
bab 3 pertemuan
aku terbangun, ku rasakan tangan ku di gemgam seseorang, dan sedikit nyeri di tangan ku,
saat ku buka mata ku dan kesadaran ku benar benar pulih, yang mengemgan ku adalah tangan istri ku,
" hmmm dia tertidur kelelahan " itu lah di pikiran ku
sebuah jarum infus menusuk kulit tangan ku
" dedek sudah bangun " setelah ku lihat aak andi berdiri dengan sebuah kantok plastik di tangan nya
" kenapa adek di sini aak" tanya ku
tiba tiba istri ku bangun
" maaf aak diah ketiduran " kata istri ku diah pun berlari ke kamar mandi
" dedek enggak ingat apa pingsan " kata aak andi " bikin semua panik aja "
" ia enggak harus sampe di bawa kesini aak " jawab ku.
" adek itu pingsan nya lama!!! " kata aak andi "adek tau jam berapa sekarang "
" ya enggak tau lah aak " jawab ku
" sekarang jam 10, adek pingsan jam 3" jelas aak andi
" adek!! ada masalah apa ? " tanya aak andi tiba tiba menarik kursi dan duduk di dekat kepala ku
" enggak ada aak!! dedek paling capek doank "
" aak yakin adek punya masalah, ini bukan adek yang aak kenal " kata aak andi
ku alihkan wajah ku dari tatapan mata aak andi.
" aak tunggu kapan pun adek mau cerita " kata aak andi sambil berdiri dan mencoba meninggalkan aku,
diah pun keluar dari kamar mandi , ku tarik tubuh ku dan ku sandar kan pada ujung ranjang
"aak udah mendingan!! aak !! " tanya diah
ku angukan kepala ku
" kalau capek tidur aja " kata ku sambil ku raih air minum di dekat ku
namun diah mencegah nya, dan memberikan air itu dari tangan nya. aku diam teringat kata kata aak andi
aak andi memang sangat menyayangi ku, mungkin karena aku lah adik satu satu nya, atau mungkin jarak kami yang terlalu jauh, hingga ia tau bagaimana memperlakukan seorang adik
saat aku masih sekolah segala kebutuhan ku dia lah yang menanggung nya. bahkan mobil yang ku pakai saat kuliah pun adalah pemberian nya.
wajar bila ia tau bahwa aku menyembunyikan permasalahan ku
walaupun ia menikah perhatian nya tetep tidak berubah. bahkan saat ini pun dia masih sempat menjenguk ku
hati 3 aku telah pulang dari rumah sakit. cuti ku tinggal 3 hari lagi
aku dapat jatah cuti menikah 3 hari dan ku ambil cuti tahunan 3 hari
orang malam pertama penuh dengan keseruan berbeda dengan ku, aku berada di rumah sakit
3 hari berlalu semua berjalan seperti biasa, tidak ada layak nya pengantin baru,
punya ku sama sekali tidak merespon apa pun yang di lakukan diah istri ku
hati ku sangat tergangu dengan masalah ini,
aku dapat melihat rasa kecewa di wajah diah. namun aku tidak ingin membahas nya lebih dalam.
karena ku tau aku bukan inpoten tiap pagi sebelum nikah atau pun saat aku menonton film adegan ranjang punya ku berfungsi baik
namun ini sama sekali tidak berfungsi
" apa diah enggak seksi di mata aak" kata diah
" enggak kok " jawab ku
" apa diah enggak cantik di mata aak"
" hmmmm kalau enggak cantik kenapa aku nikahi kamu " jawab ku
khaaahhhh tuhan hidup ini!!!
permainan apa lagi yang kau berikan untuk ku
khaaahhhh dalam lelah ku
ohhh tuhan apa lagi ini.
rasa takut bahwa aku gagal sebagai suami hadir di hati
ketakutan semakin menjadi setelah hari ke 10 setelah aku keluar dari rumah sakit punya tetap tidak merespon
rasa takut ini lebih dari rasa takut saat aku membebani kan diri bertemu dengan aak asep
aku ingat pernah menemui aak asep
di tahun ke 2 kuliah ku.
pagi itu mama mendapat kan kabar bahwa nenek ku fi cigombong meningal dunia setelah di rawat 1 minggu di rumah sakit ciawi
sebagai cucu aku pun pernah menjaga nya saat hari libur kuliah
mama ku sangar terpukul bersama papa mereka menuju cigombong
aku yang saat itu sedang di kampus segera pulang kebetulan hanya ada 1 mata pelajaran
sesampai di cigombong aak adi dan ke 2 teteh ku sudah ada di sana termasuk sepupu dan semua anak menantu semua kumpul di sana, aku juga turut bersama sepupu membaca kan yasin di samping jenazah nenek
saat usai, aku yang sedang kumpul dengan sepupu ku.
di kejutan oleh seorang wanita ku taksir berusia sekitar 40 tahun
" adii ya!! " kata ya
" ia...siapa ya!! " tanya ku karena aku asing melihat nya
" ini teteh nya aak asep " jleeegggarrr hati ku saat itu
" aak asep..." ku gigit bibir ku sebuah luka yang selama ini aku lupakan.
wajah ku menoleh ke kiri ke kanan
' khaahhh " ku lepaskan nafas ku
" bagaimana kabar aak asep teh" tanya ku
" dia ada di rumah " kata teteh fitri
" kenapa enggak kesini " selidik ku
"sibuk ngurus sawah orang sama angonan embekk" Jawab teh fitri
" ouuhhh gitu ya teh " aku ingin cepat berlalu pembicaraan ini
" adi kuliah di mana " tanya teh fitri
" di depok teh" jawab ku
" main atu ke rumah aak asep ada di rumah. udah punya anak 3 " kata teh fitri
__ADS_1
" emang boleh teh " tiba tiba aku bersemangat
" ya boleh aja atuh "
" ntr adi anter pas teteh pulang " kata ku
"ooo boleh sekalian nanti ya "
selama proses pemakaman nenek, hati ku di selimutin emosi, kebencian ketakutan entah apa lagi semua itu menjadi 1
ada ke inginan untuk menghajar nya
ada ke ingin untuk bertanya kenapa ia melakukan itu terhadap ku
dan kenapa ia lari??
takut kah!!
kalau ia takut kenapa ia lakukan
kekecewaan ku di tinggal fahmi, di tambah kerinduan ku akan diri nya
ingin aku tumpah kan semua emosi dalam hati ku pada si keparat itu asepp
setelah selesai proses pemakaman nenek
hati ku yang awal nya kuat untuk bertemu, tumbuh keraguan di hati ku
terlintas ingin mengajak aak andi tapi aku takut keributan
ingin mengajak mama aku takut ini akan menyebabkan ia sedih
aku berharap teh fitri lupa dan tidak mencari ku, namun. saat aku sedang asik cengkraman dengan sepupu ku teh fitri datang menemui ku
saat itu jam menunjukan jam 3 sore
" adii hayuu!!! " kata teh fitri
aku segera beranjak
" maaammm !!! adi anter teh fitri dulu " kata ku pamit pada mama ku
setelah ku cium tangan mama ku
kami pun berangkat, teh fitri membawa 3 orang anak nya yang pertama dan ke 2 cewek udah kelas 3 dan 1 sma
sementara yang kecil laki laki kelas 2 smp itu kata teh fitri
rumah teh fitri sudah permanen, tepat di pingir jalan, mobil pun ku titip kan di rumah teh fitri
setelah duduk sebentar
aku pun di ajak teh fitri ke rumah aak asep
sepanjang perjalanan kami menelusuri jalan setapak yang masih dari tanah di kiri kanan terdapat sawah
jantung ku berdetak dengan sangat kencang, nafas ku sedikit sesak, dan emosi ku seakan akan meluap
terbersit keraguan untuk aku batal kan niat bertemu dengan asep hari ini
sehingga kaki ku sedikit ku pelan kan hingga jarak antara aku dan teh fitri menjauh
karena aku tidak biasa dan konsentrasi pada jalan terbagi
atau mungkin aku yang kurang hati hati
kaki ku tergelincir dan jatuh ke sawah
"srreett brukk"
" ya ampun adii " teh fitri segera menghampiri ku
" he hehehe " aku tersenyum memaksa kan diri
kelihatan dari wajah teh fitri khawatirkan diri ku
" pelan pelan aja " kata teh fitri " kalau teteh udah biasa nama nya juga di kampung "
" ia teh " jawab ku
kaki dan ujung celana panjang ku kotor dengan lumpur sawah
aku bersihkan di sekitar sawah yang ada air mengalir nya
" itu rumah nya " kata teh fitri setelah kelihatan berapa rumah yang ada di sana
teh fitri setelah mengucapkan salam teh fitri teriak
" dikk..." muncul seorang wanita
" ia....ohhh teteh " kata wanita itu sambil menyalami dan memeluk teh fitri terdapat anak kecil di gendong nya
" mana asep " tanya teh fitri
tidak lama muncul seorang anak laki laki
saat ku lihat anak abg itu dari gaya berjalan nya mirip seorang wanita
" aak lagi cari pakan embek teh " kata istri
"ini istri nya aak asep adii, inj anak pertama aak asep " kata teh fitri
" ini yang ke 3 " sambung istri nya
" masih lama dikk" tanya teh fitri
" kurang tau teh "
" udah lama " tanya teh fitri
" udah dari tadi mungkin bentar lagi pulang "
aku melirik anak aak asep, pikiran ku melayang entah kemana
ada perasaan kasihan ada perasaan menyedihkan melihat anak laki laki nya bergaya seperti itu
aku tidak banyak tanya tentang siapa nama, kelas berapa
di saat pikiran ku sedang berkecamuk
kembali muncul anak laki laki lebih kecil dari yang pertama
" nah ini yang ke 2 dii" kata teh fitri
" oooo " hanya itu yang keluar dari mulut ku
setelah ia menyalami kami dia duduk agak jauh dari kami
dan penampilan nya sama persis dengan kakak nya
berjalan cara duduk, gaya nya
" tuhan kok jadi gini ke 2 anak nya " itu lah kata hati ku
" yang ke 3 cowok juga teh " tanya ku
"ia cowok juga " jawab istri nya
" umur berapa teh " tanya ku
" 10 bulan "
__ADS_1
" yang pertama kelas berapa teh "
" yang pertama kelas 3 smp, yang adik nya kelas 1 "
" ini adii yang dulu di jaga dengan asep " kata teh fitri
" oooo gitu ya teh " jawab istri asep
khaahh jaga apaan dalam pikiran ku sinis
seorang pria sudah tampak tua namun dari guratan di wajah nya aku tau itu asep
dengan spontan aku berdiri
dan asep terkejut saat melihat ku
emosi ku hampir tidak terkontrol namun tuhan masih melindungi ku
saat istri nya menghampiri asep
dan teh fitri memegang bahu ku
" asepp kamu ingat ini siapa " tanya teh fitri
istri nya sibuk mengambil celurit yang ada di tangan nya dan anak pertama nya memberikan sebuah handuk dan air minum pada asep.
asep keglagapan saat melihat ku
" asep lupa teh "
senyum sinis ku saat ia bilang lupa, yang membuat asep semakin salsh tingkah
saat mata ku menatap mata nya itu semakin membuat asep tidak bisa berbuat apa apa berapa kali handuk di tangan nya jatuh. begitu pun saat ia meminum air, semua tampak kacau
gelas pun tanpa sengaja jatuh dan pecah
" pranggg"
" ini adii, udah gede kan "
"bener benar lupa dengan aku ya aak" suara ku bergetar menahan amarah
" begitu enak nya langsung menghilang " sambung ku dengan suara makin bergetar
tanpa menyebut nama lagi. bagi keluarga ibu ku bila bicara dengan yang lebih tua harus menyebutkan nama, bila tidak itu tidak sopan. namun untuk kali ini aku tidak menyebutkan nama ku dengan asep
" salah aku apa ya....kok tega melakukan itu dengan aku "
teh fitri dan semua yang ada di situ kelihatan bingung dengan pembicaraan ku
asep bagaikan orang terhakimin aku yang masih berdiri menatap tajam ke arah asep
" asep.setelah berhenti dari tempat adi langsung ke padang di ajak temen nya " kata teh fitri
" oooo gitu bener bener melarikan diri donk" kata ku
" kata nya udah bilang dengan mama adi, mama adi main kesini " kata teh fitri menjelaskan panjang lebar
tiba-tiba saja asep berdiri dan berlari ke arah ku, bertekuk lutut sujud di kaki ku, memegang erat ke 2 kaki ku dan menciumin kaki ku
aku nyaris kehilangan keseimbangan
: aakk minta maaf sama adekkk..." kata asep sambil menangis airmata nya terasa di kaki ku
namun. kebencian di hati ku begitu kuat, ku coba menarik kaki ku namun kuat nya memegang membuat ku ber ulang kali hampir kehilangan keseimbangan. yang akhirnya aku biar kan dengan posisi tetap berdiri
selamat
teh fitri istri nya, dan anak anak nya heran melihat kejadian itu
" maafin aak dekk...aak bener benar minta maaf"
air mata kebencian ku menetes begitu sakit aku menjalani waktu ku
dan semudah itu ia meminta maaf
saat itu usia ku 20 tahun
dalam 10 tahun aku hidup dengan rasa sakit, dengan trauma, dan rahasia ini hanya aku yang tau
" ini ada apa yaa" tanya teh fitri bingung
suara tangisan nya cukup keras mengundang perhatian tetangga yang ada di situ, melihat ke adaab itu aku merasa tidak nyaman
"teh tutup pintu nya " kata ku " bangun lah aak" kata ku selanjutnya sambil mengusap air mata ku.
aku merasa malu, aku merasa tidak nyaman saat tetangga mulai berdatangan,
" teh bilang aja jumpa kangen udah lama enggak ketemu " saat ku lihat banyak tetangga yang melihat dari jendela
" suruh mereka pergi teh " pinta ku
" aak..adi pengen tau!! kenapa aak lakuin itu ke adii " tanya ku setelah ku lihat mulai sepi tapi ternyata
khaahh nama nya tinggal di kampung tetap saja ada yang penasaran
" aak khilaf dekk"
" aak kalau khilaf enggak akan lebih dari 1x " kata ku
" kalau lebih itu bukan khilaf.. itu nafsu akk"
" teteh bingung ini ada apa ya" teh fitri masih belum mengerti
" ia adik juga enggak ngerti " kata istri nya
keraguan di wajah aak asep untuk menjelaskan nya
aku hanya tersenyum sinis, menunggu keberanian nya
ku lihat aak asep memainkan kedua tangan nya untuk mengurangi kegelisahan nya
" sekarang aak mau gimana, apa perlu adi ceritain ke mama dan keluarga adi "
" jangan dekk, ntr anak aak makan apa " kata nya
" aak bener benar minta maaf sama adek" kata asep kembali berlutut di depan ku
aku tetap duduk, namun tangan ku di pegang dengan sangat erat
" adek lihat anak aak, mereka jadi begitu dekk" tangisan semakin. pecah
" ini karma aak dek., maafin aak dekk"
" ini tinggal 1 lagi dek anak aak harapan aak" aak asep mengiba iba memohon maaf ku
entah lah masih ada kebencian di hati ku, hati ku yang beku dingin tanpa kehangatan
tanpa ada jawaban aku tinggal tempat itu,
mungkin maaf ku tak perlu terucap
mungkin bukan saat ini untuk aku memaafkan
karena saat ini yang ada hanya lah dendam dan rasa sakit
biar lah waktu yang akan memaafkan nya
setidaknya itu lah hukuman untuk nya
namun bila karma itu adalah hukuman!! betapa dunia benar benar tidak adil
__ADS_1
anak nya bukan lah pelaku tetapi kenapa anak nya menjadi seperti itu