Cinta Di Kota Kyoto

Cinta Di Kota Kyoto
6. Perkenalan


__ADS_3

Sheira dan Risa menaiki bus dengan tujuan Kyoto Tower yang merupakan landmark terkenal di Kyoto. Tidak seru rasanya ketika sudah berada di Kyoto tapi tidak mengunjungi tempat-tempat wisata di kota ini. Tidak kurang dari 20 menit Sheira dan Risa tiba di tujuan. Dan ternyata letak Kyoto Tower tidak terlalu jauh dari stasiun Kyoto.


Sheira dan Risa memandang takjub. Dengan memiliki arsitektur yang unik Kyoto Tower berbeda dengan menara-menara lainnya karena letaknya yang berada di atas gedung hingga membuat bentuknya seperti lilin dengan tatakan dibawahnya. Dengan tower setinggi 131 meter panorama kota akan terlihat sepenuhnya. Sheira menaiki lift dan langsung menuju ke tower tepatnya di lantai 5 dek observasi.


Sesampainya di menara, Sheira dan Risa langsung disuguhkan dengan pemandangan kota Kyoto seluruhnya, dari kuil-kuil yang berdiri serta hamparan bangunan-bangunan gedung yang terlihat kecil. Pastinya pemandangan terbaik yang bisa dilihat adalah diwaktu senja saat terbenamnya matahari. Itu akan menjadi pemandangan yang menakjubkan.


Tidak melewatkan kesempatan, Sheira dan Risa langsung ber-swafoto di titik spot yang keren. Berpose dengan hamparan gedung-gedung mini yang menjadi latarnya. Ditengah asyiknya memandang hamparan kota dan foto-foto Sheira menyenggol seseorang lalu terdengar suara benda jatuh dengan keras. Tampak kamera Canon eos DSLR tergeletak dengan lensa yang terpisah, retak. Sheira terpekik kaget, dilihatnya si empunya pun tampak kaget. Sheira lalu meraih kamera tersebut.


"Gomenassai… Honto ni gomenassai (Maaf… Mohon maafkan aku)." ujar Sheira seraya membungkuk dengan suara agak bergetar.


"Aku nggak sengaja merusak kameranya… aduh bagaimana ini?" Sheira panik.


"Wah, lensanya rusak, Ra." ucap Risa yang membuat Sheira tambah panik.


Si empunya melangkah mendekat, lalu meraih kamera yang dipegang Sheira. Ditelitinya setiap sudut kamera yang jatuh tersebut, lalu tersenyum ramah.


"Nggak apa-apa, kameranya nggak rusak cuma lensanya aja yang sedikit retak." ujarnya berusaha membuat Sheira tidak merasa panik.


Sheira menatap si empunya kamera, seorang cowok perawakan tinggi, rambut abu dengan poni tergerai ke depan dan tampan. Lebih mirip oppa korea dibanding ikemen jepang.


"Aku akan mengganti lensanya, jadi mohon berikan no rekeningnya. Dan sekali lagi, aku minta maaf."


Cowok tampan rasa oppa korea itu tersenyum manis.


"Namamu siapa?" tanyanya tiba-tiba.


"Ya?" Sheira bingung.


"Aku tanya, namamu siapa?"


"Namaku Sheira. Sheira Hibiki." jawab Sheira.


"Namamu nggak umum untuk ukuran nama orang jepang." ujarnya


"Begini saja Sheira. Kamu nggak perlu ganti rugi untuk lensa kameraku, sebagai gantinya, bayar saja dengan badan dan tenagamu." ujarnya lagi yang spontan membuat Sheira dan Risa terbelalak mendengar ucapannya.


"Hey, mesum!!" teriak Risa spontan seraya menunjuk cowok di depannya.


Diteriaki seperti itu, cowok didepan Sheira gelagapan seraya celingak-celinguk melihat orang sekitar yang mulai memperhatikannya.


"Bukan begitu maksudku!" cowok itu gelagapan.


"Maksud dibayar dengan badan dan tenaga tuh kamu membantuku menjadi pemandu disini." cowok itu menjelaskan cepat. Risa menatap curiga.


"Beneran?" Tanya Risa.


Cowok itu menggangguk cepat.


"Beneran, sumpah!! Cuma jadi pemandu saja. Aku bukan orang sini, jadi belum tahu rute tempat wisata disekitar sini."


Sheira dan Risa menarik nafas lega.


"Kalau gitu jangan bikin pernyataan yang membuat orang salah paham, dong." gerutu Risa. Cowok itu hanya nyengir menanggapi.


"Tapi maaf, kita juga disini sedang wisata jadi kalau memandu kamu berkeliling disini takut malah jadi tersesat nantinya."


Cowok itu terdiam, seolah berpikir.


"Kita keliling bareng saja. Kalau banyakan biar seru. Gimana?" sarannya.


"Namaku Wook Hye. Aku dari Korea." ujarnya seraya mengulurkan tangan.


Sheira menyambut uluran tangan cowok yang bernama Wook Hye seraya menggangguk. Uluran tangan Wook Hye beralih ke Risa.

__ADS_1


"Lalu kamu?"


"Aku Risa." jawabnya singkat


Wook Hye mengangguk pelan seraya tersenyum.


"Hmmm… Gimana kalau kita cari kafe seraya mengobrol, biar kenal lebih dekat. Aku datang ke sini sendirian, nggak ada teman ngobrol. Gimana?"


Sheira dan Risa saling pandang, lalu menatap Wook Hye ragu.


"Aku bukan orang jahat, kok! Maaf kalau ucapan aku tadi membuat kalian salah paham. Aku hanya ingin ada teman mengobrol seraya berkeliling disini." ujar Wook Hye menjelaskan, sedikit gelagapan.


Sheira tersenyum sedangkan Risa tetap menatap penuh curiga. Masih ada perasaan was-was semenjak kejadian di todong para berandalan tempo hari.


"Ya udah, ayo aja." sahut Sheira yang ditanggapi tatapan protes Risa.


"Nggak apa-apa, Ris. Kalau dia macam-macam teriak saja sekencengnya dan bilang dia mesum, biar semua orang menghajar dia." ucap Sheira santai yang disambut tatapan kaget Wook Hye.


"Jahatnya. Aku nggak bakalan macam-macam, kok!"


Sheira tertawa kecil. Sedangkan Risa masih ada rasa kurang percaya pada oppa korea satu ini. Apalagi beberapa kali Risa melihat cowok korea itu mencuri-curi pandang pada Sheira lalu mengulum senyum. Risa semakin curiga.


"Ayo, pergi. Aku melihat ada kafe unik di depan menara ini. Kita kesana aja."


Sheira mengangguk tanda setuju lalu bersama Risa berjalan beriringan disamping Wook Hye.


Kembali Wook Hye melirik mencuri pandang pada Sheira. Wajah oval dengan lesung pipit terlihat ketika tersenyum, bola mata besar dan bulat dengan bulu mata lentik. Dengan tangan menutup mulut, Wook Hye mengulum senyum.


"Ya ampun imutnya… Gimana, nih." guman Wook Hye lirih dengan wajah sedikit merona.


Setiba di kafe Sheira dan Risa memilih tempat duduk di dekat jendela, sedangkan Wook Hye hanya mengikuti dan alasan sheira memilih duduk dekat jendela selain ingin menikmati suasana kafe seraya berbincang juga ingin menikmati suasana diluar kafe dimana orang-orang berlalu-lalang dengan kegiatannya masing-masing.


Sheira memandang sekeliling kafe, tampak normal seperti kafe kebanyakan dan ramai oleh pengunjung juga. Kebanyakan pengunjung adalah para remaja baik laki-laki ataupun perempuan. Sheira penasaran menu seperti apa yang dihidangkan di kafe ini sehingga pengunjung begitu ramai?


"Oh ya? Apa istimewanya kafe ini? Menunya enakkah? Atau pelayanannya yang bagus?" tanya Sheira penasaran.


"Kalau dari segi menu sih seperti kebanyakan kafe lainnya yang menghidangkan berbagai jenis kopi, softdrink dan berbagai camilan. Yang menjadikan tempat ini digandrungi oleh para remaja adalah karena para pelayan disini ganteng dan cantik."


Sheira mengangguk paham dan sangat lumrah di Jepang segala sesuatu pasti ada hal unik yang ditonjolkan, terutama kafe-kafe yang pasti akan lebih menjual 'visual' dari pelayan-pelayannya untuk mendapatkan nilai jual lebih. Bukankah host-host di jepang juga selalu menghadirkan para ikemen untuk menarik pelanggan?


"Wah, sampai tahu kafe ini pelayannya cantik dan ganteng. Ada yang di incar, ya?" tanya Risa menggoda.


Wook Hye menggeleng cepat.


"Nggak lah. Cuma menarik aja marketingnya. Menarik pelanggan dengan menjual visual para pelayan kafe ini. Yah, bukan hal yang aneh juga sih yang seperti ini di Jepang." sanggah Wook Hye.


"Mau pesan menu apa?" Wook Hye menyodorkan buku menu pada Sheira dan Risa kemudian melambaikan tangan memanggil salah satu pelayan kafe. Tak lama salah satu pelayan kafe dengan perawakan tinggi menghampiri.


Risa terbelalak kaget melihat pelayan yang menghampirinya. Dengan cepat sikutnya menyenggol lengan Sheira berulang-ulang yang sedang sibuk memilih menu hingga membuat Sheira sedikit kesal dengan tingkah Risa.


"Apa sih?" ujar Sheira ketus.


"Itu...." Risa menunjuk seorang pelayan di depannya.


Sheira kaget melihat cowok di depannya.


"Shin? Ngapain lu disini?" tanya Sheira.


Dilihatnya pakaian yang dikenakan Shin. Kemeja dengan dasi pita hitam menempel dikerah depannya, serta celemek sepinggang berwarna hitam pula. Persis seperti pakaian-pakaian pelayan restoran atau kafe.


"Kamu kenal dia?" tanya Wook hye.


"Ah, iya kenal, tapi nggak terlalu dekat." jawab Sheira seraya melirik kearah Shin. Dan Sheira melihat tatapan tajam Shin. Tatapan keki seolah bilang 'Lu bercanda, ya?'

__ADS_1


"Begitu, ya? Iri deh dia kenal dengan cewek cantik dan imut seperti kamu." goda Wook Hye. Sheira merona. Dan Shin mendelik keki. Risa yang hanya jadi pengamat suasana merasa punya tontonan menarik.


"Pesan apa?" tanya Shin ketus.


"Aku pengen Americano aja. Kalau kamu Sheira, Risa?"


"Aku Moccalatte sama tart stroberry" sahut Sheira


"Aku samain aja."


Setelah menulis pesanan, Shin berlalu begitu saja tanpa sepatah kata. Tidak ada sikap ramah sedikitpun.


"Wah, apa-apaan itu pelayan? Nggak ada ramahnya gitu!"


Sheira hanya tersenyum menanggapi. Lalu melirik Risa yang berdehem dengan senyum penuh tanda tanya.


"Ngomong-ngmong kalian berasal dari mana?"


"Kita dari Indonesia. Tapi kalau untuk aku pribadi, kebetulan aku campuran. Papa aku orang jepang dan aku sama temen kesini buat liburan aja sekalian mengunjungi kakek." Sheira menjelaskan.


"Sama dong. Aku juga campuran, tapi ibuku yang orang jepang. Aku kesini karena pekerjaan di agensiku."


"Agensi?" tanya Risa


"Ah, kebetulan aku seorang model. Ada jadwal pemotretan besok di Arashiyama. Tahu kan? Hutan bambu dan salah satu destinasi utama di Kyoto juga."


Sheira dan Risa terkejut.


"Wah, keren tuh seorang model." Risa senyum-senyum centil dan ditanggapi senyum lebar Wook hye.


"Iya tahu, kita juga rencana mau kesana tapi nggak hari ini. Kita udah terlalu lama main, jadi takut kakek dirumah khawatir."


Wook Hye mengangguk paham.


"Gimana kalau kita besok ketemu? Di Arashiyama. Sekalian kalian lihat pemotretanku."


Sheira menatap ragu.


"Boleh tuh, iya kan Ra?" Risa menatap penuh harap.


"Ya udah. Boleh lah."


Wook hye tersenyum, lalu disodorkan ponsel miliknya pada Sheira.


"Apa ini?" Sheira bingung.


"Minta nomor telpon kamu. Biar kita gampang janjiannya." tukas Wook Hye


"Baiklah." Sheira meraih ponsel Wook Hye dan menekan tombol-tombol angka, memasukan nomor telponnya.


Risa menghela nafas, merasa ngenes dengan atmosfer antara Wook Hye dan Sheira. Dan meyakini kalau cowok yang pekerjaannya sebagai model itu telah jatuh cinta pada Sheira. Terlihat dari tatapan matanya. Lalu Shin? Sikap ketus yang misterius. Itu yang menurut Risa lihat.


"Jadi kangen pacar gue, deh." ucap batin Risa.


Tak lama hidangan yang dipesan pun datang, tapi pelayan yang mengantar makanan bukanlah Shin. Sheira celingukan mengedar pandangan, mencari sosok Shin di sekitar kafe. Tidak terlihat penampakannya.


"Pelayan yang mencatat menu sebelumnya kemana, ya?" tanya Sheira yang spontan mendapatkan tatapan heran Risa.


"Dia udah pulang karena habis jam shiftnya." sahut pelayan itu lalu pergi.


Sheira terdiam sesaat. Lalu diraihnya moccalatte pesanannya. Perasaan mengganjal selalu hadir setiap kali Sheira bertemu dengan Shin. Hingga tanpa sadar, Sheira menjadi penasaran dengan sosok Shin serta berpikir bahwa ada sesuatu yang Sheira lupakan. Tapi apa?


Setelah menikmati suasana Kyoto meskipun belum sepenuhnya terjelajahi, Sheira dan Risa cukup puas. Apalagi perjalanannya hari ini mendapatkan teman baru, seorang model korea. Sheira dan Risa menaiki bus pulang, tak lama bus melaju yang dilepas lambaian perpisahan dari

__ADS_1


__ADS_2