Cinta Terbalik Janitra

Cinta Terbalik Janitra
Episode 1. Kita Putus


__ADS_3

“Ta…”


“Kita kan udah putus, apa lagi??” teriak seorang gadis kepada lelaki yang berusaha menghalangi langkah kakinya


“Ta, sorry dengerin dulu” laki-laki itu meraih pergelangan tangan


“Nggak! Minggir kamu!” dihentakkan tangan lelaki didepannya


“Ta, tunggu bentar”


“Mau apa lagi hah” nada kesal terlontar dari bibir mungil itu


“Aku nggak mau putus”


“Terserah!”


“Ta…” sang lelaki masih memohon dengan muka memelas


“Salah Mas Nuno sendiri *****-grepe”


“Aku kan cuma …”


“Aku kan sudah bilang aku nggak suka!”


“Ta…sorry. Aku kebawa suasana waktu itu”


“Ehem, permisi”


Deheman pria sontak membuat dua orang yang sedang bertengkar itu terperanjat, tanpa disadari keduanya berada di depan toilet pria dan entah berapa lama pria itu mendengar pertengkaran mereka. Kesempatan itu tak disia-siakan sang gadis untuk berlari sekencang mungkin lalu bersembunyi


“Ta….Tita…” lelaki itu berteriak memanggil, mencari kesana kemari, mendengus kesal dan menendang angin



“Sukses No?” seseorang menyapa Nuno yang baru saja menginjakkan kaki di kantin kampus


“Nggak” Nuno memanyunkan bibirnya lalu menegak es kopi didepannya


“Euy kopi orang euy!”


“Bagi dikit napa!”


“Udah lah, lupain aja Tita. Kaya nggak ada cewek lain”


Nuno melepas napas kasar dan mengangguk


“Tita itu special Ngga. Nggak nyangka kali ini ngamuk beneran tuh bocah! Pake acara pindah kost segala”


“Syukurin! Salah kamu sendiri kan bikin Tita lari”


“Udah deh Ngga, kalau nggak bantu mending nggak usah banyak bacot” Nuno melempar tissue kotor


“Heh, hari ini nggak bakal kamu ketemu sama Tita kalau nggak dapat info dari aku. Eh bentar bentar..” dengan sigap pria itu beranjak dari kursi dan mendekati seorang gadis yang baru memasuki area kantin.


“Hai Wulan. Aih tambah cakep aja nih” sapanya


“Eh Mas Angga disini” gadis yang disapa Wulan itu menengok


“Ehm, nganter Nuno ketemu Tita. Lihat nggak?”


“Oh, tadi lihat habis ambil undangan wisuda. Trus langsung pulang”


“Kasih tahu alamat kost Tita yang baru dong Wul”


“Ehm, Wulan nggak tahu Mas” mata gadis itu melirik tak suka pada sosok Nuno yang tengah duduk di tengah area kantin “Wulan permisi ya, habis ini ada kelas lagi soalnya”


“Gimana?” Nuno berbisik pada Angga yang kembali duduk didepannya


“Bungkam tuh cewek”


“Hish” Nuno mengepalkan tangannya “Cabut yuk Ngga” pria itu berdiri lalu ngeloyor pergi



Tita masih mengendap-endap dengan tangan memegang dadanya yang masih berdebar, tangannya melirik arlojinya cemas. Hari ini dia ijin masuk siang dari kantor untuk mengambil undangan dan baju toga untuk wisudanya 1 minggu mendatang. Sialnya dia justru bertemu dengan pacar eh mantan pacar.


Tap tap tap


Pelan keluar dari belakang gedung administrasi kampus, melangkah di lorong yang sepi. Langkahnya terhenti saat melihat 2 sosok yang sangat ia hapal berjalan menuju tempatnya berdiri. Sontak ia berbalik dan kembali berbalik menuju belakang gedung.


Ish! Kenapa juga Nuno dan temannya Angga masih berkeliaran mencarinya, tak mungkin ia keluar melewati pintu utama kampus. Punggungnya bersandar pada tembok kasar di ujung lorong, teringat beberapa kali ia dan temannya seringkali naik melompati tembok yang hanya 2 meter tingginya untuk mencapai warung tempat nongkrong yang berada dibelakang kampus karena malas harus mengeluarkan motor dari tempat parkir.


Ah kenapa tidak ia lakukan saja, menengok kanan dan kiri sebentar lalu beranjak mengambil 2 bangku rusak di pinggir tembok, menyusunnya lalu menginjaknya pelan-pelan.

__ADS_1


Buuuuggghhhhh…


Ia jatuhkan tas besarnya lebih dulu ke balik tembok, dua tangannya terulur siap untuk mengangkat beban tubuhnya. Tiba-tiba ia rasakan sepasang tangan mendorong kuat bokongnya disertai merema*, seraut wajah tampan eh mesum dengan senyum seringai nakal dilihatnya dibawah sana


“Hai cewek, mau aku bantu?” tanya pria itu enteng


“Heh, kamu! Dasar kurang ajar!” Tita memekik jengkel dan membelalakan mata lebarnya yang indah


Tanpa sengaja kakinya menjejak yang membuat susunan kursi jatuh dan menimbulkan suara gaduh


Sial! Ingin rasanya turun kebawah dan menampar pria itu. Ia tatap muka lekat-lekat pria tampan dengan setelan kemeja kerja rapi


“Awas kamu ya kalau ketemu lagi!” ancamnya lalu melompat lincah ke balik tembok



Muka masam masih menghiasi wajah cantiknya saat memasuki ruang kerjanya


“Kenapa Ta?” sapa Mbak Mieke seniornya


“Apes Mbak” Tita menghempaskan tas miliknya begitu saja di bawah meja


“Ehm..coba Mbak tebak. Ketemu mantan kamu pasti ya”


“Iya” jawabnya pendek, apes lagi karena bokong aku jadi sasaran pria mesum imbuhnya dalam hati


“Heran ya. Masih ngejar-ngejar aja”


“Hu um” pikiran TIta melayang pada peristiwa 3 bulan lalu


Waktu itu Nuno menghiburnya karena penolakan pihak adimistrasi yang tak meloloskannya ikut wisuda periode bulan depan hanya karena 1 hari terlambat mengumpulkan berkas


Flash back


“Sudahlah Ta, mau wisuda sekarang atau 3 bulan lagi kan sama saja” Nuno mengelus punggung Tita


“Kesel aku tu, masa cuma selisih satu hari saja nggak boleh. Bukan salahku juga kan terlambat, gara-gara Pak Sihombing kelewatan tanda tangan berkas aku”


Tita menghapus air mata dengan punggung tangannya


“Emang kenapa sih ngotot minta wisuda bulan depan?” Nuno meraih tangan kekasihnya dan menarik  ke tubuhnya


“Mau buat cari kerja yang lebih pantas Mas, aku capek kerja part time terus” Tita merekatkan jaketnya menutupi logo rumah makan di kemeja kerjanya


“Oh ya?”


Nuno mengangguk “Sudah ya jangan sedih lagi” lelaki itu beranjak dari duduknya “Aku antar


pulang ya”


Tangan Tita masuk ke kantong jaket milik Nuno saat sudah berada di kursi penumpang


“Peluk dong Ta” pinta lelaki itu


“Enggak gini aja” Tita mengingat saat tanpa sengaja memeluk erat tubuh Nuno dan meninggalkan debar aneh saat gunungnya menyentuh punggung lelaki itu


“Kita dah 6 bulan lho pacaran, aku cuma minta peluk kok” Nuno menarik dua tangan Tita lalu


melingkarkan di perutnya “Gini aja kok”


“Ehemmm” Tita hanya berdehem


Ia sudah cukup lama mengenal Nuno, mahasiswa S1 semester akhir di fakultas Ekonomi tempat ia mengambil pendidikan D3. Lelaki yang tak henti menggodanya semenjak ia menjadi maru dan rela memutuskan kekasih cantiknya hanya untuk bisa memacarinya. Nuno sosok lelaki yang tak pantang menyerah dan Tita suka itu.


“Deketan dikit Ta, dingin” pinta Nuno


“Emm iya” Tita hanya menggeser sedikit saja kedepan


Punggung Nuno bergerak-gerak seakan sengaja menyenggolkan pada dua gunduka sintal miliknya


“Mas!” seketika Tita menarik dua tangannya


“Sorry nggak sengaja Ta” Nuno kembali menarik tangan kekasihnya, memegang kemudi motor dengan tangan kanan sementara tangan kirinya menggenggam erat tangan Tita


“Ihhhh” Tita berjengit kesal saat Nuno mulai nakal mengarahkan tangannya ke pangkal pahanya


“Mas Nuno mesum ah, TIta turun nih!”


“Jangan dong Ta. Udah malem nih kamu mau pulang naik apa”


“Jangan aneh-aneh lagi”


“Iya iya”

__ADS_1


Sudah 6 bulan berpacaran hubungan dan mereka hanya sebatas berpegangan tangan dan berciuman bibir. Tita tak membolehkan lebih dari batas menurutnya tidak pantas, terlebih status mereka yang masih mahasiswa. Tak terbayang jika terjadi hal diluar batas yang bisa saja menghancurkan masa depan mereka.


“Ta, mampir ke kost ku bentar ya”


“Mau apa? Sudah malam Mas”


“Ambil flashdisk punya Angga. Sekalian aku ke kostnya habis antar kamu”


Dua roda bundar itu berdecit di depan gerbang tinggi berukuran 2 meter


“Masuk yuk” ajak Nuno


“Nggak, aku tunggu diluar aja”


“Udah malam Ta, aku nggak mau kamu digodain pemuda kampung”


“Ehmm” Tita ragu sejenak “Oke deh, bentar aja kan”


Selasar itu sepi, penghuni kost sebagian besar sudah tertidur atau sibuk dengan kesibukan


masing-masing dikamar


“Sudah ketemu belum Mas?” Tita melongokkan kepalanya dari luar


“Belum..sini masuk bantuin cari”


“Ih! Emang ditaruh dimana?” Tita akhirnya melangkah masuk ke kamar Nuno yang beberapa kali ia sambangi tapi tidak dimalam hari seperti ini


“Lupa Ta” Nuno mencari dibawah bantal di bawah kasur busa


“Nih ketemu” Tita menyodorkan benda kecil itu ke tangan Nuno “Dasar cowok kalau cari


pakai mulut nggak pakai mata. Jelas-jelas masih nancep di laptop” gadis itu terkikik


Nuno berdiri “Thanks ya”


Kakinya melangkah dan menutup pintu kamar


“Kok ditutup”


“Mau cium kamu” Nuno menarik pinggang Tita dan mengikis jarak diantara keduanya


“Mas udah malem, nggak enak kalau …”


Bibir Nuno sudah mendarat di bibir mungilnya, meluma*, memagu, memberi decapan-decapan


kecil. Menggigit bibir bawah gadis itu memaksanya untuk membuka mulut


Tangan Nuno halus mengusap pipi Tita, beralih ke tengkuk dan mengelusnya hingga gadis itu


mengerang pelan, ciuman itu makin menggelora


“Mas” Tita menahan tangan Nuno yang mulai masuk ke balik jaket Tita


“Kangen kamu Ta, bentar lagi kamu lulus kita jarang bertemu” mata sayu Nuno memandangnya sayu


“Tita bakalan cari kerja disini juga. Mas Nuno juga cuma nunggu jadwal sidang, selesai dan cari kerja disini juga kan. Kita masih sering-sering ketemu kok”


“Ehmmm, aku sudah nggak sabar melamar kamu jadi istri aku”


Tita tersenyum, kata-kata Nuno melambungkan perasaannya menjadi seorang wanita, bibir keduanya kembali berpagutan. Tanpa sadar tangan nakal Nuno mulai melepaskan kancing kemeja kerjanya


“Mas, jangan” Tita menahan sebisa mungkin dua tangan yang mulai menggerayanginya


“Aku janji nggak akan jauh Ta” mata Nuno menangkap benda pelapis berenda hitam menangkup dua gundukan sintal yang selama ini ia idamkan


“Jangan, belum saatnya”


“Ta..please. Aku tahu kamu juga mau”


“Mas, udah yuk antar aku pulang” Tita hendak menautkan kembali kancing kemejanya


“Nggak usah sok suci kamu Ta” tiba-tiba Nuno meraih tubuhnya dan mendorongnya kasar hingga jatuh di atas kasur busa


Tubuh mungilnya ditindih,tangan kasar itu menarik paksa 3 kancing bawah kemejanya hingga terlepas, mere*as gundukan miliknya dan mengulu* puncaknya dengan lidah basahnya


Serangan bertubi-tubi yang tak terduga membuat Tita membeku sesaat, tangannya mendorong kuat-kuat tubuh Nuno dari atas tubuhnya hingga lelaki itu jatuh terjengkang saat kesadarannya terkumpul


Meraih tas dan berdiri “Kita putus!” teriaknya lantang lalu berlari secepatnya menuju gang depan kepangkalan ojek


Air matanya mengalir deras di balik punggung abang ojek, menaikkan resleting jaketnya memastikan bagian perutnya tak diterpa angin malam. Itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Nuno setelah kemudian memutuskan berpindah kost yang memang sudah jatuh temponya termasuk pindah pekerjaan, beruntung ada salah satu perusahaan yang mau menerima bekerja dengan bekal transkrip ditangan. Hari ini ia kembali bertemu setelah beberapa kali ia bisa meloloskan saat mengurus berkas wisudanya


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2