Cinta Semusim

Cinta Semusim
Monyet bercermin


__ADS_3

Kata orang, dosa yang 'terencana' kadang lebih challenging ketimbang kebaikan yang juga terencana. Kata orang siapa, Tippy? Kata setaan kali.


Tapi iya, emang betul.


Aku dan Arya merasakannya sendiri. Kami kemudian memprogram pertemuan demi pertemuan. Gelap, backstreet.


Yang tadinya, janji kami masing-masing, hanya sekali ini saja. Lalu jadi dua kali ini saja, tiga, empat, lima dan berkali-kali, hingga kami tak ingat lagi sudah keberapa kali.


Dan lengkap sebagai alasan pembenaran maksud dan tujuan kami bertemu, aku selalu menanamkan kedalam hati, bahwa ini ada sisi positifnya loh. Ya Tuhan Tippy....


Paling tidak, aku jadi punya semangat berlebih dalam melewati hari demi hari yang tadinya membosankan. Aku bahkan tak pernah mengeluh lagi sebanyak apa pekerjaan rumah tanggaku.


Aku jadi merasa tertantang untuk melakukan banyak hal, termasuk melakukan 'akrobat' dalam hubungan kami ini. Akrobat, jumpalitan sana-sini mengatur manajemen waktu, hati, cinta agar semua tetap berjalan seperti apa adanya.


Entahlah, tindakan ku ini sejatinya seperti fenomena gunung es, tampak kecil di permukaan, namun sebenarnya mengandung masalah yang begitu besar yang bisa memuntahkan isi perutnya kapan saja. Sometimes you have to take a risk Tippy, remember it.


Dan sama seperti peselingkuh lainnya (Oh my God?!) , aku juga selalu punya rasa takut. Takut mas Dennis, mama, papa mertua, ibu dan ayahku, sahabat, Ica, dan semua yang mengenaliku, tahu.


Takut mas Dennis mulai menaruh curiga atas sikapku yang mungkin mulai berubah sedikit demi sedikit. Tapi aku sih merasa tidak ada yang berubah. But you know? namanya juga manusia.


Apa Arya juga merasakan hal yang sama?


Aku pernah bertanya itu padanya, dan ia hanya tersenyum lembut, menatap langsung ke dalam manik mataku.


"Kamu mau aku jawab jujur, Py?"


"Ya iyalah." Aku memutar bola mataku malas.


"Sejujurnya iya. Aku juga merasa...apa ya, tersiksa dengan hal ini. Aku takut menyakiti hati istri dan anak-anakku. Disisi lain, aku juga ... takut kehilangan kamu .. yang sudah memberi warna baru bagi kehidupanku yang sebelum ini, terasa seperti rutinitas demi rutinitas saja."


"Kita sama..." Aku ikut mengangguk pelan.


"Apa kamu mencintai istrimu, Ya?" Jelas sekali ada nada jealous di ucapanku.


Hahaaa, what Tippy, heloo are you okay?! Apa hak aku? Yang ada juga harusnya istrinya yang cemburu ke aku.


Dapat kulihat Arya menelan ludah. " Kamu mencintai suamimu Tippy?"


"Loh kok balik nanya?" Decakku.


"Kalau jawaban kamu di hati begitu, ya kurang lebih begitulah juga jawabanku."


"Emang apa jawabanku?"


"Kamu ... masih mencintai suami kamu, kan?"

__ADS_1


Saya benar-benar tertohok .


"Lalu bagaimana dengan kita?"


"Entahlah, Tippy, sejujurnya aku berharap bahwa kita tidak hanya sepasang manusia yang sedang jenuh dengan rutinitas pernikahan... tapi lebih dari itu, kita sejatinya adalah pasangan yang sebenarnya saling melengkapi sejak dulu..."


"Semacam soulmate begitu?"


Dia menatapku dan mengangguk dalam.


Hatiku benar-benar telah terbagi menjadi dua kubu saat ini, dimana keduanya saling bermusuhan. Sebelah hatiku bersorak gembira kala Arya mengangguk mengiyakan kalau kami adalah solumate.


Tapi sebelah hatiku yang lain menukas dengan sinis, "Mimpi aja Lo Tippy! Soulmate kamu itu ya suami kamu. Tuhan tidak akan pernah salah memasang- masangkan manusia dan seluruh makhluk-Nya.


Kedua sisi hatiku, Angel and demon ribut bertengkar mempertahankan pendapat masing-masing, hingga rasanya ingin sekali aku mengetok keduanya dengan gada berduri milik Bima Pandawa.


Terkadang aku ingin sekali mengakhiri semuanya, mengakhiri segala kerumitan percintaan ini, tapi hati sungguh tidak rela. Mungkin seperti inilah orang yang kecanduan hingga sakaw. Tahu itu salah, ingin melepaskan diri, tapi terlanjur sulit untuk berlepas diri.


Untuk saat ini, aku benar-benar bingung dengan diriku. Aku merasa cintaku pada mas Dennis tidak terkurangi sedikitpun, walau juga tidak bertambah. Sementara aku juga merasa cintaku sama besarnya pada Arya.


Bersama mas Dennis, aku merasa jadi perempuan paling perkasa di dunia, seolah semua beban sejagat raya bisa aku tanggung dipundak kecilku. Bersama Arya, aku menjelma menjadi perempuan paling cantik dan manis sedunia. Oleh sebab itu aku tidak ingin memilih atau kehilangan salah satunya.


.


.


.


Dia satu-satunya sahabat karibku. Walau selalu bersama, agaknya nasib kami jauh berbeda. Lepas kuliah, dia lulus di Kementerian keuangan. Menikah dengan seorang pengusaha properti, karirnya melaju pesat, bahkan di usia yang baru menginjak tiga puluh, dia sudah menjabat sebagai seorang Kabid.


Aku yang seorang ibu rumah tangga dan dia yang seorang wanita karir, kini kami tengah duduk berdua di sebuah cafe di bilangan Sudirman. Sama-sama memasang wajah kusut. You know, walau aku pikir hidupnya sempurna, ternyata Keisya yang lebih banyak mengeluh ketimbang diriku saat kami berdua seperti ini.


"Aku rasanya ingin membeli satu hari saja eh tidak dua atau tiga hari untuk bisa menjadi seperti dirimu. Bisa dekat dengan anak, bisa mendengar tingkah lucu mereka." Pandangan Keisya lurus ke depan namun tatapan itu kosong.


Aku tersenyum kecut, "Jadi ibu rumah tangga membosankan, pekerjaan nya monoton, itu-itu saja."


"Aku bahkan ingin jadi seperti dirimu, punya karir bagus, bisa mengaplikasikan ilmu kuliah, terbang mengepakkan sayap setinggi mungkin."


"Hahaaaaa...Kamu tidak akan bilang begitu kalau kamu jadi aku." Keisya berdecih.


"Suamiku selingkuh Tippy, mungkin karena aku terlalu sibuk."


Tiba-tiba saja nafasku tercekat, aku sampai tidak sanggup menghirup oksigen disekitar ku lagi.


Keisya curhat tentang kusutnya rumah tangganya, tentang suaminya yang dicurigainya memiliki wanita idaman lain.

__ADS_1


"Suamiku seorang penipu." Air mata wanita itu lolos di pipinya yang mulus.


Keisya curhat pada orang yang sangat tidak tepat, aku??? aku pun saat ini adalah seorang penipu.


Akupun saat ini sedang menjalin cinta dengan suami orang, Ya Tuhan...


Aku yang melicinkan jalan atau yang menjadi penyebab seorang suami seperti Arya menjadi penipu terhadap istri dan anak-anaknya, terhadap kehidupan rumah tangganya. Aku seorang selingkuhan.


Astaga... Selingkuhan?!


Mainan.


Simpanan.


Bandingkan ketiga kata tersebut. Adakah diantara ketiganya yang punya konotasi dan denotasi positif?


Selingkuhan. Seseorang yang ada di luar suami-istri namun dijadikan sebagai tempat curahan kasih sayang salah satunya.


Mainan. Sesuatu yang bisa jadi adalah kesayangan seseorang namun akan dibuang jika sudah merasa bosan.


Simpanan. Sama seperti tabungan. Sesuatu yang bakal digunakan hanya saat dibutuhkan, cuma cadangan.


Cadangan? Hello, jadi kamu perempuan cadangan dong Tippy. Baru dicari saat dibutuhkan saja.


*Dasar selingkuhan, mainan, simpanan?!


So, poor of you Tippy...


And I'm totally a jerk to myself*!


Orang sepertiku tidak pantas dijadikan tempat curhat Keisya. Saat ini Keisya menganggap ku orang paling baik dan bijak sedunia yang bisa menyelesaikan masalahnya.


Dibenakku, seekor monyet sedang menari-nari sambil menyodorkan sebuah cermin besar ke hadapanku. Pas aku berkaca, bukannya terpampang wajahku, tapi wajah si monyet.


Siaaaaal!!!!


Tanpa sadar, aku mengeluh dalam.


Nowhere to run. Nowhere to hide, Tippy.


You're nothing....


To be continue


Nikmati aja jalan ceritanya ya

__ADS_1


Sebab di novel ini, aku tidak menyuguhkan cerita cinta yang manis semanis madu. Melainkan berusaha untuk menyuguhkan sesuatu yang bisa diambil pelajaran bagi setiap readers tersayang dalam menjalani biduk rumah tangga yang penuh cobaan. Cieee othor 🤭🤭🤭🤭


__ADS_2