Cinta Terbalik Janitra

Cinta Terbalik Janitra
Episode 2. Oppa Bima


__ADS_3

“Tita….” panggilan dan tepukan tangan Mbak Mieke membuyarkan lamunannya


“Eh, iya Mbak?”


“Dicari Bima”


“Hah?” kepala gadis itu seketika mendongak dan tubuhnya tegak terduduk


“Huuu…denger nama Bima saja langsung semangat kamu!”


“He…he…he… Mbak Mieke tahu aja”


“Sana buruan, kamu kan sudah 3 bulan disini. Sudah lolos training jadi musti bikin email formal dan log in program perusahaan dengan user kamu sendiri”


“Asshhiiiaaappp….” pekik Tita berapi-api


Langkah Tita terayun dengan semangat kembali menuju lantai dasar, menyusuri lorong panjang yang kanan kirinya berupa ruang kaca dengan sekat pada masing-masing biliknya. Tangannya sempat melambai kearah seorang wanita di ruang accounting, Mbak Gendis karib dari Mbak Mieke seniornya. Mereka bertiga selalu menghabiskan masa istirahat di kantin sehingga membuat Tita juga dekat dengan wanita manis itu.


IT Room terbaca jelas saat Tita mendorong pintu, hanya ada satu meja disudut ruang dengan dua kursi kerja.


“Mas Bima….” panggilnya


Menarik badannya lagi keluar ruangan lalu menatap pintu disebelah ruangan tersebut yang sedikit terbuka, pasti lelaki yang ia cari sedang berada didalam sana. Menarik napas panjang sebelum memasuki ruang berpintu besar dengan luas 2 kali ruang kerja pada umumnya


“Permisi….” kepala Tita melongok diantara dua pintu besar, hawa dingin menyeruak ke wajah imutnya


“Tita ya?” seruan pria terdengar dari balik mesin-mesin yang menimbulkan suara bising


“Iya Mas Bima, ini Tita”


Tak lama muncul pria berwajah rupawan, bertubuh kurus, berkulit putih, rambut teracak karena mulai memanjang dan berkacamata minus. Aih! Jantung Tita berdegup tak karuan melihat pria idamannya yang bagaikan sosok oppa korea berjalan mendekat kearahnya. Berharap ini adalah adegan drakor pasti sudah di slow motion dan membiarkan gadis itu menikmati anugrah sang pencipta.


“Yuk kesebelah” ajak lelaki itu setelah menutup dan mengunci Server Room


“Tita ijin kemana tadi?” tanya lelaki itu sambil menenteng tas laptop dari almari penyimpanan


“Ehm…ambil baju toga sama undangan Mas Bim”


“Oh ya? Kapan wisuda?” lelaki itu duduk dan mulai menyalakan laptop didepannya


“Sabtu depan Mas”


“Udah ada PW belum?”


(PW = pendamping wisuda)


“Lagi jomblo”


“Mau aku datang jadi PW”


“Emang Mas Bima nggak dimarahi sama pacarnya?”


“Nggak punya pacar”


YES! Ingin rasanya Tita melompat-lompat kegirangan saat itu juga


“Geser kursinya Ta. Duduk sini gih, deketan”


Aih! Manis banget sih nih Mas Mas, ikhlas Tita mah kalau disuruh duduk sebelahan seharian hihihihi


“Nama kamu Ta?” tanya Bima saat membuka program Outlook didepannya


“Janitra”


“Ehm,,Ja ni ta”

__ADS_1


“Bukan Mas, Ja…Ni…Tra! Pake R”


“Oh” jemari itu asik mengotak atik beberapa opsi di layer “Ehm…Kok Janitra panggilannya Tita?”


“Oh itu…” Tita pura-pura membenarkan posisi duduknya padahal mau-maunya dia saja agar bisa lebih deketan makhluk ganteng bin cakep


“Jadi ceritanya itu nama Tita harusnya memang Janita biar bisa dipanggil Nita, karena lidah bocah yak jadinya jadi deh Tita. Trus akte Tita baru dibikin pas ada pembuatan akte massal…”


“Eh tunggu tunggu kok baru dibikin?” Bima menatapnya sambil menatutkan alis


“Iya…kan Tita anak panti Mas”


“Panti asuhan?”


“Hu um” Tita menggangguk-angguk


“Oh, Sorry…”


“Nggak pa-pa” Tita mengibaskan tangannya “Nah trus baru ketahuan salah nama pas Tita masuk SD, ternyata akte nya ada bonus R” gadis manis itu terkikik geli


“Lucu juga ya” Bima menatap wajah manis didepannya tanpa berkedip “Tita masih tinggal di panti?”


“Udah nggak lah, Tita kan udah gede”


“Apanya yang gede? Badan mungil gitu kaya anak SMP” Bima menatap Tita dari ujung rambut hingga kaki


“Ih!” Tit pura-pura cemberut padahal isi hati melayang terbang saat pria mata 4 itu menatapnya lekat-lekat


“Tita sudah mandiri sejak kuliah Mas, untungnya masih ada donatur yang bantu D3 Tita, ya lumayanlah jadi gaji kerja part time cukup buat makan sama indekost”


“Tita hebat ya” celetuk Bima sambil mengotak-atik menu task bar “Tita udah tahu kan log in ke program?”


“Iya”


“Nih user kamu sendiri, ketik password nya deh” Bima membuang pandangan memberikan ruang untuk Tita mengetik passwordnya


bibir mungil itu


“Eh Eh sembarangan pakai nama orang, royalti”


“Gampang…Tita setor senyum tiap hari deh kesini” itu mah memang maumu Ta!


Laptop itu ia geser kembali ke depan Bima setelah benar-benar mengisi dan mengkonfirmasi password usernya dengan nama Abimana


“Nah udah selesai, semoga laptopnya nggak rewel-rewel ya” Bima me-restart laptop tersebut untuk kemudian siap digunakan


“Kalau rewel bawa sini lagi kan Mas Bima”


“Iya iya” Bima menyerahkan seperangkat laptop beserta tasnya, duh pengennya Tita sih menyerahkan


seperangkat alat sholat beserta orangnya 😊


“Selamat ya Tita jadi karyawan tetap nih, makan-makannya dong Ta”


“Emang Mas Bima mau Tita traktir makan?”


“Ya maulah”


“Tapi Tita nggak bisa hari ini”


“Weekend?”


“Kalau weekend Tita nggak bisa Mas, kedai tempat Tita kerja ramai. Baru libur lagi hari Rabu depan”


“Loh Tita masih kerja part time juga selain kerja disini?”

__ADS_1


“Ehm iya, kan 3 bulan kemarin masa training gajinya juga belum penuh Mas”


“Wah Tita hebat ya!” puji lelaki itu meninggalkan rona merah di wajah sang gadis



Wajah Tita masih saja berseri-seri padahal cacing di perutnya sudah meronta dijam makan siang seperti ini. Wajah Bima yang rupawan bagai oppa-oppa korea di drakor yang sering ia tonton menari-nari dipelupuk matanya. Seakan ia sudah melupakan kesialannya nya pagi tadi.


“Kenapa sih Ke si Tita dari tadi senyam-senyum terus?” tanya Gendis pada Mieke


“Apalagi kalau nggak habis ketemu idolanya” Mieke memutar bola matanya jengah


Sejak kembali dari ruang IT senyum bocah itu tak lepas dari sudut bibirnya


“Siapa?” Gendis mencondongkan badan kearah Mieke


“Si Bima, anak IT”


“Ooohh….” Mulut Gendis membulat “Cakep emang tu anak, aku kalau belum jadi emak anak satu gini juga mau kok saingan sama Tita” Gendis tertawa terbahak sambil mengestafetkan mangkok soto pesanan makan siang mereka


“Nggak boleh! Mas Bima cuma boleh buat Tita” Tita menggoyang-goyangkan telunjuknya didepan Gendis


“Apa sih Ta yang buat kamu suka Bima?” tanya Mieke meniup sambil menyuapkan soto ke mulutnya


“Ehm…Mas Bima itu berkahrisma, cool gitu tampangnya kaya oppa-oppa korea. Trus lembut nggak pecicilan. Yang paling penting sopan. Pokoknya Tita suka”


“Sopan?” seru Mieke dan Gendis hampir bersamaan


“Iya sopan, nggak pernah ngomong jorok apalagi coba pegang-pegang Tita”


“Eh.. kalau gitu mah Pak Asep security juga sopan namanya” cetus Mieke


“Bedalah, kan Tita udah kenal 3 bulan, Orangnya sopan kok”


“Belain deh Ta…coba ntar udah jadi pacar kamu beneran paling juga *****-grepe”


“Ih Mbak Mieke kok gitu sih!”


“Ya wajarlah Ta, jaman sekarang kalau sama pacar *****-grepe”


“Nggak, Tita nggak suka cowok mesum”


“Eh Ta. Cowok kalau nggak mesum gimana mau mbuntingin cewek!” kali ini Gendis yang berujar


“Ya kan ada waktunya mbak-mbak sayang. Ntar kalau dah nikah nah baru boleh…”


“Ya ya ya, terserah kamu deh Ta” Gendis mengangkat kedua telapak tangannya


“Ta, jangan lupa ambil seragam di HR sama name tag sekalian, mulai besok kamu dah absen pake barcode. Jangan telat ntar bonus kamu dipotong dan yang paling penting tu name tag jangan sampe hilang atau ganti 150ribu” terang Mieke panjang kali lebar sama dengan luas


“Hah? 150ribu, uang jajan Tita seminggu itu Mbakk….” pekik Tita


“Makanya hati-hati” Gendis


“Ta! Makan-makan dong kan sudah jadi karyawan tetap nih” cetus Mieke


“Boleh, barengan sama Mas Bima yak. Mbak Gendis ikutan kan?”


“Ya ya boleh, kapan Ta?” tanya Mieke


“Rabu depan”


“Emang kita-kita nggak ganggu, jangan-jangan mau kencan kamu sama Bima?”


“Enggak, Tita mau ajak temen deket Tita juga kok, Si Iwul”

__ADS_1


Perbincangan ketiganya terhenti saat bel masuk terdengar dan mengharuskan mereka kembali ke ruang kerja masing-masing. Sudah 3 bulan ini Tita bekerja sebagai salah satu staff pembelian di perusahaan manufaktur di bidang konsumen publik, sore hari sepulang dari kantor Tita masih melanjutkan bekerja di kedai makan hingga pukul 10 malam. Semua ia lakukan untuk menunjang kebutuhan hidupnya sehari-hari, sudah 3 tahun ia harus bertanggung jawab dengan dirinya sendiri setelah keluar dari panti asuhan.


__ADS_2