Cinta Di Kota Kyoto

Cinta Di Kota Kyoto
3. Malaikat Penolong?


__ADS_3

"Yamatte omae ra!! (Berhenti kalian!!)" Bentak Sheira ketika cowok berandal melangkah mendekat. Namun nggak digubris para berandalan itu.


"Jama surunda yoo na, teme!! (Jangan coba-coba menggangguku, brengsek!!)" Teriak Sheira kembali. Wajah Sheira memancarkan kemarahan pada kedua cowok berandalan yang ada dihadapannya itu. Tangannya dikepal dengan pose siap berkelahi, sedangkan Risa hanya bisa sembunyi ketakutan dibelakang badan Sheira.


"Wajahmu cantik, tapi sayang mulutmu pedas!" Berandalan itu tetap menyeringai dengan mata menatap nakal melihat tubuh Sheira.


"Daripada lu, udah jelek penjahat lagi!"


Wajah berandalan itu berubah merah, geram mendengar ucapan Sheira.


"Nggak usah banyak omong, cepat serahkan barang-barang berharga kalian!!" Bentak berandalan itu seraya melangkah mendekat.


Sheira refleks mundur ke belakang melihat berandalan itu mencoba mendekat. Kaki Sheira gemetar, perasaan ciut tiba-tiba muncul menghadapi kedua berandalan yang tiba-tiba saja menyeretnya ke tempat yang sepi.


Wajah berandalan itu benar-benar seram, dengan rambut gondrong dan ada bekas luka dipelipis mata kanannya. Ah, ternyata di Jepang pun banyak berandalan, pikir Sheira.


"Jangan mendekat!!" Teriak Sheira.


Tapi berandalan itu malah mencoba mencekal tangan Sheira. Sedikit berkelit, Sheira balik mencekal tangan berandalan itu dan dengan kekuatan penuh menariknya ke depan kemudian mendaratkan tendangan ke perut berandalan itu hingga membungkuk kesakitan dan dengan cepat pula Sheira kembali mendaratkan tendangan ke wajah hingga berandalan itu jatuh tersungkur.


"Kurang ajar kalian!!" Berandalan yang satunya lagi semakin marah.


Dikeluarkannya pisau tadi. Kali ini wajah Sheira memucat. Ciut melihat pisau ditangan berandalan itu. Nggak mungkin dirinya nekat melawan berandalan dengan pisau ditangannya. Bisa-bisa dirinya terbunuh konyol. Terlebih temannya yang tadi tersungkur perlahan bangkit dengan kemarahan semakin meluap.


"Tuhan, tolong! Gue belum siap mati, belum


nikah. Punya pacar pun nggak, jangan


biarkan gue mati sebelum merasakan itu


semua...hiks hiks..." Hati Sheira menjerit.


Risa mencengkram lengan Sheira erat, takutnya nggak kebendung lagi.


"Toolooong... Tolooongg!!" Teriak Risa


dengan suara bergetar.


"Diam kalian!!" Berandalan itu mengayunkan pisau ke arah Sheira, namun tiba-tiba...


"Buukk.. Baakk buukkk...!!" Suara pukulan


bertubi-tubi terdengar dan seketika kedua


berandalan itu tersungkur nggak berdaya.


"Pergi kalian dari sini!! Kalo nggak, gue bikin kaki lu berdua patah!" Gertak seseorang yang tiba-tiba muncul menolong dan menghajar kedua berandalan tanpa ampun.


Dengan wajah ketakutan kedua berandalan itu lari terbirit-birit.


Sesaat Sheira hanya bisa terdiam melihat

__ADS_1


kehadiran cowok yang entah darimana


datangnya itu tiba-tiba menjadi malaikat


penolongnya.


"Omae ra daijoubu desu ka? (Kalian baik-


baik aja?)" Cowok itu menghampiri Sheira


yang masih melongo tegang, sedangkan


Risa menangis sesegukan saking takutnya.


"Haik... Daijou...bu..desu." terbata Sheira


menjawab, lalu tersadar ternyata malaikat


penolongnya seorang cowok keren.


Cowok jangkung dengan tinggi kurang lebih 187 cm, dengan bodi atletis dan wajah yang cakep, hidung mancung, mata tajam dengan warna coklat terang. Ditunjang dengan pembawaannya yang terkesan tenang dan cool. Ditambah rambutnya yang disemir warna coklat terang, begitu senada dengan matanya.


"Dia seorang model, ya? Cakep banget! Apa


cowok Jepang seperti ini, ya?" Pikir Sheira


terpana melihat malaikat penolongnya.


Dengan cepat Sheira tersadar dari keterpanaannya melihat cowok Jepang yang keren bak super model itu.


"Kimi wa Sheira chan desu ka?(kamu Sheira, kan?)" Tanya cowok itu. Sheira kaget, bagaimana dia tahu namanya?


"Haik... Anata? (Iya... Kamu?)" Sheira balik bertanya.


"Boku wa Shin Takigahara (gue Shin Takigahara)." jawab cowok itu nggak sedikitpun menggunakan bahasa formal Jepang untuk bicara dengan seseorang yang belum dikenalnya. Dan itu nggak sopan, menurut tradisi Jepang.


"Ah... Haik. Hajimima..."


"Lu nggak inget sama gue?" Ujarnya cepat memotong ucapan Sheira yang belum selesai ngomong.


"Shite..." Sheira melanjutkan ucapannya yang terpotong lirih.


"Huh? Emang kita saling kenal, ya?" Sheira


balik bertanya.


Cowok itu melangkah mendekat, sedikit membungkukkan badannya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Sheira. Cowok itu menatap Sheira lekat. Sesaat Sheira gelagapan ditatap seperti itu, apalagi sama cowok cakep.


"Menyebalkan!!" Ujar cowok itu seraya


melangkah pergi.

__ADS_1


Apa??? Sheira bengong...


Meskipun agak kesal mendengar ucapan ketus dari cowok yang bernama Shin, namun Sheira nggak terlalu diambil hati, apalagi cowok itu sudah menyelamatkan dirinya dan Risa. Menyayangkan juga, sih wajah yang bagai Kpop Idol tapi mulutnya kok pedas kayak cabe. Kontras banget. Jangan-jangan sifatnya bisa lebih menyebalkan dari ini? Semoga nggak bertemu dia lagi di kemudian hari, pikir Sheira.


Sheira memeluk Risa, berusah menenangkan.


"Udah, nggak apa-apa! Berandalan itu udah kabur, kok. Nggak usah takut lagi." Hibur Sheira.


"Ayo, kita langsung ke rumah kakek gue aja." lanjut Sheira lagi yang di iyakan Risa dengan anggukan kecil.


Sheira memapah Risa berjalan perlahan. Dilihatnya cowok yang tadi menolongnya masih berdiri nggak jauh darinya.


"Bisa cepetan nggak jalannya?" ujar Shin ketus.


Sheira mendelik.


"Kita mau jalan lambat atau ngesot pun, apa urusannya sama lu?" Sheira nggak kalah ketus.


"Kakek lu yang menyuruh gue untuk menjemput lu. Kalau nggak mau menyusahkan orang lain lebih dari ini, cepat ikuti gue. Mobil gue ada di depan!"


Apa?? Dia kenalan kakek? Oh my god... !!! Sheira merutuk kemudian menghela nafas panjang, menahan emosi yang sedikit agak naik melihat arogansi cowok yang ada dihadapannya. Cowok yang meyebalkan dan ternyata masih kerabat kakeknya. Menyesal sebelumnya Sheira sempat memuji visualnya yang bak model.


"Ya udah kalau merasa susah, nggak usah repot mau menjemput gue segala. Gue bisa pergi sendiri ke Kyoto tanpa harus lu jemput, kok!" Nada Sheira agak tinggi, sedikit emosi.


"Ayo, Risa. Kita harus cepat pergi ke stasiun biar nggak ketinggalan kereta." timpalnya lagi seraya berjalan melewati Shin yang masih berdiri di tempat.


Shin menghela nafas, sedikit kesal kemudian dengan langkah panjang mendekati Sheira lalu menarik lengannya hingga wajah Sheira berhadapan dekat dengannya.


Sesaat Sheira dan Shin beradu pandang, keduanya pun terdiam tanpa kata. Sesaat pula Sheira tiba-tiba melihat tatapan matanya yang lembut. Apa-apaan ini? Dan... apa-apaan dengan tatapannya itu?


Shin kembali menarik nafas, lirih.


"Ayo, pulang!" ujar Shin lembut dengan tangan menggenggam lengan Sheira. Menariknya untuk melangkah.


Sheira mengernyitkan alis, heran. Kenapa sikapnya menjadi lembut begitu? kemana sikap arogansi yang sesaat lalu sempat membuat dirinya emosi? Dia lagi berakting menjadi cowok tsundere-kah?


Ah, entahlah... Tapi satu pertanyaan yang membuat Sheira penasaran saat ini, apakah Shin mengenal dirinya? Tapi kapan? bertemu dengannya pun baru hari ini. 


Selama perjalanan Sheira maupun Shin terdiam. Nggak ada satu patah kata yang keluar yang membuat suasana cangggung semakin terasa meskipun terasa familiar melihat sosok bernama Shin. Membuat Sheira nggak nyaman. Sheira melirik ke arah Shin yang fokus menyetir, dilihat dari samping pun visualnya benar-benar seperti model, ganteng nggak ketulungan. Hanya menyayangkan saja sikapnya yang arogan membuat Sheira ilfil. 


"Hei, Shin. Apa kita saling kenal sebelumnya? Gue cuma merasa familiar saja melihat lu, padahal baru ketemu." Sheira mencoba menghilangkan rasa canggung. 


Shin nggak menyahut. Diam. Lama. Membuat Sheira kesal. 


"Ternyata budeg, ya! Sayang banget, tampang oke tapi kuping budeg!" 


Giliran Shin yang kesal. 


"Kalau lu merasa familiar dengan gue, berusahalah buat mengingat semuanya. Datang seenaknya, melupakan juga seenaknya." Ujar Shin agak menggerutu. 


"Hah?! Apa maksud lu?" Sheira bingung dengan ucapan Shin.

__ADS_1


"Jangan ajak gue ngomong." timpal Shin lagi. 


Ciihh... Sheira mendengus. 


__ADS_2