Cinta Dan Balas Dendam

Cinta Dan Balas Dendam
3. Pengakuan Tak Terduga Dari Farouq


__ADS_3

"Pak Farouq hari ini gak masuk Rin?" Tanya Diar kepada sekretarisnya.


"Sepertinya belum berangkat bu"


"Memangnya ini jam berapa?"


"Masih jam delapan bu"


"Oh…pantesan. Tapi kamu kok udah berangkat?"


"Harusnya saya semalam kan lembur bu, tapi karena gak ada teman di kantor jadi saya pulang sore itu sekitar jam lima makanya saya berangkat pagi supaya bisa menyelesaikan pekerjaan yang tertunda bu"


"Ya udah kalau gitu selesaikan pekerjaan kamu"


Hari ini niatnya Diar akan mengambil mobilnya yang sudah selesai diperbaiki, karena kebetulan tukang derek yang membawa mobil Diar itu adalah teman Farouq sekaligus bengkel langganan Diar, jadi dia memutuskan untuk mengajak Farouq pergi kesana.


Dengan langkah terburu-buru Farouq masuk ke ruangannya tanpa memperhatikan Diar yang berdiri sekitar sepuluh meter darinya.


"Pak Farouq"


Ketika akan menyentuh gagang pintu Farouq seketika berhenti karena mendengar panggilan dari atasan cantiknya.


"Eh iya bu Diar selamat pagi, maaf saya terburu-buru sampai tidak melihat ibu disitu"


"Udah gpp santai saja, bukan karena itu maksud saya memanggil kamu"


"Lalu?" Farouq masih mematung di tempatnya berdiri.


"Saya mau ajak kamu ambil mobil"


"Oh begitu bu, boleh tapi sebentar saya isi absen kemudian kirim email dulu ya bu. Gak lama hanya sepuluh menit"


Sambil menunggu Farouq menyelesaikan pekerjaannya Diar menunggu di lobby. Dia juga sibuk mengerjakan tugas kuliahnya yang hampir rampung.


"Bu Diar" panggil Farouq.


"Eh iya, sudah selesai?"


"Sudah bu, yuk jalan sekarang kata teman saya mobilnya sudah selesai diperbaiki"


"Oke"


Kini Diar dan Farouq berada di dalam satu mobil yang sama, karena rasa canggung mereka hanya saling diam. Farouq fokus melajukan mobilnya tanpa menghiraukan Diar yang sejak tadi bingung mau memulai obrolan.


"Kita mampir ke restoran langganan aku dulu yuk Far"


"Ibu Diar lapar ya? Belum sarapan?"


"Udah sih tadi dirumah tapi ini kan sudah jam sebelas Far, anggap aja makan siang sekalian"


"Tapi saya gak enak bu meninggalkan kantor lama-lama"


"Kan kamu perginya sama saya, aku juga sudah izin sama papa kok"


"Ya sudah kalau begitu. Yang mengajak kan anaknya bos besar jadi mau gak mau saya harus menuruti perintah"


"Apaan sih Far gak perlu formal begitu, nanti sekitar lima ratus meter didepan sana kamu belok kiri ya ke perempatan sandaran namanya, gak jauh dari sana ada restoran paling enak langgananku"


"Baik bu"


Tidak lama kemudian mereka sampai di restoran yang dimaksudhkan oleh Diar,  setelah mengambil tempat mereka memesan makanan masing-masing.

__ADS_1


"Enak gak Far makanannya?"


"Sangat enak bu makanya gak ada makanan yang tersisa di piring saya, maaf ya bu saya malu-maluin ibu Diar"


"Ya enggak lah Far santai aja"


"Mbak" Farouq memanggil pelayan restoran.


"Iya mas ada yang bisa dibantu?"


"Saya minta tagihannya ya"


"Sebentar saya ambilkan dulu ya"


"Iya saya tunggu"


"Pak, ini total tagihannya enam ratus lima belas ribu rupiah. Mau cash atau debit?"


"Cash aja mbak, satu dua tiga…enam ratus dua puluh. Kembaliannya ambil aja"


"Terima kasih bu"


"Sama-sama"


"Yuk Far"


"Bu, kok bu Diar yang bayar?"


"Gpp lagian aku ada cash, sekalian sebagai ucapan terima kasihku karena kamu udah bantu saya semalam. Coba kalau gak ada kamu saya gak tau lagi deh gimana"


"Ah ibu, itu kan sudah kewajiban saya saling tolong menolong dengan sesama"


"Yaudah yuk jalan"


DUGH!


"Aw!"


"Bu Diar kenapa?"


"Gpp, cuma lutut saya lumayan sakit kebentur meja Far"


"Ya sudah saya bantu gendong ke mobil ya bu"


"Eh gak usah saya bisa jalan sendiri kok"


"Yakin bisa bu?"


"Eh! Eh! Eh! Loh kok sakit ya?"


"Tuh kan, sudah sini saya bantu gendongkan sampai mobil saja"


Degh!Degh!Degh! Detak jantung Farouq hampir tidak lepas dari pendengaran Diar karena jarak mereka yang begitu dekat. Iya, Farouq menggendong Diar tepat di depan dada bidangnya.


"Salahkah aku jatuh cinta dengan karyawanku sendiri?" Ucap Diar dalam hatinya sendiri.


"Bu maaf turun sebentar saya ambil kunci mobil dulu ya soalnya di saku baju"


"Oh iya turunkan aja Far"


Diar yang tidak bisa berhenti terpana dengan Farouq merasa kecewa karena sudah sampai di mobil dan harus turun dari gendongan Farouq.

__ADS_1


"Pelan-pelan" Ucap Farouq


Twit…twit..


"Mari bu saya bantu masuk ke dalam"


"Terima kasih"


Farouq memutar ke depan menuju kursi kemudi setelah dia memasukkan Diar ke dalam mobil, dia memasang save belt kemudian mulai melajukan mobil meninggalkan restoran.


"Sekali lagi terimakasih ya Far"


"Untuk apa lagi bu?"


"Ya atas kebaikan kamu sama saya"


"Sama-sama bu, lagian kan sudah saya bilang kalau itu kewajiban saya"


"Panggil Diar aja kalau lagi gak di kantor, biar gak terlalu formal"


Seketika Farouq menatap ke arah Diar yang duduk di sebelah kirinya, tiba-tiba jantung Farouq berdegup ketika Diar berbicara tentang dia tidak ingin dipanggil secara formal ketika sedang berdua di luar kantor, mendengar hal itu membuat hatinya mulai goyah. Mereka saling tatap seolah tak ingin melepaskan pandangan satu sama lain.


"Tapi bu, meskipun tidak di kantor kan ibu tetap atasan saya"


"Ya memang, tapi kelihatannya gak nyaman kalau kamu panggil bu seolah-olah kamu jalan sama mama kamu padahal aku kan masih muda"


"Maaf kalau Bu Diar tidak nyaman"


"Pacar kamu gak marah Far kalau kamu keluar dengan wanita lain seperti ini?"


"Pacar saya sedang ada tugas pekerjaan di luar kota bu"


"Jadi kamu LDR dong? Pacar kamu kerja kantoran juga?"


"Nggak bu, pacar saya foto model. Ya begitulah selalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri sampai lupa dengan saya"


"Maksudnya?"


"Beberapa hari ini sudah hampir satu minggu saya tidak dihiraukan bu, sama sekali tidak menghubungi saya. Mungkin ada pria lain atau memang benar-benar sibuk saya gak tau"


"Yang sabar ya Far, pasti pacar kamu benar-benar sibuk sampai dia gak ngasih kabar"


"Untung saya ketemu bu Diar"


"Hah?"


"Iya, gak munafik bu saya terpesona dengan kecantikan ibu dari pandangan pertama ketika ibu diperkenalkan oleh pak Handika, awalnya mulut saya menepis dan menolak tapi ternyata hati saya gak bisa bohong"


Pernyataan dari Farouq membuat Diar tersipu malu, pipinya mendadak merona tapi dia sembunyikan dibalik rambut panjangnya yang menjuntai indah.


"Tapi saya sadar kalau lebih dari itu sangat tidak pantas, saya hanya karyawan biasa bukan siapa-siapa. Tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ibu Diar"


"Ssssttt"


Diar menutup mulut Farouq dengan jari telunjuknya yang cantik dan lentik.


Cup!


Sepontan Farouq mencium jari telunjuk milik putri atasannya itu. Spontan Diar menarik kembali telunjuknya dengan cepat dan menjauhkannya dari bibir Farouq.


"Maaf Diar" Ucap Farouq merasa bersalah.

__ADS_1


'Aku juga jatuh cinta sama kamu Far' ucap Diar dalam hati.


__ADS_2