Cinta Di Kota Kyoto

Cinta Di Kota Kyoto
5. Kebingungan


__ADS_3

Semua terlihat menikmati pesta barbequenya, mengobrol dan saling lontar candaan. Saling berkunjung ke setiap tenda-tenda untuk sekedar bertukar makanan, mempertaruhkan masakan siapa yang paling lezat. Sheira melihat Risa yang begitu menikmati suasana riang sekitarnya apalagi Risa merupakan tipe orang yang cepat mudah bergaul dan cepat berbaur dengan suasana baru. Sheira pun menikmati, hanya saja ada perasaan yang mengganjal semenjak Sheira mendengar ucapan tantenya. Tante yang baru ditemuinya.


Sheira bingung dengan maksud ucapan tantenya bahwa dirinya datang dengan wajah tanpa dosa? lalu dosa apa yang telah diperbuat? Bukankah hari ini merupakan pertemuan pertamanya? Dan bahkan Shin juga berpikiran sama dengannya? Sheira tiba-tiba merasa sakit dikepala ketika memaksakan diri berpikir terlalu keras. Sheira memijat keningnya sebentar, meredakan nyeri kepala yang tiba-tiba.


Sheira melirik Shin yang tengah bercanda dengan orang-orang sekitar. Senyum dan tawa terekpresi jelas diwajahnya. Sikap yang berbeda yang ditunjukan Shin pada Sheira dari pertemuan pertama sampai sekarang. Arogan dan ketus. Sheira segera mengalihkan pandangan, gelapan ketika sadar Shin tiba-tiba melihat ke arahnya.


'Sepertinya gue butuh tempat yang tenang' pikir Sheira.


Sheira beranjak dari duduknya dan berjalan perlahan menyusuri tepian sungai, menjauh dari kerumunan orang-orang. Senja yang terlihat memberi keindahan tersendiri, menghibur hati yang gusar. Ditambah rimbun pepohonan, desir suara arus sungai memberi efek nyaman. Sheira hanyut dalam rasa nyaman suasana ditengah banyaknya kegusaran, banyak pertanyaan dipikirannya. Hingga lupa waktu.


"Mau sampai kapan lu diam disitu?"


Sheira terhenyak, kaget. Dilihatnya Shin tengah berdiri tak jauh dibelakangnya.


"Kakek nyariin lu, dikiranya lu tersesat. Dia khawatir, cepet balik ke tenda."


Seperti biasa, nada Shin begitu ketus didengar Sheira.


"Ya." sahut Sheira singkat, lalu berjalan melewati Shin.


"Ah..." Sheira menghentikan langkah kemudian berbalik seraya menatap Shin.


"Gue nggak tahu kenapa lu dan tante itu seperti membenci gue dan gue juga nggak punya ingatan dosa apa yang telah gue perbuat pada kalian. Gue nggak akan ambil pusing." Ujar Sheira lalu terdiam sesaat.


"Lu nggak usah repot melakukan hal yang kakek suruh kalau berkaitan sama gue." timpal Sheira lagi.


Shin melangkah mendekati Sheira, menatap lekat.


"Lu beneran nggak ingat apa-apa? Lu beneran melupakan semuanya?" tanya Shin.


Sheira bingung, untuk kesekian kalinya.


"Ingatan seperti apa yang lu mau dari gue?" alih-alih menjawab, Sheira balik bertanya.


Shin hanya terdiam tetap menatap Sheira lekat. Tak lama Shin menghela nafas.

__ADS_1


"Lupakan yang gue tanyakan barusan."


Mendengar ucapan Shin emosi Sheira naik.


"Lu mau gue mengingat hal yang nggak gue tahu tapi dari lu sendiri nggak ada niat buat memberitahu gue!! Maksud ucapan lu apa, sih? Maksud ucapan tante itu juga apa? Gue nggak paham." Sheira emosi.


"Dari pertama bertemu sikap lu udah nggak bersahabat dan arogan, nada bicara lu juga ketus terus sama gue. Lu ada masalah apa sama gue?" Sheira terdiam sesaat lalu menghela nafas berusaha menenangkan diri.


Shin tidak menyahut, entah ragu atau enggan menjawab dan malah berlalu meninggalkan Sheira dengan seribu tanda tanya.


Setengah berlari Sheira bergegas menghampiri kakek kemudian menarik kakek menuju tempat sepi. Sheira menatap kakek tajam.


"Ada apa Sheira chan?" tanya kakek bingung dengan sikap Sheira tiba-tiba.


"Kakek pasti tahu kan kenapa Shin seperti membenci aku? tante itu juga...." ucapan Sheira terhenti.


"Salah aku apa, kek? beritahu aku. Memangnya apa yang udah aku lakukan, kek?"


Kakek sedikit kaget dengan ucapan Sheira yang tiba-tiba.


"Dia selalu bilang kalau aku melupakan sesuatu dan ingin agar aku mengingatnya. Ingatan seperti apa yang dia inginkan, kek?"


Kakek terdiam dan menatap Sheira seraya tersenyum lembut. Diusapnya rambut Sheira.


"Nggak usah memikirkan apa yang Shin ucapkan. Biarkan saja dia."


Kakek menepuk punggung Sheira lembut.


"Ayo, kita sudahi saja pestanya, lalu pulang." ajak kakek.


Pesta kemarin sore yang seharusnya memberi kesan indah terasa sebaliknya bagi Sheira dan bahkan membuatnya sulit tidur. Sheira bangkit dari tempat tidur lalu melirik Risa yang masih terlelap. Dilihatnya jam masih terlalu pagi untuk bangun. Dengan masih memakai piyama dan rambut acak-acakan Sheira berjalan menuju dapur, membuka kulkas lalu meraih air mineral dan meneguknya. Minum air putih dipagi hari menjadi kebiasaanya setiap hari di rumah. Ada kesegaran tersendiri yang dirasa, selain baik juga buat kesehatan kulit dan pencernaan. Sheira membawa sebotol air mineral lalu meneguknya seraya berjalan menuju kamarnya. Refleks Sheira hampir memuncratkan air minum dimulutnya ketika melihat Shin berjalan ke arahnya. Kenapa Shin ada di rumah kakek sepagi ini? Dia tidur disinikah?


'Aduuh, mata gue sepet pagi-pagi udah liat dia' Guman Sheira lirih.


Shin mendelik keki, gumanan Sheira rupanya terdengar olehnya.

__ADS_1


"Iya, maaf deh pagi-pagi udah bikin mata lu sepet." sahut Shin sembari lalu.


Sheira spontan terbatuk.


'Waduuhh... kedengeran ya?'


Sheira melihat arah kepergian Shin. Dia pergi ke arah dapur rupanya. Meski ada rasa penasaran yang sangat di hati Sheira tentang apa yang diucapkan tantenya dan Shin, namun Sheira merasa sungkan untuk sekedar bertanya 'apa yang udah aku lakukan?'. Sheira menghela nafas panjang lalu beranjak melangkah menuju kamarnya kembali.


'Kayaknya aku butuh hiburan, nih. Besok daripada nggak ada kegiatan mending jalan-jalan aja, deh. Masa bodo sama ucapan-ucapan mereka.' guman Sheira lirih.


"Kakek, besok aku sama Risa mau jalan-jalan keluar dulu. Cari angin segar sekalian ingin keliling kota Kyoto."


Kakek yang sedang sibuk menyiram tanaman terhenti lalu menoleh kearah Sheira.


"Mau kemana?" Tanya kakek


"Rencana sih kita mau ke Kyoto Tower, kek. Tempat itu kan landmarknya kota Kyoto. Kan sayang kita udah disini tapi nggak bisa kesana." sahut Sheira santai.


"Apa?! Nggak boleh. Kalau nggak ada yang menemani nanti kamu bisa tersesat." larang kakek.


Sheira tersenyum lalu mendekati kakek dan memeluk manja dari samping.


"Tenang, kek. Sheira tahu kok rute di Kyoto, kalaupun ada apa-apa kan tinggal telpon kakek aja."


Kakek menggeleng cepat.


"Nanti kakek suruh Shin mengantar kamu jalan-jalan kesana. Kakek nggak akan khawatir kalau ada Shin yang menemani." tukasnya.


"Kek, Sheira udah gede. Nggak akan kenapa-napa meskipun nggak dianter dia. Kakek jangan terus-terusan merepotkan dia, dong. Lagian kakek tahu sendiri dia ketus terus sama aku." ujar Sheira dengan mimik muka cemberut.


"Ya kek, ya? Sheira sama Risa pasti bisa jaga diri kok. Yaaaaa...?" ujar Sheira dengan nada merengek.


Memelas Sheira menatap kakeknya. Tidak tega dengan tatapan melas Sheira, kakek mengangguk mengiyakan.


" Ya sudah. Hati-hati dijalannya. Jangan terlalu jauh, kamu belum mengenal daerah ini." kakek mengingatkan.

__ADS_1


Sheira mengangguk cepat, mengiyakan.


__ADS_2