Cinta Semusim

Cinta Semusim
Aku hancur


__ADS_3

Dennis


Berapa lama aku sudah menikahi perempuan ini? Rasanya baru kemarin aku mengucapkan ijab kabul di depan penghulu dan disaksikan ayah calon istriku. Perempuan itu bernama Tippy. Lengkapnya Tippy Andreas Larasati.


Aku tidak pernah mengenalnya sebelumnya. Aku sudah kuliah di Pittsburgh State University ketika ia baru saja lulus SMA. Yah, jarak usia kami terpaut tiga tahun. Aku sudah lulus Magister Creative Writing dari UNSW ketika kami dipertemukan takdir, kala itu ia masih menjadi mahasiswi di UNY.


Tippy yang manis mengagumi tulisanku yang saat itu pernah menjadi tutor kuliah umum di kampusnya. Aku pun tak menampik bahwa aku tertarik pada gadis itu.


Kami akhirnya menikah setelah masa penjajakan yang cukup singkat, yakni tiga bulan. Maka jadilah Tippy zawj-ku (pasanganku) dan mar'ah-ku (perhiasanku). Aku langsung jatuh cinta padanya.


Dia mungkin tidak terlalu cantik bila dibandingkan teman- teman kuliahku dulu di Pittsburgh. Tapi dia sederhana, tidak neko- neko, mandiri, dan tidak pernah menuntut apapun.


Hingga dua anak kami lahir, aku tak menemukan gejolak apapun. Di balik segala kelemahannya, Tippy tetap yang terindah bagiku. Aku tidak peduli banyak teman- teman kuliah dulu, adik- adik tinggi, bahkan kolegaku yang konon tertarik dan suka padaku. Mereka cantik- cantik, lebih cantik dari Tippy. Tapi aku bergeming. Sebab bagiku, Tippy adalah separuh jiwaku.


Ya, aku pincang tanpanya. Aku merasa nafasku berhembus dari sebelah paru- parunya. Hidupku tak utuh tanpanya. Maka kubiarkan dan kumaklumi segala kelemahannya.


Hampir enam bulan ini aku mengikuti pengajian rutin bersama teman mahasiswa asal Mesir di Pittsburgh dulu. Aku mulai mendalami Islam lebih jauh dan rutin mengkajinya.


Terkadang aku kerap didera rindu yang aneh. Rindu yang tak bisa kuraba ujung pangkalnya. Setiap mendapati teman-teman sepengajianku yang membicarakan istri-istri mereka yang sedang mengaji, atau di Sabtu pagi dimana mereka membawa bocah- bocah mereka ikut serta.


Aku rindu membayangkan sosok Tippy yang memakai gamis dan ikut pengajian. Tippy yang berdiskusi denganku tentang permasalahan agama.


Namun kerinduanku hanya tinggal nuansa semata. Setiap aku mencoba bicara, aku pula yang segera berinisiatif memotongnya. Sebab aku tak tega. Tippy terlalu banyak menanggung beban. Ia mengurus rumah, anak- anak dan segala ***** bengeknya.

__ADS_1


.


.


.


Tippy


Aku mematut diriku di cermin. Usia menginjak tiga puluh, masih belum kelihatan terlalu tua.


Namun ada yang hilang dari wajahku. Ya, mataku tak lagi bersinar. Dulu mas Dennis memuji mataku dengan menyebutnya 'Si mata bintang kejora'. Dan aku tersanjung.


Tapi sinar itu sudah redup sekarang. Sejak aku merasa hidupku tambah ricuh.


Dulu, aku jenuh debgan rutinitas rumah tanggaku yang penuh dengan beban. Aku butuh refreshing. Penyegaran yang memberikan suntikan semangat bagi kejemuanku. Aku mencarinya pada Arya...


Bahwa aku masih berhak bersenang- senang diantara tumpukan bebanku. Bahwa aku masih cantik (Soalnya mas Dennis mulai jarang memuji, dan malahan sering menyindirku untuk mempercantik ruhiyahku yang kering kerontang).


Bahwa aku sebenarnya masih bisa di banggakan dan bukan hanya istri-istri teman ngajinya mas Dennis yang bisa (Soalnya mas Dennis beberapa kali keceplosan menceritakan istri teman-teman ngajinya yang aktivislah, ibadahnya inilah. Bahwa aku masih 'Berkilau.


Tapi lama- lama... Aku merasa telah terlalu jauh melangkah. Alih- alih mendapatkan apa yang aku inginkan, aku malah terperosok kedalam lubang gelap yang dalam. Lubang dosa..


Aku telah menjadi orang paling munafik sekaligus pengecut. Betapa menjijikkannya.

__ADS_1


Malam ini, mas Dennis meminta haknya sebagai suami. Entah kapan terakhir kali kami melakukannya, mungkin sebulan ini mas Dennis belum menyentuhku, baru malam ini.


Anehnya, kali ini aku tidak menikmatinya, tidak merinduinya. Aku meninta mas Dennis mematikan semua lampu, hingga ia tidak tahu..kalau aku menangis sepanjang itu.


Aku merasa berdosa. Sangat berdosa...aku merasa kotor sekali... Tuhan, aku harus bagaimana?


Tiba- tiba mas Dennis memelukku dari belakang.


"Kamu capek sayang?" Bisiknya.


"Y-ya..sangat..."Lirihku menjawab.


Dia mengeratkan pelukannya, "Tidurlah," Ucapnya sambil mencium pipiku lembut.


Tak lama aku sudah mendengar dengkurnya yang kali ini begitu halus. Aku mengeluh. Badanku pegal- pegal. Hatiku gundah. Pikiranku menerawang kemana-mana...


Ya Tuhan, aku sangat sedih...


Maafkan aku mas. Aku hanyalah seorang istri pengkhianat. Istri yang tak setia. Tak shalehah.


Aku hancur malam ini...


Kepalaku pepat. Tak bisa digunakan untuk berfikir, bahkan mengingat, apapun. Mungkin ini adalah dampak dari perbuatan yang aku lakukan. Ya, mungkin saja. Aku stress akibat perbuatanku sendiri. Aku sedang menggali lubang kuburku sendiri.

__ADS_1


***To be continue


happy reading***


__ADS_2