Cinta Terbalik Janitra

Cinta Terbalik Janitra
Episode 25. Dingin


__ADS_3

"Pagi Franda"


Sapaan Tiar yang ramah diikuti dengan senyuman mengembang justru membuat bulu kuduk gadis 23 tahun itu meremang. Sejak kapan Tiar bersikap manis seperti itu, Franda buru-buru mengekori Tiar memasuki ruang kerjanya.


"Pagi Pak Tiar, hari ini menu sarapannya ca brokoli dengan telur balado" Franda meletakkan kotak styrofoam dimeja kerja Tiar seperti biasa. Sejak menjabat assisten dirinya dimintai Tiar menyiapkan sarapan dengan menu sama yang dibelinya setiap hari dikantin.


"Hari ini ada 3 jadwal factory visit Pak" Franda masih berdiri ditempatnya "Dan ini complaining report-nya" Setumpuk berkas langsung memenuhi meja atasannya.


Gadis itu menarik napas panjang dan pelan, menunggu gerutuan atau kritik pedas yang biasanya terlontar.


"Ehm ya... "


Franda masih menunggu...


"Ada lagi?" Tiar menaikkan alisnya


"Oh, tidak Pak" Franda menggeleng


"Boleh saya makan?" Tiar mengulurkan tangan dan membuka kemasan styrofoam didepan.


"Ya, silahkan"


Gadis itu bergumam pelan, tumben tak ada protes sama sekali.


...


Tiar terfokus dengan laptop didepannya, tubuh kekar itu hanya menggeliat sesekali melepas penat pada bahunya. Lepas menyelesaikan kunjungan rutin ke beberapa perusahaan dirinya masih harus berkutat dengan laporan target mingguan.


"Pak Tiar?" suara Franda terdengar setelah sebelumnya kepalanya mengangguk mempersilahkan gadis itu masuk.


"Saya pulang dulu"


"Oh ya, silahkan... "


"Bapak lembur? Perlu saya minta OB buatkan kopi?" tawarnya


"Tidak perlu, sebentar lagi saya pulang. Makasih Tita " jawab Tiar tanpa menoleh dan memulai lagi kegiatannya.


"Ya Pak Tiar?"


"Saya bilang makasih" Tiar mendongak dan kembali tersenyum.


"Bapak panggil saya apa?"


"Maksudmu?" Tiar mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


"Bapak panggil saya Tita"


"Ah!" bola mata Tiar bergerak-gerak, sedasyat inikah pesona Tita hingga otaknya yang dipenuhi masalah pekerjaanpun seakan tak rela jika harus melepaskan bayangan gadis cantik itu. Bahkan mulutnya sendiri seakan-akan berkoordinasi sempurna hingga salah memanggil nama assistennya.


"Kamu salah dengar, sudahlah silahkan pulang"


"Oh oke Pak" Franda berbalik badan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia yakin tak salah dengar barusan.


"Franda!" nah kali ini Tiar memanggilnya dengan benar.


"Ya Pak" gadis itu kembali memutar badan.


"Kamu punya pacar?"


Franda tak langsung menjawab, ia masih terheran dengan perubahan sikap Tiar seharian ini. Menjadi manis, kehilangan konsentrasi dan sekarang membicarakan hal pribadi. Hal yang sangat tabu untuk seorang Tiar, bos-nya ini sering menegurnya jika ketahuan bertelepon mesra dengan kekasihnya di jam kerja.


"Ada Pak"


"Ehm... " Tiar berdiri dan berjalan memutar meja kerja lalu bersandar dengan tangan terlipat depan dada "Kalau kencan biasanya ngapain?"


Pipi Franda bersemu merah jambu, masa iya sih dia harus jawab sudah ngapain aja dengan pacarnya, Pak Tiar! yang benar saja kau.


"Eh maksud saya, pergi kemana, makan dimana, begitu" buru-buru Tiar meralat setelah menyadari perubahan air muka Franda.


"Oh" gadis didepannya meraup wajahnya pelan "Seringnya nonton Pak, trus makan di tempat makan baru, coba menu baru, nonton life music dikafe. Ya begitulah"


"Bapak punya pacar ya?" mulut usil Franda tak terelakkan untuk bertanya.


"Iya eh bukan" Tiar sontak terkejut "Itu adik saya seumuran denganmu, saya cuma penasaran anak jaman sekarang kalau pacaran sejauh apa" decakan terdengar di akhir kalimatnya.


"Ooo, saya kira" Franda menutup mulutnya menahan sebisa mungkin tawanya tak meluncur.

__ADS_1


Senyum itu kembali mengembang di bibir Tiar,


Tita...you never leave my mind even I have billion things to think about!


...


Tak jauh berbeda dengan Tiar, suasana hati Tita juga berbunga seharian ini. Senyam senyum sendiri seperti orang gila baru hihihi. Terkadang menutup mukanya yang seketika merah merona mengingat peristiwa semalam.


Cumb**n Tiar benar-benar membuatnya mabuk kepayang, pria itu lihai memainkan bibir dan lidahnya. Bahkan membuatnya terpancing untuk membalas dan larut dalam permainan, batasan itu bagaikan tipisnya kulit ari ketika logika harus berperang dengan kuatnya nafsu.


Flashback


Balasan bibir Tita yang m*lum*t dan menggigit bibirnya memicu tangan Tiar tergerak dari tengkuk Tita beralih menekan dan mengusap pinggang gadis itu.


Desahan kecil lolos saat lidah mereka saling m*mb*lit seiring dengan usapan lembut pada perut Tita. Gejolak nafsu untuk bertindak lebih jauh melawan kuat akal sehatnya yang memerintahkann menyudahinya. L*mat*n bibir Tita terasa menyenangkan seakan menghilangkan kehausan setelah sekian lama tak pernah merasakan lagi nikmatnya berc*mb*.


Jalinan saliva itu terputus, gadis itu menyentak kuat dadanya diikuti cebikan bibir dan cubitan dipunggung tangannya yang mulai nakal hendak meraba bagian dada.


"Pelanggaran!" sungut Tita lucu


"Habisnya kamu nantangin, gua ja...." kata itu terputus saat tangan Tita menutup bibirnya.


"Nggak usah dibahas, Tita malu" hidung gadis itu kembang kempis menggemaskan.


"Malu tapi mau" Tiar menarik tangan Tita dan menahannya erat sambil terus menelanjangi wajah yang bersemu merah.


"Ta, gua takut nggak bisa nahan semua ini" Tiar menangkup wajah Tita dan menggesekkan hidungnya.


"Tita pengen pelan-pelan Mas Tiar, Tita nggak mau menyesal nantinya kalau ternyata semua ini terjadi cuma karena nafsu" gadis itu menunduk, tatapan mata elang Tiar menusuk tepat ke jantungnya merobek nadinya hingga darah melaju lebih cepat dan debaran ini seakan membuat tubuhnya gemetar.


"Tita pengen benar-benar sudah siap lahir batin jika saatnya tiba" gadis itu menjauhkan wajahnya, memberi jarak dan memberanikan diri melawan netra yang penuh kabut nafsu.


"Gua setuju Ta" bibir pria itu menyunggingkan senyum "Benar kata Papa s3ks memang butuh tanggung jawab" ucap Tiar gamblang membuat pipi gadis itu merona karena kembali tersentil urat malunya.


"Gua janji Ta. Gua nggak akan menjamah tanpa seijin lo" Tiar kembali mendaratkan kecupan gemas dibibir tipis Tita yang tersenyum penuh kelegaan.


Flashback off


Janji Tiar yang terucap semalam cukup memberikan kenyamanan untuknya, mengenal satu sama lain hingga keduanya yakin untuk melakukan penyatuan saat waktunya yang dirasa tepat.


...


Gemerincing lonceng kafe diikuti pintu kaca yang mengembun karena dinginnya suhu AC itu membuka. Sosok Tiar masuk dengan mengumbar senyum yang tak terlihat dari balik helm full face yang masih bertengger dikepala dan menatap Tita yang terheran memandangnya.


Sama halnya dengan Tita dua rekan lainnya bahkan melempar pertanyaan.


"Mau balap liar lo Tiar?"


Pria itu tak menjawab, melepas helm dan berbelok menuju meja kasir.


"Kita pulang bareng ntar" bisiknya sambil menaruh helm di bawah meja kasir.


"Mas Tiar bawa motor?"


"Enggak, naik motor lo" Tiar mengedipkan matanya membuat gadis itu makin gagal paham.


Entah sudah berapa kali Tita menguap lebar, badannya dirasakan remuk redam. Punggung pengunjung kafe terakhir nampak berlalu diikuti satu persatu karyawan yang mulai meninggalkan tempat bekerja.


Tiga pria dewasa pemilik saham kafe tidak terlihat di ruang utama. Dengan malas Tita menggeret kedua langkahnya menuju kantor dibelakang, membalas sapaan rekan kerja yang berlarian untuk segera pulang.


Tawa ketiga pria itu terhenti saat melihat bayangannya terlihat didepan pintu, Devan menyunggingkan senyum sambil menyodorkan note book. Kembali ketiganya berbincang tak mengindahkan dirinya yang masih harus berjibaku dengan deretan angka dan layar excel.


"Mas Devan, nih" Tita menyerahkan note book dan memilih duduk di sofa panjang tanpa penghuni.


"Mau pulang sekarang?" tanya Devan, tak tega melihat mata Tita yang sudah memerah menahan kantuk.


"Ehm, sebentar. Tita mau duduk sebentar" gadis itu mengambil bantal sofa dan menepuk-nepuknya, menaikkan kaki berselonjor dengan bantal tadi sebagai penyangga punggungnya.


Niatnya hanya ingin memejamkan mata sejenak tapi kelelahan justru membawanya ke alam mimpi. Goncangan kecil dibahunya membuat mata Tita mengerjab. Wajah tampan suaminya melihatnya dengan iba, sontak ia terduduk dan mengedarkan pandangan. Devan dan Jack sedang memainkan ponsel masing-masing.


"Sorry gua bangunin. Sudah malam, pulang" Tiar menunjuk jam dinding, hampir setengah jam lamanya Tita tertidur.


"Ehm... ya. Maaf Tita ketiduran" gadis itu berdiri diikuti ketiga pria dibelakangnya.


Tiar membantu merapatkan jaket Tita dan menggandengnya keluar.


"Eh... eh... " Tita terkejut dengan perlakuan Tiar.

__ADS_1


"Gua cabut sama Tita" pamitnya pada dua rekannya yang melihatnya heran, sejak kapan pasangan anjing kucing dalam serial kartun Tom amd Jerry itu menjadi akrab.


"Kenapa lo pada?" Tiar seakan menantang dua rekannya itu berkomentar.


"Lo gandeng Tita" Devan menunjuk dua tangan yang saling menaut.


"Heran? truk gandengan aja biasa" sahut Tiar cuek.


...


"Ih Mas Tiar apa-apaan sih. Nanti mereka curiga" Tita mencubit pinggang Tiar saat laju motornya menjauh dari kafe.


"Peluk Ta, dingin" Tiar mengacuhkan Tita dan menarik tangan gadis itu melingkari perutnya.


"Mau hujan Mas Tiar" Tita menatap cemas ke langit yang bergulung bergerak cepat.


Ucapan Tita barusan bagaikan doa, keduanya terjebak di emperan toko, berdesakan dengan beberapa pengendara motor lain yang terguyur air hujan. Tiar menghisap rokoknya dalam-dalam menepis hawa dingin, sedikit menjauh dari gadisnya agar tak ikut menghirup asap beracun.


Dalam hati Tita ngedumel, hujan-hujan bukannya memeluk tubuhnya malah meninggalkan dirinya sendiri kedinginan. Ekor mata Tita melirik cemburu ke arah sepasang muda mudi yang nampak merapatkan diri untuk mencari kehangatan.


"Dingin?" bisikan Tiar di sela-sela rambut basahnya membuatnya mengalihkan perhatian dari romansa sepasang kekasih. Tita tak menjawab hanya berdecak kesal, udah tahu masih nanya.


"Mau kaya mereka?" lagi bisikan itu menembus gendang telinganya.


"Mas Tiar nggak peka" sungutnya kesal.


"Ta, gua bukan paranormal bisa ngerti maunya lo lewat bisikan kalbu"


Tiar merengkuh bahunya menariknya ke tubuhnya yang tegap. Kehangatan itu belum mereda, keduanya masih berpelukan mesra diatas motor membelah gerimis malam yang bergulir pagi.


Nampaknya alam seperti telah merencanakan sesuatu yang indah untuk keduanya. Satu komplek gelap gulita, hujan yang deras mengguyur telah menumbangkan pohon jalanan dan berhasil memutus pasokan arus listrik untuk wilayah sekitarnya.


Tita hampir menangis membayangkan harus kembali begadang menunggu lampu menyala karena tak mungkin tidur dalam gelap.


"Tidur Ta, kamu mau begadang lagi seperti waktu itu? Kita bisa kesiangan besok" Tiar mengarahkan senter kemuka Tita.


"Tita takut gelap Mas Tiar" gadis itu menepis senter yang membuat matanya silau.


"Ya udah tidur berdua" tawar Tiar


"Nggak mau. Tita belum mandi" kilahnya


"Belum mandi atau takut kita kenapa-kenapa?"


"Heem..." Tita membuang muka.


"Kan gua udah janji nggak bakal ngejamah lo tanpa ijin"


"Udah ah gua mau tidur!" nada kesal terdengar disana.


"Nggak mungkin petugasnya malam-malam gini datang benerin tu gardu listrik" lanjutnya lagi sambil melenggang menaiki anak tangga.


"Tita ikut" buru-buru ia menyusul Tiar naik keatas.


Tita beberapa kali tersandung barang-barang yang berserakan dilantai kamar, hanya senter yang mulai meredup cahayanya menjadi alat bantu lihat.


"Mas Tiar, Tita lupa ambil baju ganti. Anterin kebawah"


"Udah pake kaos gua aja, baru gua pakai bentar" Tiar melempar kaos yang tersampir di head board. Pria itu langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang.


"Mas Tiar merem. Tita mau ganti baju"


"Ya ampun Ta, gelap ini gua juga nggak bisa lihat apa-apa!"


Bodohnya Tita yang mudah saja percaya, ia berbalik badan tanpa sadar siluet tubuhnya membayang ditembok ditengah keremangan menjadikan tontonan gratis untuk Tiar. Melepas jeans menggantinya dengan short pendek yang selalu ia pakai dibawah rok span kerjanya, melepas kemeja kasir dan berganti dengan kaos kebesaran milik Tiar.


Bau harum tubuh bercampur parfum maskulin Tiar menyeruak di indra penciumannya. Gadis segera menyusul Tiar naik keranjang. Tangannya meraba-raba mencari selimut milik Tiar. Selimut tipis berukuran single hanya mampu membalut sebatas kaki kepinggang.


"Mas Tiar nggak pakai baju" tangannya tak sengaja menyentuh perut Tiar saat hendak merebut guling.


"Panas, kan AC mati"


"Panas?? Dingin begini" Tita mengusap lengannya.


Tanpa permisi pria itu menarik badan Tita yang memunggunginya, memaksa gadis itu bergelung dalam dekapan tubuhnya. Tita hanya terdiam, menikmati usapan tangan Tiar dilengannya, menggesekkan pipinya ke dada Tiar mencari kehangatan dan meringkuk hangat dalam pelukan.


"Mas Tiar jangan tidur dulu, tunggu Tita tidur dulu" gadis itu bercicit pelan dalam kantuknya yang menggelayut parah.

__ADS_1


"Hemmm... " Tiar hanya bergumam, menahan segala gairah yang rasanya hampir meledak dipusat tubuhnya akibat gesekan tubuh keduanya. Berusaha menjadi pria sejati yang memegang perkataannya untuk tak menjamah gadisnya tanpa ijin.


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!


__ADS_2