Cinta Ini Membunuh Ku Secara Perlahan

Cinta Ini Membunuh Ku Secara Perlahan
cinta ini perlahan membunuh ku


__ADS_3

bah 4 keperkasaan


setiap malam ada keraguan untuk tidur bersama istri ku, ya aku tau raut di wajah nya tergambar kekecewaan laki laki yang di harapkan nya tidak seperti yang terlihat


namun semua itu ia sembunyikan di balik senyuman


apa lagi kami masih tinggal bersama orang tua ku sebisa mungkin kami mencoba untuk kelihatan mesra.


diah bekerja di salah bank bumn di kawasan tajur.


malam itu, kami ber2 membahas masalah yang ku hadapi , diah menyarankan untuk konsultasi ke sexsiologi aku pun meng ia kan nya


tapi dalam hati aku akan mencari alternatif yang lain


sebagai manusia biasa hal yang wajar bila diah menginginkan nya karena itu ia menikah


apa lagi hubungan kami sudah hampir setengah bulan tapi belum sama sekali berhubungan badan


pikiran ku melayang walaupun diah tidak mendesak ku namun aku tetap lah terbebani karena masalah utama ada pada ku


di tengah pikiran ku yang melantur tanpa sengaja mata ku melihat sebuah plang nama pengobatan tradisional


di bawah nya dengan tulisan cukup besar


"pijat vitalitas " di sambung dengan "pil biru"


" obat kuat " dengan segera aku mencari cara untuk putar arah karena itu ada di seberang jalan ku


cukup jauh memang untuk memutar balik terlebih lagi saat jam pulang kerja, kemacetan sudah pasti parah,


sebenarnya aku cukup sering membaca iklan seperti ini namun, tidak pernah terpikir kan oleh aku untuk memakai jasa nya


dan sekarang aku membutuhkan nya


ku tepi kan kendaraan ku agar tidak menambah kemacetan, terdapat sekitar 3 pria yang antri menunggu panggilan, sambil menunggu aku sibuk berselancar dengan gadget ku, setelah tiba giliran ku sang terapis bertanya tentang keluhan ku,


apa menjawab apa ada nya bahwa aku baru menikah dan kondisi punya ku tidak memungkinkan untuk berperang


ku tunggu sejenak sang terapis tengah menyiapkan obat


10 butir obat telah di siapkannya


" ini di minum 1x minimal 1 jam sebelum berhubungan " kata nya pada ku


"semua nya berapa pak " tanya ku


" 1 nya 60ribu obat nya ada 10" kata nya


setelah ku bayar ku tinggal tepat itu, saat ku lihat di depan sudah ada pasien lain yang menunggu


jam menunjukan jam 19:20 saat aku tiba untuk menjemput diah


aku di persilakan masuk oleh satpam yang menjaga untuk menunggu di dalam


sebelum rasa bosan ku hadir diah menghampiri. ku, kami pun berencana untuk makan di luar


di tengah perjalanan diah bertanya


" aak udah ke sexsiologi " tanya nya


" udah " kata ku sambil tersenyum


" trus kata nya apa "


" di kasih obat aja "


sesampai di rumah, aku lihat papa dan mama sedang asik nonton,


mama berdiri menyambut ku, serta tidak lupa ku ciuman pipi nya begitu juga dengan istri ku


" mam pap adi langsung ke kamar nya " kata ki


" ia enggak apa-apa " kata mama ku pada hanya dian saja


" kalian udah makan kan " tanya mama ku


" udah mam makan di luar " jawab ku


" bagus lah. mama enggak masak soal nya "


" emang bi ati kemana ma"


" dia sakit "


" ooo.. ya udah masuk dulu "


saat aku di kamar, dia sedang mandi sementara aku tiduran di ranjang


saat aku teringat obat kuat


segera ku minum. di 5 menit di awal belum menunjukkan reaksi


setelah diah keluar selesai mandi


kini aku membersihkan tubuh ku


hanya 15 menit di kamar mandi


jantung ku mulai berdebar debar nafas ku mulai memburu, sedikit terasa sesak


padahal aku habis mandi tetapi yang aku rasakan cukup panas di tubuh ku,


reaksi obat kuat mulai aku rasakan, nafsu ku mulai bangkit


namun otak ku masih berpikir jernih, senjata ku mulai menunjukkan aktivitas liar nya, saat di ranjang


aku mulai menjelajahi tubuh istri ku, dari setiap lekukan nya, gudukan material kembar nya mulai aku jelajahi


aku mulai memcumbuinnya, tangan ku 1 bermain dengan kacang merah nya


diah mulai menunjukkan serangan balasan nya, ku rasakan di tangan ku yang bermain dengan kacang merah nya terasa basah dan lengket


tubuh nya mulai terasa panas, mata nya mulai terpejam


aku pun mulai memasuki tubuh nya, dan kami pun bersatu

__ADS_1


mata diah terpejam, punya ku bagaikan di cengkram dengan sangat erat, terasa hangat dan basah


******* nafas diah dapat ku dengar dengan jelas, aku terus memacu nya


apakah aku menikmati nya ?? tidak sama sekali nafsu dan otak ku punya pikiran masing masing


2 jam berlalu aku belu juga memuntahkan lahar panas ku dan


diah merintih kesakitan


" aaak sakit, pedih aak" teriak diah di telinga ku


diah tampak kelelahan sementara aku di dera rasa sakit di senjata ku yang belum memuntahkan peluru nya


pinggang ku terasa sangat pegal


bila ada yang bilang mustahil aku tidak menikmati nya, aku bersumpah diri mu atau anak mu yang menerima hukuman ini agar kau dapat merasakan apa yang ku rasakan


" aak udah!! sakit aak" rintihan diah membuat ku menghentikan aktivitas ku,


diah mencoba mengatur nafas nya.


dan tiba-tiba aku merasakan sakit kepala, terasa tegang di semua urat kepala ku hingga ke punggung ku, rasa ini membuat tidak nyaman


aku turun dari ranjang dan melakukan aktivitas manual ku


aku benar benar tersiksa dengan keadaan ini


tanpa suara hanya aktivitas tangan ku yang bermain


teraa pedih di senjata ku, namun tetap ku paksa kan untuk keluar agar urat urat ku menjadi kendor, tangan ku terasa sangat pegal, saat aku memuntahkan nya rasa sakit di kepala ku sedikit berkurang


aku sangar memaksakan diri untuk hal ini


lantas kenapa aku pakaakan diri ku,


tidak lebih tidak kurang karena diah adalsh istri ku.


penderitaan ini mungkin tidak sebanding saat untuk ke 2 kali nya aku bertemu dengan aak asep


hari ke 3 setelah wafat nya nenek ku, di sunda di sebut emak di adakan acara


takziah selepas isya. para tetangga mulai kumpul untuk mendoakan nenek ku.


begitu juga dengan anak cucu nenek


saat acara akan di mulai, semua mata melihat ke arah pintu termasuk aku mengamati siapa saja yang datang, karena ruangan di dalam masih ada yang kosong.tamu pun duduk di dalam, mata ku tertuju ke teh fitri di belakang nya ada suami nya, dan aku tidak menyangka bahwa aak asep datang ke tempat itu juga. hati ku yang masih belum nerima kehadiran nya segera keluar dari ruang itu


"aak adi mau kemana " tanya adik sepupu ku


"di dalam panas mau keluar aja " kata ku.


aku duduk di pondok di pingir jalan, terdapat kebun warga di dekat nya, ini adalah tanah bnn yang di garap warga sekitar untuk berkebun


rumah nenek masuk ke dalam gang sekitar 20 meter,


saat sku duduk ku lihat seseorang yang cukup tinggi berjalan ke arah ku, karena sedikit gelap aku tidak bisa memastikan siapa pria itu


" adiii!! teteh cari adi " tiba tiba teh fitri ada di depan ku di belakang nya ada suami nya


" emang adi ada masalah apa dengan asep" kata nya " teteh pengen tau aja "


" tanya aja dengan aak asep teh " hati bergemuruh menahan air mata ku agar tidak jatuh


untung nya sedikit gelap malam itu


"teteh tanya itu ituin kamu, teteh enggak ngerti" tanya teh fitri penasaran


" udah teh adi pengen jalan ke atas " kata ku memcoba menghindar


" adii kamu harus cerita "teh fitri memegang tangan ku


aku sudah enggak sangup lagi air mata ku jatuh


teh fitri mencoba merangkul ku


" adi kamu harus sabar !!! " kata teh fitri sambil merangkul ku


mungkin kata ini cukup bijak bagi sebagian orang dan cukup menghibur namun sebenarnya ini bukan lah kata penghibur namun. kata kata penghakiman


emosi ku sedikit meluap


" teh kurang sabar lagi adi " kata ku dengan suara ku tekan dan sedikit bergetar menahan emosi dan menahan air mata ku untuk tidak jatuh


"keluarga adi. saudara saudara adi, orang tua adi enggak ada yang tau teh " aku diam sejenak untuk menahan nafas ku


" dari 10 tahun teh sampai saat ini enggak ada yang tau, kurang sabar apa adi" kata ku lagi


"karena itu adi teteh pengen tau apa yang terjadi "


" tanya dengan. aak asep apa yang dia lakuin saat adi kecil dulu " kata ku dengan suara agak meningi


ku coba meredakan emosi ku ku atur nafas ku


" dia enggak mau cerita adi " kata teh fitri


" ngomong nya di itui ituin " sambung teh fitri


hmmm ternyata dia bener benar pecunda, ku tinggal teh fitri dan berjalan ke atas,


bagi ku


ini aib dan aku sangat malu untuk mengungkapkan nya sehingga semua nama adalah samaran dan tempat sedikit aku geser kan dan ku samar kan demi nama baik keluarga dan aib diri ku untuk tetep tersembunyi


bagaimana pun aku lelaki walaupun saat itu aku hanya lah seorang bocah


bila seorang wanita dia dapat mengadu dia dapat menangis


tapi untuk seorang anak lelaki saat menangis


" eeee anak cowok kok nangis " kata kata itu sering tergiang di telinga ku sehingga aku sembunyi kan permasalahan ku


aku pun membiarkan mereka dengan pikiran mereka aku tidak peduli dengan apa yang ada di otak mereka


" dedek!!! dedek kenapa " aku terkejut ketika aku berjalan di depan ku sudah ada aak andi

__ADS_1


" aak kenapa disini" tanya ku


" adek habis nangis " du usap nya sisa air mata ku


"itu siapa disana yang ngobrol dengan adek"


aku takut aak andi memaksa ku untuk cerita lebih banyak "eeeee itu teh fitri dengan suami nya" kata ku


" aak kenapa enggak nyasinan" tanya ku


"adek juga kenapa enggak yasinan " tanya aak andi juga


" kenapa mereka di sana " tanya aak andi


" ngobrol biasa aja aak" jawab ku mata aak andi tajam melihat ke arah ku


mata ku berusaha menghindar dari tatapan aak andi


"adek lihat mata aak " aku ingin lari tapi tangan ku di pegang erat oleh aak andi


" kenapa sih aak" tanya ku yang membuat semakin. tidak nyaman


" apa yang adek sembunyi kan dari aak"


ku alih kan pandangan mata ku


" lihat aak adek.."


"adek ingin ke atas aak, adek pengen sendiri dulu "


" khaaahhhh aak tunggu kapan adek ingin cerita ya" aak andi pun melepaskan tangan ku


gelap sepi disini,


hanya suara binatang malam yang memecah kesunyian


aku adalah bagian dari penciptaan mu tuhan, hati ku hanya lah bagian terkecil yang aku miliki namun ia menampung semua beban yang kurasakan


apakah aku terlalu cengeng,


atau aku terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan


atau aku lah yang terlalu bodoh untuk menanggung semua ini sendiri


" hallo mamm" ketika hp ku berbunyi


" adi di mana sayang" tanya mama ku


" adi lagi lihat lihat suasana malam di atas maa"


" adi pulang dulu kesini adek adek kamu pada cari "


" ia mama "


saat aku berjalan turun, aku bertemu dengan adek sepupu ku


" aak kenapa enggak yasinan"


" aak lagi galau "


" aak kata wawak pulang "


" ia ini juga mau pulang "


saat aku di rumah nenek


masih ku temui aak asep dan suami teh fitri. aak asep tidak berani mengangkat wajah nya


wajah nya tertunduk di hadapan mama, aak andi, dan papa, mungkin untuk bergerak saja ia merasa kan takut


saat di tanya pun jawaban nya sangat singkat


walaupun aku melihat keadaan nya seperti itu aku tetap membenci nya.


aku tau ia datang kemarin atas desakan papa dan mama.


sehingga ia pun terpaksa datang.


aku ingin menghampiri nya dan duduk dekat dengan keluarga ku


dan aku yakin itu akan membuat nya semakin ketakutan


namun adek sepupu ku memaksa ku untuk bergabung dengan mereka


mereka pun cerita banyak kepada ku dan bertanya banyak hal


maklum lah kami jarang bertemu dan usia aku tidak terlalu jauh berbeda walaupun ada umur nya lebih tua dari ku, mereka tetap memangil ku aak


setelah ku rasa kan cukup berkumpul dengan mereka aku hampiri mama dan papa di dekat nya aak asep benar benar tidak banyak bergerak


ku lihat saat aku duduk di dekat mama ku. dapet ku dengar nafas nya sangat berat dan ia sama sekali tidak berani menatap ke arah kami


" aak asep kenapa kayak gitu maa" tanya ku seolah olah bodoh aku redam kebencian ku untuk menyakiti nya saat ini


" kamu sakit sepp" tanya mama " kalau sakit berobat ntr anak anak kamu susah " ku akui mama sangat baik


dan perhatian


"di tanya itu di jawab " papa ku memukul paha aak asep


" dari tadi menunduk mulu kamu nya "


" asep wajah nya di angkat " kata aak andi yang duduk di samping aak asep


aku lihat teh fitri sangat gelisah melihat keadaan asep yang berada di tengah tengah kami


saat suami teh fitri menghampiri dan duduk bersama kami


" wak kita mau pulang nih udah jam 10" kata suami teh fitri


" ia nih keburu kemalaman wak " kata teh fitri yang ikut duduk bersama kami


" hei mau pulang enggak dari tadi diam aja " aak andi memukul bahu asep


aku menjauh dari tempat itu dan kembali berkumpul dengan sepupu ku

__ADS_1


__ADS_2