Cinta Terbalik Janitra

Cinta Terbalik Janitra
Episode 35. Mengulang sumpah


__ADS_3

Tak banyak yang bisa dilakukan Tita selama masa rehatnya sepulang dari rumah sakit, dengan keterbatasan gerak sudah jelas memangkas kegiatan hariannya.


Pergelangan tangannya sudah tak terlalu berasa nyeri bahkan dirinya sudah bisa makan sendiri dan menautkan kancing piama sebagai baju kebesarannya.


Tita sengaja tak mengenakan BRA daripada harus melihat suaminya tersiksa menahan hasrat tiap kali harus melihat tubuhnya yang setengah telanjang.


Hari ini tak seperti biasa Tiar pulang lebih lambat, pria itu baru tiba dirumah saat jarum jam menunjukkan pukul 7 malam.


“Lembur?” Tita menyambut suaminya di pintu penghubung garasi dan ruang tengah dengan pertanyaan, jenuh rasanya seharian tanpa teman bicara.


“Hu um” Tiar mengiyakan sambil melepas sepatunya dan setengah melemparnya ke rak sepatu.


“Sudah makan?” pria itu memijat tengkuknya dan menggeliatkan badan, melangkah menuju kamar mandi dengan lesu.


“Sudah, aku panasin dulu punya Mas Tiar”


Tita menghangatkan sup ayam yang ia beli melalui aplikasi online sementara menunggu suaminya selesai mandi.


“Habis ini gua ke kafe ya Ta” lontar Tiar di sela-sela makannya.


“Yaahh….” terlontar nada sendu dari mulut Tita.


“Sorry, habis sudah lama absen sejak lo masuk rumah sakit”


“Tita ikut” rengeknya.


“Jangan, gua janji langsung pulang setelah kafe tutup. Kalau lo udah ngantuk tidur duluan”


Tita tak bisa memejamkan matanya, ranjangnya terasa kosong. Sejak pulang dari rumah sakit Tiar selalu menemani dirinya sebelum tidur, bertautan tangan saling menatap dan bercicit apapun hingga tertidur.


Tiar akan naik tidur kembali ke kamarnya setelah Tita tertidur lelap, selain dikarenakan kebiasaan tidurnya yang harus dibuai udara sejuk AC, Tiar tak ingin didera siksa menahan hasrat tiap kali berdekatan dengan Tita.


Bunyi air hujan berisik menghantam atap carport yang beratapkan galvalum, Tita pikir Tiar pasti akan menunda kepulangannya karena hujan lebat. Suaminya memilih pergi ke kafe dengan mengendarai motornya untuk mempersingkat waktu tempuh, motor Tiar sendiri masih berada dibengkel belum selesai karena kerusakan yang cukup parah.


Tidur-tidur ayamnya terusik saat mendengar suara motor memasuki pelataran rumah, sontak Tita menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya. Deru angin dan semburan udara dingin menerpa wajahnya saat ia membuka pintu depan. Tubuh Tiar basah kuyup dan menggigil, bibirnya bergetar dengan gigi menggeretak menahan serangan dingin.


“Loh kok Mas Tiar hujan-hujanan?” cecar Tita.


“Jas hujan lo nggak muat buat gua” Tiar buru-buru masuk dan melepas bajunya, dua tangan memeluk lengannya lalu menggosok-gosokkan menularkan hawa panas untuk mengusir dingin.


“Kenapa nggak berteduh dulu sih” gadis itu berbalik dan berjalan cepat menuju kamar mengambil handuk kering dan membantu mengeringkan rambut suaminya.


“Gua takut dirumah mati lampu kalau hujan deres begini, kepikiran lo yang takut gelap” terang Tiar yang seketika mampu menyentuh hati perempuannya dan membuatnya menyunggingkan senyum.


“Aku masakin air panas dulu”


“Nggak usah, ganti baju aja trus tidur”


“Nanti masuk angin”


“Enggak enggak Ta”


Tiar meninggalkannya dibawah, naik ke kamarnya untuk berganti baju. Turun kembali tak lama kemudian dengan kostum tidurnya, kaos rumahan dan boxer. Kali ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya, mengapit bantal guling di lengan kanan kiri masih berbekal selimut yang tersampir di pundak.


“Mas Tiar mau tidur di kamar Tita?”


“Nggak boleh?”


“Ke…kenapa?” tergagap Tita seketika.


Entah pikirannya berpikir yang tidak-tidak mengingat situasi hujan deras saat ini mendukung untuk tidak cukup bergumul dibawah selimut bagi suami istri pada normalnya tentu saja.


“AC mati” Tiar menjatuhkan tubuhnya hingga membuat kasur pegas itu memantul.


“Capek Ta, pijitin Ta” Tiar menarik tangan Tita mengarahkan pada tengkuknya.


“Kok Mas agak anget ya” lontar Tita saat kulit mereka bersentuhan.


“Masa sih?” balas Tiar dengan suara serak.


“Pusing?”


“Sedikit”


“Tuh kan, harusnya jangan hujan-hujanan”


“Enggak Ta, pusingnya karena kebanyakan kerja depan laptop” sanggah Tiar.


“Minum obat ya!”


“Ih lo comel ah”


Tiar membalikkan badan menyelimuti seluruh tubuh Tita dan menepuk-nepuk pipi istrinya itu pelan, memandangi wajah cantik itu dengan serius.

__ADS_1


“Kita sudah mulai saling mencemaskan satu sama lain Ta, ngerasa nggak lo?”


Gadis didepannya mengangguk mengiyakan, menarik tangan Tiar dari pipinya dan menyelipkan dibawah lengannya, membiarkan pria itu mengetatkan jemari dan menariknya lebih dekat. Gelenyar kenyamanan dan keamanan di tunjang dengan bau khas tubuh merupakan perpaduan sempurna yang ia rindukan setiap malam.


“Ngantuk” cicitnya disela kantuk yang mulai menyerang.



Suara erangan membuat Tita meraup kesadarannya pelan-pelan, wajah Tiar yang pucat dengan bibir memutih tertangkap di netranya di bawah keremangan lampu tidur, sontak tangannya terulur dikening yang dibasahi peluh.


Punggung tangannya tersengat hawa panas, tubuh Tiar menggigil meskipun meringkuk dalam selimut, bibir pria itu bergerak-gerak seiring dengan geliatan tak nyaman lalu meloloskan erangan kesakitan.


Tita segera turun dari ranjang, bergegas menuju kabinet gantung diatas kompor, mengobrak-abrik hampir separo isi lemari mencari obat penurun panas tapi nihil. Jam dinding menunjukan tepat tengah malam, andai tangannya tak sedang terbebat sudah pasti ia menghambur naik motor untuk pergi ke apotek terdekat.


Tak ada pilihan lain selain mengkompres dan berharap demam Tiar akan turun dengan metode sederhanan ini. Ponselnya berdenting saat menunggu merebus air untuk mencampurnya dengan air dingin hingga suam-suam kuku.


✉ Ta, punya buku referensi Teori Ekonomi Mikro?


Satu pesan dari Niar masuk ke aplikasi whats app, jam segini gadis itu masih terjaga.


✉Ada, besok ambil saja dirumah. Kamu belum tidur?


✉Ngerjain tugas, kamu?


✉Jagain kompres Mas Tiar, lagi demam


Ponselnya berbunyi panjang menandakan ada panggilan masuk.


“Ya Niar?”


“Mas Tiar sakit?”


“Iya, demam. Tadi hujan-hujanan”


“Sudah minum obat”


“Dirumah nggak ada obat pereda demam. Baru mau aku kompres”


“Ehm, skin to skin aja Ta lebih cepet, aku biasa gitu kalau Anya demam”


“Apa itu?”


“Kamu googling aja deh. Ya udah aku mau lanjut bikin tugas”


Tidak! Tita memutuskan untuk tidak melakukannya meskipun banyak referensi yang menyatakan hasilnya efektif untuk langkah awal menurunkan panas tubuh. Kasur pegas itu bergoyang, tubuh Tiar bergerak meringkuk bagai anak kucing yang kedinginan, mata itu sama sekali tak membuka. Telapak tangan Tita terulur untuk mengusap kening membalikkan kain kompres yang mulai menghangat di satu sisinya.


Begitu berulang kali sudah ia lakukan tapi nampaknya suhu badan Tiar tak juga menurun, cemas dan iba mulai Tita rasakan. Napas kasar terlepas dari cuping hidungnya, satu persatu ia mulai menanggalkan kancing piama, melepaskannya hingga menyisakan segitiga penutup saja yang melekat ditubuhnya.


Mengambil posisi setengah berbaring dengan bantal sebagai penyangga punggungnya, menarik dan bergelung dibawah selimut yang sama sambil memeluk tubuh Tiar erat, melekatkan wajah yang berpeluh dan bersuhu tinggi ke dadanya. Tita bertekat untuk menahan kantuk dan tetap terjaga, begitu demam Tiar dirasakan membaik sesegera mungkin ia memakai lagi piamanya.



Bunyi klakson khas dari motor abang penjual sayur menembus alam bawah sadar Tita yang reflek membuka mata, yang ia rasakan pertama kali adalah kulit hangat menempel di dadanya yang polos tak tertutup apapun. Selimut yang semalam membungkus tubuhnya telah melorot kebawah pinggang. Dibawah sana Tiar mendongak memaksakan tersenyum dengan wajahnya yang masih pucat.


Sontak Tita menarik selimut dan menutup dadanya yang entah sudah berapa lama dinikmati oleh suaminya, terdiam menormalkan irama jantungnya yang berdetak tidak normal.


“Nggak pegang kok Ta, cuma lihat” bisik Tiar sambil menarik wajahnya menjauh.


“Ehm…Mas Tiar masih demam?” tangan gadis itu terulur menyentuh kening suaminya “Kok masih hangat” gumamnya.


“Ke Dokter ya?”


Niatnya itu hanya dibalas gelengan kepala.


“Nanti kalau tambah parah Tita yang repot”


“Nggak pa-pa, biar bisa dipeluk tiap malam”


“Eh…itu Mas Tiar jangan salah paham. Tita cuma ikuti saran Niar, ka…katanya kalau Anya demam ya begitu itu”


“Oh ya” sahut Tiar seakan tak peduli. Perlu gua tambahin tu uang saku Niar gumam Tiar, kekehan kecil lolos dari bibirnya.


Tita bergerak pelan berusaha menjangkau piama yang ia sampirkan di head board semalam, geliat tubuhnya membuat Tiar justru makin mengetatkan pelukan di pinggang.


“Mas…Tita mau pake baju” tangannya berusaha melepas tautan tangan kekar yang melingkari tubuhnya.


“Demamnya kan belum turun” protesnya dengan suara parau.


“Makan minum obat nanti juga sembuh”


Tangan Tita terulur mengelus lembut rambut suaminya, kedekatan mereka membuatnya paham sifat Tiar yang tidak suka dengan penolakan. Saat ini tak ada pilihan selain merayu dengan halus dan mencuri kesempatan saat pria ini lengah untuk melepaskan diri.


Tuh bener kan, perlahan pelukan itu mengendur meskipun nampak jelas pria itu melakukannya dengan berat hati. Belum juga selesai mengancingkan piamanya terdengar ketukan dipintu disusul teriakan wanita dari arah depan.

__ADS_1


“Tita….”


Sedikit terburu Tita berjingkat dari ranjang dan berjalan menuju depan.


“Niar?”


Wanita itu melenggang masuk dengan menenteng goodie bag yang nampak berat muatan.


“Mas Tiar masih sakit?” Niar meletakkan kantong bawaan di meja ruang tamu.


“Hu um” Tita menguap dan meraup wajahnya.


“Aku lihat ya. Kamu siapin bubur buat Mas Tiar, tadi Mama yang bikin. Sudah aku belikan obat juga”


“Mas Tiar tidur di kamar aku” cegah Tita saat melihat Niar hendak menuju anak tangga.


“Kamar kamu?” Niar mengerutkan kening “Kalian nggak tidur sekamar?”


“Eh…eh…” Tita hanya cengar cengir kuda.


“Serius kamu Ta??” mata Niar melotot.


“Niar jangan gitu dong, kita lagi usaha kearah sana” buru-buru Tita mendorong punggung Niar ke kamar belakang sambil menjinjing goodie bag.


Tak hanya bubur tapi Hayu membawakan lauk pauk dan buah sebagai pelengkap. Sungguh Tita sangat beruntung mendapatkan mertua seperti Hayu.


Dua kakak beradik itu nampak akrab berbincang meskipun jawaban Tiar hanya pendek-pendek, Tita melipat sebelah kaki dan duduk di sisi ranjang sambil menyuapkan bubur sedikit demi sedikit.


“Udah” tolak Tiar sambil mendorong sendok saat sepuluh suapan berhasil dijejalkan paksa ke mulutnya meluncur memenuhi lambungnya “Mual” keluhnya.


Tiar beringsut ke tepi ranjang, merebahkan kepalanya dipangkuan istrinya.


“Duh manjanya kamu Mas” cibir Niar.


“Bilang makasih ke Mama ya Niar sudah repot-repot bikinin bubur dan bawain makanan” ucap Tita sambil meletakkan mangkok bubur ke nakas.


“Mama ngeyel bikin bubur padahal sudah aku bilang palingan juga sembuh habis dikekepin Tita. Ternyata kata Mama metode itu nggak ada efeknya kalau yang ngekepin tubuhnya lebih kecil” papar Niar sambil mengunyah buah jeruk.


“Bocor lo! Nggak perlu diomongin biar kalau gua demam lagi bisa dipeluk-peluk mesra kaya semalam” Tiar melemparkan bantal ke muka Niar.


“Jadi semalem Tita beneran buka baju buat Mas Tiar?” mata Niar berkedip-kedip.


“Iyalah!” cetus Tiar pamer.


“Kalau gitu kenapa juga musti pisah kamar!” celetuknya tanpa basa-basi membuat dua orang itu berpandang-pandangan.



Niar pamit pergi ke kampus, kedatangannya ke kediaman Tiar tak semata untuk mengantarkan bubur dan obat saja, wanita itu juga mengambil buku Tita yang semalam ia minta. Niar juga mengingatkan bahwa Papa Bagas akan pulang akhir pekan ini, artinya mereka berdua bersiap untuk menyebarkan undangan karena kurang lebih dua minggu lagi resepsi pernikahan akan dilangsungkan.


Baik Tiar maupun Tita masih enggan beranjak dari ranjang. Hari ini Tiar meminta ijin tidak masuk karena tubuhnya masih lemas, nyeri sekujur tubuh ditambah kehilangan nafsu makan membuatnya enggan beraktifitas. Meskipun demikian Tiar masih memaksakan memantau pekerjaan via email yang sinkron ke ponselnya, beberapa kali melakukan panggilan kepada assistennya Franda untuk mengurus sesuatu yang sekiranya penting.


“Kok diem Ta?” Tiar mendongak menatap wajah istrinya sambil tak lepas menatap layar ponselnya.


“Hem” Tita menunduk “Eh, kepikiran kata-kata Niar, kenapa kita musti pisah kamar”


“Jadi lo sudah siap kita sekamar?”


Tita mengangguk yakin dengan tatapan mata tajam. Tiar mengangkat kepalanya dari pangkuan Tita, meletakkan ponsel ke nakas dan menjajari Tita bersandar ke head board.


“Ta, gua boleh omong sesuatu? Tapi janji lo jangan marah”


“Apa?”


“Janji dulu” Tiar menyodorkan kelingkingnya.


“Iya” Tita menyambut kelingking Tiar dan menautkan dengan jari kelingkingnya yang mungil.


“Gua pengen mengulang sumpah didepan Tuhan untuk memastikan gua benar-benar berhak atas lo”


“Maksud Mas Tiar?” Tita memiringkan badan dan menatap suaminya heran.


“Gua takut waktu akad dulu niat gua nggak dinilai tulus” Tiar bicara pelan dan hati-hati “Gua pengen mengulang mengucap ikrar dengan kemantapan hati gua yang sekarang Ta biar nggak ada ganjalan”


Mata Tita mengerjab, keduanya memang harus mengucap kembali janji pernikahan meskipun sebenarnya itu hanya formalitas demi mendapatkan dokumen kenegaraan. Namun ucapan Tiar memang ada benarnya, mereka menikah karena keadaan yang mendesak dimana dua hati mereka tidak siap, meskipun ikrar telah terucap belum tentu didasari dengan niat tulus.


“Kalau lo tetep mau kita sekamar, gua mah seneng-senang aja” Tiar merangkul pundak Tita dan menarik ke pelukannya “Tapi ntar kalau gua khilaf gimana Ta?” tanyanya sambil cengar cengir khas mesumnya.


“Ga pa-pa kok”


Jawaban Tita yang singkat itu bagaikan genderang yang ditabuh nyaring pertanda peperangan siap untuk di gelar. Saat ini bola panas ada dalam genggaman Tiar, antara tetap menahan hasrat menunggu sampai ia mengulang sumpahnya atau memilih mengedepankan ego dan nafsunya untuk segera membobol gawang gadisnya.


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!

__ADS_1


__ADS_2