
Ujian Nasional sudah berakhir, nilai ujian sudah diumumkan, dan Rara mendapat nilai terbaik dari semua teman-temannya.
Mereka saling membicarakan dimana mereka akan melanjutkan sekolah. Rara melanjutkan sekolah disebuah sekolah swasta yang lumayan jauh dari rumahnya.
Suasana di sekitar rumah Rara mulai berubah, pohon-pohon mulai berkurang karena adanya penebangan pohon, dan pembangunan rumah yang dilakukan warga.
Rumah-rumah mulai dibangun, kini di sekitar rumah Rara mulai banyak pemukiman dan semakin ramai, suasana yang dulu tenang kini mulai terjadi kebisingan.
Rara kini sudah mulai mengenal lebih banyak teknologi, kakaknya memberikannya sebuah ponsel untuk melakukan komunikasi, Rara sangat senang mendapatkan hadiah itu, walaupun tidak baru tapi ponsel itu cukup berguna untuk melakukan panggilan dan mengirim pesan SMS, saat itu belum ada ponsel android seperti sekarang.
Rara kembali satu sekolah dengan Mia dan Ana, mereka selalu berangkat bersama, bahkan terkadang ada permusuhan yang terjadi akibat seorang cowok.
Disekolah barunya, Rara yang mempunyai postur tubuh kecil, bisa di bilang kurus, selalu mendapat bully- an dari teman-teman satu kelasnya, tapi Rara tidak berkecil hati, dia selalu santai menghadapi ejekan dari teman-temannya.
Hingga pembagian raport semester pertama dilakukan, semua murid sudah dag dig dug menunggu hasil nilai mereka selama belajar disekolah.
"Untuk peringkat pertama, diraih oleh Rara" ucap seorang guru membagikan raport mereka.
Rara sangat senang, karena nilainya masih tetap bertahan dari masih duduk disekolah dasar hingga sekarang.
Semua teman-temannya menoleh ke arah Rara, mereka terkejut karena orang yang mereka bully selama ini ternyata mempunyai otak yang cerdas.
Setelah hari itu, kini mereka tidak lagi mem-bully Rara, mereka justru ingin menjadi teman Rara, hingga semuanya mulai akrab dengan Rara.
Suatu hari saat bangun tidur, tiba-tiba ponsel Rara berdering, Rara merasa heran dengan panggilan itu, karena itu nomor yang tidak dikenal. Rara mencoba menjawab panggilan itu.
"Hallo..." ucap Rara.
Telepon itu berakhir tanpa ada jawaban dari si-penelepon.
"Dasar aneh" Rara meletakkan ponselnya dan pergi kekamar mandi.
Saat kembali kedalam kamarnya, Rara melihat ada sebuah pesan, dan membuka pesan itu dan mulai membacanya.
"Haii.. boleh kenalan enggak?" begitu isi pesannya.
"Siapa ini?" Rara membalas pesan itu.
"Aku Faisal, kamu siapa?"
"Rara, kok kamu tahu nomor hp-ku?"
"Iya, aku dapat nomor kamu dari Tari, teman kamu"
"Oh.. ya sudah"
Rara dan Faisal masih saling berkirim pesan, sampai akhirnya Faisal mengajak Rara untmenemaninya,
"Ya udah, kita ketemu nanti malam ya, dirumah Tari" balasan pesan terakhir dari Faisal.
__ADS_1
Malam pun tiba, Rara berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi kerumah Tari, Ana dan Mia sudah menunggunya didepan rumah.
Mereka pergi berjalan kaki, karena saat itu masih sangat umum untuk para remaja berjalan kaki tanpa memikirkan gengsi.
"Tari..."
Mereka bertiga memanggil Tari dengan suara keras sampai akhirnya keluar dari dalam rumahnya yang berlantai dua itu, Tari segera turun dan menghampiri mereka, Tari hanya mengenakan kaos dan celana pendek sedangkan Rara, Ana dan Mia terlihat begitu rapi dengan mengenakan celana jeans.
"Eh.. Rara, mau ketemu Faisal ya?" tanya Tari.
"Kok tahu?" Rara balik bertanya.
"Iyalah.. Faisal kan satu sekolah sama saudaraku"
"Hmm pantes, lama banget sih Faisal, katanya janji jam setengah 8, tapi udah jam 8 belum dateng" ucap Rara sedikit tidak sabar.
"Sabar...!!" ucap Mia, Ana dan Tari bersamaan.
Beberapa menit kemudian Rara mendapat pesan di ponselnya, Rara membuka pesan itu yang tidak lain dari Faisal.
"Kamu dimana?" isi pesan Faisal. Rara segera membalas pesan itu.
"Dirumah Tari, kamu dimana?"
"Aku di deket rumah Tari"
Melihat isi pesan itu, Rara penasaran dan melihat kesekitarnya, tapi tidak terlihat seorang pun.
Ana, Mia, dan Tari ikut melirik kemana-mana, sampai akhirnya Tari melihat seseorang di balik pohon.
"Itu Ra.." ucap Tari sambil menunjuk kearah Faisal.
Sadar persembunyiannya sudah ketahuan, Faisal kembali mengumpet, Rara yang penasaran menghampiri Faisal, tapi Faisal malah berlari dan menjauh.
"Ih cemen banget sih" Rara sedikit kesal.
Faisal seorang pemuda yang pemalu, hingga bertemu saja dibatalkannya secara sepihak. Karena pertemuan itu batal, Rara dan teman-temannya memutuskan untuk jalan-jalan malam saja, Rara sudah tidak peduli dengan Faisal.
Hari semakin malam, setelah Rara, Ana dan Mia mengantar Tari sampai rumah, mereka berpamitan untuk pulang.
Esoknya disekolah Rara, ada seorang murid pindahan, anak lelaki bertubuh gempal itu bernama Agung. Agung langsung bisa bergaul dengan teman laki-laki yang lain.
Sementara saat jam istirahat tiba, salah satu teman satu kelas Rara menyampaikan sebuah pesan.
"Ra, ada salah dari Fandi" ucap temannya itu sambil nyengir.
"B**o amat" Rara menjawab dengan sewot, karena Rara tidak suka mendengar salam itu.
Teman-teman di sekitarnya mulai meledek Rara, yang diam-diam mendapat fans.
__ADS_1
"Ciee....." ucap mereka serentak.
"Ihh apaan sih" ucap Rara.
Fandi sudah lama menyukai Rara, tapi Rara tidak pernah membalas semua salam dari Fandi, sampai suatu hari Fandi mentraktir teman-teman dekat Rara, berharap mereka bisa membantunya untuk dekat dengan Rara.
"Udah sih Ra, mau aja sama Fandi, kasian tuh" bujuk Tari.
Rara cuma diam tanpa bicara apa-apa, dalam hatinya ternyata Rara sudah menyukai orang lain, Rara menyukai Ricko, teman sekelasnya yang menjadi idola semua cewek.
Rara hanya bisa memendam rasa sukanya kepada Ricko, karena Rara juga sadar mana mungkin seorang Ricko yang keren suka kepada Rara, cewek yang biasa-biasa saja.
Sudah beberapa bulan setelah Agung sekolah di sekolah Rara, Diam-diam agung juga menyukai Rara, tapi Agung berbeda dengan Fandi yang hanya sekedar menitip salam. Agung seorang lelaki yang berani, tanpa rasa ragu dia menyatakan suka dan mengajak Rara berpacaran.
Rara menerima ajakan Agung tanpa memikirkan perasaan Fandi, walaupun sebenarnya Rara hanya suka pada Ricko, tapi mau bagaimana, Ricko sudah berpacaran dengan perempuan lain.
Setiap malam Agung selalu datang menemui Rara dirumahnya, Agung juga selalu mengajak teman untuk menemaninya, awalnya Rara merasa senang, diam-diam Rara menaruh hati kepada salah satu teman Agung yang bernama Robi, Rara dan Robi saling bertukar nomor ponsel, tanpa sepengetahuan Agung, Rara selalu berkirim pesan kepada Robi.
Hingga seminggu berturut-turut, Agung selalu datang kerumah Rara, itu membuat Rara sangat bosan menjadi pacar Agung.
Sore hari, Agung mengajak Rara bertemu, sebenarnya Rara sangat malas bertemu Agung, tapi Agung terus memaksanya hingga dengan terpaksa Rara menyetujuinya.
Mereka bertemu di sebuah gang dekat rumah Rara, hari itu sudah hampir petang, hingga mereka bicara langsung pada intinya.
"Ra, aku tahu kamu suka kan sama Robi?" tanya Agung.
"Enggak, kata siapa" jawab Rara mengelak.
"Enggak usah bohong, aku tahu kamu setiap hari SMS-an sama Robi, iya kan?"
Rara tidak bisa mengelak lagi, dia pun menjawab tuduhan Agung.
"Iya, aku suka sama Robi" jawab Rara.
"Ya udah, sekarang mau kamu apa?" tanya Agung.
"Kita putus aja ya"
"Oh.. Maunya gitu, ya udah kalo gitu"
"Hmm.. Kamu enggak marah kan? Maaf ya?"
"Iya enggak papa"
"Kita masih tetep jadi temen kan?"
"Iya, ya udah ya, aku pulang dulu"
"Ya udah"
__ADS_1
Agung berlalu pergi, saat itu Rara merasa sangat senang, perasaan yang hanya di anggapnya sebagai cinta monyet itu tidak lagi di hiraukannya.