
Tepukan pelan di pipi Tita memaksakan dirinya untuk membuka mata perlahan, perawat dengan seragam ungu telah berdiri di sisi ranjang dengan tensimeter dan buku tergenggam di tangan.
“Maaf Ibu, pemeriksaan rutin” sapanya ramah
Tita mengulurkan lengannya untuk memudahkan perawat memasang manset dan memeriksa tekanan darahnya.
“Bagus” perawat itu manggut-manggut kemudian memutar menuju sisi ranjang menyentuh pelan telapak tangannya yang terbebat.
“Ada keluhan? Masih nyeri?”
“Ya sedikit”
“Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan” perawat itu meletakkan tangannya perlahan.
Tita mengangguk sambil tersenyum dan menoleh ke tengah ruangan yang sepi.
“Suami ibu sedang keluar sebentar” tutur perawat tersebut seakan tahu apa yang sedang Tita pikirkan “Besok malam jangan tidur seranjang lagi ya” perawat itu tersenyum seakan menggoda kemudian berlalu pergi.
Tita menunduk dan mengamati jemari tangannya yang terluka, masih terlihat bengkak tapi sedikit membaik dari sebelumnya. Terkikik geli melihat jari-jarinya seakan menjadi jempol semua, menguap kemudian menahan kantuk yang belum sepenuhnya hilang.
Suara decit pintu yang terdorong dari luar membuatnya urung merebahkan badan kembali. Nampak petugas berpakaian putih mendorong rak besi dengan dua mangkok stainless berukuran besar.
“Ada yang menunggu pasien?” tanya wanita itu.
“Ada, suami saya tapi sedang keluar sebentar”
“Oh, baiklah. Saya tinggal karena ada pihak keluarga” wanita itu mendorong rak besi dan mensejajarkan dengan ranjangnya.
Tita melongok ke rak besi itu yang nampak mengepulkan asap panas dari air panas didalamnya, tersampir handuk di kait sampingnya. Otaknya yang baru saja terbangun berpikir keras segera mencerna maksudnya.
“Tunggu” seru Tita membuat wanita itu berbalik.
“Ini untuk mandi?”
“Iya Ibu, khusus pagi hari kami sediakan air panas”
What! Maksudnya ia harus mandi dengan bantuan suaminya? Ah tidak, jangan memberikan ikan asin meskipun itu hanya ekornya untuk kucing garong sekelasTiar.
“Eh!” Tita terdiam sesaat “Saya tidak biasa mandi air panas, silahkan bawa keluar saja”
Permintaan itu diangguki oleh petugas yang segera mendorong kembali rak tersebut. Tita merebahkan tubuhnya dan menghela napas lega. Tak lama pintu kamar kembali terbuka dan muncul sosok kucing garong yang TIta maksud.
“Oh, udah bangun” pria itu melirik dan mendekat dengan ponsel yang ia apit antara bahu dan telinga, dua tangannya masing-masing membawa kantong plastik.
“Mama mau bicara” tangannya terulur memberikan ponsel.
“Ya Ma?” sapa Tita setelah mendekatkan ponsel ke telinganya.
“Tita, maaf pagi ini Mama tidak bisa kesana, ini sedang temani Niar ke dokter, Anya demam dan rewel semalaman”
“Oh” Tita nampak terkejut “Anya tidak sakit serius kan Ma?”
“Enggak, demam biasa anak kecil paling mau tumbuh gigi. Itu minta Tiar temani dulu sampai dokter datang ya. Nanti Mama kabari kalau urusan disini sudah selesai”
“Mama nggak perlu kesini, biar Tita minta Bunda Ning temani Tita hari ini”
“Oh ya sudah kalau begitu, nanti kalau sempat Mama pasti kesana”
“Nggak usah Ma, makasih”
Tita mengulurkan kembali ponsel ke empunya yang nampak sibuk membongkar isi kantong plastik.
“Mas Tiar beli apa?” tengoknya pada kantong plastik yang ia letakkan di meja samping.
“Cemilan, biar lo ada kegiatan” pria itu meringis.
“Ehm, emang nggak pa-pa ngrepotin bunda Ta? Gua ijin lagi aja deh hari ini”
“Jangan!” tukas Tita buru-buru “Tita nggak pa-pa kok sendirian sambil nunggu Bunda datang”
“Yakin semuanya bisa sendiri?” tanya Tiar dengan nada mengejek.
Tita mendengus lalu beringsut ke sisi ranjang.
“Mau apa?”
“Jalan, pegel Tita rebahan terus”
Sejenak Tita berubah ragu, badannya yang mungil ditopang kaki yang tak seberapa panjang tak cukup untuk menjangkau tangga bantu dibawahnya. Mau tak mau tangannya menerima uluran tangan Tiar untuk menuntunnya. Seketika sikap pongahnya luntur, hal sepele semacam ini saja dia kesulitan, desahan pelan lepas dari bibirnya mau tak mau suka tak suka dia harus bergantung dengan Tiar sebagai orang terdekat.
Langkahnya terhenti di jendela yang masih rapat tertutup tirai, semburat cahaya masuk melalui celah tirai yang ia sibak. Lalu lalang kendaraan di jalan raya yang terbentang luas dibawah sana nampak bagaikan pasukan semut beriringan.
“Mas Tiar nggak mandi? Nanti kesiangan” tanya Tita saat menyadari waktu telah beranjak mendekat di jam-jam sibuk para pekerja untuk mendatangi ladang uang.
“Ehm, gua tunggu visit dokter ya” tawar Tiar lagi yang seketika di susul dengan decakan Tita.
“Nggak perlu nanti Tita rekam deh pas dokter visit”
“Pastiin dulu Bunda bisa kesini jagain lo”
Tita merogoh kantong dibajunya, mengambil benda pipih dan menggeser layar mencari kontak Bunda Ning. Awalnya Tita tak ingin mengabarkan kondisinya karena tak ingin membuat cemas pengasuhnya itu,tapi apa mau dikata saat kondisi sedang tak bersahabat seperti sekarang.
“Halo Tita, ada apa Na**k?” sahut Bunda setelah Tita menunggu sekian nada dering.
“Ehm, Bunda maaf Tita mengganggu. Tita mau minta tolong” Tita mengaktifkan speaker di ponselnya agar Tiar juga bisa mendengar jelas.
“Ya?”
“Tita jatuh dari motor kemarin dan sekarang Tita dirumah sakit”
“Astaga Tita kenapa baru kasih kabar sekarang. Kamu baik-baik saja kan Nak?”
“Iya Bunda, Tita nggak pa-pa. Bunda nanti bisa kesini? Suami Tita musti masuk karena kemarin sudah ijin, Mama Mas Tiar sedang antar cucunya ke dokter”
“Iya Tita, Bunda kesana. Setelah urus adik-adikmu dulu ya, sekitar jam 10 mungkin”
“Iya Bunda, makasih”
__ADS_1
Tiar tersenyum lega, ia segera membongkar travel bag yang ia bawa kemarin, mengambil setelan kemeja abu gelap dengan celana hitam tak lupa alat mandi lalu menuju kamar mandi. Tak makan waktu lama karena ia berniat untuk sepagi mungkin sampai kantor untuk menyelesaikan pekerjaan dan berusaha pulang secepatnya.
“Tita!” Tiar mendekap dadanya karena terkejut melihat istrinya yang menunggu dengan muka masam didepan pintu kamar mandi. Nampak piama motif doraemon tersampir di pundaknya.
“Daleman Tita mana?” gadis itu mendengus menatap tajam seakan hendak menerkamnya hidup-hidup.
“Ah!” mata Tiar membelalak “Gua nggak kepikiran Ta”
“Ish, trus gimana nih” kaki Tita menghentak-hentak lantai dengan kesal “Beliin gih”
“Beli? Dimana?”
Tita merengut sebal, sepagi ini mana ada toko pakaian dalam yang buka, toko waralaba 24jam paling hanya menjual segitiga , itupun size medium atau large tak sesuai dengan ukuran tubuhnya yang mungil.
“Udah pake yang itu lagi, nanti Tiar minta Mama yang beliin. Malu lagi Ta, masak gua beli daleman”
“Bukannya suka ya pergi ke counter pakaian dalam wanita” ucap Tita sinis.
“Daleman mah cuma casing, gua suka isinya Ta”
Plak! Piama motif doraemon itu sukses mampir kewajah mesumnya.
“Ya ampun Ta, baru sebulan jadi istri gua udah KDRT berapa kali” Tiar mengusap-usap dengan ekspresi pura-pura suami yang tersakiti.
Gadis itu tak bergeming dari tempatnya berdiri, menyesali kenapa kemarin membiarkan Mama Hayu membereskan bajunya dan dibawa pulang untuk dicuci.
“Kok bengong! Sana gih mandi” Tiar menggeser badan untuk membiarkan Tita masuk ke kamar mandi.
“Siapa juga mau mandi, Tita nunggu Bunda aja!” niatnya berbalik badan dihalangi oleh tangan Tiar.
“Gua bantuin Ta, lo nggak usah mikir gua bakal aneh-aneh. Nggak mungkin kan kondisi sekarang kita….” Tiar sengaja tak melanjutkan dan menunggu reaksi Tita.
Tita ragu sejenak, kalau kemarin ada Mama Hayu yang membantunya mandi karena menunggu Tiar yang tak jua datang. Bukan masalah merepotkan Bunda Ning, bisa jadi pengasuhnya justru berpikir pernikahannya tak berjalan semestinya jika urusan mandi yang sepele saja ia tak mau melibatkan suaminya.
“Gua tadi dengar lo nolak air panas rumah sakit, pasti karena nggak mau gua terlibat kan” Tiar menyandarkan punggungnya ke tembok kamar mandi.
“Gua kan udah janji nggak akan ngejamah sebelum lo ijinin” sambungnya lagi.
Tita melangkahkan kaki masuk kekamar mandi dan membiarkan pintu itu tak terkunci.
“Ehm…Tita cuma minta tolong lepasin tali di belakang baju sama ehm…lepasin kaitan di BRA. Selebihnya Tita bisa sendiri kok”
“Iya..iya…” Tiar manggut-manggut “Mandiin sekalian gua juga ma….”
“Mas!” nada suara itu meninggi.
Setelah dibantu melepas armsling, Tita berbalik badan menjumput rambutnya kedepan untuk memudahkan Tiar menjangkau bagian punggungnya.
“Sudah?” tanyanya sesaat kemudian.
“Belum” tangan Tiar masih berusaha melepas kaitan BRA “Susah amat sih Ta” gerutunya.
Tak habis pikir bagaimana kaum perempuan bisa memasang sekaligus melepas kaitan itu dengan posisi terbalik dan tanpa melihat.
“Jackpot!” seru Tiar kesenangan seakan habis menuntaskan game dengan level tersusah.
Bukannya segera menyingkir, kucing garong ini justru cengar-cengir membuat bulu kuduk Tita meremang.
“Ehm, Ta” panggilnya.
Duh! mau apa sih nih makhluk mesum, sudah pasti ada maksud terselubung gusar Tita.
“Gua mau deh beliin daleman”
“Oh ya?” mata Tita mengerjab kegirangan “Tapi jam segini belum pada buka”
“Ya ntar gua anterin pas makan siang”
“Iya iya boleh boleh, makasih…”
“Cuman ya itu Ta, gua kan nggak tahu ukurannya” mulai deh senyam senyum nggak jelas mana ujung mana pangkal.
“Segini ada Ta?” Tiar membuat bentuk tangkupan dengan telapak tangan dan bergerak agresif seakan hendak meremas buah dadanya.
“Astaga!” sontak Tita memukul tangan yang terangkat didepannya “Mesum, dasar mesum!” pekiknya jengkel.
“Keluar nggak sekarang! Keluar!” teriaknya kesal bercampur malu dan belum berhenti memukuli Tiar sekenanya.
“Aduh aduh!” Tiar mundur teratur dan berusaha membuka pintu dibelakangnya.
Belum juga berhasil keluar dan lari dari serangan Tita, tiba-tiba kepalanya dihantam benda cukup keras dan membuatnya pening seketika.
“Dasar pria kurang ajar!” teriak seseorang dari luar.
Bugh Bugh Bugh
Berkali-kali tas berukuran cukup besar dan beban yang lumayan berat jika dihantamkan berhasil mendarat mulus dikepala, bahu dan punggung Tiar yang masih sakit karena luka memar. Pria itu segera membalikkan badan berusaha menghalau serangan itu dengan kedua tangannya.
“Stop Stop!” pintanya dan cepat meraih tas yang bersiap melayang menghantamnya lagi.
“Gendissss berhentiiiii!! Itu Pak Tiar supplier kita!” lengkingan itu sontak membuat keempat orang itu mematung.
Tita yang merasa mengenali suara khas cempreng segera melongokkan wajahnya.
“Mbak Mieke? Mbak Gendis?” panik seketika merajai otaknya setelah mengenali dua wanita berseragam didepan kamar mandi.
…
Mieke dan Gendis masih menatap Tita yang merapatkan badan ke pintu kamar mandi, menyembunyikan bagian belakang yang terekspose polos.
“Mbak Mieke dan Mbak Gendis duduk dulu ya. Tita mau mandi dulu”
“Jawab dulu kenapa ada Pak Tiar disini? Dan kalian ngapain dikamar mandi berdua-duaan?” mata Mieke melirik kearah Tiar yang mengurut-urut bahu dan punggungnya kesakitan.
“Saya suami Tita Bu Mieke” sahut Tiar tanpa basa-basi.
“Suami???” kompak dua perempuan itu memekik.
__ADS_1
“Iya, nanti Tita jelasin, duduk dulu” Tita menunjuk sofa ditengah ruangan dan buru-buru masuk ke kamar mandi. Belum lama masuk pintu itu terbuka lagi dan wajah Tita nongol dicelahnya.
“Mas Tiar, disini aja jangan kemana-mana!” suruh Tita galak.
Gemericik air itu terhenti setelah kurang lebih 10 menit Tiar menyandarkan tubuhnya di wastafel depan kamar mandi.
“Mas” panggil TIta pelan dan menggerak-gerakkan tangannya memintanya masuk.
Tubuh mungil istrinya terlilit handuk sekenanya dengan BRA yang menjuntai belum dikaitkan, melihat kulit Tita putih bersih yang lembab dengan bulir-bulir air tersisa masih menetes dibeberapa bagian sungguh membuat ingin memejamkan mata.
Mengaitkan BRA dirasanya lebih menyiksa ketimbang saat melepaskan kaitan tadi, susah payah ia menelan ludah untuk menghalau pikiran kotor yang menyergapnya.
“Udah Ta” Tiar buru-buru memutar badannya.
“Bentar” Tita menepuk punggungnya pelan “Belum selesai”
Tiar mendesah dan menoleh, tangan Tita meremas handuk didepan dadanya dan melirik ke piama di kapstok.
“Tita nggak bisa pakai baju sendiri” bisiknya.
Dengan panik Tiar melepas satu persatu kancing piama tanpa berani melihat tubuh mulus didepannya, keringat mulai membasahi pelipisnya. Gadis itu mengangkat lengannya yang sakit meminta Tiar memasukkan bagian kerung lengan piama, pun dengan kerung lengan sebelahnya.
“Ehm Ta, handuknya dilepas dulu, bajunya nggak bisa dikancingin” pinta Tiar gugup saat hendak memasangkan kancing piama dibagian depan dada.
Mau tak mau Tita melepas simpul handuk didepan dadanya, menunduk malu dengan muka bagaikan kepiting rebus, baru kali ini bagian tubuhnya terekspose didepan laki-laki, tanpa sadar tangannya menutup bagian dadanya.
“Ta, nggak bisa dikancingin nih” dengan hati-hati Tiar menepuk punggung tangan Tita yang menghalangi.
Celana Tiar terasa sesak akibat geliat dipangkal paha saat melihat dua gundukan indah yang menyembul sebagian dari kain penyangga dada, keringat membanjir akibat fantasi liar yang mulai merajalela.
Ya Tuhan! Segera lepaskan aku dari penderitaan ini. Kenapa juga ini deretan kancing seakan tak habis-habis, beberapa kali malah meleset dari rumahnya karena tangan Tiar yang gemetar hebat.
“Done!” Tiar mengacak rambutnya yang basah keringat dan segera memapah keluar dari kamar mandi.
Jika tak mengingat ada dua wanita yang tengah menunggu mereka di luar sudah pasti Tiar akan minta waktu 15menit saja setidaknya untuk melepas ketegangan. Syukurin lo Tiar, kena batunya kan!
…
Keempat orang itu duduk berdesakan di sofa, Tiar duduk paling ujung membentangkan lengan dan menarik Tita mendekat agar memberi ruang lebih untuk Mieke dan Gendis.
“Mbak Mieke kok kesini pagi-pagi” tanya Tita sambil menyisir rambutnya yang setengah basah dengan jari tangan.
“Aku butuh log in ke user kamu buat bikin PO lokal, cuma user kamu yang bisa akses kesana. Sekalian nengok. Kata petugas rumah sakit masih boleh asal tidak lebih dari jam 7” jawab Mieke.
Wanita itu mengeluarkan laptop dan menghidupkannya, melirik arloji dipergelangan tangan masih ada 30 menit sebelum selasar rumah sakit ditutup untuk pergantian shift dan persiapan visit dokter.
“Kamu nggak pa-pa Ta?” tanya Mieke sambil melirik armsling yang menopang lengan kirinya.
“Nggak pa-pa Mbak Mieke”
“Jatuh dimana?” kali ini Gendis bertanya “Motor kamu nggak pa-pa?”
“Ehm, Tita dibonceng Mas Tiar naik motornya” Tita melirik pria disampingnya.
“Jadi bener eh Pak Tiar ini suami kamu?” Mieke mencuri pandang kearah Tiar.
“Iya beneran Mbak Mieke, Mbak Gendis” jawab Tita sambil menatap dua perempuan itu bergantian.
"Maaf ya Pak Tiar tadi saya..." Gendis menatap Tiar dengan segan dan dibalas anggukan maklum dari.
“Passwordmu apa Ta?” tanya Mieke
“Eh?” Tita tersentak
“Apaan sini aku ketikin”
****** lo Ta! Masak iya dia musti ngomong didepan khalayak ramai terlebih didepan suaminya kalau passwordnya nama pria lain, Abimana!
“Tita ketik sendiri aja” buru-buru gadis itu bergeser dan menekan beberapa huruf di keypad laptop Mieke.
“Bisa dua user Mbak Mieke?” tanya Tita saat melihat tampilan layar laptop dengan dua jendela mengakses program yang sama.
“Huum, aku minta Bima yang aturin sementara kamu sakit. Tu anak bilang ntar sore mau kesini, ngecheck laptop kamu yang katanya rusak”
Mendengar nama Bima disebut-sebut Tiar sengaja terbatuk-batuk memancing perhatian.
“Mas Tiar mau berangkat kerja dulu” Tita tersadar dan langsung mengusap-usap paha Tiar menenangkan tanpa ada maksud seduktif.
Duh Ta! Yang tadi aja masih ngilu masih kamu tambahin bonus elus-elus, Tiar mengeratkan gigi menahan gejolak yang kembali merambat naik.
“Ehm, iya deh” buru-buru Tiar bangkit dari duduknya, memeriksa is tas kerjanya terlebih dahulu.
“Kamu beneran nggak pa-pa aku tinggal?”
Kamu? Aku? Cih! Pasti suaminya sedang jaga image didepan kedua rekan kerjanya ini.
“Iya” Tita mengangguk meyakinkan
“Makannya gimana?“
“Pake mulut”
“Nggak ada yang suapin Ta" Tiar berdecak kesal
“Bisa-bisa, udah Mas Tiar tenang aja” Tita mengibaskan tangan.
Tiar meraih tas kerja dan kontak mobil dan membungkuk kearah Tita, mencuri pandang kearah Mieke dan Gendis.
“Maaf, saya mau cium istri saya dulu” selorohnya asal dan…
Cup Cup Cup
Lagi ciuman mendarat di pipi dan kecupan singkat di bibir yang sontak membuat muka Tita merona merah.
Mulut Mieke dan Gendis sontak menganga lebar melihat tingkah Tiar bagaikan mood booster pagi hari bagi wanita-wanita pemuja drakor yang sering dimanjakan dengan adegan romantis. Dua wanita itu menatap punggung Tiar hingga menghilang dari pandangan untuk memulai rutinitas menggosip.
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!
__ADS_1