
"Bu Diar maaf" Panggil Farouq ketika Diar baru akan masuk ke dalam ruangannya.
"Iya, ada apa pak Farouq?"
"Saya mau menyerahkan berkas yang diminta pak Handika kemarin, karena biasanya beliau datangnya agak siang sayang mau titipkan ke ibu Diar saja"
"Memangnya pak Farouq mau kemana? Kenapa tidak diserahkan langsung ke papa?"
"Saya sekalian mau izin pulang bu, oma saya masuk rumah sakit"
"Oh ya sudah kalau begitu segeralah pulang pak siapa tau orang rumah sedang membutuhkan"
"Terima kasih banyak bu"
"Iya sama-sama pak"
"Permisi"
"Coba aja kalau gak ada Yuda pasti aku sudah jatuh cinta sama kamu Farouq" Gumam Diar dalam hatinya sendiri.
Farouq segera bergegas melajukan mobilnya ke arah pulang, di rumah hanya ada asisten rumah tangga makanya oma Aminah belum dibawa ke rumah sakit.
Tak berselang lama Farouq sampai di halaman rumahnya karena jarak kantor dari rumahnya hanya membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit.
"Oma, bi bibi" panggil Farouq menggema di sudut-sudut ruangan.
"Mereka semua kemana?"
Tring….Tring….
Ponsel Farouq berdering, dia segera merogoh sakunya melihat siapa yang menelepon. Ternyata panggilan itu dari asisten rumah tangganya, dia mengabari jika dirinya sudah membawa nenek ke rumah sakit dan meminta agar Farouq segera datang. Tidak menunggu waktu lama Farouq langsung meluncur ke rumah sakit yang diarahkan oleh asisten rumah tangganya.
Pukul sepuluh Farouq sampai di pelataran rumah sakit, dia berlari kedalam mencari ruangan oma Aminah.
"Farouq" ucap oma lirih tapi masih terdengar oleh cucu laki-lakinya itu.
"Iya oma, Farouq disini"
"Kamu gak kerja?"
"Kerja oma, tapi Farouq udah izin karena mau nemenin oma disini"
"Sayang, omah boleh minta sesuatu sama kamu?"
"Apa itu oma?"
"Segeralah cari tahu tentang keluarga Fatmawati, balaskan dendam oma agar jika oma pergi bisa tenang"
"Oma gak boleh ngomong gitu, oma pasti sembuh"
"Tapi kamu harus segera cari tahu nak"
"Iya oma Farouq janji"
*****
"Ini mobil kenapa sih tiba-tiba mogok, kan gak enak banget tempatnya sepi mana baterai ponsel habis"
Mobil Diar mogok ketika dia akan pulang ke rumah, dia sengaja mencari jalan pintas berharap sampai dirumah lebih cepat karena hari sudah mulai gelap, tapi nasib sial kini sedang menghantuinya. Pasalnya mobil yang biasa digunakannya tiba-tiba mogok di tengah jalan yang jarang ada orang lalu lalang disana.
__ADS_1
Ketar ketir karena bukan di daerahnya membuat Diar mengurungkan niatnya pulang ke rumah dengan jalan kaki paling tidak sampai ketemu jalan besar yang ramai jadi dia bisa mencari taksi.
"Masak aku mau tidur di dalam mobil malam ini?" Gerutunya.
"Kalau nanti ada rampok atau orang yang berniat jahat gimana Diar?" Dia terus berbicara dengan dirinya sendiri.
Saat sedang panik-paniknya ternyata semesta masih berpihak kepadanya, ada sorot lampu mobil dari arah belakang mobil Diar.
"Ada mobil, alhamdulillah Ya Allah engkau masih membantuku"
Seketika Diar loncat keluar dari mobilnya ketika pengendara itu hampir sampai di dekat mobilnya, dia merentangkan tangan di tengah jalan untuk menghadang mobil pengendara itu
CKITT….
"Cari mati ya nih cewek, cari kerja gitu amat wanita malam"
"Mbak woy! Minggir dong saya mau lewat" Teriak Farouq yang hanya mengeluarkan kepalanya dari jendela pintu mobil.
Karena terhalang cahaya lampu mobil yang sangat terang sehingga membuat Diar maupun pengendara itu tidak bisa melihat satu sama lain.
"Mas saya mau minta tolong bantu mobil saya"
"Alah bilang aja kamu mau menggoda saya kan? Dasar wanita malam!"
"Enak aja ya kalau ngomong! Saya ini wanita baik-baik"
"Udah gak usah ngelak, saya sering melihat wanita macam kamu berkeliaran disini! Mentang-mentang tempatnya sepi"
Karena tidak sabar dan terpancing emosi oleh perkataan sang pengendara, Diar berjalan mendekati mobil tersebut.
"Gak bisa dibiarin nih mulut pria macam begini"
"Loh bu Diar kok ada disini?"
"Ee….sebentar bu" Farouq keluar dari dalam mobilnya dan kini posisinya berdiri tepat di hadapan Diar.
"Maafkan saya bu, saya kira tadi…."
"Sudah tidak apa-apa pak, saya juga terpancing emosi tadi. Wajar kalau pak Farouq berpikiran seperti itu"
"Kalau boleh tahu mobilnya kenapa bu?"
"Gak tau ya pak, saya gak ngerti mesin soalnya"
"Yaudah coba saya cek dulu ya bu"
"Iya pak"
Sekitar lima menit Farouq mengecek setiap sudut mesin milik mobil Diar.
"Ini harus dibawa ke bengkel bu, sebentar saya teleponkan teman saya supaya bisa menderek mobilnya ke bengkel"
"Nah iya pak sebaiknya begitu soalnya ponsel saya mati karena baterainya habis"
Farouq berjalan sedikit menjauh dari Diar karena akan menghubungi seseorang.
"Sudah saya telepon bu mungkin tiga puluh menit lagi sampai"
"Lumayan lama juga ya" Diar terlihat gelisah karena dia harus buru-buru pulang ke rumah.
__ADS_1
"Bu Diar mau pulang ya?"
"Iya ini pak, dirumah lagi ada acara keluarga dan kalau harus nunggu tiga puluh menit lagi kasian tamu yang menunggu"
"Kalau begitu saya antarkan saja bu, nanti saya balik lagi kesini untuk kasih kunci mobilnya ke tukang dereknya"
"Gpp ini pak saya ikut mobil pak Farouq"
"Ya jelas gpp dong bu, ibu kan atasan saya"
"Rumah saya lumayan jauh dari sini pak, sekitar satu jam perjalanan"
"Yasudah kalau begitu kita segera berangkat aja bu takut nanti semakin kemalaman"
Karena lelah seharian tidak lepas dari pekerjaannya didepan komputer tidak sengaja Diar tertidur didalam mobil Farouq.
'bu Diar kalau dilihat-lihat cantik juga ya ternyata, beda jauh dengan cintia' ucap Farouq dalam hati ketika memandangi anak dari bos perusahaannya itu.
"Bu, bu Diar. Sudah sampai"
"Eh maaf pak Farouq saya ketiduran"
"Iya tidak apa-apa bu"
"Yuk turun dulu pak Farouq"
"Nggak bu, saya gak enak sepertinya ramai sekali memangnya kalau boleh tahu ada acara apa ga bu?"
"Oh ini acara lamaran sebenarnya, tapi ya gimana calonnya telat"
"Jadi bu Diar akan lamaran malam ini?"
"Iya, kenapa? Kok syok gitu? Yuk masuk dulu"
"Saya langsung pamit aja bu soalnya tadi tukang dereknya sudah menelepon kasian kalau menunggu lama"
"Ya sudah kalau begitu terima kasih ya Farouq.
Farouq kembali melajukan mobilnya menuju tempat dimana mobil Diar ditinggalkan tadi.
"Bawa ke bengkel ya, perbaiki ya bener ini mobil milik bos gue"
"Gue kayak gak asing sama mobil ini Far, kayaknya pelanggan tetap gue deh"
"Namanya Diar" celetuk Farouq.
"Oh iya kalau gak salah benar si Diar itu pemiliknya, jadi ternyata anak orang tajir Far?"
"Iya kenapa? Lu tertarik?"
"Nggak sih cuma gak nyangka aja kalau dia anak orang kaya soalnya sederhana banget orangnya, gak sombong lagi"
"Hem..memang selain cantik dia juga baik"
"Jangan bilang lu suka sama dia?"
"Cintia mau digimanain?"
"Ya buat gue juga mau"
__ADS_1
"Enak aja, yaudah bawa ya besok kalau udah jadi kabarin gue atau Diar nanti biar diambil"
"Siap beres"