Cinta Semusim

Cinta Semusim
Jika kau tak pernah jadi apa-apa


__ADS_3

Kau melihat teman-teman dan mereka sudah mendapatkan impian. Sementara kau masih termangu, menggenggam harapan. Pelan, dalam hati kau berujar, “Kapan mimpiku terwujud?”


Selama perjalanan mencapai tujuan, adakalanya kau melihat sekeliling… menakar jauh jangkauan. Atau, kau malah membandingkannya dengan orang lain. Lalu, lupa melanjutkan perjalanan.


Benarkah segala usaha dan upayamu selama ini lebur bersama kecewa yang kau bangun sendiri? Sungguhkah sesuatu yang hanya kau lihat dalam dunia maya menjadikanmu merasa bukan apa-apa?


(Jika kita tak pernah jadi apa-apa : Alvi Sharir)


****


Pagi yang cerah, burung-burung bernyanyi, angin menyapa mengucapkan selamat pagi, oh betapa indahnya hidup. Tapi itu sama sekali tidak berlaku untukku. Aku bahkan tidak tau hidupku dimulai dari mana, apakah dari sebuah pagi yang cerah, atau malam atau sore.


"Bundaaaa.... adek mau eek!!!"


"Sebentar, bunda balik gorengan nanti gosoongg!! Aku berteriak sambil menahan perih sebab cipratan minyak goreng panas terkena kulit.


Si adek sudah berjalan ke WC sambil menggerutu, usianya dua bulan lagi masuk empat tahun, tapi cerewetnya minta ampun. Belum lagi aku menyusul anak bungsuku ke WC, si abang yang tahun ini masuk SD, berteriak- teriak.


"Adek, cepetan!!!"


"Abaaang mauu mandiiii!!!"


Klenteng klenteng....


Tok...Tok...


Prangggg...


Suara panci terjatuh ke lantai serta centong nasi yang dipukul ke pintu WC, ribut sekali.

__ADS_1


Begitulah pagiku diawali, indah bukan??... Dan itu setiap hari. Sementara dimana suami, oh iya, mas Dennis pagi-pagi seperti ini sudah mandi dan akan bersiap ke kantor, dia dosen di sebuah universitas di kota kami.


Sedang aku? Yah, aku hanya seorang ibu rumah tangga dengan wilayah kerja yang tak jauh-jauh dari sumur, dapur dan kasur. Sungguh bukan impianku sama sekali.


Usiaku tiga puluh tahun bulan depan. Kulihat teman-teman kuliahku dulu sudah sukses dengan karier mereka, mendapatkan pekerjaan bagus, bahkan ada yang melanjutkan kuliah lagi, ikut seminar ini itu, bepergian kesana kemari.


Sedang aku, tetap berjalan ditempat, setiap hari mengurusi pakaian kotor, memastikan suami dan anak-anak makan lauk apa hari ini, oh tidak lebih tepatnya suami, anak, mertua dan adik ipar. Jangan lupakan bahwa kami masih menumpang di rumah mertua.


Perjalanan dinas terjauhku yakni mengantar anak kesekolah, pakaian dinas terbaikku daster yang terkadang sudah robek dibagian ketiak, yang tentu saja telah kujahit walau tak sempurna.


Sering aku berucap, "kapan aku seperti mereka?" yang bisa ketawa-tiwi dikantor, memakai high heels, blazer, makeup, menenteng tas kerja, melesat jauh menggapai mimpi atau melanjutkan mimpi, menempuh pendidikan setinggi lantai rumah tetangga yang tingkatnya sudah empat.


Huffhh, bukannya aku tidak bersyukur. Aku bersyukur kok dengan hidupku yang sekarang, sangat bersyukur malah. Tapiiii, tuh kan ada tapinya, manusia manusia...


Terkadang aku jenuh juga, aku jenuh dengan hidupku yang stagnan, jenuh dengan suami yang monoton, jenuh mengahadapi anak-anak dengan tingkah yang terkadang membuat kakiku dikepala dan kepala dikaki.


Jenuh harus membereskan rumah sendiri sementara adik ipar yang tahun ini sudah masuk kuliah tapi tetap saja tak ingin membantu walau hanya menyapu rumah. Jenuh jika segala admistrasi dan keuangan keluarga dihendle mertua. Pada intinya aku jenuh berperan sebagai pembantu dirumah ini.


"Mas kita pindah yuk, kita misah dari sini, ngontrak kek, nyewa kos-kosan kek?" Ucapku saat kami sudah berada diatas ranjang, bersiap tidur.


"Kenapa? bunda ribut sama mama ya? atau sama Ica?" Tuh kan, lagi-lagi mas Dennis nuduhnya kebangetan deh.


"Nggak mas, gak ribut sama siapa-siapa."


"Lah terus kenapa minta pindah?"


Serius, laki-laki ini minta di jitak sama pentungan poskamling, dia tidak pernah berfikir kalau sudah berkeluarga sebaiknya misah dari orang tua, setau aku sih gitu, pernah dengar ceramahnya ustad di masjid.


"Tippy, rumah ini udah atas nama mas. Mama sama papa udah mindahin kepemilikan rumah ini ke mas, sementara Ica dapat rumah yang di Bogor." Mas Dennis menatap ku lekat lewat manik matanya yang hitam nan tajam.

__ADS_1


Yah tidak bisa dipungkiri, pria ini memang memiliki mata yang sangat indah, siapapun yang ditatap seperti itu dalam hitungan ketiga akan langsung klepek-klepek.


Satu...


Dua..


Tiga...


Tuh kan, aku tidak bisa berkutik, dan tak ada pilihan lain untukku, selain bertahan. Bertahan dengan gaji mas Dennis yang selalu dibagi tiga, untukku, ibunya serta Ica, adik kesayangannya sedunia itu. Bertahan jika cinta bukanlah untukku seorang. Aku tak mengapa, sebab hati laki-laki memang selamanya untuk ibunya.


Sampai kapanpun, istri tidak bisa bersanding sejajar dengan ibu di hati seorang pria, sebab posisi ibu menempati tempat tertinggi yang tak terbantahkan, sudah ada dalam kitab suci. Dan saat ini kita tidak membahas itu.


Yang aku bahas, kala mas Dennis lebih menuruti permintaan sang adik tersayang, ketimbang istrinya sendiri. Tuh kan dongkol sekali rasanya.


"Mas kalau udah gajian, beliin aku paket skincare merk ini ya, lengkap ada cream malam, cream siang, facial sama tonernya?"


What ?? aku gak salah dengar kan? si Ica minta ke suamiku? sesuatu yang sepaket nya hampir lima ratusan ribu? sementara aku saja memakai bedak sejuta umat, bedak tabur my baby yang di beli di warung bik Rosyidah dengan harga tak sampai sepuluh ribu.


Aku mendesah tak percaya, benar-benar. Dadaku sesak kalau sudah begini, dan mas Dennis saking sayangnya, nurutin aja maunya Ica, walau tak pernah pria itu mengambil dari uang gajinya.


Mas Dennis punya penghasilan lain, dia aktif nulis di berbagai tabloid sebagai penulis lepas dan punya kerja sama ke beberapa penerbit juga. Dan khusus amplop yang ia dapat dari sana, aku tak pernah bertanya.


To be continue


Sehat semua readers tersayang ya...


Selamat menikmati novel terbaru dari akuuhhh


Tinggalkan jejak dengan memberi like, komentar mu jugaaa

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2