
Di sebuah kota, terdapat kota kecil yang berada di pinggiran kota dekat sungai. Sungai disana masih sangat asri dan damai, semua orang yang tinggal di kota itu melakukan aktifitas mandi dan mencuci di sungai itu.
Disana masih sangat terlihat sederhana, banyak pohon-pohon masih berdiri tegak, terdapat kebun singkong dan masih berdiri dengan gagah pohon-pohon kelapa.
Di kota itu, tinggalah seorang anak sebut saja namanya Rara, Rara tinggal bersama kedua orang tuanya dan kelima saudaranya, satu laki-laki dan empat perempuan.
Orang tua Rara hanya seorang pedagang kecil, setiap hari ayahnya berjualan dekat rumahnya, sementara ibu Rara berjualan makanan kecil bikinan sendiri.
Setiap pagi pukul lima pagi, ibu Rara selalu berangkat berjualan, saat itu masih sangat gelap. Sementara saudara Rara bekerja di sebuah pabrik kecil.
Sedangkan Rara yang masih bersekolah, setiap pagi bersiap untuk berangkat kesekolah. Sekolah Rara tidak jauh dari rumahnya. Rara selalu berangkat berjalan kaki, terkadang di jalan menuju sekolah Rara bertemu angsa yang galak bahkan terkadang ada kerbau di lapangan.
Jika melihat angsa, Rara merasa sangat takut dan menghentikan langkah kakinya. Dia menunggu sampai ada orang lewat dan akan ikut bersamanya.
"Ayo Ra, mau lewat kan?" seorang tetangga Rara lewat.
Rara ikut bersama tetangganya itu, dia melewati angsa-angsa yang siap mematuk jika melihat orang berjalan didekatnya.
Rara sampai disekolahnya, sekolah Rara yang hanya memiliki lima kelas, satu perpustakaan dan satu ruang guru itu adalah sekolah terdekat dari rumahnya. Rara belajar bersama teman-temannya.
Rara sekarang sudah duduk di kelas enam, di sekolah yang sederhana itu hanya terdapat tidak lebih dari seratus orang murid, dan di kelas Rara hanya terdiri dari dua belas orang murid, tujuh murid laki-laki dan lima murid perempuan.
Rara termasuk anak yang pandai di kelas, saingan beratnya adalah anak laki-laki bernama Iwan, Iwan dan Rara selalu bersaing dalam hal pelajaran, tapi mereka tidak pernah ribut, bahkan saling bicara pun tidak pernah.
Teman-teman satu kelasnya pun terkadang suka meledek "kalian ini kenapa sih enggak pernah ngobrol?". Tapi Rara dan Iwan tidak menjawab pertanyaan itu.
Saat pelajaran di mulai semua murid duduk dengan rapih di tempatnya masing-masing, guru mulai memberikan tugas kepada mereka, seperti murid-murid pada umumnya, setelah guru pergi meninggalkan kelas mereka mulai mendekati teman-teman yang cukup pandai untuk menyontek jawaban.
Murid laki-laki mendekati Iwan, sedangkan murid perempuan mendekati Rara.
Iwan dan Rara memang teman yang baik, terkadang mereka memberi contekan, tetapi terkadang juga mereka mengajari teman tanpa harus mencontek.
"Lho.. Wan, kok jawaban kamu sama Rara yang ini beda sih?" tunjuk Aden kepada soal yang di ada di buku.
Iwan memperhatikan jawabannya, dia terlihat bingung "yang bener ini salah?" gumam Iwan. Secara berbisik Iwan mengatakan kepada Aden agar meminjam buku Rara untuk melihat dimana kesalahan pada jawabannya.
"Ra, pinjem buku kamu donk" pinta Aden.
"Emang belum selesai, biasanya juga nyontek sama Iwan" jawab Rara ketus.
"Belum, Iwan belum selesai, pinjem donk jangan pelit" Aden sedikit memaksa.
__ADS_1
Karena Rara dan teman-teman perempuannya sudah selesai, Rara memberikan bukunya kepada Aden. Aden membawanya ke meja Iwan.
Iwan mulai memeriksa dimana kesalahan yanh terjadi pada jawabannya. Iwan memperhatikan jawabannya satu per satu.
"Udah belum, mau di kumpul" ucap Rara sambil melirik bukunya yang ada di depan Iwan.
"Bentar lagi, sabar" jawab Aden.
"Udah sana balikin, nanti kamu nyontek sama aku aja" ucap Iwan.
"Kelamaan Wan, nanti keburu bu Aya dateng, sini buku Rara" Aden mengambil buku Rara yang ada di meja Iwan dan berpindah ke meja lain.
Teman-teman yang lain tidak sabar menunggu jawaban Iwan, akhirnya mereka ikut mencontek buku Rara.
Beberapa menit kemudian bu Aya datang dan masuk ke dalam kelas, semua murid kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Sudah selesai semua" ucap bu Aya.
"Sudah buu....." jawab murid serempak.
"Baiklah, sekarang kumpul di atas meja, sebentar lagi pelajaran ibu Ria akan di mulai"
"Baik bu..."
Tidak berselang lama, Bu Ria masuk ke dalam kelas, karena bu Ria masih ada tugas lain, bu Ria meminta Rara untuk membantunya menulis di papan tulis.
"Kok saya bu, sekertaris kelas kan Umi?" tanya Rara sambil menunjuk temannya.
"Enggak apa-apa, nanti bisa gantian, ini tulisan halaman 30-35, jangan lupa untuk di rangkum" bu Ria memberikan buku dan pergi keluar kelas.
"Umi, nih kamu aja" pinta Rara.
"Aku lagi males Ra, enggak papa deh kamu aja" jawab Umi.
"Hmm.. Ya udah deh"
Rara menulis tugas di papan tulis, sementara teman yang lain menyalinnya di buku masing-masing, tulisan Rara terlihat rapih, sehingga teman-temannya lebih nyaman dengan tulisan Rara di banding tulisan Umi.
Tugas sudah selesai, sedangkan Rara belum menulis apa-apa di bukunya, padahal sebentar lagi waktu pulang sekolah akan segera tiba.
"Aku pinjem buku kamu Sil" ucap Rara pada Sila.
__ADS_1
"Aku juga belum selesai Ra, nih aku pinjem buku Ana" jawab Sila.
"Aku pinjem buku kamu deh Mi" ucap Rara pada Mia.
"Aku aja enggak nulis Ra, hehe" jawab Mia.
Rara mulai bingung harus meminjam pada siapa lagi, kalau pinjam kepada teman lelaki, tulisan mereka bisa di bilang seperti cacing kepanasan. Uget uget
"Nih Ra, pinjem buku Iwan aja" Aden menunjukkan buku Iwan.
"Ih.. Kamu ngapain sih Den" ucap Iwan hendak mengambil bukunya dari tangan Aden.
"Enggak papa sih Wan, jangan pelit" Aden memberikan buku itu kepada Rara dan Rara menerimanya.
"Aku pinjem dulu ya Wan, besok aku balikin" ucap Rara.
"Iya.." jawab Iwan singkat.
Dari ketujuh teman laki-lakinya, hanya tulisan Iwan lah yang di anggap Rara lebih baik dan lebih bisa di baca di banding milik temannya yang lain.
Waktu pulang sekolah tiba, Bu Ria masuk kedalam kelas dan tidak lupa memberikan pekerjaan rumah kepada murid-muridnya.
"Minggu ini, ibu minta kalian membuat gambar peta Indonesia, jangan lupa di beri warna supaya bagus, satu tugas akan di kerjakan dua orang"
Murid-murid mulai memilih teman satu kelompok, tapi kali ini bu Ria yang akan memilih siapa yang akan berkelompok dengan siapa.
"Iwan, kau satu kelompok dengan Umi, Rara kau dengan Deni, Ana kau dengan Aden, Mia kau dengan Atta, Sila kau dengan Obi" bu Ria sudah membagi kelompok.
Mereka tidak percaya harus satu kelompok dengan teman yang berbeda jenis kelamin.
"Huhh.. Pasti anak laki-laki mah males ni" gerutu murid-murid perempuan.
Setelah membagi kelompok, bu Ria meminta mereka membaca doa selesai belajar, dan mereka kembali ke rumah masing-masing.
"Ra, kapan mau mulai ngerjain tugas?" tanya Deni.
"Besok aja pulang sekolah, kamu ke rumah aku ya" jawab Rara.
"Aku enggak tahu rumah kamu"
"Ajak temen donk yang tahu"
__ADS_1
"Oh ya udah kalo gitu, besok aku ajak Ikbal" Deni nyengir mengucap nama Ikbal, karena Deni tahu kalau Ikbal naksir Rara. Bisa di bilang masih cinta monyet.
"Ihh ngapain harus ajak Ikbal?" gumam Rara.