
Sheira turun dari mobil dan pandangannya mengitar sekeliling, dihadapan Sheira tampak rumah modern yang berdiri kokoh tapi nampak sederhana. Terlihat taman di sekitar rumah yang ditumbuhi berbagai jenis bunga, disekitar lainnya terdapat beberapa pohon bambu yang tertata rapi. Jalan yang dilalui Sheira pun tampak unik, yaitu jalan dengan bebatuan pipih dan terukir pola bunga. Pemandangan seperti ini akan sangat cocok dengan rumah tradisional jepang, sungguh kontras dengan bangunan modern yang berdiri kokoh di hadapannya.
Sheira terus melangkahkan kakinya mengikuti sepanjang jalan bebatuan dengan ukiran bunga tersebut, jalan menuju arah belakang rumah. Sheira takjub melihat kolam kecil yang dihuni beberapa ikan kecil. Benar-benar suasana yang bisa menciptakan atmosfer sejuk.
Pandangan Sheira semakin takjub melihat rumah yang sangat cocok dengan suasana taman disekitarnya. Rumah tradisional khas jepang, Minka (rumah tradisional jepang dan merupakan hunian rakyat biasa). Hampir semua material rumah terbuat dari kayu, sederhana namun elegan.
Dengan bergegas Sheira memasuki rumah yang diidamkan kakinya menginjak. Pemandangan yang sangat ingin dilihat Sheira kini ada dihadapannya. Sheira memandang sekeliling sebelum memasuki rumah. Ada beberapa bagian dari rumah tradisional jepang ini. Genkan atau semacam koridor atau pintu masuk tempat melepas alas kaki. Lalu ada ruangan yang disebut washitsu yaitu ruang yang beralaskan tatami atau tikar di dalam rumah tradisional jepang.
Washitsu merupakan ruang serba guna tergantung dari kebutuhan, hal ini memungkinkan karena semua perabotan bersifat portable. Washitsu sendiri bisa menjadi ruang belajar bila diletakan sebuah meja, bisa menjadi tempat tidur bila diletakan futon (matras tidur) atau bisa menjadi tempat makan bila diletakan meja besar. Serba guna kan? Dan yang terakhir dari khas-nya rumah jepang adalah fusuma atau pintu geser yang terbuat dari kayu dan kertas khusus. Sheira merasa dimanja dengan semua hal yang dilihatnya. Dan Risa pun merasakan hal yang sama.
"Sheira rumah kakek lu keren." Risa cengengesan senang. Sheira mengangguk setuju.
"Sheira chaan!! kamu tidak apa-apa? Bagaimana kabarmu? kakek khawatir?" tiba-tiba suara khas yang sebelumnya didengar lewat telpon itu terdengar. Suara kakek.
"Aku baik-baik saja, kek!" Sheira memeluk kakeknya erat. Sudah lama nggak bertemu tapi nggak ada rasa canggung dihati Sheira. Apa karena sikap kakeknya yang ramah makanya Sheira merasa nyaman? Sheira masih bingung, tapi senang.
"Ini teman Sheira, kek. Namanya Risa."
Risa mengulurkan tangan menjabat tangan kakeknya Sheira.
"Saya Risa, kek!"
Kakek Sheira tersenyum seraya manggut-manggut.
"Ayo ayo istirahat dulu, duduk dulu cucuku."
Kakek mempersilahkan Sheira dan Risa duduk di atas bantal khusus yang disebut zabuton. Karena umumnya untuk rumah tradisional jepang nggak menggunakan kursi sebagai alat duduk.
"Bagaimana keadaan ayah dan ibumu? Kakek kangen sekali sama ayahmu, dia pasti sibuk sekali disana." kakek menyuguhkan teh hangat di cangkir. Aroma wangi teh langsung tercium.
"Mereka baik-baik saja, kek. Lagian dalam waktu dekat ayah sama ibu akan datang ke sini mengunjungi kakek."
Terlihat wajah kakek sumringah, senang.
"Benarkah? bagus sekali. Kakek akan menantikan mereka haha.."
"Lalu apakah kamu bertemu Shin? kakek sengaja meminta dia menjemputmu, takut nanti kamu tersesat. Dia nggak bersikap menyebalkan, kan?" ujar kakek lagi.
Sheira manyun, cemberut.
"Dia cukup menyebalkan, kek. Tapi aku cukup berterima kasih juga meskipun canggung apalagi aku pertama bertemu dengannya. Jadi kesan yang aku dapat, tuh..." Sheira mengepal tangan dengan jempol mengarah ke bawah. Kakek tergelak dengan tingkah Sheira.
"Wajar kamu canggung, apalagi ini pertemuan pertama kembali setelah kalian dewasa."
Sheira mengernyitkan dahi.
"Memangnya aku pernah bertemu dengan Shin sebelumnya?"
Kakek seketika terdiam. Menatap Sheira sesaat. Tatapan yang menurut Sheira penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Ayo ayo diminum dulu tehnya, selagi masih hangat haha.. Lalu istirahatkan di kamar di rumah depan."
Sheira mencicipi teh yang disuguhkan kakek, aroma yang wangi.
"Nanti segera menyusul ke kamar, ya? Kakek bereskan dulu kamarnya, kalian lihat-lihat saja dulu suasana disini." ujar kakek lagi.
Sheira mengangguk dan menatap kakeknya keluar ruangan.
"Rupanya dia masih belum mengingatnya. Bukankah itu bagus?" Kakek menghampiri Shin yang tengah duduk di lantai teras yang terbuat dari potongan kayu.
"Jangan membencinya. Kamu tahu sendiri kejadian itu bukanlah salahnya."
Shin terdiam. Dengan berbagai gemuruh di hatinya.
***** ****** ****** *****
"Kakek mengajak kita pesta barbeque, mau ikut?" ajak Sheira yang disambut antusias Risa.
"Mau bangeettt!!" Risa menyahut riang
"Dimana? Di restorankah?" tanya Risa
"Bukan. Tapi di tepi sungai sebelah utara dari sini. Kata kakek jaraknya nggak terlalu jauh" Sheira menjelaskan.
"Dan lagi, tepi sungai itu sering dijadikan tempat pesta barbeque para wisatawan lokal. Semua warga sini juga sering kesana, malah di jadikan acara rutin. Acaranya itu sore ini. Kebayang nggak seberapa menariknya tepi sungai itu hihihi…?" Sheira cengengesan yang membuat Risa semakin antusias.
"Ayo kesana…. Kesanaaa. Gue bakalan mati penasaran, nih membayangkan suasana tepi sungainya. Pasti romantis, deh kalau bareng cowok yang disuka… uchh uchhh.." Risa bertingkah sok imut meniru "aegyo" ala-ala artis korea.
"Gue mendadak merinding lihat tingkah elu."
Risa mendelik, cemberut.
"****** lu! Puji dikit napa?"
Sheira terbahak.
Sheira menghampiri kakek yang tengah sibuk mempersiapkan bahan-bahan dan peralatan untuk pesta barbeque nanti sore. Beberapa lembar tikar, alat pemanggang dan arang tampak sudah tersedia. Sheira membantu memasukan bahan-bahan ke dalam keranjang. Sayuran, minuman soft drink dan daging sapi segar yang ditempatkan terpisah.
"Sudah lengkap sepertinya." ujar kakek seraya kembali mengecek barang-barang dan bahan-bahan yang tersedia.
"Shin, coba kamu bawa barang-barang ini semua lalu masukan ke dalam mobil pick up di depan."
Sheira terkejut, tidak sadar dengan keberadaan Shin. Sejak kapan dia berada disini?
"Iya." sahut Shin singkat lalu mengangkat barang-barang dan memasukannya ke dalam mobil.
Tanpa komando Sheira ikut membantu membawakan barang-barang untuk keperluan pesta nanti, Sheira membawa barang yang dirasa ringan untuk di bawa lalu memasukannya ke dalam mobil. Sheira melirik Shin yang sedang merapikan posisi barang-barang di mobil. Poni Shin tergurai karena hembusan angin hingga terlihat jelas lekuan hidung mancungnya. Dilihat dari sampingpun visual Shin memang keren.
Sheira menggelengkan kepala, menyangkal untuk tidak terpesona pada sosok cowok arogan itu. Namun tiba-tiba dan entah kenapa Sheira merasakan perasaan sedih dan hati seperti tertohok sesuatu. Tangan Sheira menyentuh dada, degub jantung berdetak tidak seperti biasanya, sakit.
__ADS_1
"Lu kenapa, Ra? Sakit?" suara Risa yang tiba-tiba menyadarkan Sheira.
"Nggak apa-apa, kok." sahut Sheira lalu melirik kearah Shin. Sheira terkejut ketika melihat Shin tengah menatapnya. Segera mengalihkan pandangan, Sheira beranjak pergi.
"Ayo, bawa lagi barang-barangnya."
Cuaca cukup bersahabat dengan matahari yang tidak terlalu terik, awan juga tidak mendung gelap dan angin sejuk bertiup pelan. Kicau burung semakin menambah nyaman suasana. Disepanjang jalan pesisir pantai terlihat, gelombang ombak menyembur ke daratan. Tak sampai 20 menit, Sheira sudah sampai di lokasi. Dan ternyata lokasi sudah ramai dengan orang-orang. Terlihat tenda-tenda dan asap yang mengepul dari pemanggang.
Sheira memandang sekeliling, pantas saja sungai ini menjadi favorit untuk dijadikan tempat wisata karena suasananya yang indah. Meskipun terletak ditengah kota, sungai ini dikelilingi pepohonan dan karena kemiringan tanah juga Sheira bisa menjumpai taman, sungai yang terhampar, kolam dan air terjun kecil. Sungguh pemandangan yang indah.
Sheira dan Risa bergegas menggelar tikar, menyiapkan bahan-bahan untuk dipanggang. Terlihat Shin sibuk menata alat pemanggang lalu ketika alat pemanggang siap kakek menyalakan arang untuk membakar. Sheira ragu untuk membantu, bingung apa yang harus ia kerjakan.
"Sheiraaaa… beruntung banget gue bisa ikut lu ke jepang, banyak tempat keren! Gue seneng." Untuk kesekian kalinya Risa merasa takjub dengan suguhan tempat-tempat yang dilihatnya.
Sheira mengangguk setuju. Bagaimana tidak takjub, terdengar suara sungai mengalir deras dengan air yang jernih, batu-batu besar membentuk undakan alami sehingga aliran sungai nampak bertingkat-tingkat. Beberapa orang terlihat duduk-duduk di bebatuan tersebut, ada yang juga yang berenang. Suasana tampak ceria.
"Daisuke kamu sudah datang?" teriak kakek tiba-tiba seraya melambaikan tangan.
Sheira menoleh kearah mengikuti pandangan kakek. Terlihat seorang pria dengan raut muka mirip papa. Ah, Sheira ingat, papanya pernah bilang kalau punya adik satu-satunya. Inikah adik papa? Dia berjalan bersama dengan seorang wanita, sudah tentu istrinya, mungkin.
"Daisuki lihatlah cucu kakek, keponakanmu. Dia sangat cantik dengan bola mata besar, benar kan?" ujar kakek. Wajah Sheira merona, malu.
"Apa kabar, om?" Sheira memperkenalkan diri yang disambut pelukan hangat pria bernama Daisuke, adik papa.
"Wah, keponakanku sudah dewasa. Bagaimana kabar papa dan mamamu?" tanya om Daisuke ramah.
"Mereka baik-baik saja, om."
Sheira melirik kearah wanita di samping om Daisuke, lalu tersenyum seraya sedikit mengangguk. Wanita itu tersenyum kecut, mengidahkan senyuman Sheira.
"Kelihatannya kamu baik-baik saja. Apa kamu nggak merasa bersalah datang ke jepang dengan wajah tanpa dosamu itu?" ujarnya tajam.
Sheira tersentak kaget. Tidak mengerti maksud dari ucapan wanita itu.
"Tutup mulutmu, Fumi!! Teriak kakek,
"Aku pikir Shin juga berpikiran sama denganku, kan?"
Sheira melirik Shin yang terdiam dengan raut muka gusar.
Ada apa ini?
"Maksud tante apa? Aku nggak mengerti."
"Sudah nggak usah dihiraukan. Sheira cepat panggang dagingnya, kita mulai pestanya." kakek mengalihkan pembicaraan.
Wanita itu melengos melangkah pergi. "Maaf, kek. Aku nggak ikutan pesta."
Sheira terdiam, melirik ke arah om Daisuke yang tersenyum lembut menatapnya.
__ADS_1
Kembali Sheira bertanya, ada apa ini?