
“Tita…Oh My God!” Mieke melompat dari duduknya dan memeluk Tita mengindahkan gadis itu mengerang kesakitan saat tangannya tersenggol.
“Serius kamu Ta istrinya Pak Tiar? Yang… Ya ampun sumpah lebih ganteng dari yang diceritain Mieke” timpal Gendis
Tita meringis dan menggeser tubuhnya menjauh dan bersandar ke lengan sofa.
“Pake dukun mana Ta? Peletnya manjur bener” Mieke berkoar sekenanya.
“Ih Mbak Mieke” Tita mendengus.
“Kok bisa sih kamu sama Pak Tiar trus nikah nggak bilang-bilang, cerita gih cerita” Mieke menutup laptop dan duduk melipat kaki bersimpuh diatas sofa bersiap mendengarkan cerita Tita.
“Mas Tiar itu kerjasama bareng pemilik kafe di tempat kerja Tita, kenal dekatnya dari sana”
“Trus nikahnya kapan?” Gendis memutari meja dan memilih berpindah tempat duduk, menggeser Tita ke tengah sofa.
"Sudah sebulan”
“Kok nggak bilang-bilang”
“Mau bilang sekalian bagi undangan”
“Berarti kenal baru 3 bulan langsung nikah Ta?” Mieke menjawil pipi Tita.
“Jangan-jangan kamu isi duluan Ta? PakTiar DP duluan ya” Gendis memajukan wajahnya penasaran.
“Duh…apa-apan sih pada” Tita merebahkan punggungnya pelan ke sandaran sofa “Tita mau cerita tapi jangan komentar sebelum selesai” telunjuknya menuding bergantian rekan wanitanya.
Tita mulai bertutur dari kejadian yang mengharusnya mereka berdua dinikahkan paksa, tentang kondisi perasaan keduanya yang memang sedang belajar untuk menerima keadaan. Menjalani proses pacaran untuk saling mengenal dan tentang lamaran semalam.
“Jadi kalian nggak saling cinta gitu?” Mieke menggaruk-garuk kepalanya.
“Yang jelas Tita sudah mulai sayang sama Mas Tiar, tapi kalau cinta….” Tita mengedikkan bahu “Mungkin belum, lagian Tita sendiri nggak yakin cinta itu seperti apa, ada yang bisa jelasin ke Tita nggak?” toleh Tita kekanan dan kekiri.
“Eh apa ya, ya gitu deh Ta, kamu suka orang itu tanpa embel-embel, mau dia pas baik atau pas lagi ngeselin” Gendis menaikkan bola mata keatas berusaha keras menggambarkan sesuai pemahamannya.
“Ya pokoknya kamu terima dia apa adanya gitu Ta” Mieke manggut-manggut mengiyakan perkataan Gendis.
“Ah! Jantung kamu deg-deg an nggak Ta kalau deket Pak Tiar?” alis Mieke naik turun.
“Eh!” Tita menautkan alis “Ehm, ya gimana ya” duh masa iya harus bilang deg-deg an saat mereka berciuman.
“Sama sekali nggak ded-deg-an Ta? Aku aja yang cuma naksir jantung dah serasa lepas kalau Pak Tiar lagi senyum” Mieke merem*s seragam dibagian dada.
“Ehm, ya deg-deg-an sih Mbak” aku Tita malu-malu.
“Ciye…merah tu pipi” goda Mieke sambil mencubit gemas.
“Enak kan Ta nikah, kamu pasti nyesel kenapa ya nggak dari kemarin-kemarin nikahnya” ganti Gendis menggoda sambil senyum-senyum.
“Cerita gih Ta malam pertama kaya apa, sakit nggak Ta?” Mieke menaikkan nada suaranya.
“Belum kok, eh…Tita belum gituan” duh rasanya mau membenamkan mukanya saja ke perut bumi, Tita yakin mukanya saat ini pasti merah padam.
“Boong ah! Sebulan serumah masak iya nggak ngapa-ngapain, kalian kan udah syah suami istri” Gendis mencibir.
“Beneran Mbak Gendis” Tita menggeleng kuat.
“Trus kalian ngapain sebulan, main gaple kalau malam?” seru Mieke gemas “Jadi curiga nih sama kalian berdua” alis Mieke terangkat dan matanya memicing.
“Jangan-jangan kalau nggak Pak Tiar itu guy atau kamunya Ta yang lesbi” tubuh Mieke kloget-kloget kaya cacing kepanasan.
“Amit-amit! Amit-amit!” Tita buru-buru mengetok-ngetok meja didepannya.
“Kayaknya perlu kita tatar ni bocah Ke” Gendis membuka tas mengeluarkan secarik kertas dan pensil ”Pegang Ta, nulis terserah!” perintahnya.
Tita yang tak paham maksud Gendis menurut saja memegang pensil dan hendak menulis sesuatu.
“Jiah! Bener ni bocah masih perawan” pekikan Gendis mengagetkannya.
Mieke tertawa terbahak-bahak, mengambil alih pensil dari tangan Tita.
“Kalau pagi boleh kamu pegang pensilnya gitu, kalau malam gini nih Ta”
Mieke memperagakan tangan yang tengah menggenggam gagang gas motor.
Tita menepuk jidatnya setelah tersadar dirinya menjadi obyek bulan-bulanan.
“Emang kenapa sih Ta? Takut sakit?” Mieke memasukkan laptopnya kedalam tas.
“Sakit emang ya?” Tita justru balik bertanya.
“Sakit kaya di gigit semut” sahut Gendis “Habis itu enak Ta”
__ADS_1
“Bohong banget tu Gendis” Mieke menurunkan kakinya dan bersiap memakai sepatunya.
“Ih, sakit banget ya Mbak Mieke?” Tita merem*s pinggiran piamanya.
“Bukan sakitnya, bohong banget tu kalau cuma enak, tapi enaaaaaak baaaaaanget Ta”
Derai tawa sontak terdengar membahana mengisi kekosongan di sudut kamar, kepala Tita tiba-tiba berdenyut bagaikan terlempar kembali ke lingkaran waktu pada malam dirinya terkurung bersama tiga pria dewasa yang berbicara seputar ranjang, tak menyangka dua rekan wanitanya ini juga bisa bicara hal-hal seronok semacam itu.
“Tita nggak pengen begituan tanpa didasari cinta” gumamannya yang pelan mereda tawa dari kedua wanita itu.
“Bulshit” Mieke memutar bola matanya “Buat aku s3ks itu cuma butuh tanggung jawab dan kesadaran. Harus dilakukan dibawah akal sehat dan tahu konsekuensi kalau melakukan itu bisa jadi hamil dan ada anak yang harus dipertanggungjawabkan”
Wanita itu mencondongkan badan, melihat mata gadis didepannya lekat-lekat.
“Dengerin aku ya Ta, wanita itu bisa nahan hasrat apalagi buat kamu yang belum pernah kejamah. Beda sama pria yang otaknya lebih sensitif seputar empat huruf tadi. Kamu nggak takut kehilangan pria mapan, tampan, tanggung jawab kaya Pak Tiar. Jangan sampai dia menyerah nungguin kamu kasih hak ke dia trus berpikir untuk menyudahi hubungan kalian yang terkesan memang dipaksakan. S3ks itu tak perlu menunggu cinta, justru cinta itu bisa tumbuh saat kalian saling membutuhkan dan menginginkan satu sama lain. Masalah ranjang itu masalah krusial untuk pasangan yang sudah menikah, bisa menghangatkan yang dingin atau justru sebaliknya mendinginkan yang tadinya hangat”
Mieka melepas napas panjang setelah bicara panjang seakan-akan sedang mengurai penjabaran rumus logaritma yang memang tak bisa dipahami dengan logika.
“Bener banget tu Ta dan kalau dilihat dari gesture Pak Tiar kelihatan banget dia sayang sama kamu” Gendis menambahkan.
“Ta…tapi Mas Tiar janji kok mau nunggu sampai Tita mengijinkan”
“Kita lihat saja berapa lama suami kamu bisa bertahan, emang kamu nggak kasihan nyiksa lahir batinnya. Bisa-bisa dia cari pelepasan sama….” Gendis menggeleng-gelengkan kepala.
…
Mata Tita tak lepas menatap nanar layar televisi didepannya, tangan kanannya memegang sendok mengaduk-aduk ransum rumah sakit, perutnya lapar tapi nafsu makannya menguap entah kemana.
Memang benar secara tak sengaja ia mengiyakan niat suaminya untuk tak menahan lagi hasrat pada saat cideranya sembuh tapi Tita sendiri tak yakin jika ia akan menepatinya saat waktunya tiba.
Tita masih mencerna kata-kata Mieke, ada persamaan teori antara Mieke dan Tiar bahwa interaksi fisik bisa menumbuhkan cinta itu sendiri.
Lamunan Tita buyar saat mendengar decit pintu yang terbuka.
“Bunda” panggilan pelan Tita kepada wanita paruh baya yang sedang tergopoh-gopoh mendekat kearahnya.
“Tita” mata Bunda menelisik tiap jengkal tubuhnya
"Kenapa bisa begini?” suara serak menahan isak itu terdengar begitu memilukan.
“Tita nggak pa-pa Bunda”
“Bunda bantu suapin” tangan pengasuhnya itu terulur mengambil alih piring bermaterial stainless dari tangannya.
Tita terkejut saat Bunda Ning berbagi cerita bahwa Papa Bagas memutuskan menjadi donatur tetap sejak kehadiran mereka di panti waktu itu.
“Bunda agak lega karena kamar adik-adikmu sudah bebas bocor saat musim hujan” wanita itu tersenyum sambil meletakkan piring yang sudah tandas isinya.
“Mertuamu pasti juga sayang sama Tita kan?” tangan itu mengelus lembut rambut Tita dan menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.
Perbincangan keduanya terhenti saat muncul sosok berjubah putih dengan stetoskop mengalung dileher diikuti dengan perempuan berkostum serba ungu.
Hasil visit dokter cukup melegakan, tangan Tita berangsur membaik dan tidak ada indikasi infeksi berkelanjutan, meskipun demikian Dokter tetap menyarankan untuk tidak memaksakan diri mulai beraktivitas kembali ditempat kerja dan memintanya berdiam dirumah selama dua minggu lamanya.
Tita tidak bisa menahan Ning untuk berlama-lama di rumah sakit karena urusan yang tidak dapat beliau tinggalkan di panti, selepas makan siang Tita menghabiskan waktu untuk tidur-tidur ayam.
Niatnya tidur dalam makna sesungguhnya terganggu karena beberapa kali Tiar menghubunginya via vicall untuk memastikan kondisinya baik-baik saja saat mengetahui ia hanya sendirian di rumah sakit.
Rasanya baru matanya ini terpejam sedetik ketika ponselnya kembali berdering, matanya hanya memicing menangkap dua huruf akhir A dan R yang terlihat dilayar dan menggeser layar ke ikon hijau.
“Apa lagi Mas Tiar, Tita mau bobo siang” serunya sedikit jengkel.
“Tita, ini aku. Niar”
Mata Tita langsung membelalak lebar.
“Eh sorry Niar, aku pikir Mas Tiar”
“Iiihh…kirain cuma gangguin aku doang, sibuk nelponin kamu juga ternyata” sahutan kesal terdengar diujung sana.
“Anya gimana Niar?”
“Udah turun demamnya lagi ditungguin sama Mama”
Bunyi klason mobil menembus gendang telinga Tita.
“Niar lagi di mobil?”
“Iya, disuruh Mas Tiar beli daleman buat kamu Ta”
“Astaga Mas Tiar!”
"Mana maulah Mas aku yang kegantengan itu menurunkan harga dirinya buat beli daleman" kekeh Niar.
__ADS_1
Tak lama kemudian suara lonceng khas outlet bergemerincing.
“Ukuran kamu berapa Ta?”
“36B”
“Busyet imut-imut gitu gede juga galonnya” Niar terbahak “Full cup or half cup?”
“Full cup, no pad and no wire”
Pembicaraan mereka terjeda beberapa saat, nampaknya Niar sedang mencarikan sesuai pesanan
*“36B full cup adanya pake wire sama sisa model half cup kait depan*”
Tita mengiyakan saja karena tak enak harus merepotkan Niar jika harus mencari outlet lainnya, ingin sekali saat ini ia menjengit rambut suaminya, seenaknya saja meminta bantuan Niar yang saat ini pasti tengah repot karena Anya sedang demam.
…
Candaan Tita dan Niar terhenti saat sosok Tiar muncul tergesa dari balik pintu yang berdecit. Tita menjadi terhibur sejak kedatangan Niar dua jam lalu, tak perlu mencemaskan Anya karena sesuai prediksi Mama Hayu balita itu hanya tumbuh gigi.
“Nih biang kerok datang” sambut Niar sambil mencibir.
“He…he… pesanan istri gua lo beliin kan?”
“Ganti tiga kali lipat”
“Beres!” Tiar mengacak rambut Niar dan beralih mendekat kearah Tita mencuri kecupan dua pipi dan bibir, entah kali ini Tita justru senyum-senyum kesenangan seolah-olah kegiatan itu merupakan rutinitas yang menyenangkan dari Tiar untuknya.
“Uhuk!” Niar pura-pura terbatuk “Pulang ah…hareudang hareudang” tangannya mengibas-ngibas.
“Jangan dulu, itu gua bawain martabak kesukaan lo. Tungguin Tita bentar lagi, gua mau mandi”
Tubuh Tiar yang berpeluh seketika menjadi segar kembali setelah terguyur air dingin, tawa membahana terdengar hingga balik pintu kamar mandi saat dirinya mematikan kran shower dan mengenakan kaos. Sepertinya ada yang membesuk istrinya saat telinganya menangkap lebih dari dua orang sedang berbincang.
Wajahnya seketika menegang dan berganti kerut di kening saat mendengar suara pria bercakap. Berjalan ke sofa dimana Tita tengah duduk bersebelahan dengan karibnya Iwul, diujung sofa bersandar Bima yang nampak tengah mengotak-atik laptop milik Tita.
“Eh Mas Tiar” Wulan menganggukan kepala saat melihatnya mendekat.
Tita mendongakkan kepala saat Tiar memilih duduk di lengan sofa.
“Sudah lama Wul?” tanyanya sambil melirik Bima yang melambai kearahnya.
“Lumayan Mas”
“Niar barusan pulang, lama katanya nunggu Mas mandi”
“Done!” seru Bima disusul hembusan napas lega.
“Makasih Mas Bima” Tita menengok kearah Bima. “Ehm, bisa bantu Tita ganti password user?” pintanya.
“Bisa-bisa” pria itu manggut-manggut sambil menekan beberapa option di layar laptop.
Sejenak Tita berpikir password baru untuk usernya dan spontan mengetik tiartita sambil senyum-senyum tak jelas.
Bima mematikan laptop dan meletakkan ke meja.
"Laptop kamu sudah beres Ta"
“Oh baguslah kalau sudah selesai urusannya?” Tiar menatap Bima dengan sorotan mata tak suka, sikapnya itu memancing Tita untuk menyodok perut serta mencubit pahanya.
“Istri gua mau istirahat”
“Istri???” kompak Wulan dan Bima memekik sambil melihat Tita.
“Loh…belum kasih tahu mereka” ucapan Tiar terkesan datar mencerminkan dirinya memang sengaja memancing kehebohan sekaligus kepemilikannya terhadap sosok Tita sebagai istrinya didepan Bima.
Pria itu menarik lengan kanan istrinya pelan dan memintanya berdiri. Tita pikir suaminya akan memaksanya naik lagi ke ranjang pasien untuk beristirahat. Alih-alih begitu, Tiar malah mengambil alih tempat duduknya dan menarik pinggang dengan sedikit paksa mendudukkan dipangkuan. Masih belum puas, Tiar melingkarkan kedua tangan diperutnya. Seakan pamer kemesraan terhadap sejoli didepan mereka.
"Kamu sudah nikah Ta? Kapan?" Iwul menatap karibnya itu "Kenapa?" tatapan matanya beralih kearah perut.
"Eh, sudah sebulan Wul. Maaf nggak kasih tahu kamu, tadinya niatnya sekalian tiga minggu lagi pas bagi undangan resepsinya" terang Tita sambil berusaha menjauhkan bibir Tiar yang mengecup ngecup pipinya.
"Kok bau asem Ta? Udah mandi belum sih" Tiar membenamkan wajahnya ke rambut Tita.
"Udah Mas Tiar" Tita berusaha menggeliat "Kan belum bisa keramas jadinya bau apek"
"Mandi lagi yuk, gua keramasin" goda Tiar sensual.
Tingkah kekanakan bercampur kemesuman sukses mengantarkan Wulan dan Bima berlalu pergi meninggalkan dua sejoli yang berbalas cubitan sesaat setelah pintu tertutup.
Tita menghujamkan cubitan di pinggang Tiar yang dibalas Tiar dengan cubitan gemas dipipi Tita yang merona merah.
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!
__ADS_1