
"Apa aku tanya sama mas Farouq ya? Tapi nanti kalau aku cuma salah dengar malah bisa jadi salah pahamnya kita ini"
CEKLEK….! suara gagang pintu dibuka dari luar.
"Sayang kamu capek ya? Istirahat aja nanti biar aku yang beresin"
"Enggak kok, oh ya mau kita apain kado-kado ini mas?"
"Kalau kamu gak capek kita bisa bukain sekarang biar bisa disimpan dan kalau ada yang mau dibawa besok tinggal dibawa aja"
"Boleh tuh, lagian aku bingung sayang mau ngapain disini"
"Ya udah kita duduk di bawah aja sambil bukain"
"Alhamdulillah banyak juga ya yang ngado ke kita sayang"
"Iya Diar, aku juga gak nyangka"
Pertama kalinya setelah menikah mas Farouq memanggilku dengan sebutan nama, itu sangat aneh sekali terdengar di telingaku.
"Kenapa kok tiba-tiba diem?"
"Gpp cuma lagi kepikiran mama papa aja"
"Ya ampun sayang baru juga sehari"
"Iya sih"
"Gini aja, kita selesaikan buka kadonya abis itu aku ajak kamu jalan-jalan sekalian mampir ke rumah papa mama gimana?"
"Beneran mas?"
"Iya bener"
"Kalau gitu aku mau" Wajah Diar kembali sumringah ketika mendengar ajakan Farouq.
"Oh ya baju-baju kita gak usah di keluarin dari koper ya mas? kan kita gak lama disini nanti repot beresin lagi"
"Yaudah gpp toh yang kotor dan yang bersih udah dipisahin tadi pagi"
Srek!
Wrek!
Grek!
"Wah…ternyata banyak yang ngasih kado kita peralatan rumah tangga mas, ada yang kasih kado kulkas dan mesin cuci juga"
"Secara kamu kan anak pengusaha kaya raya Diar mana mungkin kadonya cuma handuk atau piyama"
"Ih mas gak gitu juga lah kan kemampuan orang beda-beda, kalau ini berarti ya namanya kita dapat rezeki jadi nanti gak perlu beli banyak barang untuk isi rumah baru"
"Kita kan besok naik pesawat sayang gimana bawanya barang sebanyak ini?"
"Ya bayar mobil pick up lah mas, kalau gak kita pakai jasa cargo kan bisa"
"Ya udah terserah kamu deh"
"Tuan Farouq ditunggu ndoro putri dan ndoro oma di bawah untuk makan malam"
"Iya bi sebentar lagi kami nyusul"
"Tuh udah dipanggil mama sama oma suruh makan siang, cepat kita beresin abis itu kita turun katanya mau jalan-jalan kan?"
"Ini kan masih sore mas kok udah makan malam?"
"Oh iya aku belum cerita ya? Kalau peraturan di rumah ini gak boleh makan nasi lebih dari jam lima sore makanya setiap jam tiga atau jam empat sore kita makan malam tergantung anggota keluarga ada dirumah jam berapa"
"Jadi begitu, iya mas aku baru mengerti sekarang"
"Ngerti kan? Jadi besok-besok jangan tanya-tanya lagi nanti oma marah. Yaudah sekarang kita turun takut mereka nunggu lama"
"Iya mas"
Farouq dan Diar turun ke bawah menemui oma dan mamanya yang sudah dulu duduk di meja makan.
__ADS_1
"Loh mbak Widya gak ikut makan?" Tanya Diar ketika mendapati kakak ipar perempuannya tidak ada di meja makan.
"Mbak mu lagi ke supermarket" Jawab oma datar.
"Udah ayo duduk Farouq, Diar. Kita makan berempat aja dulu"
Farouq mengambil posisi duduk di seberang mamanya sementara Diar mengambil tempat di sebelahnya.
"Bian kemana ma?" Tanya Farouq yang sangat peduli kepada adik laki-lakinya itu.
"Dia sudah berangkat ke kosan nya, katanya besok pagi ada ujian jadi hari ini berangkat"
"Terus ke Palembangnya siapa yang nyetirin kita?"
"Tenang, ada pak Sopian mas. Papa sengaja cari sopir untuk kita disana"
"Tuh istrimu yang orang kaya tau" Jawab oma ketus.
Diar langsung diam tak berani menanggapi lagi.
"Oma sehabis makan siang Farouq mau minta izin ajak Diar jalan-jalan sekalian main ke rumah orangtuanya"
"Baru sehari kok udah mau pulang kerumah" ketus oma.
Lagi-lagi Diar hanya bisa terdiam mendengar kalimat ketus dari oma nya itu.
"Nggak pulang oma cuma mau nengokin aja" kalimat pembelaan keluar dari mulut Farouq kali ini.
"Gpp ma, besok lusa kan mereka sudah berangkat ke Palembang siapa tau Diar pengen melepas rindunya nanti sebelum pergi" bela Wahyuni didepan Diar.
"Halah orang Palembang dekat naik pesawat berapa jam juga sampai kalau kangen, dasar anaknya aja yang gak betah disini"
"Ma…kasihan Diar gak boleh begitu dong"
"Ayo dimakan Diar, gpp kalau mau ke rumah orangtua kamu lagian pasti kamu bosan dirumah ini gak ada kegiatan"
"I-iya ma"
Diar hanya mengambil mungkin sekitar lima sendok nasi kalo ditakar karena mendadak selera makannya menurun karena mendapat ketusan dari oma.
"Kami sudah selesai, mama mau bawa oma ke kamarnya dulu ya"
"Sayang kamu duluan ke atas aja aku mau bantu Bi Yam beresin sisa makanan ini"
"Udah gak usah sayang kita tinggal aja kan ada bi Yam, ini udah tugas dia"
"Ta-tapi aku kasihan sama bi Yam"
"Nurut sama suamimu Diar!"
Ini kali pertama Farouq membentak Diar tidak seperti biasanya, karena takut Diar pun menurutinya dengan terpaksa.
"Beresin apa yang perlu dibawa, aku tunggu di mobil"
Diar benar-benar tidak menyangka dengan perubahan sikap Farouq yang mendadak dingin itu.
Dengan cepat Diar naik ke lantai dua dan melewati kamar mertuanya yang terbuka begitu saja, dia mengambil ponsel dan uang secukupnya.
"Ada apa sebenarnya dengan keluarga ini? Aneh sekali" gumam Diar dalam lamunannya.
"Ah sudahlah sebaiknya aku segera turun agar mas Farouq tidak bertambah marah"
Sesampainya di carport Diar langsung naik ke dalam mobil yang sudah menyala.
"Kita berangkat sekarang?"
"Iya mas"
"Mau mampir beli sesuatu gak? Masak kita datang ke rumah orangtua kamu gak bawa apa-apa?"
"Gak usah mas gak perlu bawa apa-apa disana juga pasti bibi udah belanja"
"Di depan ada toko buah, kamu cari buah yang sekiranya pantas untuk dibawa kesana. Masak mau datang ke rumah mertua kaya gak bawa apa-apa mau ditaruh dimana mukaku"
Degh! Ada apa dengan Farouq mengapa mod nya tiba-tiba berubah.
__ADS_1
Kali ini Diar hanya tertunduk diam tidak menanggapi ucapan Farouq yang barusan tidak sesuai dengan kepribadian yang selama ini dia kenal.
Sepuluh menit kemudian mereka sampai di depan toko buah, Diar pamit kepada Farouq untuk memilah-milah buah yang masih bagus dan Fresh.
Tidak berselang lama Diar sudah kembali ke dalam mobil lagi.
"Sudah selesai, beli apa aja cepat amat?"
"Jeruk sama apel mas masing-masing 2kg"
"Buah pir gak ada? Atau anggur gitu?"
"Ada mas, mas mau?"
"Ambil 2kg lagi masak cuma jeruk sama apel"
"Tapi ini sudah cukup mas, gak usah berlebihan kalau gak habis malah mubazir"
"Diar! Sejak kapan sih kamu susah diarahkan?"
"I-iya mas"
Tanpa melawan lagi perintah dari Farouq, Diar langsung turun lagi untuk membeli buah pir dan anggur.
Selesai membayar dia kembali lagi ke dalam mobil tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya.
Di perjalanan hanya ada hening diantara mereka berdua, rasa sesak ingin menangis karena bentakan dari Farouq harus ditahannya karena sebentar lagi akan sampai di rumah orangtuanya.
Tin!tin!tin! Farouq membunyikan klakson berulang kali karena pintu gerbang tertutup rapat.
Tidak lama kemudian muncul satpam yang membawa segerombol kunci dan membuka gerbang.
"Pekerja di rumah kamu lelet semua ya" umpat Farouq didalam mobil.
Papa dan mamanya Diar langsung keluar karena mendengar klakson dan memang sudah diberitahu oleh Diar sebelumnya kalau mereka mau datang.
"Anakku sayang gimana kabarnya nak?" Peluk mama Diar setelah dia turun dari mobil milik Farouq.
"Alhamdulillah baik ma, mama gimana kabarnya?"
"Ya seperti yang kamu lihat, mama sehat sekali sayang"
"Anak papa, gimana pengalaman pertama jadi istri?"
"Bisa dilaksanakan dengan baik pa"
"Siapa dulu dong, papanya?"
"Ih berkat pelajaran dari mama juga kali pa" Irawati mencubit pelan pinggang suaminya itu.
"Hehe iya-iya sayang" meskipun sudah hampir cuci tapi keromantisan orang tua Diar tetap terjalin.
"Yaudah yuk masuk, mamamu masak banyak tadi" ajak Handika setelah menantunya selesai menaruh mobilnya di carport.
"Aku kangen banget sama masakan mama" celetuk Diar ketika di meja makan, seketika raut wajahnya juga berubah.
Mama segera menyadari perubahan ekspresi dari anaknya itu, maka setelah makan beliau berusaha mengajaknya bicara empat mata ketika Diar sedang mencuci piring.
"Mama liat kamu gak lagi baik-baik aja sayang? Kamu sedih atau lagi ada masalah?"
"Gpp kok ma"
"Sayang, walau bagaimanapun kamu tetap putri kesayangan mama, yang memang perlu untuk diceritakan ya cerita aja sama mama"
"Se-sebenarnya……"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Kalian berharap apa dari sini wkwkwk, lanjut besok lagi ya pemirsah…