
Siang ini Rara berangkat sekolah seorang diri, karena Ana tidak masuk, sedang tidak enak badan, sedangkan Mia sudah pergi lebih dulu diantar oleh kakaknya.
Rara berangkat dengan berjalan kaki, Rara melihat kelangit, cuaca siang ini terlihat mendung, Rara mempercepat langkah kakinya sebelum hujan turun, tanpa sadar, Ricko cowok yang disukai Rara sedang berjalan dibelakangnya.
Rara menoleh ke belakang, dan Ricko tersenyum kepadanya. Langkah Ricko sangat cepat hingga sekarang berada di depan Rara.
Tik.. tik.. tik..
Rintik air hujan mulai turun, Rara kembali mempercepat langkahnya berharap bisa menyusul langkah Ricko.
"Rick, tungguin donk" ucap Rara sedikit berteriak.
"Ayok cepetan, nanti hujan besar" jawab Ricko.
Kini Rara dan Ricko sudah berdiri bersampingan, mereka bersiap untuk menyeberang jalan, ketika jalanan mulai lengang Ricko mengajak Rara menyeberang.
"Yuk.. udah sepi" ucap Ricko.
Mereka mulai menyeberang jalan, tidak di sangka, hujan turun dengan deras. Ricko berteduh di depan sebuah ruko yang berada di pinggir jalan, sementara Rara berteduh dibawah pohon besar yang ada di depan ruko yang sama.
Saat hujan cukup reda, Ricko ikut berteduh di bawah pohon bersama Rara, hati Rara terasa berdebar, dia tidak menyangka akan berdekatan dengan cowok yang dia suka disaat hujan seperti ini, itu terasa begitu sangat romantis menurut Rara.
Hujan sudah benar-benar berhenti, Ricko hendak melanjutkan perjalanannya menuju sekolah, Ricko mengajak Rara untuk berjalan bersama.
"Ayok jalan, udah reda hujannya!" ajak Ricko.
"Enggak ah, duluan aja" jawab Rara.
Ricko tersenyum dan pergi meninggalkan Rara, Rara terpaksa menolak ajakan Ricko, karena Rara tidak ingin terjadi kesalah pahaman antara Ricko dan pacarnya. Dia tidak ingin disebut sebagai orang ketiga.
Setelah beberapa langkah Ricko, Rara mengikutinya dari belakang hingga sampai di sekolah, Rara membersihkan roknya yang terkena cipratan air hujan, sementara Ricko sudah berada didalam kelas.
Rasanya Rara ingin sekali menceritakan kejadian itu kepada teman-temannya, tapi Rara mengurungkan niatnya, karena semua temannya tidak mengetahui bahwa Rara menyukai Ricko, Rara hanya memendam sendiri rasa sukanya itu.
Rara masuk kedalam kelas, dia bertemu dengan Tari yang sudah berada di tempat duduknya, Tari mulai bertanya banyak hal kepada Rara tentang hubungannya dengan Agung.
"Ra, gimana kamu sama Agung?" tanya Tari.
"Iya Ra, cerita donk" sahut Mei yang sedikit agak kepo di banding temannya yang lain.
"Cerita apa sih, aku tuh udah putus sama Agung kemaren" jawab Rara.
"Hah? Kenapa?" ucap Mei dan Tari bersamaan.
"Enggak papa, aku udah males aja sama dia, tiap malem dateng mulu, bosen kan aku"
__ADS_1
"Hmm.. kamu enggak sedih Ra?" tanya Tari.
"Enggak, aku malah ngerasa bebas aja sekarang" jawab Rara tersenyum.
Mei pergi meninggalkan mereka setelah obrolan itu, Mei pergi ke kantin bersama Mia.
"Ra, aku dapet kenalan dari sekolah SATURNUS, namanya Indra" ucap Tari.
"Terus?"
"Tapi aku males ketemu dia, aku kan udah jadian sama Anugerah" jawab Tari dengan malu-malu.
"Hahh? yang bener?" jawab Rara terkejut.
"Ssttt jangan keras-keras suaranya, aku enggak enak sama Mei"
Anugerah memang sebelumnya adalah pacar Mei, tapi mereka putus karena selalu bertengkar, seperti pertengkaran pada umumnya, walaupun hanya hal kecil tapi bagi Mei itu cukup besar, hingga Anugerah kehilangan kesabaran dan mengakhiri hubungan mereka.
"Kapan kamu jadian sama dia?" tanya Rara.
"Kemaren, dia 'nembak' aku" jawab Tari.
"Wihh.. hari ini kita makan-makan donk"
"Ah.. nanti aja kapan-kapan, kalau enggak minta aja sama Anugerah hihi"
Rara membolak-balik buku pelajarannya, seketika matanya mengarah keluar kelas, dia melihat Hendi, kakak kelasnya yang selalu terlihat rapi, walaupun tampilannya biasa saja, tapi Hendi tetap terlihat cool bagi Rara.
Hendi bukan tipe orang yang suka bermain-main seperti anak lelaki pada umumnya, saat jam istirahat, Hendi selalu duduk di depan pintu kelas sambil memegang buku pelajarannya.
Setiap hari Rara memperhatikan gerak gerik Hendi, tapi lain dengan Hendi, dia hanya fokus pada teman-teman dan bukunya saja.
Rara semakin penasaran dengan Hendi, hingga suatu hari Rara bertekad menitipkan salam lebih dulu kepada Hendi lewat temannya yang rumahnya berdekatan dengan Rumah Hendi.
"Tika, titip salam ya buat Hendi" ucap Rara pelan.
"Cie... Naksir ya?" ledek Tika.
"Sst.." Rara menutup bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Iya.. iya, nanti aku salamin, berapa iket?" tanya Tika sedikit bercanda.
"Lima kilo" jawab Rara.
"Haha.." Tika tertawa puas.
__ADS_1
Jam pelajaran segera di mulai, hari ini mereka belajar Matematika, pelajaran yang sangat disukai Tari dan Rara, selain karena gurunya yang tampan, pak Asep juga sangat sabar, sehingga membuat muridnya mudah memahami pelajaran yang diberikan.
"Baiklah, bapak jelaskan dulu ya" pak Asep mulai menjelaskan materi, murid-murid dengan tenang memperhatikan pelajaran dan mulai mengerjakan soal latihan yang diberikan.
Tidak terasa bell sekolah sudah berbunyi, menandakan jam sekolah segera selesai, semua bersiap untuk pulang, Rara pulang bersama Mia, Mei, dan Tari.
"Eh.. Liat, mereka mampir ke bukit, kita ikutan yuk" ajak Tari ketika melihat teman-temannya naik kesebuah bukit yang berada tidak jauh dari sekolahnya.
"Bilang aja kalau mau ketemu ehm" ledek Rara.
"Ihh apaan sih Ra,"
"Ya udah yuk kita ikutan"
Mereka beramai-ramai naik kebukit itu, anak lelaki membawa sebuah gitar, dan mulai memainkan gitarnya, sementara anak perempuan hanya duduk mendengarkan irama lagu yang mereka mainkan.
Suasana semakin sore, tidak terasa hujan kembali turun seperti siang tadi, Rara dan teman-temannya mulai sibuk mencari tempat untuk berteduh, sementara Anugerah, Ricko dan teman-teman lelaki yang lain masih asyik memainkan gitar tanpa peduli hujan deras membasahi mereka.
Melihat mereka yang tetap duduk santai di bawah guyuran air hujan, Rara dan yang lainnya ikut bergabung, duduk di dekat mereka dan menikmati dinginnya siraman air hujan, mereka tidak memikirkan tubuh mereka yang bisa saja demam setelah bermain hujan.
"Eh.. udah jam setengah 6 sore, pulang yuk" ajak Anugerah kepada semua temannya.
Mereka beranjak dari tempat duduk, dan mulai menuruni bukit lewat jalan pintas yang melewati rumah Tari.
"Dah.. Tari, sampai jumpa besok ya" ucap Rara sambil melambaikan tangan.
"Dadah.. Oya, nanti aku kirim nomor ponsel yang aku bilang di sekolah tadi ya?" ucap Tari.
"Jangan, nomor aku aja yang kamu kasih ke dia, gengsi donk aku haha"
"Huhh dasar, ya udah"
Mereka mulai memisahkan diri kembali kerumah masing-masing. Sesampainya di rumah Rara di sambut oleh ibunya yang berdiri di luar, sedang membersihkan lantai yang kotor terkena cipratan air hujan.
"Ya ampun Ra, jam segini baru pulang? Kemana aja" ucap ibunya.
"Dari rumah teman bu, mau pulang tadi kehujanan" jawab Rara yang duduk melepas sepatunya.
"Bohong, pasti ke bukit, iya kan?"
"Hehe.. iya bu, ya udah Rara mandi dulu ya bu"
"Ya udah sana, jangan lupa baju sekolahnya di rendam"
"Iya bu.."
__ADS_1
Rara masuk kedalam rumah dan mulai membersihkan tubuhnya, setelah mandi Rara merasa lelah, dia berbaring di tempat tidur, dan tidak terasa matanya mulai terpejam.