Cinta Terbalik Janitra

Cinta Terbalik Janitra
Episode 3. It's a bad day! Really!


__ADS_3

Alarm ponselnya berdering nyaring membuat mata lebar itu membuka perlahan, dinginnya udara pagi membuat Tita menarik ujung kakinya masuk kembali bergelung ke dalam selimut. Meraih ponsel dan memeriksa beberapa notifikasi yang masuk saat ia tertidur.


Ada satu pesan dari karibnya Wulan yang akrab disapanya Iwul


✉Besok jadi traktir Ta? Dimana?


Ah iya, ini kan sudah hari Rabu waktunya mentraktir rekan sejawat dan karibnya


✉Iya jadi, di resto Chinese food deket kedai aku kerja Wul. Jam 5 tet yak, jangan ngaret! Shift aku dikedai jam 6 sore


Hari masih pagi saat Tita selesai dengan rutinitas paginya, mandi semandi-mandinya dan makan seada-adanya hi hi hi. Maklum namanya juga anak kost. Angkot langganannya pun masih sepi penumpang, butuh belasan menit lagi untuk menunggu penuh dan barulah perjalanan dimulai.


Kantuk masih ia rasakan, bekerja sekitar 14jam sehari membuat raganya kelelahan. Namun sudah menjadi tekat bulat Tita sebelum uang tabungannya cukup untuk uang muka sebuah motor, ia masih harus bertahan pada pilihan ini.


“Pagi Tita” sapaan Pak Asep security menggema di lobi kantor


“Pagi Pak” balasnya ramah


“Duh makin geulis aja si eneng pake seragam blazer” puji Pak Asep yang asli Bandung


“Makasih” Tita tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi “Ehm…Mas Bima sudah datang belum Pak?”


“Sudah Neng barusan”


Tita mengangguk-angguk lalu melangkahkan kakinya ke ruang lelaki idolanya


“Mas Bima….” panggilnya


“Eh Tita” lelaki itu sedang melipat jaket miliknya


“Jangan lupa entar sore”


“Dimana sih traktirnya?”


“Di resto Chinese food deket kedai tempat Tita kerja part time”


“Sama siapa aja?”


“Mas Bima, Mbak Mieke, Mbak Gendis sama temen kuliah Tita, Iwul namanya”


Lelaki itu menautkan  jari jempol dan telunjuk melekat membentuk huruf O, sementara tiga jari yang tersisa membentuk huruf K lalu mengedipkan mata.


Aih...unyunya…jantung ini serasa mau terbang jika tak cepat-cepat ia dekap dadanya erat



Mieke dan Gendis bersiap berboncengan, demikian juga dengan Tita dan Bima, setelah meminjam helm salah seorang OB. Duh jantung Tita berdebar-debar ketika tangannya menggenggam pinggiran jaket milik Bima. Dari sekian lelaki yang ia kenal, pesona Bima yang mampu membuat jantungnya berdegub, lelaki berkulit putih berparas mirip oppa-oppa korea, tak banyak bicara dan yang paling penting tidak pernah menggodanya dengan kata-kata menjurus.


“Iwul….” pekik Tita saat bertemu dengan karibnya


“Tita….” gadis manis  itu merentangkan kedua tangan


Keduanya berpelukan dan meloncat-loncat bagai boneka teletubbies


“Sini-sini kenalin” Tita menarik tangan Wulan “Ini Mbak Mieke,, senior aku di staff purchase. Yang ini Mbak Gendis si ibu satu anak


“Trus ini Mas Bima” alis Tita naik turun seakan-akan memberi kode, jika diartikan kira-kira ini loh cowok yang sering aku certain


Pesanan mereka datang tak berapa lama karena Tita sudah memesan sehari sebelumnya


“Ta…” Wulan mendekatkan mulutnya ke telinga karibnya ”Mas Nuno nyariin kamu terus” bisiknya


“Biarin!” Tita menjawab ketus


“Ih, kamu mah enak aku yang di teror terus nih”


“Alah…paling bentar lagi juga lupa”


“Ngomongin siapa, rame amat?” Bima mencondongkan badan kerah dua gadis yang berbisik-bisik didepannya


“Mantannya Tita! eh…” Wulan buru-buru menutup mulutnya saat Tita mendelik kearahnya


“Oh” Bima menjauhkan badannya


“Wul Wul” Mbak Gendis menggerak-gerakkan tangannya disela-sela kegiatan makannya “Mantan Tita sama Bima ganteng mana?”


“Ganteng mantannya Tita” Wulan menjawab polos

__ADS_1


“Beuh masak??” Mieke ikut-ikutan nimbrung “Nggak rugi kamu Ta putusin dia?”


“Ichhh…apaan sih! Ganteng-ganteng tapi mes…” Tita seketika menutup mulutnya dan mendengus “Udah ah! Bete ngomongin mantan”


Gelak tawa membahana melihat bibir Tita yang berkerut dan ngedumel tidak jelas


“Wulan sudah wisuda?” tanya Bima


“Belum Mas, belum sidang TA. Mungkin baru semester depan”


“Mas Bima besok Sabtu mau datang ke wisuda lho Wul. Jadi PW aku” Tita membusungkan dadanya bangga


Tak disangka lelaki itu terbahak “Ampun Tita, aku kan cuma becanda kok kamu serius gitu sih”


Seketika muka Tita berubah pias, nampak sekali gurat kekecewaan disana


“Ehm…Tita kira serius”


Sejak itu Tita hanya mengaduk-aduk piringnya tak berniat meneruskan makan



“Makasih ya Ta….” seruan dari manusia-manusia yang puas kekenyangan


“Hemmmm….” Tita hanya berdehem malas


Mieke membunyikan klakson motornya dan berlalu sedangkan Gendis sudah siap duduk dibangku penumpang dijemput sang suami. Putri Gendis berusia 2 tahun yang sudah dijemput lebih dahulu oleh suaminya turut melambai-lambaikan tangan.


Tita menunggu 2 insan yang sedang berdebat kusir didepannya


“Wulan pulang naik apa?” Bima bertanya sopan


“Angkot Mas”


“Kost juga?”


“Iya”


 “Dimana?”


“Jalan XXX”


Wulan melirik Tita yang langsung mendengus kesal


“Eh…nggak…nggak usah Mas. Iwul naik angkot aja”


“Ayolah” Bima memaksa dengan mendorongkan helm ketangan Wulan “Ta, suruh temen kamu nurut nih. Mau ujan lho bentar lagi” Bima menengadah kepalanya keatas


“Hem…ya sudah sana. Iwul barengan aja sama Mas Bima. Tita cabut ya udah telat”


Gadis bertubuh mungil itu berbalik badan dan segera melangkah cepat menuju kedai tempatnya bekerja, menendang-nendang angin. Hatinya masih dongkol mengingat rencana kedatangan Bima di hari wisudanya ternyata hanya sebatas gurauan



Tita mengelap peluh yang menetes di kening, jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Satu jam lagi dari waktu tutup kedai. Hari ini sangat ramai pengunjung karena bertepatan dengan hari gajian pegawai.


“Mbak, minta air mineral dingin satu gelas” pinta seorang pengunjung saat dirinya melintas di salah satu meja


Tita mengangguk sopan dan berlalu ke dapur kemudian kembali ke meja tersebut dengan nampan yang berisi segelas air mineral dingin


“Silahkan”


“Makasih…wah Mbaknya imut banget” celetuk pria dengan bahasa jawa medok, berambut ikal dan berkaca mata tebal


Tita hanya tersenyum dan mengangguk sopan,


“Mbak, tolong bereskan piring kotornya” pinta seorang pria yang duduk diseberang pria berambut ikal tersebut


“Oh ya, permisi” Tita mencondongkan badan mengambil beberapa piring kotor dan gelas bekas minuman


“Eh…yang ini jangan” tangan pria itu terulur mencegah tangan Tita yang bersiap mengangkat gelas yang dimaksud


“Gimana sih Mbaknya, kan baru separo diminum. Kayaknya grogi nih Jack kamu godain” celetuknya sambil menoleh ke wajah Tita


“Kamu….” pekik Tita tertahan saat melihat wajah tampan seorang pria yang ia niatkan untuk menamparnya waktu itu


“Eh, cewek! Ketemu lagi disini, jodoh nih kita” seringai nakal pria itu tersungging lagi sama seperti waktu pertama kali mereka bertemu

__ADS_1


Tangan Tita sontak terulur ke gelas kotor di nampan dan hendak ia guyurkan ke muka pria mesum yang mere*as bokongnya waktu itu. Tapi untung saja otaknya yang waras berpikir cepat, ini masih jam kerja bisa-bisa dia dipecat tidak terhormat jika mempermalukan customer


“Awas nanti ya” desisnya pelan


Meja yang disi 3 orang pria itu menjadi perhatiannya dalam satu jam kedepan, berharap ketiga orang tersebut akan cabut tepat pada saat jam tutup kedai. Gelak tawa dan sesekali lirikan dari ketiga orang tersebut kearahnya dibalas Tita dengan dengusan kesal.


Ia merasa dirinya sedang diperbincangkan oleh ketiga orang dimeja sana. Si pria ikal berkacamata, si pria mesum bertampang tampan (cih!) dan seorang lagi seperti pria berdarah blasteran.


Jari-jarinya mengetuk ngetuk meja bar sambil sesekali melirik jam dinding dibelakangnya, seringai tersungging dari sudut bibirnya. Sudah satu jam ia berencana untuk membalas perbuatan si pria mesum.


Baru kali ini dia merasa bersyukur berdiri di meja bar, banyaknya pujian yang ia dapat dari para pengunjung kedai membuat sang pemilik kedai tak mengijinkan dirinya beristirahat lama-lama didapur setelah mengantarkan pesanan


Tita harus berdiri di meja bar meskipun harus dengan bantuan bangku kayu kecil sebagai pijakan karena dianugrahi tubuh yang tak terlalu tinggi. Dengan tujuan untuk menarik minat pengunjung jika disuguhkan yang bening-bening saat membuka pintu kedai


Yes! Akhirnya tiga pria itu bangkit dari duduknya 10menit menjelang tutup kedai. Tita segera berlari kearah dapur, melewati beberapa karyawan yang nampak sibuk membereskan pekerjaan mereka. Tangannya menyambar ember kecil di washbasin terus melangkah lebar menuju akses pintu belakang. Pintu kecil yang hanya muat untuk satu orang itu mengarah ke trotoar depan kedai.


Penuh semangat ia berlari sambil membawa ember kearah tiga pria yang masih bersendau gurau keluar dari pintu kedai. Menghalau langkah ketiganya dari depan dan….


Byuuuuurrrr…


Ember berisi busa sabun kotor bekas cuci piring itu tepat mengarah ke muka si pria mesum turun seketika ke baju hingga basah kuyup.


Done! Senyum puas tertarik di bibir Tita


“What The F*ck!” teriak pria mesum sambil memandang tubuhnya yang basah dan bau berganti menatap ke mata Tita


“Rasain?!!” desis Tita sambil berkacak pinggang


“Apa-apaan ini?!” pria mesum itu maju selangkah


“Oh No No! She’s  a girl” pria blasteran menahan langkahnya


“Minggir Van, gua nggak akan kasar sama cewek kok. Apaan si lo!” pria mesum itu mendorong bahu Tita, tenaganya cukup kuat hingga gadis itu terdorong kebelakang


“Heh cowok mesum. Situ harusnya yang aku tanya, dasar kurang ajar rem*s pantat orang sembarangan!”


“Heh siapa juga yang rem*s bokong situ. Gua bantuin lo manjat tembok waktu itu tau!” telunjuknya menuding-nuding persis didepan muka Tita


“Halah ngeles aja! Emang situ rem*s pantat aku!” Tita tak kalah garang dengan maju selangkah meskipun harus mendongak karena tinggi mereka terpaut jauh


“Enggak!” pria mesum itu bersikeras “Gua juga bakal pilih-pilih kalau mau gr*pe-gr*pe!”


“Iya! Dasar mesum”


“Enggak!”


“Iya!”


“Enggak!”


“Iya”


Keributan itu memancing sang pemilik kedai keluar dan melerai mereka


“Tita! Kamu apa-apaan sih! Ini customer kita Ta!” tegurnya


“Bukan lagi Pak, mereka kan sudah keluar kedai” jawab Tita sengit sambil masih melirik kesal kearah pria mesum


“Maafkan atas kelakuan pegawai kami Pak” pemilik kedai itu membungkuk hormat didepan tiga pria itu


“Eh…eh…Bapak nggak usah minta maaf. Orang dia kok yang salah” Tita berteriak kesal


“Saya maafin tapi Bapak pecat nih karyawan comel” pria mesum itu menggulung ujung kemejanya yang basah


“Enak aja main pecat-pecat. Emang siapa kamu!” Tita menjejakkan kakinya kesal


“Tita! Tutup mulut kamu atau benar-benar mau dipecat!”


Ancaman pemilik kedai seketika membungkam mulut Tita


“Maaf Pak, kami permisi” pamit sang pria blasteran lalu menarik kasar lengan si pria mesum menyeretnya menuju mobil diikuti si pria ikal berkacamata



Tita masih berguling-guling dikasur dan memukul-mukul bantal dengan penuh amarah di tengah larutnya malam


Sial! Sial! Sial!

__ADS_1


Benar-benar ini bukan harinya, rencana Bima menjadi PW yang tinggal angan-angan masih harus bertemu lagi dengan pria mesum. Ditambah dengan ancaman pemilik kedai yang akan memecatnya jika melakukan kesalahan satu kali lagi.


__ADS_2