
Setelah berjalan kaki selama lima belas menit, akhirnya Rara tiba di rumahnya. Ibu Rara sudah memasak makanan kesukaan Rara, Rara berganti pakaian dan mulai makan siang.
Tugas kecil yang dilakukan Rara setiap pulang sekolah sudah menunggu, sekantong kecil bawang sudah siap untuk di kupas, itu adalah tugas rutin Rara dua hari sekali, bawang-bawang itu milik tetangga Rara, Rara membantunya untuk menambah uang jajan.
"Bu, besok Rara harus beli kertas karton" ucap Rara kepada ibunya sambil mengupas kulit bawang.
"Buat apa?" tanya ibu Rara yang bernama ibu Tia.
"Buat bikin tugas sekolah, tapi Rara enggak sendiri kok bu, ini tugas kelompok, jadi teman Rara juga nanti menambah uang untuk beli karton dan lain-lain"
"Oh, Ya udah. Besok ibu kasih ya"
"Makasih bu" Rara tersenyum.
Rara menyelesaikan tugasnya, selesai bawang-bawang itu selesai di kupas, Rara memberikannya kepada pemilik.
Rara pulang ke rumah dan mulai menyalin pelajaran yang dia tulis tadi dari buku Iwan.
Rara memperhatikan tulisan Iwan, buku Iwan penuh coretan tidak jelas.
"Dasar anak laki, buku sampai kotor gini" gumam Rara.
Rara harus segera menyelsaikan tugasnya karena besok buku ini harus kembali kepada Iwan. Rara selalu mengerjakan tugasnya sendiri, karena kedua orang tua Rara sibuk bekerja sehingga tidak dapat membantunya, sedangkan saudara-saudaranya bekerja pulang sore.
Sebenarnya masih ada saudaranya yang lain, tapi suadaranya itu pun masih bersekolah, dan harus pulang sore hari, sehingga tidak bisa membantu Rara. Jadi pelajaran itu sulit atau tidak Rara harus mengerjakannya sendiri.
Sore hari Rara berangkat mengaji, tempat mengaji Rara tidak jauh dari rumahnya, sehingga Rara tidak harus bertemu angsa-angsa yang jahat itu, kecuali saat berangkat sekolah, itu sangat menegangkan buat Rara.
Malam sudah tiba, saat itu udara di daerah tempat tinggal Rara masih sangat sejuk, tidak banyak polusi seperti jaman sekarang. Pohon-pohon masih berdiri kokoh di depan rumah Rara, bahkan Rara bisa membuat ayunan pada batang-batang pohon itu.
Semua anggota keluarga berkumpul dan berbincang di luar rumah, mereka duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari bambu, buatan ayah Rara sendiri. Saat itu belum ada gadget seperti saat ini, sehingga waktu berkualitas bersama keluarga sangat di nikmati.
*****Author juga kangen sama suasana begitu, banyak pepohonan, kursi bambu, dan masih bermain permainan tradisional, tidak seperti sekarang***
Apa para readers pernah merasakan suasana itu**??
Malam sudah semakin larut, semua anggota keluarga kembali ke dalam rumah untuk beristirahat, begitu pun para tetangga disekitar rumah Rara.
Rara tidur bersama ibu dan saudaranya, karena keadaan rumah yang hanya memiliki sedikit kamar, sehingga mereka belum mempunyai kamar masing-masing, kecuali saudara laki-laki Rara.
__ADS_1
Terdengar suara adzan subuh berkumandang, ibu Rara bangun terlebih dahulu, kemudian membangunkan anggota keluarga yang lain, ibu Rara menyiapkan makanan untuk seluruh keluarga dan setelah itu menyiapkan barang dagangannya.
Rara sudah bangun dan bersiap kesekolah, ibunya memberi sejumlah uang saku dan uang untuk membeli keperluan sekolah Rara. Rara terlihat senang, dia berangkat kesekolah.
Seperti biasa Rara selalu melihat ke kanan dan kiri jalan, siapa tahu ada angsa yang siap menggigitnya.
"Huhh.. sukur, angsanya masih dalam kandang" Rara merasa lega dan melanjutkan perjalanannya.
Hari ini jadwal piket kelas bagi Rara, Rara satu kelompok dengan Aden, Aden yang sudah datang terlebih dahulu malah asyik jajan di kantin bersama teman yang lain.
"Hei.. Aden, kamu itu piket bareng aku, kenapa malah enak-enakan" Rara terlihat kesal.
"Iya bawell.." Aden berjalan mendekati Rara dan mulai membantu Rara piket kelas.
Tanpa disadari ternyata bell sekolah berbunyi, sementara Rara dan Aden masih belum selesai melakukan tugas mereka.
Ibu Ria melihat mereka yang masih membersihkan kelas dan mendekatinya.
"Kalian belum selesai, makanya jangan datang terlambat" Bu Ria mencubit mereka sebagai hukuman.
"Ini semua salah kamu Den" ucap Rara kesal setelah bu Ria pergi.
"Aduh..!! Sakit tahu" Aden mengusap kepalanya.
"Sukurin.." Rara pergi ke dalam kelas setelah menyelesaikan tugasnya.
Pelajaran dimulai, semua murid duduk dengan tertib, karena hari ini pelajaran agama, guru agama terkenal sangat galak, sehingga mereka tidak bisa malas-malasan.
Tidak terasa waktunya sekolah sudah berakhir untuk hari ini, semua murid bersiap untuk pulang dan mulai berdoa.
Mereka semua sudah keluar kelas hendak pulang kerumah masing-masing.
"Ra, nanti jam 2 siang aku kerumahmu" ucap Deni.
"Iya, aku tunggu, jangan telat ya" jawab Rara.
"Okey.." Deni menunjukkan ibu jarinya.
Rara sudah sampai di rumah dan sudah selesai menyelesaikan tugas hariannya, Rara duduk di teras rumah sambil menunggu Deni, di depannya sudah tersedia berbagai alat tulis.
__ADS_1
Tidak berapa lama, Deni datang bersama Ikbal dan Mia, mereka langsung duduk bersama Rara.
Mereka mulai membuat karya yang di tugaskan oleh ibu Ria, Rara dan Deni membuatnya secara bergantian, sesekali mereka beristirahat.
"Nih, minum dulu" Rara membawa air dan makanan kecil untuk teman-temannya.
"Bal, kamu diem aja, tadi di jalan nanyain Rara terus" ucap Mia sedikit meledek.
Ikbal hanya tersenyum malu-malu.
"Ih.. Males banget sih" gumam Rara.
Setelah beristirahat Deni dan Rara melanjutkan tugas mereka, sementara Mia dan Ikbal hanya duduk dan bermain.
"Ah.. akhirnya selesai juga, kamu yang bikin bingkainya ya Den, kamu kan cowo pasti bisa" ucap Rara.
"Ya udah, nanti aku yang bikin, kebetulan deket rumah aku kan banyak pohon bambu buat bikin bingkainya"
"Okey.. Bagus"
Hari sudah sore, Deni, Ikbal dan Mia berpamitan untuk pulang. Rara mengantar mereka sampai keluar gang rumah Rara.
Rara beristirahat dan tidur siang. Rara baru ingat kalau tadi di sekolah ada pengumuman, kalau minggu depan sekolah Rara akan ikut serta dalam kegiatan lomba cerdas cermat antar kecamatan.
Rara terpilih sebagai peserta cerdas cermat bersama Iwan dan Mia, sedangkan Ana sebagai peserta lomba kaligrafi dan yang lainnya mengikuti lomba marawis.
Rara mulai mempersiapkan diri, Rara belajar sebaik mungkin supaya dapat menjawab semua pertanyaan esok hari. Rara berharap sekolah mereka akan memenangkan salah satu kategori lomba agar guru-guru menjadi bangga kepada mereka.
Besok pun tiba, Rara dan yang lainnya sudah sampai di sekolah, mobil jemputan sudah menunggu, yang lain sudah berada didalam mobil, sementara Iwan belum juga datang.
Tiba-tiba datang lelaki paruh baya menemui kepala sekolah dan mengatakan kalau Iwan tidak bisa ikut serta dalam lomba karena sakit. Lelaki itu adalah ayah Iwan.
Kepala sekolah sedikit kecewa, karena salah satu murid berprestasinya tidak bisa ikut, dan terpaksa harus mengganti posisi Iwan, Iwan digantikan oleh Atta.
Mereka sampai di tempat perlombaan, tidak lama setelah mereka sampai, lomba pun di mulai. Rara, Mia dan Atta berusaha sebaik mungkin.
Tapi sayang hasil perlombaan itu mengatakan kalau sekolah mereka gagal menjadi juara. Rara sempat kecewa dan bertanya-tanya.
"Kenapa sih Iwan enggak mau ikut lomba, padahal kemarin dia baik-baik aja, kenapa sekarang sakit, apa dia enggak mau satu kelompok sama aku?" Gumam Rara.
__ADS_1
Pertanyaan itu tidak pernah hilang dari fikiran Rara, tapi dia tidak mau bertanya langsung kepada Iwan dia hanya menyimpan pertanyaan itu sendiri.