Cinta Semusim

Cinta Semusim
Meet you...


__ADS_3

Lelah? oh tentu...


Sangat amat lelah. Hingga di usiaku yang ke tiga puluh ini, bahkan aku tidak pernah tahu kapan aku tidak merasa lelah.


Sementara suami ku dengan bahagia (karena memang sejak kecil hidupnya bahagia sebab berasal dari keluarga berada) berkali-kali bilang, "Bunda tenang, apa yang perlu dipikirkan, rumah udah ada, mobil ada, dan lagi, bunda juga gak perlu mikirin belanja dapur (sebab memang mama yang menghendle isi kulkas)."


"What,, ??" Heloooo... itu semua punya siapa beib, rumah? rumahnya papa walau udah atas nama mas Dennis, mobil juga baru dibelikan papa bulan kemaren, belanja dapur masih pake gaji pensiunan mama walau mas Dennis tiap bulan juga ngasih kemama. Jadi pencapaian mu apa wahai suami????


Sebenarnya aku paling anti hidup bagai parasit. Aku bukan tipe manusia seperti itu. Aku lebih suka hidup mandiri, lepas dari orangtuanya ataupun orangtuaku, bisa mengatur rumah tangga ku sendiri. That's why kami sangat sering beda pendapat. Itu juga sebab mengapa aku selalu kelelahan.


But you know also, there's always a reason or two why we still stand for living!!!


***


Kata orang, hidup itu pilihan. Dan kalau akhirnya kita tidak bahagia dengan pilihan kita, itu adalah akibat kesalahan kita sendiri dalam memilih. Jadi jangan menyalahkan Tuhan atas apa yang kita alami.


Hmmm... Begitukah??


No, bukan, aku menyalahkan Tuhan. Namun aku merasa tidak adil jika semata-mata semua yang terjadi adalah akibat kekeliruan ku dalam memilih.


Ya, ku akui. Aku jatuh cinta pada mas Dennis saat pertama kali membaca tulisannya. Selain dosen, ia juga seorang penulis dan kebetulan akupun suka membaca dan menulis sejak kecil.


Aku selalu gampang jatuh hati atau bahkan cenderung memuja penulis yang cerdas. Itu sebabnya ketika membaca tulisan mas Dennis aku segera menjatuhi dia dengan cintaku bertubi-tubi.


Kami sama-sama suka menulis. Dia lebih ke arah artikel ilmiah, opini dan segala sesuatu yang deep thinking. Sedang aku lebih suka menulis fiksi, novel- novel romantis gitu.


Bertolak belakang sebenarnya dengan sang suami yang sangat tidak ekspresif. Dia terlalu datar dan hampir tidak menyisakan ruang untuk hal-hal berbau romantisme.


Kami menikah dan memulai hidup baru dengan banyak friksi. Aku tertegun- tegun dengan caranya memandang hidup. Ia terlalu idealis. Bahwa ia seorang Master dalam bidang ilmu penulisan kreatif yang tidak mau disetir.


Mas Dennis sejak kecil hidup berkecukupan, papa orang berada yang dengan sangat setia mengucurkan dana kapanpun untuk anak tersayangnya dan itu pula yang dimanfaatkan mas Dennis hingga kini.

__ADS_1


Sementara aku berasal dari keluarga menengah yang terbiasa bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Aku merasa mas Dennis terlalu dimanjakan dan diuntungkan dengan keadaan.


Sejak kecil aku tidak terbiasa untuk meminta, aku diajarkan untuk bekerja dulu baru mendapatkan apa yang aku mau, seperti dulu waktu SD, aku membantu ibu menyapu rumah demi uang jajan, seperti itulah didikan dirumah kami.


Pun sekarang saat papa mertua membelikan mobil untuk kami, bukannya aku tidak senang, tapi bukan ini yang aku mau. Bahkan untuk menyekolahkan anak saja, mertuaku yang memilihkan. Aku tidak berdaya, dan memang tidak berdaya.


Entahlah, yang aku inginkan adalah membina keluarga ku dari NOL, menghias dapurku sendiri, mengatur belanja rumah tanggaku sendiri, menata ruang tamuku sendiri termasuk hidupku tentunya.


Jangan kalian assosiasikan curhatanku ini sebagai bentuk ketidak bersyukuranku. Tapi aku juga manusia biasa, perempuan biasa yang hellooow, pingin banget menjadi sekretaris sekaligus bendahara dalam rumah tanggaku, bukannya sebagai pembantu yang taunya cuma beres-beres.


Mas Dennis baik, amat sangat baik malah. Tapi mengapa dia tidak pernah mau mengerti tipe kehidupan seperti apa yang aku dambakan sejak dulu?


.


.


.


"Ma, abis daftar sekolah Afiq, Tippy ke rumah ibu sebentar ya." Aku izin ke mama mertua untuk pergi ke rumah ibuku yang tidak begitu jauh dari sekolah Afiq akan mendaftar, anak tertuaku.


"Gak usah, mereka lagi main sama Ica."


"Oh iya sekalian bawa bolu kukus yang kita buat kemarin untuk oleh-oleh." Mama beranjak ke dapur menyiapkan potongan bolu dan memasukkan nya ke dalam kotak Tuuperware.


"Salam sama ibu mu ya."


Dan aku mengangguk sambil tersenyum, sekolah yang ku tuju berada di jantung kota, bersebelahan dengan bank negeri serta perpustakaan daerah.


Aku suka ke perpustakaan itu, sedikit penghiburan sambil membaca novel-novel karya nya Diana Palmer, atau buku-buku biografi orang ternama.


Proses pendaftaran anak sekolah tidak begitu rumit ternyata, cukup menyerahkan berkas serta bukti daftar online selesai. Masih ada waktu panjang untuk mengembalikan buku yang kupinjam di perpustakaan minggu kemarin.

__ADS_1


Tepat saat motor ku memotong jalan menuju perpustakaan, sebuah mobil Honda jazz hitam menyenggol bagian belakang motor, hingga tak elak, aku oleng dan


Brukkkk....


"Awwww..."


Sang pengendara mobil langsung turun, aku cepat-cepat berdiri lagi, pria itu ikut membantu membenarkan posisi motor ku.


"Sorry, gak papa?" Toleh pria itu padaku.


Aku hampir saja ingin meledak marah, sebelum pria itu menoleh.


"Hei, Tippy ?


"Arya?"


"Ya.. kamu Tippy anak IPA 2 kan, yang gabung di MIPA kimia?"


"Ka..kamu Arya anak Paskibra sama anak OSN juga?"


"Aduuh,, aku udah ngira itu kamu, gak berubah soalnya, sorry, ada yang lecet-lecet gak?"


"Gak ada ..."Aku menggeleng.


"Syukurlah."


"Eh, tunggu... Lututmu berdarah!" Arya berjongkok, dan memang lututku berdarah.


"Tunggu, aku ambil P3K dari mobil." Arya bergegas mengambil sesuatu dari mobilnya dan kembali lagi.


"Biar aku saja..." Aku segera meraih kassa dan obat luka dari tangan Arya.

__ADS_1


To be continue...


like yaaa


__ADS_2