
Trrttt.... trrrtttt....
Ponsel bergetar di atas meja, tak jauh dari
tempat Sheira berada. Sheira mengangkatnya, melihat layar ponsel. Pesan dari Risa.
"Sheiraaaa, gue nggak sabar adventure! Nggak nyangka akhirnya bisa pergi ke Jepang. Serasa mau mampus gila!" Sheira tertawa kecil membaca pesan dari Risa, dengan cepat tangannya sibuk dengan tombol-tombol ponsel, membalas pesan.
"Jangan mampus dulu, berangkat juga belum. Don't be lebay, please haha..."
Tak lama ponselnya kembali bergetar.
"Save my soul, pleaseee..."
Haha... gila ini anak. Sheira tertawa geli. Matanya melirik pada sebuah tiket yang tergeletak di atas meja. Tiket liburan ke Jepang hadiah dari papa sebagai buah
prestasi karena mendapat beasiswa kuliah
di Jepang awal tahun ajaran baru, dan itu
beberapa bulan ke depan.
Sheira Hibiki. Hibiki? Nama yang cukup aneh, kan untuk ukuran nama orang Indonesia? Hibiki nama keluarga papa Sheira yang berkewarganegaraan Jepang.
Karena alasan keunikan yang papa Sheira
punya makanya mama bersedia menikah dengan papa. Ya, unik. Dengan menggunakan kostum doraemon papa Sheira menyatakan cinta pada mama untuk menjadi kekasihnya, alasannya karena mama sangat cinta dengan karakter doraemon sampai-sampai dalam kencan pun nonton doraemon menjadi tontonan wajib. Sampai pada akhirnya mereka menikah dan melahirkan Sheira, tokoh doraemon tetap memenuhi ruang kamarnya. Sampai detik ini.
Pernah suatu ketika pada hari kelulusan sekolah dasar dimana pembagian rapor harus diambil oleh orangtua murid, papa Sheira datang ke sekolah yang disambut puluhan mata memandang.
Bagaimana tidak, papa datang ke sekolah
mengenakan yukata (sejenis kimono, pakaian tradisional Jepang) dengan cueknya. Sheira hanya bisa tepok jidat. Meskipun begitu, baginya he's the best dad she ever had :) .
Sheira berbaring di atas kasur, sedikit merenung. Kembali ingatannya hadir
tentang pertanyaan teman-teman kenapa
ia memilih negara Jepang sebagai lanjutan
studi.
"Kenapa harus Jepang?"
Karena Sheira ingin mengenal seperti apa kehidupan negara kelahiran papanya, juga sekaligus mengunjungi kakek yang terakhir ia ingat bertemu dengannya ketika Sheira masih
sekolah dasar. Alasan lain? Nggak ada,
mungkin. Meskipun Sheira heran, seperti ada dorongan yang sangat kuat untuk ia berkunjung ke rumah kakek. Entah alasan apa.
"Kenapa nggak pilih LA atau inggris, sih yang udah terkenal pendidikannya?"
Lho? Memangnya Jepang tidak bagus dari segi pendidikannya? Sama bagus malah.
Tingkat kedisiplinan dan aturannya yang ketat dari segi pendidikan maupun kehidupan sehari-hari Jepang merupakan merupakan negara dengan prestasi pendidikannya terbaik di dunia. Dengan kecanggihan tekhnologinya yang kreatif dan inovatif, etos kerja yang tinggi serta tradisi budayanya yang masih kental dijaga diera modernisasi ini Jepang selalu menjadi incaran wisatawan. Karena Jepang adalah ikon. Ikon negara industri maju, tekhnologi, komik dan film
animasinya. Jepang adalah mimpi banyak
orang untuk berkunjung, bersekolah, bekerja atau berwisata. Sheira beralasan, mereka pun terdiam.
Sheira beranjak dari tempat tidur, melangkah mendekati setumpuk barang-barang yang akan bawa nanti.
"Pakaian udah siap, handphone, ipod, kamera digital, pasport, visa dan tiket. Already done! Yosh, ganbarimashou! (oke, ayo semangat!)"
Hal baru akan datang bersama dengan pengalaman baru ataupun cinta? Sheira tersenyum mesem membayangkannya. Apalagi negara Jepang adalah negara paling ingin dikunjunginya setelah Korea dimana para oppa-oppa bertebaran.
__ADS_1
"Udah nggak sabar, deh." guman Sheira.
Sheira terbangun ketika samar suara Risa memanggil. Salah satu pramugari pun
mengumumkan bahwa pesawat akan segera landing di bandara.
"Hampir sampai, nih! Exited deh gue." ujar
Risa sumringah.
Sheira melongok ke jendela dan sejenak
terkesima melihat hamparan pemukiman diapit bukit-bukit hijau.
"Ini kota apa, ya?" tanya Sheira lirih yang
dijawab dengan gelengan kepala Risa.
Sheira melirik ke arah peta monitor yang berada di depan kursi dan perkiraan hamparan pemukiman tadi adalah kota Kyoto. Pikiran Sheira melayang membayangkan Kyoto Tower yang begitu eksotik ketika menjelang senja, itu yang Sheira lihat di internet sewaktu mencari info tentang wisata ke Jepang.
"Gue udah nyiapin daftar tempat yang bakalan kita datangin." sahut Risa. Dirogoh
secarik kertas dari dalam tasnya.
"Taadaaaaaa....!!" ujarnya lagi. Sheira
melongo melihat 'secarik' kertas super
panjang dengan deretan nama-nama kota
di Jepang beserta tempat wisatanya.
"Enggak salah, nih? Rajin banget lu bikin
plan place lengkap dengan kota wisatanya.
mahal, tau?!" Cerocos Sheira.
Risa tersenyum seraya mengangkat-angkat alis genit.
"Tenang! Gue bawa duit cukup, kok!"
Sheira membaca urutan 'secarik' kertas plan place-nya Risa.
"Shinjuki, Shibuya, Akibahara, Tokyo Tower, Tokyo Skyefree...hmmm..." Sheira terdiam.
"Kota kakek gue di Kyoto, kalo lu pengen
wisata ke Tokyo, kita bakalan bolak-balik.
Duit bisa habis buat transportasi aja, nih!"
Risa terdiam, agak cemberut.
"Kan gue udah bilang, wisata di jepang itu mahal. Jangan bawa duit cukup, tapi bawa duit banyakkk!"
Risa tetap cemberut. Agak kecewa.
"Terus gimana, dong?" tanya Risa dengan nada merengek
"Kecuali kita keliling Tokyo dulu, traveling
tanpa guide. Kita kunjungi tempat wisata
dengan panduan 'map sightseeing spot' yaitu peta tempat wisata dan rute di Jepang. Biasanya di bandara ada map sightseeing spot." jelas Sheira
__ADS_1
Risa bersorak, seperti anak kecil.
"Lu keren, deh!" Ujar Risa seraya senyum-senyum.
"Gue udah keren dari lahir, kok."
"Idihhh... Gede tu kepala."
Sheira terbahak.
Tak lama pesawat landing dengan mulus. Sheira bergegas menuruni anak tangga
pesawat yang diikuti oleh Risa. Ada setangkup perasaan yang sukar Sheira
ungkapkan. Perasaan enggak percaya
menyadari kakinya telah menginjak di
negara terkenal dengan sebutan 'Negeri Sakura'-nya itu.
Sheira melihat sekeliling bandara yang
megah itu. Bandara Internasional Narita
yang terletak di perfektur Chiba itu juga
terkenal sebagai bandara tersibuk kedua di
Jepang setelah bandara Haneda. Sheira
melangkah mendekati sebuah peta yang
menggambarkan rute-rute kota Jepang.
Untuk ke Kyoto harus menempuh perjalanan naik kereta menuju stasiun Tokyo terlebih dahulu kemudian dilanjut dengan naik kereta kembali dengan tujuan langsung ke kota Kyoto. Dan kereta yang akan dinaiki adalah kereta yang terkenal dengan sebutan kereta peluru, karena kereta ini memiliki kecepatan seperti peluru. Sheira geleng-geleng kepala,
berguman sendiri karena merasa takjub
dengan tekhnologi negara Jepang ini.
Kereta peluru ini dinamakan Shinkansen,
dengan kecepatan 250 km/jam jarak Tokyo
ke Kyoto sekitar 476 km atau 3 jam perjalanan. Sheira kembali berguman lalu
angguk-angguk kepala menyimpan info rute perjalanan. Risa yang sedari tadi diam, hanya melihat heran tingkah Sheira.
"Lu sakit, Ra?" Tanya Risa.
Ditempelkannya telapak tangan ke jidat Sheira lalu beralih memegang jidatnya sendiri
"Daritadi lu komat-kamit sendiri, geleng-geleng kepala terus angguk-angguk kepala. Jangan dulu stress, Ra! Kita baru aja nyampe negara orang."
Sheira menjitak jidat Risa.
"Ouch.."
"Apaan sih, lu? Gue lagi lihat info rute transportasi dari Tokyo ke Kyoto. Lihat tuh, dari bandara Narita ini kita akan naik kereta dengan tujuan stasiun Tokyo. Nah, kalau kita mau langsung ke Kyoto kita harus naik kereta lagi dengan tujuan stasiun Kyoto kurang lebih tiga jam perjalanan.." Cerocos Sheira menjelaskan.
"Tapi berhubung kita mau keliling Tokyo dulu, sesampainya di stasiun Tokyo kita langsung pergi aja ke tempat-tempat wisata."
Risa hanya angguk-angguk kepala tanda mengerti.
"Lu pinter, ya he he..." Risa cengengesan.
__ADS_1
"Iyalah! Emangnya lu lemot tingkat akut."
Risa kembali cengengesan.