
Cup! Farouq mencium kening istrinya yang baru membuka matanya.
"Selamat pagi sayang...gimana tadi malam tidurnya nyenyak?"
"Mas...udah subuh ya? Kok mas udah bangun?"
"Mataharinya udah mulai meninggi sayang"
Spontan Diar melihat ke arah layar ponselnya, ternyata jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dengan kesusahan dia berusaha bangun dari tidurnya.
"Aw! Mas kenapa gak bangunin aku?"
"Masih sakit ya?"
"Iya mas"
"Wajar baru pertama nanti juga lama-lama terbiasa"
"Nih aku tadi udah pesenin makanan di restoran bawah, kamu mandi dulu setelah itu sarapan. Aku mau lanjut packing baju kita" Farouq menginterupsi Diar agar segera mandi.
"Em...makasih sayang, yaudah aku mandi dulu ya"
"Iya" Farouq memandangi punggung istrinya yang lama-kelaman menghilang masuk kedalam kamar mandi.
Sementara sambil menunggu Diar selesai mandi Farouq membereskan baju miliknya dan Diar yang kotor belum sempat dicuci.
"Hah...seger banget"
"Udah selesai sayang mandinya?"
"Udah mas, aku kesiangan lo sampai gak sholat subuh ini"
"Soalnya tadi mau bangunin kasian keliatannya kamu capek banget tidurnya juga pules, yaudah itu sarapannya dulu nanti kalau dingin gak enak"
*******
Rencananya pagi ini aku dan mas Farouq mau beberes barang-barang karena kami akan pulang ke rumah keluarganya mas Farouq dan dua hari setelahnya kita sudah harus berangkat ke Palembang.
"Sini sayang biar aku aja yang bawa kamu angkat yang ringan-ringan aja, kamu perempuan gak boleh lagi sering angkat barang berat" ucap Farouq perhatian kepada istrinya.
"Gak apa mas aku kuat kok lagian udah biasa, mas angkat yang lain aja"
"Meskipun kuat aku gak akan izinin kamu angkat barang yang berat-berat Diar, tolong nurut sama aku"
"Iya deh aku nurut sama suamiku, terus aku bawa apa aja ini?"
"Ini tolong kamu bawa bantalnya aja, sama tas nya. O iya di cek dulu ponsel dan yang lainnya udah masuk semua belum?"
"Udah kok, masak aku cuma bawa ini? Nanti aja kan bisa terakhiran, aku bantu angkat kado yang kecil aja ya"
"Yaudah terserah, tapi yang kecil ya yang besar biar aku sama Bian"
"Siap bos"
Selesai mengangkut semua kado dan barang bawaan ke dalam mobil pick up kami pun langsung melanjutkan perjalanan pulang.
Kami menggunakan tiga mobil sekaligus untuk mengangkat kado yang besar-besar agar tidak bolak-balik ke hotel jadi bisa lebih menghemat waktu.
"Mampir sarapan dulu Bian" Ucap Farouq kepada Bian yang sedang fokus menyetir mobil.
__ADS_1
"Gak makan dirumah aja? Mama udah masak banyak lo bang"
"Oh gitu? Yaudah kalau gitu kasian mama udah capek masak, gpp kan sayang kita makan dirumah?"
"Gpp dong, lagian aku juga pengen nyobain masakan mama"
"Obat nyamuk...! Terusin aja kalian sayang-sayangan dibelakang. Biar makin panas ini telingaku dengernya"
"Hahahaha apaan sih kamu anak kecil, protes aja! Udah nyetir yang fokus" Farouq tertawa ketika adiknya menggerutu melihat kemesraannya dengan Diar.
"Nasib-nasib"
Sekitar jam sembilan Farouq dan rombongan sampai di halaman depan rumah yang langsung disambut oleh Wahyuni mertua Diar.
"Pak, masukin garasi aja barangnya gak usah diturunkan nanti kadonya aja yang mau saya turunin"
"Oke siap tuan" Jawab pak Narto menuruti.
"Eh anak mantu kesayangan mama udah datang" celetuk Mbak Widya kakak perempuan Farouq.
"Widya! Jaga sikap kamu!" Bisik mama mertua kepada anak sulungnya itu.
"Kenapa sih ma, memang benar kan dia itu mantu kesayangan mama? Mama lupa dulu gimana?"
"Udah cukup, jangan buat Diar gak nyaman di rumah kita"
"Selamat pagi ma" sapa Diar kemudian mencium punggung tangan mertuanya itu.
"Pagi sayang, yuk langsung masuk aja mama udah masak banyak, bik Yam ini tolong tas koper milik pengantin baru dibawakan ke kamar ya" perintah mama mertua kepada asisten rumah tangganya.
"Ngeh ndoro putri"
"Oma kok gak ada ma? Gak ikut makan bareng kita?" Tanya Farouq polos.
Seketika Wahyuni mendongak ke arah Farouq yang duduk di kursi seberangnya seolah memberi isyarat untuk tidak membahas pertanyaan itu lagi, Diar sempat melihat kejanggalan itu yang membuatnya penasaran.
"Enak gak Diar masakan mama? Ini semua mama yang masak lo kecuali telur rebusnya karena bik Yam yang masak" ucap Wahyuni untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ini enak banget ma, mama pintar masak ya? Lain kali aku mau belajar masak sama mama" jawab Diar antusias, karena sifat baik hatinya dia mudah memenangkan hati mama mertuanya itu.
"B-boleh, tentu saja boleh kapan ada waktu nanti kita masak bareng ya. Sekarang makan dulu yang kenyang, kalau kurang nambah gak usah malu-malu"
Selesai makan Diar membantu bik Yam untuk mengangkat piring kotor dan mangkok sisa makanan yang tidak habis.
"Biar saya saja nyonya gak usah dibantu" tolak bik Yam secara halus.
"Gpp lagi bik, ini kan di rumah mertuanya biar aja dia bantu-bantu" instruksi dari Widya membuat Diar spontan menengok ke arahnya.
"Benar kan Diar?" Tanya Widya kepadanya.
Diar tidak hanya membalas ucapan kakak iparnya dengan senyuman, Diar sudsh tidak kaget dengan sikap Widya karena waktu bertemu di rumah sakitpun sikapnya juga kurang baik terhadap keluarganya.
Tanpa menghiraukan Widya yang pergi begitu saja dengan sigap Diar membantu bik Yam menyelesaikan pekerjaannya, meskipun dia terlahir sebagai anak orang kaya tapi dia tetap lihai dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena mamanya selalu mengajari kemandirian kepada Diar.
Selesai membantu beberes Diar memutuskan untuk menyusul Farouq di kamarnya, namun saat melewati kamar mama mertuanya dia tidak sengaja mendengar percakapan mertuanya dengan kakak iparnya karena pintunya yang tidak tertutup rapat.
"Mama kenapa sih mau berpura-pura baik di depan Diar?"
"Ada apa sama kamu Widya?"
__ADS_1
"Mama yang ada apa? Mama lupa Diar itu siapa?"
"Gak akan mungkin mama lupa tapi kita gak boleh bertindak gegabah"
"Siapa yang gegabah sih ma, Widya kayak gitu biar dia tau dimana tempatnya" Ucap Widya yang meninggikan suaranya.
"Cukup! pelankan sedikit suaramu Widya, kalau gak nanti Diar bisa dengar dan rencana kita bisa gagal"
******
"Rencana? Maksud mereka rencana apa yang gagal?" Diar menutup mulutnya dengan tangan kanannya sambil terus menguping percakapan mereka.
"Sayang? Kamu ngapain di depan kamar mama?" Tanya Farouq yang datang secara tiba-tiba, entah dari mana suaminya itu yang baru naik ke lantai dua.
"I-ini aku mau ke kamar tapi gak tau kamarnya yang mana" ucap Diar beralasan.
"Oh…kamar kita di sebelah sana sayang" Farouq menunjuk ke arah kamar yang selisih satu pintu dengan kamar mamanya.
"Ja-jadi disana kamarnya?"
"Iya disana"
"Ma dengar ada suara orang gak di luar?"
"Iya mama dengar, jangan-jangan…?"
"Yuk kita keluar" ajak Widya.
Karena Wahyuni dan Widya merasa khawatir takut kalau Diar yang mendengar percakapan mereka tadi akhirnya memutuskan untuk keluar memastikan.
"Ma pintunya gak kekunci?" Ujar Widya yang nampak syok ketika menggenggam gagang pintu yang sedikit terbuka.
"Loh Diar, Farouq kalian kok disini?"
"Ini ma tadi Diar mau ke kamar tapi nyasar gak tau kamar Farouq yang mana"
"Oalah gitu, udah lama Diar nyarinya?"
"Enggak kok ma, barusan aja terus mas Farouq datang"
"Syukurlah, kamar Farouq ada tandanya ada tulisan nama di depan pintunya"
"Em…iya Diar gak liat tadi ma, karena mas Farouq baru naik ke atas Diar kira ini kamar mas Farouq karena pintunya sedikit terbuka. ya udah kalau gitu maaf ya ma, Diar masuk ke kamar dulu ya ma mau beberes yang lain.
"Iya sayang, kalau capek tidur ya istirahat aja" Jawab Wahyuni berusaha menutupi kekhawatirannya.
"Lain kali hati-hati" Ucap Farouq memperingati mama dan kakak perempuannya, kemudian berlalu pergi mengikuti Diar ke kamar.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sampai sini dulu ya author nyambi ngurus rumah hehe.