lumayan, untung ada Diar kalau nggak mama mungkin gak akan selamat"
Spontan Widya menatap ke arah wanita yang kini berdiri di samping kiri ranjang mamanya.
"Dia siapa ma?"
"Diar ini yang nolongin mama waktu pingsan tadi, dia juga yang bawa mama kesini"
"Oh..ya baguslah, Far kan udah ada pacar lu disini jadi suruh lah dia jagain mama gue mau jemput mas Fadli di bandara. Udah gak ada waktu lagi"
"Gak bisa gitu dong mbak, kita ini yang anaknya ngapain ngelibatin orang lain"
"Far Far terlalu baik ya lu jadi cowok, apa gunanya pacar lu ini. Toh dia bakal jadi keluarga kita juga kan"
"Dia ini...." Belum sempat Farouq meneruskan kalimatnya Diar menghentikannya dengan mengelus pundaknya.
"Iya mbak biar aku yang jaga lagian kan sebentar lagi dipindah ke satu ruangan Far"
"Tapi"
__ADS_1
"Gpp, aku bisa nginep disini nanti izin sama papa"
Farouq mengangguk pelan tanda terima kasihnya kepada Diar karena sudah sangat baik mau membantunya.
"Kalau mau pulang sana mbak, jaga suamimu sayangi dia. Toh nanti kalau kamu sakit yang selalu ada ya suamimu bukan keluargamu ini yang gak ada apa-apa nya"
"Ya jelas lah, ma aku pamit dulu ya soalnya mas Fadli udah nunggu"
Widya keluar tanpa menyapa Farouq lagi, perseteruan antara kakak beradik memang tidak ada ujungnya mengingat Widya dan Farouq tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.
"Selamat malam pak"
"Eh iya sus"
"Ibu Wahyuni sudah bisa dipindahkan ke ruang oma Aminah"
"Bisa dua orang dalam satu ruangan oma sus?"
"Tidak, oma Aminah sudah saya pindahkan ke ruangan yang muat untuk dua pasien pak"
"Oh begitu, baiklah silahkan dipindahkan sus"
"Baik pak, permisi sebentar"
Saat ini Wahyuni dan oma Aminah sudah berada di satu ruangan yang sama untuk memudahkan Farouq menjaga mereka.
"Nak, ini sudah malam kasihan Diar mendingan kamu antar pulang dulu"
"Oh gak usah tante saya bawa mobil sendiri kok, biar Farouq tetap disini menjaga tante"
"Gpp Di biar aku antar, ma aku keluar dulu ya antar Diar"
"Iya sayang"
Farouq dan Diar keluar ruangan, mereka naik kedalam mobil Diar dan mengantarnya pulang.
"Loh kok berhenti disini Far? Kan rumahku masih jauh"
"Ada yang mau aku omongin Di"
"Apa?"
"Sepertinya hatiku udah mantap, dan aku udah gak tahan lagi sama Cintia. Aku harap kamu mau menjadi penggantinya"
"Aku gak mau Far hadir diantara dua pasangan yang masih menjalin hubungan"
"Kamu sudah berakhir lama, hatiku sudah lama mati untuknya Di"
"Tapi"
"Iya atau tidak? Hanya itu jawaban yang aku tunggu"
"Sejujurnya aku juga suka sama kamu, tapi aku gak mau dibilang perusak hubungan orang"
"Selama janur kuning belum melengkung kita masih bebas memilih dambaan hati yang pas untuk hidup kita, karena ini gak hanya dua atau tiga bulan. Aku mau kamu menjadi pendamping hidupku selamanya, ku mohon menikahlah denganku Diar"
Diar sudah tidak bisa lagi mengontrol deru detak jantungnya, pertama kalinya ada pria yang menyatakan perasaan kepadanya secara langsung.
Cup!
Tanpa permisi Farouq mencium bibir Diar, dia berpikir bahwa diamnya Diar adalah jawaban iya untuknya.
"Far..?" Panggil Diar sendu.
"Aku anggap diammu adalah jawab iya, aku tau kalau tidak mungkin pantas untukmu karena hanya seorang karyawan biasa. Tapi aku yakin bisa membahagiakan kamu"
__ADS_1
Senyum tipis menghiasi bibir Diar, meskipun kini masih ada Yuda dihidupnya namun tidak bisa dipungkiri kalau dia lebih nyaman dengan Farouq.