
Malamnya aku ingat betul, betapa aku tidak sabar menanti esok datang. Hampir aku tidak bisa memusatkan perhatian barang sedetikpun. Termasuk kepada si sulung Afiq. Tidak heran dia protes, "Aaaishh, Bundaa jangan melamun terus doong...?!"
"Iih kamu ini! Bunda gak melamun, bunda cuma capek!" Sentakku sedikit kesal pada Afiq.
Aku juga enggan ikut nimbrung bermain bersama Faqih si bungsu, memilih membiarkan mereka bersama papa dan mama mertuaku di depan TV, alih-alih berkumpul, aku menyudutkan diri ke dalam kamar.
Pilihan meringkuk di tempat tidur ternyata bukan option yang tepat, mas Dennis yang tadinya sibuk berkutat dengan laptop di ruang kerja ikut nimbrung menyibak bed cover yang menggulung tubuhku.
"Bunda sakit?" Suamiku mendekat sambil menenteng laptopnya.
"Oh, no...?!"
"Iya.. Mas ngetik nya bisa gak diluar aja."
"Bunda sakit apa?" Mas Dennis menutup laptopnya dan meletakkan benda itu diatas nakas.
"Pusing.."
"Udah minum obat belum?"
"Udah... aku mau tidur." Aku cepat-cepat memejamkan mata, pura-pura tidur namun akhirnya aku tidur betulan.
Tak lupa sambil memejamkan mata, aku mengangankan baju, sepatu,tas dan parfum yang akan aku kenakan besok. Oh God... , persis seperti ABG yang mau first date?!
Jam sepuluh malam, aku terbangun dan teringat belum makan malam, sholat isya dan gosok gigi. Huhhh, keterlaluan!
Aku lihat mas Dennis sudah mendengkur dengan suara berkekuatan 100 desibel. Tepat jam dua belas malam ,aku baru bisa tertidur lagi. Perasaanku melonjak-lonjak ingin segera pagi.
Paginya, aku bangun dengan semangat menggebu. Seperti biasa, aku membuat sarapan dan membereskan rumah, tentu saja hanya sendiri, dan yakin si adik ipar masih tidur pulas di kasur empuknya. Dan mama mertua sedang memantau anggrek- anggrek nya di taman samping.
Aku memandikan para krucil, menyuapi di bungsu, dan menyiapkan dua cangkir kopi panas untuk suami dan papa mertua. Sambil menerbangkan hati dan pikiran di perpustakaan yang pastinya belum buka.
Tergesa-gesa mengantar anak-anak ke rumah ibuku. Tentu saja setelah berpamitan pada nama mertua untuk main ke sana, kerumah ibuku. Dan..hhhh finally?!
Huffh, tepat jam setengah sebelas, akhirnya aku bisa juga mengarahkan motor matic sejuta umat ku ke arah perpustakaan. Sempat melakukan final check atas penampilanku di spion motor, sesaat sebelum meninggalkan parkiran, aku bersenandung kecil. Oh look, so happiness for me.
"Loh, mbak Tippy ke sini juga?"
Glekk...
Lututku lemas seketika mendapati Ica n the gengs, ada Partila, Ririn, Angel dan siapa lagi, I don't know about them yang sering main kerumah. Mereka ada disana. Percaya atau tidak, tapi wajahku seperti melihat hantu di pagi menjelang siang ini.
Tanganku berkeringat dengan jantung yang telah melompat- lompat kesana kemari, perasaan tadi si Ica masih meringkuk di tempat tidur kok udah nangkring di perpus juga.
"Emmm, mbak mau balikin buku." Suaraku jadi aneh, aku bahkan tak mengenali suara yang barusan keluar.
"Afiq sama Faqih nya mana mbak? tadi perasaan ngekor mbak juga?"
"Dirumah ibu, mbak titip disana. Kamu..?"
__ADS_1
"Oh, Aku mau cari bahan buat tugas kuliah mbak.." Ica mengeluarkan cengiran khas nya yang berhasil meloloskan lututku dari tubuh hingga berubah jadi jelly.
Oh Tuhaaaan, mengapa aku tidak bisa senang barang sebentar?????
Sebelum Arya datang, cepat-cepat aku mengirim pesan pada pria itu.
[Jangan ke perpus, ada adik ipar aku]
Tak lama, ada balasan dari Arya
[Jadi dimana?]
[Nggak tau, di Holland aja...]
[ Rame disana, mejanya terlalu dekat sama mbak-mbak pelayan, nanti kita dikupingin]
[Ada cafe di sebelah Dunkin, kita kesana, lumayan sepi jam segini] Akhirnya Arya memberi solusi yang masuk akal.
Tak sampai lima menit, akhirnya aku sudah berada di sebuah cafe kecil, yang benar seperti kata Arya, pengunjungnya sepi.
Pria itu sudah duduk manis di meja paling sudut ruangan, dia melambaikan tangan tersenyum hangat.
"Sorry Ya..."
"Gak papa, ayo duduk..."
"Ah kamu kaya ABG aja..." Arya mendengus diikuti kekehan dariku.
Hufhhh, akhirnya siang itu bisa juga kami duduk dengan tenang.
"Kamu minta kita ketemu, ada apa Ya?"
Arya tersenyum, menatapku lembut, aishh betapa rindunyaaaaa...
"Nggak, mmmm... I just... I just wanna ask you..."
"Asking me what?"
Break sejenak. Mas-mas pelayan datang mengantar pesanan kami
Arya sempat melirikku sekilas sebelum akhirnya kembali bersuara.
"Aku cuma ingin tau, apa kamu juga sama seperti ku."
"Maksudnya..?"
"Aku... Entahlah, aku juga bingung, kenapa akhir-akhir ini aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu.."
Aku tersentak mendengar penuturan Arya, kenapa sama, aku juga. Keluh batinku.
__ADS_1
"Hidupku terganggu Tippy...?!"
"Ya, aku seperti berada di dua dunia." Arya mendesah pelan. " Kenapa kita baru ketemu sekarang?"
"Dulu juga kita ketemu, Ya." Aku memberanikan diri menatapnya.
"Tapi dulu kita hanya teman, nggak dekat pula."
Aku membuang muka menatap lukisan abstrak yang tergantung di dinding cafe, sesuatu seperti mendesak mencakar- cakar tepat di gumpalan daging yang sering disebut banyak orang sebagai hati, membuat nyeri di sana.
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Itulah, jalan buntu Py."
Kami terdiam. Jadi kami ketemu di cafe ini hanya untuk membahas jalan buntu?
Ketika Arya membelokkan pembicaraan dengan hal-hal ringan, aku merasa hatiku telah mengembara kemana-mana. Dan aku makin ingin menangis saat pemilik cafe menyetel lagu 'Selingkuh Sekali Saja' dari SHE band.
Kau temukanku telah terjatuh
Dalam cobaan terdahsyat dari cinta
Ku tlah tergoda
Aku tak setia
Aku khianati cinta
Maafkan ku yang tak mengertimu
Karena ku tak mampu hindari rasa
Izinkan aku sekali saja
Rasakan cinta yang lain
Sekali saja ku ingin memeluknya
Dan cium bibirnya
Hanya untuk biarkan dia
Dan kenangannya berlalu
To be Continue...
Happy reading
sehat semua di masa pandemi ya reader tersayang 😘😘😍
__ADS_1