
Karena Melia pergi pada hari menjelang malam yang berakhir melia kini sampai di rumah orang tuanya pada malam hari.
Sebenarnya Melia tidak mau datang ke rumah ini, bukan karena tidak menganggap orang tuanya lagi. melainkan ada rasa sedih mengingat keadaannya sekarang entah apa yang akan orang tua nya rasakan ketika tau anak perempuannya kini kembali ke rumah mereka setelah menikah bukan berkunjung sebagai menantu orang melainkan akan menjadi janda.
Melia bimbang untuk masuk atau tidak, hingga tangannya pun bergerak untuk memecet bell rumahnnya. tapi belum sempat melia memencet bell seseorang mengagetkannya dengan cara memegang bahu dan bersuara di sampingnya.
"Kak Melmel, " ujar orang tersebut.
mendengar ucapan itu, telinga Melia merasa tidak asing dengan panggilan tersebut. karna hal itu dirinya pun berbalik dan membuat Melia sedikit terpana karena melihat ketampanan pria di depannya ini.
melihat kediaman Melia, pria yang sedari tadi berdiri di hadapan Melia pun melambaikan tangannya di hadapan Melia. Melia yang di perlakukan seperti itu pun mulai tersadar ke dunia nyata.
"Kak Melia kenapa kok diam? " tanya pria tersebut.
"Kamu siapa ya?, kok bisa tau nama saya? " tanya Melia.
"Kakak kok lupa sama saya sih, ini aku Kak, dedek Unna mu, apa kakak ingat? " tanya yang mengatakan namanya Unna itu.
"Kamu Wiguna dharmawan kan,?" ujar Melia.
"Iya kak, apa Kakak ufah ingat sekarang sama aku." ujar wiguna.
"Ini beneran kamu Gun.. Kok beda banget, dulu kamu kan gendut, pipi cabi, imut begitu, kok sekarang badan kekar begini, wah pasti ini semua karena cewek ya?" ucap Melia sambil tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Itu kan dulu kak, sekarang aku kan udah SMA ya pasti bedalah, kakak baru gak ada perubahan sama sekali, mana lagi lebih pendek dari aku" ejek Wiguna balik.
"Ya ya,, terserah kamu lah Gun, ngomong-ngomong kok kamu ada di luar jam segini." tanya Melia
mendengar pertanyaan itu Wiguna pun mengangkat belanjaan di tangannya.
"Ini aku lagi belanja kak, beli jajan tadi di warung depan" Wiguna.
"Owh begitu toh, pantesan. " Melia
"Trus kalau kakak kenapa kok jam segini di depan rumah orang tua kakak, mana lagi bawa koper besar begitu, trus suami kakak mana, kok nggak nganter kakak" tanya Wiguna
"ah, Ooh,. Ini kakak lagi pengen ketemu orang tua kakak aja, kalau suami kakak lagi di luar kota, jadi kakak sendiri kesini. " ucap Melia dengan sedikit gugup.
"ah,, kalau masalah itu soalnya kangennya udah gak bisa di tahan akhirnya langsung jalan aja kesini, hehehe"Melia.
"Oohh begitu, ya udah sana kakak masuk, paling jam segini Om Rio sama Tante Diana belum tidur" ucap Wiguna.
"Ini juga mau masuk, kamunya aja yang ngagetin tadi" bela Melia.
"Ya ya ya udah sana masuk, dek Unna mau ke balik pulang dulu ya kak Melmel."canda Wiguna sambil pergi dan melambaikan tanganya.
melihat kepergian Wiguna yang sudah masuk ke dalam rumahnya yang berada di depan rumahnya. kini Melia di hantui perasaan itu lagi karena sekarang dia harus menjawab apa kepada orang tua nya.
__ADS_1
tanpa menunggu waktu lagi Melia pun menghela nafas panjangnya, dan tangannya mulai mengulur untuk memencet bell rumahnya.
ting tong
ting tong
ting tong
suara bell rumah berbunyi, setelah beberapa saat terdengar suara langkah seseorang mendekati pagar rumah itu dan mulai menggeser gerbang dan terlihatlah sosok wanita tua berumur walau begitu wajahnya masih bisa dibilang cantik untuk ukuran wanita se umurannya itu.
setelah gerbang terbuka wanita itu pun sedikit terkejut melihat kedatangan Melia ke rumahnnya dengan acara dadakan terlebih ketika di lihat Melia datang seorang diri dan membawa koper besar di sebelahnya.
sedikit lama dalam kediaman, beberapa saat setelah itu terdengar suara bass yang Melia kenal datang dari arah pintu rumahnya.
"Ma,, siapa itu yang datang kok lama banget di luarnya" ujar seorang pria paruh baya yang merupakan ayahnya Melia sendiri yang kini sudah berada di hadapan dirinya dan sang ibu.
Melihat yang datang ternyata anak perempuan kesayangannya membuat hati Rio sedikit bahagia namun setelah itu semua itu sirna melihat Melia yang datang seorang diri, dan melihat koper yang di bawanya membuat pikiran Rio melayang kemana-mana sama seperti perasaan Diana sedari tadi.
"Melia.. " ucap Diana
"Ma, Pa,, " Melia.
"Masuk kedalam sekarang, kita bicarakan semua ini di dalam, di luar dingin, MASUK.. " ujar Rio di barengi suara tegasnya di akhir kalimat.
__ADS_1
mendengar itu Melia pun mulai masuk membawa kopernya yang sedikit di bantu oleh Diana.