
Ponsel Sheira berdering ditengah dirinya menyantap hidangan malam bersama kakeknya dan Risa, serta orang yang tidak ingin Sheira lihat yaitu Shin yang dengan entengnya ikut makan malam bersama. Sheira melihat deretan nomor asing. Ragu untuk mengangkat telpon tersebut karena ditengah makan malam dan takut dianggap tidak sopan. Sheira melirik kakek yang menatapnya.
"Siapa yang menelpon? Kenapa nggak diangkat telponnya?" tanya kakek.
Sheira menggeleng pelan.
"Nggak tahu, kek, ini siapa. Nomornya asing."
"Ya sudah, angkat dulu sana. Mungkin ada hal yang penting." ujar kakek.
Sheira meraih ponsel.
"Iya, hallo?" sapa Sheira
"Hai, Sheira. Apa kabar? ini Wook Hye, yang tempo hari makan bareng di kafe."
"Ow, Wook Hye? hai, iya. Kabar aku baik... "
Sheira melirik ke arah kakek lalu mengangguk memberi kode izin meninggalkan tempat makan sebentar. Kakek membalas anggukan, mengiyakan. Sheira bergegas meninggalkan tempat makan.
"Siapa itu Wok ye? Wok he? Namanya aneh." tanya kakek lirih pada Risa.
"Teman baru Sheira, kek. Namanya Wook Hye. Kita kenal waktu jalan-jalan di Kyoto Tower kemarin. Dia orang korea, model. Ganteng, kek. Sumpah!"
Risa dengan detail menceritakan pada kakek.
"Terus kayaknya itu cowok suka sama Sheira, karena selama makan dia terus-terusan menatap Sheira. Aku serasa hantu aja disana, nggak kelihatan sama itu cowok. Aku dikacangin, kek." timpal Risa lagi yang disertai gelak tawa kakek.
Perumpamaan Risa yang disamakan dengan hantu membuat kakek terkekeh. Shin yang mendengar omongan Risa mendadak kesal, disimpannya sumpit di sisi mangkuk makannya, lalu berdiri.
"Aku kenyang, kek. Pulang duluan." ujarnya seraya beranjak pergi.
Risa hanya terbengong melihat Shin yang tampak kesal dan kakek yang menatap kepergian Shin yang seolah tahu alasan sikap kesalnya. Tak lama Sheira kembali ke meja makan, didapatinya Shin sudah tidak ada ditempat.
"Siapa tadi yang telpon?" tanya kakek, pura-pura tidak tahu.
"Ah, itu... teman, kek. Kita kenal kemarin." jawab Sheira, singkat.
"Waktu kita makan di kafe, kita bertemu Shin disana lagi kerja. Memangnya Shin nggak sedang ujian masuk universitas?" ujar Sheira setengah bertanya.
"Dia sudah lulus ujian dengan nilai sempurna, tinggal menunggu masuk perkuliahan aja. Yah, mungkin buat menghabiskan waktu senggang dia kerja sampingan."
Sheira mengangguk. Di Jepang kan anak sekolah diperbolehkan kerja selama usianya lebih dari 15 tahun dengan itungan upah kerja per jam. Dengan sistem kerja seperti itu benar-benar banyak membantu anak sekolah yang kekurangan biaya atau yang hidup mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berbeda dengan di Indonesia yang sangat jarang memperbolehkan anak sekolah kerja sampingan kecuali mahasiswa. Apalagi jam kerja di Indonesia relatif full time dan batasan usia bekerja yang diatur undang-undang menjadi hambatan tersendiri untuk bisa kerja sampingan.
Sheira jadi terpikir untuk mencari kerja sampingan juga kedepannya ketika dirinya mulai memasuki perkuliahan. Meskipun Sheira tidak tahu akan dapat izin dari ayah ibu serta kakeknya nanti atau tidak.
Sheira bersiap untuk tidur ketika dilihatnya Risa tengah video call dengan pacarnya. Tampak asyik. Sheira sesekali tersenyum mendengar percakapan dua sejoli itu.
"Gue mau tidur, jangan terlalu berisik, ya." ujar Sheira.
"Udah beres lepas kangennya, kok. Mau tidur ini juga." timpal Risa.
"Ra, si Shin kayak yang kesal waktu lu telponan sama si Wook Hye itu. Waktu gue bilang kalau lu telponan sama cowok korea, model, ganteng lagi dia langsung pergi gitu aja, padahal makannya belum beres." timpal Risa lagi yang serta merta membuat Sheira melek. Sheira menoleh ke arah Risa.
"Kayak yang kesel, gimana?" tanya Sheira.
"Yah, kesel kayak yang cemburu, gitu. Mungkin kan, ya?"
Sheira tergelak.
"Nggak mungkinlah. Lu tau sendiri dia ketusnya gimana sama gue. Kayak yang benci banget sama gue, padahal salah gue apa, coba?" dengus Sheira balik kesel.
__ADS_1
"Yah, bisa aja sebenernya dia nggak benci, bisa jadi malah suka. Karena nggak bisa nunjukin perasaan suka jadinya nunjukin sikap sebaliknya. Kayak tipe-tipe cowok tsundere, gitu."
Sheira kembali terbahak dengan ocehannya Risa. Merasa lucu kalau benar Shin suka dirinya. Hal yang tidak mungkin.
"Lu kebanyakan baca komik, imajinasi lu liar. udah sana tidur. Gue ngantuk." ucap Sheira seraya membalikan badan. Meskipun tidak dipungkiri ucapan Risa membuatnya kepikiran. Ah, mana mungkin, sih.
Karena terlalu memikirkan ucapan Risa, Sheira tertidur larut. Ketika ponselnya berdering, Sheira ogah-ogahan meraih ponsel seraya merutuk karena masih ngantuk.
"Siapa, sih yang nelpon pagi-pagi gini?"
Sheira mengangkat telpon dengan perasaan ogah.
"Sheira, selamat pagi. Aku udah di depan rumah kamu kalau menurut alamat yang kamu kasih. Bisa keluar sebentar?"
Setengah sadar Sheira merasa familiar dengan suara di dalam telpon.
'Udah di depan rumah? Siapa?' gumannya.
Seketika mata Sheira terbelalak ketika sadar suara yang ditelpon itu Wook Hye.
'Apa? Dia kesini? langsung setelah tadi malam nelpon?' Sheira merasa benar-benar kaget.
Dan dengan rambut acak-acakan serta masih memakai baju tidur Sheira berlari keluar kamar. Rasa kaget Sheira bertambah ketika dilihatnya Wook Hye tengah berdiri seraya tersenyum melihat keberadaan Sheira dan Shin juga yang saling berhadapan dengan Wook Hye menatapnya kesal.
"Ya ampun, apa yang dia lakuin disini pagi-pagi gini?"
Sheira melongo.
Sheira tidak mengerti dengan situasi yang sekarang terjadi. Dirinya berada di tengah dua cogan yang saling duduk berhadapan dan saling menatap sinis satu sama lain.
'Kenapa situasinya jadi seperti ini?' batin Sheira. Ditambah penampilannya yang tidak ada imut-imutnya. Rambut acak-acakan karena bangun tidur, ditambah pakaian pun masih mengenakan piyama. Astaga. Dan lagi, apa-apaan tatapan mereka berdua? Apa mereka sedang perang mata?
"Dan elu yang baru kemarin kenal kenapa nggak ada sopan santunnya pagi-pagi datang ke rumah orang? Elu tau etika, kan?" nada Shin tidak kalah sinis. Tatapan Shin tampak kesal luar biasa melihat cowok dihadapannya.
Sheira gelagapan.
"Itu... dia rumahnya nggak jauh dari sini dan dia juga sangat dekat dengan kakekku jadi memang sering datang ke rumah." jelas Sheira, meskipun Sheira tidak tahu kenapa harus menjelaskan situasi Shin pada Wook Hye yang jelas-jelas baru kenal kemarin.
"Kalau begitu, apa aku juga boleh sering main kesini?" tanya Wook Hye tiba-tiba.
"Ada urusan apa lu mau sering datang kesini? lu itu orang asing!" nada Shin semakin sinis.
"Tentu saja buat ketemu Sheira, emang ada alasan lain? dan itu juga bukan urusan lu yang bukan siapa-siapanya Sheira, kan?"
"Lu nggak bisa seenaknya datang tanpa izin!" nada Shin meninggi.
"Gue tinggal izin sama yang punya rumahnya aja, kakeknya Sheira, kan? beres!" tukas Wook Hye.
"Lu... "
"Cukup! Kalian itu kenapa, sih? Kalian saling kenal, ya? Kalian itu ada masalah hidup apa, sih?"
Sheira memandang Shin dan Wook Hye bergantian. Tidak mengerti dengan situasi didepannya. Wook Hye, orang yang baru kemarin kenal ternyata memiliki sifat yang lebih blak-blakan dan spontan. Shin yang biasa kalem dan dingin, ada apa dengan hari ini?
"Shin, lu keluar aja. Dia tamu gue, dan dia nggak perlu izin lu buat datang kesini." tukas Sheira.
Wook Hye tersenyum merasa dibela. Shin mendengus.
"Dan kamu, tolong ke depannya buat janji lebih dulu kalau mau datang, dan nggak pagi-pagi kayak gini. Nggak sopan."
Senyum Wook Hye seketika hilang, bibirnya sedikit mengerucut, cemberut. Giliran Shin menyeringai.
__ADS_1
Sheira menatap Shin lalu mengerlingkan mata sebagai kode agar Shin beranjak dari duduknya. Shin yang tahu maksud kerlingan mata Sheira beranjak pergi seraya mendengus kesal.
"Aku tahu waktu semalam kamu telpon akan mampir kapan-kapan ke rumahku, tapi masa pagi-pagi udah nongol aja di depan pintu rumah orang... " protes Sheira.
Wook Hye hanya tersenyum kecil. Entah kenapa dia merasa omelan Sheira begitu imut dilihat.
"Iya, maaf. Aku cuma pengen ketemu kamu aja. Soalnya waktu aku minta ketemu janjian di Arashiyama kamu malah nggak datang." tukasnya beralasan.
"Kamu datang kesini mau nagih kamera yang rusak?"
Wook Hye menggeleng cepat.
"Lah, nggak kok! Seriusan aku datang cuma mau ketemu kamu aja." jawabnya cepat.
"Kenapa?"
"Kenapa? entah! Karena kamu orangnya ngangenin mungkin, makanya meskipun baru sekali ketemu udah nggak sabar pengen ketemu lagi." Gombal Wook Hye seraya tersenyum manis menatap Sheira. Sesaat Sheira merona mendengar ucapan Wook Hye yang tiba-tiba terdengar menggoda.
"Apa kamu nggak terlalu jujur? atau memang udah biasa ngomong kayak gini kesetiap cewek yang kamu temui?"
"Apa kesan pertama aku dimata kamu jelek?"
Sheira mengangguk pelan yang membuat Wook Hye merespon kaget.
"Wah! Alesannya apa sampai kamu berpikir begitu?"
"Kamu terlalu ramah untuk ukuran cowok ganteng, model lagi. Langsung blak-blakan mengajak cewek yang baru ketemu makan bareng, sekalipun aku memang mengiyakan. Ucapan yang sedikit membuat orang lain salah paham... lalu, dengan santainya bilang ada cewek yang ngangenin di awal pertemuan pertama, bukankah itu namanya menggoda?" cerocos Sheira yang membuat Wook Hye tidak bisa berkata-kata, tidak bisa membantah karena kondisinya memang seperti itu.
Wook Hye merasa kaget mengetahui kalau kesan pertama yang didapatnya begitu negatif. Dan untuk pertama kali baginya. Karena kebanyakan para cewek selalu senang apapun yang dilakukannya, selalu memuji dan mengejarnya. Makanya, Wook Hye merasa kaget ketika ada cewek yang dengan santainya menilai keberadaannya kurang berkenan. Dan bukannya merasa tersinggung, Wook Hye malah merasa seperti ada angin segar.
"Lalu... berapa harga kamera yang harus aku ganti?"
Kembali Wook Hye menggeleng cepat.
"Aku kesini bener-bener bukan mau menagih kerusakan kamera. Tapi serius pengen ketemu kamu. Yah, walaupun ternyata kedatanganku kurang sopan jadinya." jawabnya beralasan.
Wook Hye merogoh saku dan mengeluarkan dua lembar tiket lalu disodorkan pada Sheira.
"Datang, ya. Acara fansign aku." pintanya.
"Tapi aku nggak pengen tanda tangan kamu, tuh! Aku bukan fans kamu." Ujar Sheira spontan. Wook Hye tersedak mendengarnya.
"Ah, bukan itu maksudku. Aku mengajak kamu setelah acara fansign, ke pantai yang tercantum di tiket. Ajak teman kamu juga, Risa. Bisa?" pinta Wook Hye penuh harap.
Sheira terdiam, berpikir.
"Aku belum bisa bilang iya. Aku juga nggak tahu apakah Risa mau ikut atau nggak. Belum izin sama kakek juga."
Wook Hye tersenyum agak getir dengan ucapan Sheira. Ada perasaan seperti tertolak, padahal Sheira belum sepenuhnya menolak. Dan seperti ada perasaan bergejolak.
"Nggak apa-apa, obrolin aja dulu sama kakek dan Risa. Nanti kabarin aku. Aku sangat berharap, sih... kamu bisa ikut." pintanya lagi.
Sheira mengangguk.
"Iya, nanti dikabarin."
Wook Hye tersenyum dan pamit undur diri. Untuk pertama kalinya Wook Hye merasakan rasa penasaran begitu besar pada Sheira. Sehingga timbul perasaan obsesi. Dan ketika melangkah keluar Wook Hye kembali bertemu Shin yang ternyata masih menunggu di luar.
Tatapan sinis saling terpancar. Ketika langkah Wook Hye melewati sosok Shin, dengan pelan Wook Hye berguman yang serta merta membuat ekspresi Shin sangat kesal.
"Gue pasti bisa dapetin Sheira!"
__ADS_1