
Aku mengembalikan obat yang sempat kuambil dari tangan Arya setelah membersihkan lukaku sendiri.
"Serius gak papa Py? atau perlu ke rumah sakit?" Wajah Arya tampak cemas.
"Tidak, tidak perlu. Cuma lecet."
Arya mengangguk pelan. "What a small world ya?" Dengar-dengar kamu kemaren kuliahnya di Jogja kan?"
"Iya, kamu di UI bukan?"
"Iya, ngambil Akuntansi." Arya mengangguk antusias.
"Kamu, kalau gak salah jurusan akuntansi juga kan kemaren?"
Aku mengangguk.
Ya begitulah, akhirnya kami reuni dadakan. Dia Arya, sama-sama anak SMA Tunas Bangsa dulu. Dia anak IPA 1, dan ikutan ekskul Paskibra, yang otaknya encer banget, juara OSN Mapel Fisika tingkat Provinsi. Kita sesekali berpapasan saat ekskul, yang mana aku anak MIPA kimia.
Sesekali saling sapa karena kelas kami bersebelahan. Kadang juga ketemu di kantin sekolah atau saat ke perpustakaan, selalu rame-rame. Ya udah gitu aja. Sekarang yang aku tau dari selentingan kabar, si Arya itu udah jadi manager branch area di salah satu bank disini.
"Eh,, kamu gak masuk grup alumni ya?"
"Masuk." Aku sudah mengambil posisi duduk kembali pada jok motor.
"Kok gak pernah nongol di obrolan?"
"Aku reader sejati, hobinya baca obrolan kalian aja." Seringai ku garing. Yang ada sebenarnya aku minder, mereka-mereka sudah sukses semua, sedang akuh, huffhhh...
"Ya udah aku duluan ya." Aku mulai menghidupkan mesin motor.
"Serius gak papa kan Py?" Arya melirik sekilas lututku.
Aku tersenyum mengangguk, "Gak papa kok ". Lalu melajukan motorku.
.
.
.
Sampai di perpustakaan, ponselku bergetar. Kulihat nomor baru mengirim pesan.
Assalamualaikum...
Tippy, ini aku Arya. Di save nomor aku ya
Kalau ada apa-apa sama lukanya kabari aku..
I 'm sorry.
Degg...
__ADS_1
Degg...
Degg...
Ya Tuhan, kenapa aku jadi senang dikirimi pesan seperti ini, jujur sih, dulu pas SMA, aku juga sempat masuk deretan secret admire nya Arya, tapi gak fanatik seperti yang lain, sekedar nge fans sebab Arya cakep, pintar pula.
Sempat menoleh kiri kanan sebelum akhirnya aku memutuskan untuk tersenyum simpul dan membalas pesannya.
Waalaikumsalam
Cuma luka lecet kok , gak papa juga...
***
Dan berawal dari kisah tabrakan kecil itu dilanjutkan dengan saling berkirim pesan yang seolah tak pernah putus. Membuat dampak yang luar biasa bagi keseimbangan hatiku.
Aku jadi semangat melakukan pekerjaan rumah, terkadang bisa senyum-senyum sendiri. Aku baru tau kalau Arya orangnya hangat dan kocak. Dulu di sekolah dia terkesan dingin, biasa kan anak-anak OSN sains tampangnya pada serius.
Kami saling bertukar pesan, menceritakan sesuatu yang kami anggap menarik untuk dibahas. Arya bahkan memberikan novel Harry Potter koleksinya yang ia titip lewat jasa Grab dan ternyata kami sama-sama Potter holic dulunya.
Kami mengalir begitu saja. Akan halnya Arya, dia sudah tau I'm a wife of somebody else. Aku pun juga tahu dia sudah menikah. Jadi kami memang tidak berharap banyak pada hubungan ini. Kami hanya teman, teman curhat, just it. TITIK.
Oh, benarkah?
Pada akhirnya aku mengakui, tidak sepenuhnya benar.
Karena hatiku selalu bernyanyi saat menerima perhatiannya yang tidak aku dapatkan dari suamiku. Karena aku selalu menantikan telpon ataupun pesan nya. Karena aku jadi lebih sering melamun akhir-akhir ini. Agaknya mas Dennis tidak tanggap dengan perubahan yang terjadi pada diriku, atau malah mungkin tidak peduli. Dia tetap sibuk pada dunianya.
Aku ditengah- tengah dua orang laki-laki yang sama menariknya. Tapi yang satu lebih romantis. Oh, look, aku sudah mulai membandingkan!
Jauh di lubuk hati ini, aku menyesali reuni dadakan yang ternyata memporak-porandakan keseimbangan hatiku. Tapi bagaimana juga jika waktu itu dia tidak menabrak motor ku, tentu kami tidak akan bertemu. Akankah hidupku akan tetap begini? datar-datar saja?
Pertemuan itu memang sungguh telah membawaku pada 'New Age' dalam kehidupanku.Aku yang cenderung lurus, datar, dan simple setelah menikah, kemudian merasa kembali menemukan diriku yang hilang.
Aku jadi ingat lagi, bahwa sebenarnya aku adalah sebuah pribadi yang bergejolak, punya banyak keinginan dan tidak terlalu suka dikekang oleh aturan.
Bersama Arya, aku menemukan itu kembali.
Dia mendengarkan dengan kedua telinga yang terbuka lebar tentang semua yang bergejolak di kuali otakku. Dia mengenalkan ku tentang sebuah tantangan baru, yang semula aku pikir aku tak mampu menerimanya. Ya, dia telah membawa hubungan kami dari pertemanan biasa menjadi semacam ... hubungan persahabatan yang berkembang diam-diam.
.
.
.
Sore itu setelah menyiram berbagai jenis tanaman hias mama mertua di teras samping, ponselku bergetar, kulihat kontak Arya yang telah kusulap namanya menjadi Aryu( nama cewek) tengah memanggil.
Cepat-cepat aku masuk kamar dan menguncinya dari dalam, anak-anak sedang main sama kakek mereka, sedang mas Dennis belum pulang.
Jantungku berdetak cepat kala menggeser icon hijau, suatu perbuatan yang benar-benar memicu adrenalin ku.
__ADS_1
"Assalamualaikum... Hai..."
"Waalaikumsalam..hai apa kabar?"
"Baik... Kamu?"
"Baik juga, pingin ketemu kamu nih. Mau ngomong sesuatu."
Nafasku tercekat mendengarnya, "Penting?" Ucapku ragu.
"Tergantung."
"Depend on what?" (tergantung apa?)
"Depend on your opinion."
Aku sempat berfikir sejenak, menggigit bibir kuat-kuat. " Nggak ah. Nanti ada yang lihat."
"So I Will bring my laptop with me."
"Gunanya?"
"Biar kalo kenapa-kenapa, bisa bikin alasan... lagi nyari inspirasi buat tesis.."
"Kamu kuliah lagi?"
"Yap..."
"Okelah, up to you. Dimana?"
"Perpustakaan aja, cari aman... Besok ya jam sebelas. Bisa?"
Sumpah jantungku sudah meronta tak terkendali, aku seperti baru saja menelan pil pacu jantung satu botol sekaligus. Aku kembali terdiam, berfikir.
"Lamaa pisan, Bu. Bisa?"
"Ya udah, bisa..."
"Nah gitu dong... Udah ya?!"
"Hm hmm..."
"Assalamualaikum Tippy."
"Waalaikumsalam Arya."
Masih bisa kudengar tawa renyahnya yang bikin kangen saat telpon ditutup. Ya Tuhan, apakah aku sedang bermain api?
Tapi hanya sekali..ya sekali ini.. Hanya besok saja.
To be Continue...
__ADS_1
Happy reading