Cinta Di Kota Kyoto

Cinta Di Kota Kyoto
2. Welcome To Japan


__ADS_3

Trrrttt.... Trrrtttt...-


Ponsel Sheira bergetar diiringi lagu Aluto - Michi to you all sebagai ringtonenya.


Sheira sedikit mengkerutkan kening melihat


deretan angka yang enggak dikenalnya.


"Hallo?"


"Sheira chan... O genki desu ka? Watashi


wa kimi no ojisan ne (Sheira chan... Apa kabar? Saya kakek kamu)." terdengar suara


cempreng diponsel yang mengaku kakeknya.


"Ojisan? Ah, hai... Watashi wa genki desu ne. (kakek? Ah, iya. Kabar saya baik?)." Jawab Sheira dengan bahasa jepangnya yang fasih.


"Kamu sudah sampai di Jepang? Nanti kamu naik Shinkansen yang langsung menuju stasiun Kyoto. Disana akan ada seseorang yang menjemputmu." ujar suara ditelpon yang nggak lain adalah kakek Sheira sendiri.


"Gomen ne, ojisan (maaf, kek). Sheira nggak jadi datang langsung ke Kyoto. Sheira mau keliling Tokyo dulu."


"Nani??!! (Apa??!!)" setengah berteriak ojisan kaget mendengar jawaban Sheira.


"Kamu belum tahu rute Jepang, jangan ceroboh! Cepat langsung ke Kyoto!" Ojisan


sedikit cemas.


"Daijobou, ojisan. (Nggak apa-apa, kek.) Sheira pernah study tour ke Jepang


sebelumnya, jadi sedikit tahu rute kota di


Jepang." Sheira beralasan, terpaksa berbohong.


"Demo... (Tapi...)"


"Nggak apa-apa, kek. Sheira bakalan baik-baik aja kok. Sudah dulu, kek. Nanti


dihubungi lagi. Ja matta (sampai nanti)."


Sheira mematikan ponsel.


Mengenai kakek, sebenarnya Sheira sendiri


hampir lupa dengan wajah kakeknya sendiri. Terakhir Sheira ingat, bertemu kakeknya ketika ia masih duduk dikelas empat sekolah dasar. Sekian tahun terlewat tapi entah kenapa nggak ada kenangan sedikitpun yang Sheira ingat, harusnya umur sekian sudah bisa mengingat segala sesuatu yang terjadi. Tapi ini nggak. Dan Sheira nggak terlalu memperdulikan itu. Kedatangannya ke


Jepang pun karena ingin melihat universitas tempat dia nantinya kuliah, sekaligus mengunjungi kakeknya.


"Lu bohong, tuh! Kualat lho."


"Berisik lu! Kalo enggak bohong, kita nggak bakalan bisa keliling Tokyo. Lu mau langsung ke Kyoto? Gue sih oke aja."

__ADS_1


Risa cengengesan kembali.


"Gue nurut lu aja, deh. Tapi dosa bohongnya lu tanggung sendiri, ya?!"


"Huuu..." Sheira kembali menjitak jidat Risa.


"Terus kita ngapain dulu?" Tanya Risa.


Sheira merogoh tasnya dan mengambil


sebuah buku note kecil didalamnya.


Kemudian mambacanya dengan serius,


sesekali pandangannya beredar mengelilingi bandara.


"Menurut catatan yang gue bikin biar jalan-


jalan di Tokyo hemat biaya kita harus membeli 'kanto pass' untuk akses naik


kereta keliling Tokyo."


Risa tampak bingung. "Apaan 'kanto pass'?


"Semacam kartu travel transportasi. Kita bisa naik kendaraan sejenis commuter line


sebagai akses kendaraan. Kita pakai yang


masa berlakunya satu hari aja, karena kalau menggunakan Shinkansen tanpa kanto pass ongkosnya lebih mahal." terang Sheira menjelaskan. Risa hanya angguk-angguk kepala meskipun kurang mengerti.


Kyoto dengan jadwal keberangkatan malam


hari. Sheira melirik jam tangannya.


"Kita cuma bisa datang ke dua tempat aja, Ris. Waktunya mepet! Kota mana dulu yang


mau kita datangin?" Tanya Sheira.


"Gue pengen ke Harajuku, pengen lihat


fashion para kogals (sebutan cewek gaul di


harujuku) disana. Lalu ke Shibuya, foto-foto depan patung anjing Hatchiko dan jalan-jalan di Shibuya Crossing, jalur pejalan kaki yang katanya tersibuk di dunia." Risa nyerocos dengan mata berbinar, tampak ketidak sabaran untuk segera menjelajah ke kota yang disebutnya.


"Oke! Let's go, girls! Kita ke Shibuya dulu, deh. Narsis didepan patung Hatchiko lalu mondar-mandir di Shibuya Crossing baru


lanjut ke Harajuku. Dilihat dari rutenya jaraknya satu stasiun dari Shibuya ke Harajuku."


Sheira dan Risa berlari sumringah menuju


kota tujuannya.

__ADS_1


"Tokyooo..!! You wait meeee..." Teriak Risa


dengan bahasa inggris amburadul.


Tepat didepan Hatchiko exit stasiun Shibuya, sudah terlihat patung Hatchiko.


Risa berseru keras saking exited-nya. Banyak wisatawan luar maupun lokal disekitar taman dan patung Hatchiko untuk berselfi ria atau berswafoto mengabadikan momen dengan tembakan jepretan kamera. Nggak jauh dari taman, tepatnya depan stasiun Shibuya para wisatawan pun berkumpul di perempatan depan stasiun Shibuya untuk menyebrang di Shibuya Crossing, nggak ketinggalan Sheira dan Risa pun mondar-mandir sambil berpose ala kampungan disepanjang Shibuya Crossing.


Diacuhkannya banyak pasang mata yang melihat tingkah aneh mereka.


"Mumpung masih di Shibuya, selanjutnya kita kemana, Ra?" Sheira mengamati map sightseeing spot-nya untuk melihat rute yang akan dikunjungi selanjutnya.


"Kita ke kuil Meiji Jingu, yuk? Letaknya sebelah utara Shibuya. Tapi kita disana nggak bisa lama, durasi mepet!" Ujar Sheira.


Kuil Meiji Jingu dengan gapuranya yang begitu tinggi dan kokoh, masuk sedikit ke dalam terlihat dua pohon rindang menjulang disisi kanan dan kiri. Nggak sedikit para wisatawan pun berkunjung ke kuil ini atau warga lokal yang sengaja datang untuk berdoa. Sedangkan Sheira dan Risa? Sibuk berjepret ria di area yang spot-nya bagus.


Puas berkeliling di Shibuya, Sheira dan Risa kembali ke stasiun dan berangkat menuju Harajuku. Mata Sheira dan Risa terbelalak melihat suasana jalan setibanya di Harajuku. Penuh dengan orang, terutama para remaja. Di sepanjang stasiun Harajuku sampai Omoterando dipenuhi spot belanja dan hiburan. Pertokoan, butik dan kafe.


"Ra, keren banget! Mati pun gue nggak bakalan penasaran, deh." celoteh Risa dengan mata berbinar


"Jangan mati, ntar gue yang susah. Lu mau gue kuburin dimana? Dimasukin ke tong sampah?" Risa melotot.


"Lu pikir gue ****** tikus?" Sheira terkekeh.


"Hunting cowok, yuk? Noh, banyak cowok cakep."


Sheira mendelik. "Ogah!"


Sheira dan Risa berjalan di area Takeshita Dori atau jalan Takeshita. Jalanan sempit sepanjang 400 meter ini menjadi area pembelanjaan favorite remaja. Style cewek di Harajuku mungkin bisa dibilang agak 'nyeleneh' bagi kebanyakan orang, unik menurut Sheira. Bagaimana nggak?


Harajuku merupakan tempat ajang pamer fashion remaja, dengan rambut dicat warna-warni, sepatu hak atau bersol tinggi, rok mini atau dandanan nggak normal lainnya bisa ditemukan disini. Sheira dan Risa berdecak kagum dengan keunikan remaja Harajuku.


-trrrrtt... Trrrtttt-


Ponsel Sheira bergetar. Terlihat satu pesan masuk discreen, nomer yang beberapa jam lalu telpon. Nomer ojisan.


"Sheira chan gps-nya nyalakan. Biar ojisan tahu keberadaan Sheira chan." Sheira tersenyum lalu dengan cepat membalas pesan dari ojisan-nya itu.


"Hai, ojisan. Sheira sekarang berada di


Harajuku. Sebentar lagi berangkat ke Kyoto."


Trrrt... Ponsel kembali bergetar. Ojisan


membalas pesan, cepet banget pikir Sheira.


"Hati-hati Sheira chan."


Sheira memasukan ponselnya ke tas, setelah menyalakan gps sesuai pesan ojisannya.


Sheira dan Risa masih menikmati jalan-jalannya. Dengan cueknya mereka lalu lalang keluar masuk toko sekedar melihat berbagai produk, mulai dari pakaian, sepatu dan aksesoris. Nggak ketinggalan berfoto di gapura dengan tulisan 'Takeshita Street' yang dilengkapi CCTV. Sheira merasa unik karena ketika berfoto ditempat itu langsung terekam oleh monitor TV LED yang ada diatas. Keren banget!.

__ADS_1


Ketika asyik berjalan, tiba-tiba tangan Sheira dicengkram kuat oleh cowok dari belakang. Sheira hendak berontak namun benda tajam menempel dibelakang punggungnya. Pisaukah? Sheira melirik ke arah Risa, wajah ketakutan tampak terlihat jelas. Rupanya Risa pun mengalami hal yang sama. Para cowok itu setengah menyeret tubuh Sheira dan Risa menjauhi kerumunan orang-orang.


"Ada apa ini? Siapa mereka?"


__ADS_2