
"Meliiiaa..!" teriak Darmi selaku mertua dari Melia.
"Iya... ada apa ma," jawab Melia.
"Enak ya jam segini kamu malah masih bermalas-malasan di kasurmu itu," marah Darmi
karena hingga siang hari Melia masih berada di kamar tertidur sampai melupakan tugasnya di rumah tersebut dan hingga mengabaikan suaminya sendiri.
"Maaf Ma, kepala Melia terasa pening Ma, Melia lemas nggak kuat berdiri," ucap Melia jujur.
karena benar adanya mungkin karena kelelahan setiap hari mengurus membersihkan rumah kini tubuh Melia pun mulai berontak untuk di istirahatkan, tapi mungkin itu hanya angan-angan saja karena kini di depannya sang Mertua sudah mulai mengoceh karena rumahnya masih kotor hingga siang hari. terlebih sarapan dan makan siang pun kini tidak tersaji di meja makan.
"Alasan saja kamu ya, dengar anak saya sudah banting tulang kerja di luar sana. jangan mentang-mentang kamu itu istrinya santai begini ya. tugasmu itu harus rawat rumah bukannya tidur-tiduran seoerti sekarang mengerti," ucap Darmi.
__ADS_1
"Iya Ma, Melia tau itu, tapi kini sungguh ma badan Melia lemes banget," ucap Melia sendu, karna benar jika di lihat wajah Melia kini sudah pucat pasi, badannya yang demam.
"Tidak ada tapi-tapian pokoknya selesaikan tugasmu di rumah ini, Saya ingin rumah ini harus bersih, dan jangan lupa siapkan makan siang sekarang karena sebentar lagi waktunya makan siang dan Saya sudah lapar,"ucap Darmi seraya pergi meninggalkan Melia yang masih tidur di kasurnya.
Mendengar ucapan sang Mertua, Melia pun berusaha membangunkan tubuhnya, dan berhasil dalam posisi duduk. tapi itu tak berselang lama, ketika Melia berusaha berdiri karena kondisi Melia yang masih drop yang menjadikan kakinya tidak kuat menopang berat badannya sendiri hingga ia jatuh di atas keramik yang keras itu.
"Aarrgh" ringis Melia yang merasakan sakit pada lutut dan telapak tangannya.
Setelah berusaha mati-matian untuk berdiri dan menuju dapur. Melia pun kini memulai acara memasaknya, walau kondisi badannya yang sedang lemah. tapi itu semua tidak ia pikirkan ketimbang mendengar ocehan yang lebih lagi dari sang Mertua.
Memang sederhana itu karena hanya itu yang tersedia di dapur untuk di masak.
Mencium arima masakan yang menguar dari dapur, membuat cacing dalam perut Darmi membrontak untuk di isi dan bergegaslah ia menuju meja makan yang kini sudah di hidangkan makanan oleh Melia.
__ADS_1
Melihat makanan yang begitu sederhana di depan matanya membuat Darmi sedikit kesal dengan Melia.
"Apa makanan begini saja yang bisa kau sajikan terhadap mertuamu sendiri hah!,, tidak bisakah kau masak makanan yang lebih layak buat saya, tidak hanya rahimmu yang bermasalah tapi dirimu juga bermasalah. makanan rakyat jelata begini kau sajikan untukku. saya rasa ini tidak akan ada rasanya atau tidak rasa makanan yang sangat buruk yang pernah akan saya makan. buang itu semua saya tidak sudi memakan makanan sampah seperti itu." ucap Darmi sedikit ber api-api mengomentari hasil masakan dari Melia.
Sakit, sedih, kecewa itu yang kini di rasakan oleh Melia. Bagaimana tidak merasakan sakit hati jika hampir setiap hari sang mertua akan memarahinya terlebih selalu mengungkit tentang kekurangannya yang tidak akan bisa memberikan keturunan dalam keluarga tersebut.
Semua ini bermula dari 1 tahun lalu setelah melangsungkan pernikahan selama 2 tahun yang tak kunjung dikaruniai seorang anak membuat Melia dan sang suami Rangga Pangestu memutuskan untuk cek up di salah satu Rumah sakit.
Setelah melakukan pengecekan terjawab sudah apa penyebab dari masalah tersebut, dalam pengecekan itu mengeluarkan hasil yang sungguh menyakitkan bagi setiap wanita apalagi jika sudah menikah apa lagi jika bukan sebuah kata MANDUL.
Ya benar melia di nyatakan mandul oleh dokter dan itulah penyebab dirinya tidak kunjung memiliki keturunan sampai sekarang. dan itu semua menjadi kunci awalnya penderitaan yang kini Melia hadapi.
Mulai dari mertuanya yang selalu marah-marah tanpa sebab terhadapnya, menyuruhnya tanpa henti untuk tugas-tugas yang tidak biasa ia kerjakan, dan paling parah jika itu semua tidak membuat hati sang Mertua senang maka hinaan dan cacian yang akan keluar dari mulut sang mertua.
__ADS_1
Dan semua itu membuat perasaan Melia hancur.