
Dengan langkah enggan Sheira memaksakan kakinya berjalan. Bukan tanpa sebab, kakek menyuruh Sheira memberikan makanan dan obat-obatan untuk Shin yang kata kakek dia tengah sakit. Pantas saja sudah empat hari ini Sheira tidak melihat Shin berkeliaran di rumah kakek.
Biasanya setiap hari Shin selalu datang mengunjungi kakek, entah itu memberi makan ikan, menyiram tanaman atau sekedar ikut makan bersama. Itu dilakukannya setiap hari sedari Shin kecil. Sedekat itu hubungan Shin dan kakek. Bahkan kakek benar-benar sudah menganggap Shin seperti cucunya sendiri.
Kalau dipikir, selama Sheira berada di rumah kakek, tidak sekalipun Sheira melihat keberadaan orang tua Shin, bahkan untuk berkunjung pun tidak pernah, padahal Shin sendiri hampir tiap hari datang. Apakah Shin dan orang tuanya hidup terpisah dan berada diluar Kyoto? Entahlah. Yang jelas pasti sulit hidup terpisah dengan orang tua.
"Tiga rumah ke kanan dan rumahnya dengan cat warna biru muda." guman Sheira
"Ah, yang disana bararti." gumannya lagi.
Ya. Sheira tengah berdiri di depan rumah yang cukup luas untuk ditinggali satu orang. Rumah Shin. Dengan teras kecil dan disamping kiri kanan ditumbuhi tanaman bunga. Sangat terawat karena terlihat begitu segar bunga dan dedaunan yang tumbuh. Sheira menekan bel. Menunggu agak lama tapi tidak ada suara pintu terbuka. Sheira kembali menekan bel beberapa kali, tetap hening.
"Kenapa nggak dibuka, sih? dia ada di rumah nggak, ya?"
Sheira kembali menekan bel, beberapa kali.
"Siapa, sih? Menganggu orang tidur saja!" bentak Shin seraya membuka pintu.
Dan seketika wajah Shin berubah kaget melihat Sheira berada di depan rumahnya. Begitupun Sheira yang kaget ketika tiba-tiba pintu dibuka dengan sedikit kasar. Terlihat Shin dengan wajah pucat agak kemerahan dan terdengar hembusan nafas berat.
"Ah, ternyata dia memang sakit." batin Sheira.
Sheira menyodorkan keranjang makanan serta obat-obatan.
"Dari kakek, katanya lu sakit. Diminum obatnya dan jangan lupa makan dulu sebelum minum obat." ujar Sheira.
Tanpa menyahut dengan tangan sedikit bergetar Shin berusaha meraih keranjang makanan dan obat-obatan yang disodorkan Sheira. Belum tangan Shin meraih keranjang makanan tubuhnya limpung hampir terjatuh. Sheira yang terkejut refleks meraih tubuh Shin dan menopang setengah memeluk agar tidak terjatuh. Suhu tubuhnya terasa panas, begitu pun dengan hembusan nafasnya. Dia demamnya parah.
Dengan tergopoh-gopoh karena beban berat tubuh Shin, Sheira membawanya masuk ke dalam dan membaringkannya di sofa. Sheira tidak membawanya ke kamar karena tidak tahu posisi kamar Shin berada dimana.
Sheira bergegas menuju dapur, meskipun dirasa tidak sopan memasuki dapur orang lain tanpa izin tapi Sheira tidak bisa tinggal diam melihat orang sakit didepannya. Tak lama Sheira membawa air yang ditambahi beberapa es dalam mangkuk untuk dijadikan kompres. Kompres seperti ini lebih efektif dibanding kompres instan.
__ADS_1
Dengan telaten Sheira mengompres dahi Shin dan mengelap keringat sekitar wajah ke leher meskipun keringat mulai membanjiri tubuhnya, tapi Sheira tidak berani mengelap lebih dari sebatas leher. Dalam tidur Shin berguman tidak jelas.
"Dia harus minum obat. Keadaannya lumayan parah."
Sheira meraih ponsel dan menelpon kakeknya
"Kakek, bisa tolong panggilkan dokter? keadaan Shin lumayan parah demamnya, kek. Iya, aku akan menemani Shin sampai dokter dan kakek datang."
Sheira mematikan panggilan dan meletakan ponsel di meja. Dilihat wajah pucat Shin yang tertidur. Ada rasa iba yang tiba-tiba hinggap dihati Sheira. Bagaimana tidak, dalam keadaan sakit tapi tidak ada seorangpun yang bisa diandalkan untuk sekedar merawat pasti berat.
"Jangan pergi... ibu... ayah.." guman Shin tiba-tiba. Sheira terdiam mendengar gumanan Shin.
Sheira hendak mengganti kompres di dahi Shin ketika tiba-tiba tangannya dicekal erat.
"Jangan tinggalin aku... " Shin masih mengguman dalam tidur.
Sheira melepas cekalan tangan Shin, lalu mengganti kompres.
"Meskipun lu nyebelin tapi gue nggak bisa diam saja liat lu yang nggak berdaya begini. Lu mesti berterima kasih sama gue nanti." ucap Sheira iba seraya melihat Shin yang masih tertidur.
Tak lama kakek dan seorang dokter tiba. Dengan cekatan dokter memeriksa kondisi Shin, dari suhu tubuh, detak nadi lalu menyuntikkan sejenis obat.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya kakek khawatir.
"Nggak perlu khawatir, demamnya memang tinggi tapi nggak parah. Sudah saya suntikan obat, nanti juga baikan." jawab Dokter menjelaskan.
Tampak kelegaan di wajah kakek mendengar penjelasaan Dokter. Sesayang itu kakek sama Shin.
"Tolong nanti obatnya diminum teratur, terutama antibiotiknya diminum sampai habis sesuai jadwal." ujar Dokter lalu pamit.
'Sheira kamu pulang saja, temani temanmu Risa. Biar kakek yang jaga Shin disini." tukas kakek.
__ADS_1
"Kenapa orang tua Shin nggak dihubungi, kek? Kalau tahu anaknya lagi sakit tiap orang tua pasti akan datang sesibuk apapun."
Ekspresi kakek sedikit tercekat mendengar ucapan Sheira. Tampak kesedihan dan perasaan bersalah tergambar jelas di raut wajah kakek. Sheira sedikit bingung.
"Ah, kakek belum bilang, ya? Orang tua Shin sudah meninggal. Karena kecelakaan." jawab kakek yang disertai wajah terkejut Sheira.
Sheira terdiam. Entah harus berkata apa. Mungkin yang Shin gumankan tadi buat orang tuanya. Padahal Shin terlihat kuat, Sheira tidak menyangka kalau hatinya rapuh. Ya, siapa pun itu kalau kehilangan kedua orang tuanya langsung pasti hal yang sangat sulit. Dimana sebuah keluarga merupakan kebahagiaan tersendiri tiap orang.
"Aku pulang dulu, kek. Telpon ya kalau kakek butuh bantuan." ujar Sheira.
Kakek mengangguk seraya tersenyum.
"Iya. Cepat pulang sana, kasian temanmu sendiri di rumah."
Sheira mengangguk. Sheira hendak melangkah ketika tiba-tiba matanya melihat sebuah foto yang terbingkai rapi menggantung di dinding. Karena penasaran Sheira melangkah mendekati bingkai foto dan melihat dengan seksama. Tampak seorang ibu muda memeluk anak kecil yang tengah tertawa bahagia, anak kecil ini mirip Shin.
Dan disebelahnya seorang pria dengan tangan mengangkat ikan besar, hasil pancingannya. Itu terlihat dari alat pancing yang ikut terfoto. Dan anehnya Sheira merasa familiar dengan suasana pantai yang tergambar difoto. Tidak hanya pantai, tapi sosok ibu muda dan pria yang ada difoto pun seolah tidak asing.
"Amanohashidate Sandbar?" guman Sheira yang langsung kaget dengan ucapannya sendiri.
Seketika pandangannya kabur lalu siluet-siluet datang membentuk sebuah bayangan. Dalam bayangan terlihat seorang gadis kecil menjerit histeris terjebak deras ombak, wajah ketakutan terpancar. Bayangan lain terlihat sesosok wanita muda yang mirip didalam foto berteriak panik, histeris anak kecil laki-laki juga terdengar.
"Ibuuuu... Jangan pergii!!"
Sheira menarik nafas panjang lalu tersadar. Tidak mengerti dengan bayangan-bayangan yang tiba-tiba muncul.
"Ingatan apa itu? Siapa gadis kecil yang terseret ombak? Siapa wanita muda ini?"
Wajah Sheira memucat. Kepalanya tetiba terasa sakit. Sakit seperti dihantam benda keras.
"Kenapa anak laki-laki dalam bayangan tadi mirip anak dalam foto? Itu Shin kah?"
__ADS_1
Sheira terus-terusan bertanya-tanya. Tubuhnya tiba-tiba menggigil.
"Ingatan apa itu tadi?"