Cinta Dan Balas Dendam

Cinta Dan Balas Dendam
4. Kebetulan Di Waktu Yang Tepat


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, Farouq dan Diar segera kembali menaiki mobil masing-masing karena mobil Diar sudah selesai diperbaiki dan diambil.


Diar tidak langsung pulang ke kantor melainkan mampir ke supermarket terlebih dahulu. Dia lupa sesuatu yang perlu dibelinya sebelum kembali ke kantor.


Hanya beberapa menit Diar berkecimpung didalam supermarket karena bahan yang dia butuhkan hanya sedikit.


"Udah jam setengah satu aja nih, apa aku langsung pulang aja ya?" Ucap Diar pada dirinya sendiri.


Setelah selesai berbelanja dan akan menuju parkiran tidak sengaja Diar berpapasan dengan seorang wanita yang usianya sekitar hampir empat puluhan. saat tidak jauh darinya tiba-tiba wanita itu mengaduh sambil memegangi kepalanya. Seketika Diar menoleh ke arahnya dan reflek berlari berniat akan menolong.


Banyak pria dan wanita yang berlalu lalang tapi tidak satupun yang berniat membantu, sungguh beginilah peradaban di kota besar. Dengan langkah tergopoh-gopoh karena tidak kuat menopang tubuh sang wanita tadi Diar memaksakan diri membawanya ke dalam mobil dan melaju ke rumah sakit.


"Suster" panggil Diar ketika sampai di depan lobi rumah sakit.


"Iya mbak ada apa?" Tanya seorang perawat wanita yang berada di meja resepsionis.


"Tolong itu di mobil saya ada yang sakit"


"Perawat Revan Dan Renaldi tolong bawakan tandu"


Kedua perawat laki-laki mengangkat wanita tadi dan meletakkannya di atas troli tempat tidur rumah sakit untuk dibawa ke ruang UGD.


"Ini korban kecelakaan atau bagaimana mbak?"


"Mana lihat luka di tubuh ibunya? Saya tadi gak sengaja papasan sama ibu ini pas jalan keluar supermarket, gak jauh dari saya si ibu ini mengaduh terus pingsan"


"Ya sudah langsung saja kita baw ke ruang pemeriksaan"


Sekitar pukul dua siang dokter keluar dari ruangan pemeriksaan, Diar sengaja tidak meninggalkan sang ibu dan tetap menunggu perkembangannya sampai beliau sadar dan bisa ditanya tentang keluarganya.


"Bagaimana keadaan ibu yang ada di dalam dok?"


"Anda bukan keluarganya?"


"Bukan dok, saya hanya kebetulan ada di tempat saat ibu itu pingsan"


"Jadi mendadak tekanan darah ibu itu sangat tinggi kisaran angka dua ratus dan jantungnya lemah sehingga mengakibatkan tubuhnya lemah dan pingsan"


"Lalu saya harus bagaimana dok?"


"Tidak perlu khawatir sebentar lagi beliau akan siuman, untuk itu ketika nanti beliau siuman berikan obat yang nanti akan suster antarkan beserta makanannya"


"Baik dok, apakah boleh saya masuk ke dalam sekarang? Saya mau lihat kondisi ibunya"


"Boleh sekali, silahkan"


"Permisi dok"


Tanpa berlama-lama lagi Diar masuk ke dalam ruang periksa.


*****

__ADS_1


"Oma disana sama siapa ya? Kasihan kalau sendirian" Tanya Farouq pada dirinya sendiri.


Belum sempat pulang ke rumah dan berganti pakaian Farouq langsung melajukan mobilnya ke arah rumah sakit tempat neneknya dirawat. Dia adalah cucu kesayangan oma nya jadi tidak heran jika dia juga sangat peduli kepada oma Aminah.


CEKLEK..! Farouq membuka pintu yang berhadapan langsung dengan meja resepsionis.


"Selamat pagi pak, ada kartu tunggu pasiennya?" Tanya salah seorang security.


"Sebentar" Farouq mengeluarkan dompet tebalnya dari kantong celana belakang kemudian menyerahkan kartu tunggu pasien kepada security.


"Maaf pak, silahkan masuk"


Farouq mengambil kembali kartunya dari tangan security kemudian pergi menjauh.


"Loh itu seperti bu Diar" Gumam Farouq ketika melihat punggung wanita yang tidak asing baginya.


"Bu Diar"


Diar sontak kaget dan berbalik badan ketika Farouq memegang bahu kanannya.


"Farouq? Kamu disini juga?"


"Iya bu, oma saya dirawat disini. Bu Diar sendiri kenapa disini? Siapa yang sakit?"


"Kamu lupa ya kalau di luar kantor bagaimana?"


"Oh iya maaf bu...eh...Diar"


"I-iya"


"Mengenai pertanyaanmu tadi aku disini lagi nganter pasien ibu-ibu yang gak sengaja pingsan setelah papasan sama aku waktu keluar dari supermarket tadi"


"Pantesan tadi gak ke kantor lagi, ternyata ke supermarket?"


"Iya dan niatnya mau langsung pulang tadi"


"Terus kamu udah kabarin keluarganya?"


"Belum sih, aku bingung karena ibunya belum siuman juga"


"Ibu nya bawa tas kan?"


"Sepertinya bawa"


"Di cek aja siapa tau ada kartu nama, ktp atau semacamnya yang bisa kasih informasi"


"Em…yaudah kamu tunggu disini dulu gpp kan? Aku masuk kedalam ambil tas ibunya kita cek bareng-bareng takut nanti kalau ada yang hilang aku yang disalahkan"


"Gpp aku tunggu, cepat diambil aja"


"Sebentar" Diar kembali masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Farouq ini tas nya, coba kamu liat deh isi dalamnya" Diar menyodorkan tas kulit berwarna hitam kepada Farouq.


'kok mirip tas mama ya? Apa kebetulan sama? Ah mungkin kebetulan, lagian tas begitu gak mungkin pabriknya cuma bikin satu' Ucap Farouq dalam hati ketika mencurigai tas itu milik mamanya.


SREEK…… perlahan Farouq membuka resleting tas hitam itu.


"Ada dompetnya, kok mirip punya mama aku ya?"


"Masak iya? Coba buka isinya"


"Gak ada ktp nya tapi"


"Masak gak punya ktp Far?"


"Gatau juga. Eh tapi tunggu bentar, ini ada paspor"


"Wahyuningsih lismawati" terpampang nyata sebuah nama berikut dengan foto seorang wanita disampingnya.


"MAMA!"


"Apa maksudnya ibu yang didalam mama kamu Far"


Tanpa menjawab pertanyaan Diar Farouq langsung menerobos masuk ke dalam ruangan.


"Ya Ampun ma


Diar yang masih bingung hanya mematung di tempatnya.


'kebetulannya epik sekali Ya Allah' hanya itu yang dibicarakan oleh hatinya.


"Maaf Far aku gak tau kalau beliau mama kamu, aku gak berani bongkar tas nya tadi"


"Iya Di, aku sangat berterimakasih karena kamu sudah menolong mamaku. Kalau gak ada kamu mungkin gak tau lagi gimana nasib mamaku"


"Iya Far sama-sama"


"Di aku boleh minta tolong satu hal lagi gak sama kamu?"


"Boleh Far, selama aku bisa bantu"


"Tolong jagain mamaku sebentar ya sampai dia siuman. Aku mau nengokin oma dulu karena pasti dari tadi beliau sendiri"


"Iya aku bantu jagain, ya udah sana kamu jenguk oma kamu dulu"


"Sekali lagi terima kasih ya Di"


Diar memandang punggung bidang Farouq yang perlahan mulai menjauh meninggalkan ruangan. Karena bosan Diar menunggui Wahyuni sambil membaca novel online kesukaannya, sejak dari kecil Diar memang gemar membaca ntah itu komik atau bacaan lain. Maka dari itu pengetahuannya  sangat luas akibat dari hobinya tersebut.


"Apa sih ini? Kenapa pikiranku jadi kemana-mana. Ayo fokus Diar jangan ingat-ingat Farouq terus nanti kamu lama-lama bisa gila karena mikirin dia sambil senyum-senyum sendiri"


Diar berusaha menepis pikirannya yang sedari tadi tidak fokus, bayangan Farouq selalu terngiang dalam pikirannya. Nampaknya dia sudah benar-benar dibuat terpana dengan pria bertubuh kekar itu.

__ADS_1


__ADS_2