
Pagi hari seperti biasa Wiguna sudah bangun dari tidurnya sebelum pukul 6. karena jika ia bangun sampai lewat jam itu jangan ditanya bagaimana nasib telinganya nanti akan di ceramahi ibunya terlebih sekarang masih hari sekolah.
setelah selesai membersihkan diri dan memakai dan menyiapkan perlengkapan untuk bersekolah Wiguna pun turun dari lantai 2 menuju ruang makan yang disana kini telah duduk ayahnya, Bryan Dharmawan.
"Pagi yah," sapa Wiguna.
"Pagi juga sayang," saut Bryan.
"Ibu mana Yah? " tanya Wiguna
"Tadi katanya ke toilet bentar habis nyiapin sarapan, mungkin panggilan alamnya." ujar Bryan.
"ooh gitu.. " Wiguna
"eeehhh anak Ibu udah ganteng aja, makin sayang deh" ujar clarisa putri yang merupakan Ibu dari Wiguna. seraya memeluk Wiguna dan mencium pipi sang anak.
"Anak nya aja yang terus di cium, yang laen di anggurin." ejek Bryan.
"Ih Ayah sama anak sendiri cemburu begitu." clarisa.
__ADS_1
"Gimana nggak cemburu pagi-pagi bukannya nyium Ayah malah nyium anaknya." ujar Bryan seraya memasang wajah yang merajuk.
"ish, Ayah ini ya," ucap Clarisa sambil tersenyum menyeringai , walau terlihat menggoda tapi sebenarnya wajah seperti itu yang di takuti dari sosok Clarisa untuk Bryan. karena di balik itu semua akan ada hal yang mngkn akan merugikan Bryan, contoh di usir untuk di suruh tidur di sofa dan paling parah dirinya tidak akan di beri jatah.
"Udah ah,, pagi-pagi udah pada drama, mana lagi Ayah yang duluan kayak ABG aja, ya udah Guna udah selesai sarapan, Guna brangkat sekolah dulu ya" pamit Wiguna seraya menenteng tasnya menuju ke depan rumahnya dan menghampiri si jarwo motor kesayanganya yang sudah dia ajak mengalami manis paitnya kehidupan semenjak bisa mengendari sebuat sepeda motor.
sementara itu di rumah Melia dengan waktu yang berbeda, Melia kini sedang duduk di meja makan bersama keluarga minus sang adik karena belum selesai memakai seragam sekolahnya.
"Buu.. sepatu sekolah Rian dimana, kok nggak ada di rak sepatu?!!" teriak Rian dari lantai 2 tempat kamarnya berada.
"Mungkin di bawah kasurmu coba cari dulu!!" teriak Diana juga dari bawah.
"Anak kamu juga kali" timpal Diana
setelah sepatu yang di cari oleh Rian ketemu dan langsung memakainya, Rian pun turun ke bawah guna untuk sarapan mengisi perut yang sudah berisik dari tadi.
sesampainya di ruang makan Rian pun terkejud karna melihat kakak yang di ketahui sudah menikah kini berada di rumah apalagi duduk bersama di ruang makan.
"Ka Amel... "ucap Rian.
__ADS_1
"Iya Yan," jawab Melia.
"Kakak kok bisa disini Pagi-pagi. trus kak Rangga di mana kok nggak kelihatan.?" tanya Rian.
mendengar pertanyaan yang di utarakan oleh Rian membuat sakit hati Melia yang sudah terluka malah sekarang membesar tatkala mengingat sang suami yang kini akan menceraikannya. Air matanya pun perlahan ingin keluar tapi Melia tahan mengingat ada sang adik yang masih berdiri di depannya.
"Kakak mu baru tadi pagi datang, katanya kangen maen kesini, trus masalah suami kakakmu udah berangkat kerja mungkin." ucap Diana. mencoba mengalihkan suasana yang tadi sedikit tegang karena ucapan Rian.
"Owh begitu ya , Ah kangen sama kakak" ujar Rian seraya memeluk Melia.
"kakak juga kangen sama kamu Rian, sekolah kamu gimana dek?" tanya Melia.
"Sekolah Rian mah baik-baik aja kak, malahan Rian sama teman-teman Rian jadi idaman di sekolah, secara adik kakak ini kan tamvan." ujar Rian seraya menaik turunkan alisnya sambil tersenyum.
"ya ya adik kakak kan memang ganteng." ucap Melia menimpali
"Udah jangan ada yang bicara lagi, sekarang waktunya sarapan jangan ada yamg bicara mengerti" ucap Rio tegas.
acara sarapan di pagi hari itu pun berlangsung dengan damai dan cuma terdengar dentingan sendok dan piring tatkala mereka mengambil makanan yang akan di masukkan ke mulut.
__ADS_1